Text

Agama adalah nafas hidup hampir seluruh penduduk bumi. Berdasarkan data The World Factbook CIA 2012, sekitar 90% penduduk dunia adalah pemeluk agama.

Begitu juga dengan di Indonesia. Agama ada di setiap sendi kehidupan, dari rumah hingga ke gedung-gedung pemerintah, menjadi urat nadinya, penentu benar dan salah.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Amerika, saya bertanya-tanya ketika mengetahui bahwa di sini, antara negara dan agama, dipisah. Kasarnya, negara tidak bisa ikut campur soal agama warganya dan agama tidak bisa pula mengatur negara. Yang ada di pikiran saya ketika itu, pasti bobrok sekali moral bangsa Amerika ini. Pasti agama-agama minoritas, termasuk Islam, sangat tertindas di sini. Namun, saya keliru.

Konstitusi Tanpa Tuhan & Agama

Jika dilihat dari demografi semata, Amerika bisa disebut sebagai negara relijius. Berdasarkan American Religious Identification Survey (ARIS), sekitar 80% warganya adalah pemeluk agama, dengan 76% di antaranya adalah pemeluk berbagai aliran Kristen Protestan (51%), serta Katolik (25%). Sementara sisa 4% nya terdiri dari Yahudi (1.2%), Budha dan berbagai agama dari Asia (0.9%), Islam (0.6%), serta agama-agama lainnya (1.3%).

image

Namun, cukup mengejutkan ketika mengetahui tidak ada satu pun kata “Tuhan” atau “Jesus” di konstitusi Amerika, yang merupakan hukum tertinggi negara. Kata “agama” hanya muncul sekali, itu pun sebagai penegas bahwa untuk menjadi anggota Kongres atau pejabat publik seperti walikota, gubernur dan lain sebagainya, tidak boleh menjadikan agama sebagai persyaratan.

Menarik untuk membayangkan bagaimana Bapak-bapak Bangsa Amerika merancang konstitusi, lebih dari dua abad lalu. Meskipun sebagian besar mereka diyakini memiliki kepercayaan sama, yaitu Kristen, mereka berasal dari aliran dan sekte berbeda, dengan gaya peribadatan yang berbeda pula. Para penyusun konstitusi ini ingin memastikan, nantinya tidak ada satu agama atau aliran pun yang mengontrol pemerintah.

image

Pemisahan negara dan agama diperkuat oleh surat balasan Presiden Thomas Jefferson kepada Gereja Danbury Baptist yang merupakan aliran Kristen minoritas di Connecticut, pada tahun 1802. Mereka merasa kebebasan beragama yang dinikmati saat itu, tidaklah abadi, melainkan hanya hadiah basa-basi dari pemerintah negara bagian belaka. Namun, Jefferson menegaskan :

“Kita sama-sama percaya bahwa agama adalah urusan yang sangat pribadi antara manusia dan Tuhannya. Sehingga para wakil rakyat tidak boleh membuat undang-undang yang mengatur tentang keberadaan agama atau melarang kebebasan beragama. Ini berujung pada adanya dinding pemisah antara negara dan agama.”

Apa pengaruhnya?

Dengan penegasan Jefferson, di Amerika siapa pun berhak memeluk agama dan kepercayaan apapun yang diyakininya atau tidak memeluk agama sama sekali. Siapapun tidak bisa memaksa atau melarang orang lain untuk beragama atau beribadah.

Dari segi pemerintahan, tidak ada Kementerian Agama di Amerika. Agama juga tidak pernah ditanyakan dan dicantumkan pada kartu identitas, misalnya KTP, karena dinilai sebagai privacy. Anggaran negara juga tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan agama. Jadi, jika ada pembangunan gereja, mesjid atau sinagog, serta berbagai acara keagamaan, pemerintah tidak boleh mendanainya. Pemerintah harus netral.

 image

Selain itu, Konstitusi Pemisahan Negara dan Agama melarang pemasangan patung dan simbol keagamaan di kantor-kantor pemerintah. Meskipun begitu, individu atau tempat ibadah tetap boleh memasangnya di rumah/gedung atau di halaman mereka. Sementara, pemasangan simbol agama di tempat umum, dinilai ilegal.

image

Misalnya, akhir Desember lalu Pengadilan Federal Amerika memutuskan untuk memindahkan Mount Soledad Cross, sebuah salib setinggi hampir 13 meter dari Gunung Soledad, San Diego, California, yang semula didirikan sebagai monumen peringatan untuk veteran Perang Korea. Keputusan ini diambil setelah kontroversi terus memanas, terutama dari kelompok Ateis, yang menilai pemasangan salib di tempat umum menunjukkan keberpihakan pemerintah pada kelompok tertentu.

Saya tambah terkejut ketika mengetahui ternyata agama tidak diajarkan di sekolah negeri di Amerika. Bahkan, memaksa untuk berdoa atau beribadah bersama di sekolah, dianggap mencederai hak asasi siswa yang tidak ingin melakukannya atau yang meyakini cara lain untuk beribadah.

Semua ini didasarkan pada fakta bahwa 90% anak Amerika menuntut ilmu di sekolah negeri. Mereka berasal dari keluarga dengan latarbelakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Tidak ikut serta mengatur pendidikan agama, adalah salah satu cara yang bisa dilakukan sekolah untuk menghormati agama dan kepercayaan setiap anak, serta melindungi hak orang tuanya.

Sulitkah Beribadah?

Meskipun terdapat tembok pemisah antara negara dan agama, di sisi lain, kebebasan beragama sangat dijunjung. Pelajaran agama bisa didapat dengan bebas di berbagai tempat ibadah. Tidak sedikit pula orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah swasta berbasis agama, seperti sekolah Katolik, Yahudi atau Islam.

Nilai-nilai agama juga bisa diperoleh dari berbagai organisasi. Misalnya, untuk Muslim Indonesia di Washington, D.C. Area, bisa belajar tentang Islam, belajar mengaji, melaksanakan Sholat berjamaah, atau ikut pesantren kilat saat bulan Ramadan, bersama organisasi IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) yang telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu.

image

image

Karena kebebasan beragama ini pula, pegawai negeri Amerika, bahkan tetap bisa beribadah di kantornya. Di kantor VOA Indonesian Service di Washington, D.C. yang merupakan instansi pemerintah Amerika, terdapat Mushola tempat para karyawan Muslim beribadah.

Mushola ini dulunya adalah gudang, yang kemudian disepakati untuk dijadikan tempat Sholat. Para karyawan Indonesia kemudian memasang karpet dan sajadah di ruang ini. Selain itu, setiap Jumat-nya, karyawan Muslim dari seluruh servis bahasa juga bisa menggunakan aula kantor VOA sebagai tempat pelaksanaan Sholat Jumat bersama. Saat perayaan Idul Fitri, karyawan juga dipersilahkan untuk cuti atau masuk setengah hari agar bisa melaksanakan Sholat Ied paginya.

image

Siswa sekolah negeri juga dibolehkan untuk beribadah di sekolah. Misalnya saja, jika diminta, guru-guru SMA di Negara Bagian Virginia dan Maryland, selalu memberi izin kepada siswa Indonesia untuk Sholat Dzuhur atau Ashar di sekolah, bahkan saat proses belajar-mengajar berlangsung. Mereka Sholat di ruangan yang tidak terpakai atau perpustakaan sekolah. Tidak hanya itu, saat bulan Ramadan mereka dipersilahkan untuk tidak mengikuti kelas olahraga.

Intinya, asal dilaksanakan individu atau kelompok secara sukarela, tanpa paksaan, tidak membahayakan orang lain, serta tidak dibiayai dan tidak diatur oleh negara, kegiatan agama di instansi pemerintah, dipersilahkan.

Orang sini (Amerika) mah, gak akan berani melarang-larang orang beribadah,” kata seorang Ibu asal Indonesia yang telah lebih dari 15 tahun tinggal di Amerika dan mempunyai dua anak yang bersekolah di Virginia.

Kisah Semu Terpinggirkannya Islam

Sejak kecil saya sering mendengar betapa Amerika disebut sebagai negara yang membenci Islam. Apapun akan dilakukan negara ini untuk meruntuhkan Islam. Siapapun yang datang akan dicuci otaknya dan dijadikan kafir. Namun, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sudah nyaris setahun menghirup udara Amerika, saya tidak bisa membuktikan tuduhan itu. Yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah tragedi 11 September, Islam, yang merupakan minoritas, justru menjadi agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika. Berdasarkan Association of Religious Data Archives, sepuluh tahun sejak tragedi yang menewaskan lebih dari tiga ribu orang tersebut, jumlah pemeluk Islam di Amerika meningkat 66%, dari 1.5 juta pada tahun 2001 menjadi 2.6 juta orang tahun 2011 lalu. Kemana pun pergi, mulai dari New York, Los Angeles, Miami, bahkan Las Vegas, Muslim dan perempuan berhijab bukan hal yang janggal untuk ditemui.

image


Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri tragedi 11 September sempat menyulut sentimen negatif terhadap Islam.

Misalnya rencana pembakaran Al-Quran oleh Pastur Terry Jones di Florida, pada peringatan sembilan tahun serangan 11 September, 2010 silam. Secara hukum, dia dilindungi hak kebebasan dalam berekspresi. Namun, meski antara negara dan agama dipisah, sebelum Terry melaksanakan aksinya, pemerintah tetap memberi himbauan.

Menteri Luar Negeri saat itu, Hillary Clinton, menyayangkan aksi Terry yang disebutnya sebagai penghinaan yang memalukan. Presiden Barack Obama bahkan menegaskan rencana Terry bisa menyulut kekerasan di berbagai penjuru dunia. Alhasil, sang Pastur mengurungkan niatnya.

image


April 2013, Terry ditahan dengan tuduhan membawa bahan bakar dan senjata api secara tidak sah di tempat umum, saat berencana membakar 2998 Al-Quran, jumlah yang sama dengan korban tragedi 11 September. Walaupun bebas berekspresi, jika berpotensi mengganggu keamanan dan berujung kriminal, aparat berhak menindak.

Kontroversi juga sempat menyelimuti pembangunan Islamic Community Center, dua blok dari bekas tempat berdirinya World Trade Center, beberapa waktu lalu. Sebagian besar pihak yang kontra, tidak mempermasalahkan Islam dan kegiatan agama yang akan dilakukan di sana. Mereka mempermasalahkan pemilihan lokasi yang dinilai kurang sensitif terhadap keluarga korban. Mengapa harus sangat dekat dengan Ground Zero?

Namun, kontroversi hanyalah kontroversi. Pemikiran bebas diutarakan. Meskipun tahun 2010 unjuk rasa penolakan terus terjadi, pembentukan Islamic Community Center tetap berlanjut karena hukum melindunginya, melindungi kebebasan beragama. Apalagi Presiden Obama menegaskan :

Adanya hak bagi siapapun untuk membangun tempat ibadah di properti milik pribadi di lower Manhattan.”

Alhasil, September 2011 lalu, pusat komunitas Muslim yang kontroversial tersebut telah menyelenggarakan acara besar perdananya, yaitu pameran foto anak-anak dari berbagai penjuru dunia.

 image

Ketika berkunjung ke New York beberapa waktu lalu, saya sempat mendatangi Islamic Center tersebut. Lantai dasar, yang merupakan lokasi utama berbagai aktivitas, terdiri dari dua bagian ; ruang bercat putih tempat sejumlah kegiatan budaya dilaksanakan, serta ruang Sholat yang bisa menampung lebih dari 250 jamaah. Sementara, tempat Wudhu terdapat di basement. Meskipun tidak banyak, siang itu saya melihat Muslim dari berbagai ras berdatangan dan melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.

 image

image

image

Berkembangnya Islam di Amerika juga bisa dilihat dari keberadaan Mesjid. Saat berkunjung ke berbagai negara bagian di Amerika, saya selalu bisa menemukan Mesjid atau setidaknya Mushola. Ini sejalan dengan hasil penelitian Hartford Institute of Religion Research tahun 2011 yang menyatakan sejak tahun 2000, jumlah Mesjid di Amerika naik 74%. Setidaknya terdapat 900 mesjid baru dengan total lebih dari 2100 Mesjid di Amerika. Sebagian besar terletak di kota besar.

Namun, seiring bertambahnya warga yang hidup di daerah pinggiran kota, keberadaan Mesjid juga semakin menyebar. Salah satunya, sedang diusahakan oleh Pak Kustim Wibowo, seorang dosen asal Indonesia di Indiana University, Pennsylvania. Lahan untuk Mesjid seluas 6.000 meter persegi seharga $48.000, diperoleh Pak Kustim dan rekan-rekannya tanpa masalah. Kini mereka sedang mengumpulkan dana agar rumah ibadah tersebut dapat segera dibangun.

image

Yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan adalah hal serupa, bahkan terjadi di negara bagian paling relijius di Amerika, dengan 60% penduduknya beragama Mormon, yaitu Utah. Setidaknya terdapat 5 Mesjid di ibukota Utah, Salt Lake City, yang dikelilingi lekuk-lekuk cantiknya pegunungan.

Saya semakin tersentuh mendengar cerita Pak Heru Hendarto, lelaki asal Indonesia yang menjadi tokoh masyarakat Asia di Salt Lake City. Ketika menjadi Presiden Muslim Student Organization (MSO) di University of Utah (U of U) tahun 1997-1999 silam, Ia menuliskan keluhannya di jurnal mahasiswa tentang kesulitan mahasiswa Muslim mendapatkan ruangan untuk Sholat Jumat. Padahal saat itu organisasi Kristen, Mormon, Yahudi bahkan Budha, mendapat perhatian kampus.

Membaca tulisan tersebut, Presiden U of U dan Ketua Senat langsung memanggil Pak Heru untuk menanyakan apa yang bisa dibantu. Setelahnya, setiap Jumat, satu ruang kuliah, sepanjang tahun disediakan khusus untuk MSO.

image

Di sini masalah agama bagus kok. Orang tidak mau ada isu soal diskriminasi agama. Salah satu Mesjid di Salt Lake City, tanahnya bahkan disumbangkan oleh Gubernur Utah.” Ujar Pak Heru. Saya hanya bisa terdiam.

Bahkan, Ahmadiyah yang mendapat diskriminasi di Indonesia, berkembang pesat di Amerika. Di Mesjid mereka yang megah di Silver Spring, Maryland, saya terenyuh melihat bagaimana para jamaah bisa bersujud tanpa mendengar hujatan, tanpa disergap ketakutan.

imageimage

“Di berbagai tempat di dunia, kami tidak dianggap. Namun di sini, hak dasar kemanusiaan kami untuk mempraktikkan agama, tidak pernah direbut,” ungkap Wakil Presiden Komunitas Ahmadiyah Amerika, Naseem Mahdi dengan suara bergetar. Saya terenyuh dengan berbagai fakta, malu terhadap stigma semu yang pernah saya yakini tentang Amerika.

Ironi Negeri di Jantung Khatulistiwa

Awal 2014, saya menelpon orang tua di kampung halaman di Sumatera. Pembicaraan kami santai seperti biasa sampai ayah saya bercerita tentang berita yang baru dibacanya di koran : Wali Kota membatalkan rencana pembangunan sebuah rumah sakit dan sekolah di Kota Padang, Sumatera Barat. Salah satu alasan utamanya adalah karena protes warga bahwa proyek yang direncanakan Pemkot bersama sebuah grup konglomerasi besar yang berasal dari etnis dan agama minoritas tersebut, nantinya dikhawatirkan masyarakat, akan merusak akidah mereka. Hati saya mencelos mendengarnya.

Di saat percakapan dengan ayah terus berlanjut, ingatan saya terbang secepat kilat, kembali ke beberapa penugasan liputan sebelum berangkat ke Amerika. Saya masih ingat berada di dalam sebuah Mesjid milik jamaah Ahmadiyah di Sindang Barang, Bogor, Jawa Barat. Satu-satunya Mesjid yang menerima saya dan tim liputan, setelah seharian ditolak berbagai komunitas Ahmadiyah di Bogor karena mereka ketakutan, kedatangan kami untuk meliput dampak konflik komunal di tanah air, akan memicu kemarahan warga. Di dalam Mesjid yang pernah disegel Pemkot Bogor dan tidak lagi memiliki plang nama itu, para jamaah mengungkapkan harapan mereka, yang semuanya hampir sama : keamanan, ketentraman dan kebebasan dalam beribadah.

image

image

Teriakan puluhan orang di tanggal 25 Desember 2011, juga kembali terngiang di telinga. Mereka menghadang puluhan jemaat GKI Yasmin, Bogor, yang sedang menuju Gereja untuk melaksanakan Misa Natal.

Pagi itu, ratusan aparat kepolisian memblokade setiap jalan untuk menuju Gereja GKI Yasmin, yang izinnya telah dimenangkan oleh Mahkamah Agung. Puluhan orang yang tadi berteriak-teriak, lalu menyebut-nyebut nama Tuhan sambil mengusir para Jemaat menjauh dari barikade polisi, yang tentunya tidak akan bisa dilewati. Tercekat rasanya mengingat kejadian itu.

Memori peristiwa-peristiwa serupa terus berganti di benak, bagai roll-film yang diproyeksikan ke layar bioskop: Pembakaran rumah dan penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di Sampang, Madura, Agustus 2012, Penyegelan, penutupan dan bahkan pembongkaran berbagai Gereja di tanah air dengan dalih tidak adanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Penyerangan yang mengakibatkan tewasnya tiga penganut Ahmadiyah di Cikeusik, Bogor, Februari 2011, dan masih banyak kejadian menyedihkan lainnya.

image

Ironis sekali, ternyata di negara saya sendiri lah, di tempat yang mengakarkan berbagai sisi kehidupan pada agama, dengan Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai bagian ideologinya, dengan kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusinya, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara, serta Kementerian Agama untuk membina kerukunan umatnya, toleransi dan bahkan kebebasan untuk menjalankan agama, justru masih menjadi barang mewah yang sulit didapatkan.

Pemerintah seakan menjadi wakil dan milik kelompok mayoritas, yang bergerak dengan pemikiran mayoritas pula. Minoritas dilihatnya menakutkan, dianggap sebagai kelompok pendosa yang layak dibasmi karena dinilai menjadi racun pengancam keberadaan mayoritas.

Saya malu, karena saya sendiri pernah tumbuh dengan pemikiran itu. Saya tumbuh melihat orang dengan agama berbeda sebagai makhluk asing yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan, sehingga kewaspadaan dan jarak harus tetap dijaga.

Apakah ini karena saya dan banyak dari kita dididik sedari kecil, di berbagai tempat pendidikan, ditanamkan pemikiran yang kemudian larut di alam bawah sadar bahwa hanya kita lah yang benar, agama kita lah yang paling benar, sementara agama berbeda itu salah, menyesatkan dan tidak dapat diterima?

Memang, itulah kepercayaan. Namun, apakah ini membuat kita terlena, larut memaknai agama sebatas betapa benarnya keyakinan kita dan betapa salahnya keyakinan yang berbeda? Bukankah di mata orang dengan keyakinan berbeda, keyakinan kita lah yang salah dan mereka lah yang benar?

Mengapa kita menggunakan fakta mayoritas kita untuk mendiskriminasi mereka dan merebut hak mereka? Mengapa kita tidak bisa menerima perbedaan ini dan menjadikan agama urusan paling pribadi antara individu dengan Tuhan, tanpa perlu memperdebatkannya, tanpa perlu menyakiti orang lain?

Memang tidak pantas untuk membanding-bandingkan Indonesia dengan Amerika. Masing-masing punya catatan baik dan buruk tentang toleransi beragama. Apalagi saya baru tinggal setahun di sini. Masih sangat banyak hal yang belum saya lihat, tempat yang belum saya kunjungi.

Namun, sebagai orang yang tumbuh di tanah air dengan stigma betapa kejamnya Amerika memperlakukan orang-orang beragama minoritas, betapa Amerika kerap dituding akan akal busuk dan kekafirannya, saya merasa perlu untuk menyampaikan bahwa apa yang saya lihat dan rasakan selama ini di Amerika, justru sebaliknya, toleransi lah yang ada, tepa selira lah yang terasa.

Menjadi pemeluk agama minoritas, bukan berarti menjadi alasan untuk tidak dihargai. Mayoritas bukan berarti berkuasa untuk menindas.

Ironis, ini bukan terjadi di sebuah negara di jantung khatulistiwa, yang menjadikan agama sebagai akar hidupnya. Ini justru terjadi di sebuah negara yang seakan agama dibungkam tapi sebenarnya dimerdekakan, di sebuah negara yang moralnya kerap dipandang sebelah mata, di sebuah negara yang seakan hidup tanpa agama. ()

P.S. Terima kasih kepada Nia Iman-Santoso, Indah Tandra, Heru Hendarto dan berbagai pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu, atas bantuan dan kontribusinya yang luar biasa untuk tulisan ini.

 

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Text

“Iko… Iko… Iko…”

Teriakan puluhan wartawan disambut kilatan blitz, terus menghujani Iko Uwais. Tatapan mata dan senyum tipisnya menyiratkan kepercayaan diri. Menoleh ke kanan dan ke kiri, aktor-pesilat ini berusaha memuaskan hasrat puluhan wartawan internasional yang telah setia menunggunya, lebih dari dua jam sebelum red carpet dimulai.

image

Iko tampaknya mulai terbiasa dengan sorotan dunia. Tidak sampai sehari sebelumnya, saat baru menginjakkan kaki di Amerika, hal serupa telah terjadi meskipun tanpa kilatan lampu kamera. Lelaki Betawi ini disapa hangat petugas-petugas keamanan dan imigrasi bandara Los Angeles yang terkenal dingin. Mereka mengenalnya sebagai Rama, polisi dan petarung tangan-kosong di film The Raid : Redemption. Iko merinding, tidak menyangka ribuan kilometer dari tanah air, ada yang mengenalnya, bahkan mengingat karyanya.

image

Blitz kamera terus berkedap-kedip terang di mata. Dibalut suit hitamnya yang gagah, sang aktor laga tanpa pikir panjang memenuhi permintaan para pencari berita. Iko memeragakan tendangan dan pukulan silat yang tegas menghentak angin. Pesona tangguh yang selalu digilai pecinta The Raid : Redemption. Teriakan kini berganti tepuk tangan dan siul sanjungan. Untuk pertamakalinya, pencak silat Indonesia mewarnai red carpet Festival Film Sundance. Iko tenang, membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan pewarta.

image

Di luar, lebih dari seribu orang penikmat dan kritikus film yang antri panjang di bawah suhu beku -5 derajat Celcius, mulai memasuki Eccles Theater. Ekspektasi mereka tinggi terhadap kelanjutan kisah Rama, di The Raid 2 : Berandal (selanjutnya akan disebut Berandal). Inilah satu-satunya yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri Iko. Kini dia gugup. Buah jerih payah berbulan-bulan dan tetesan darah tim Berandal akan terbayar dalam dua setengah jam ke depan. Di dalam teater, Iko menghela nafas panjang. Begitu pula ribuan penonton di ruangan itu. Kini jantung mereka sama-sama berdegub kencang. Lampu pun dimatikan.

MELENGGANG DI SUNDANCE

image

Sebagai pecinta film, adalah sebuah kebanggan bagi saya bisa berada di Festival Film Sundance, Utah, salah satu ajang perfilman paling prestisius di dunia.

Festival film inilah yang melahirkan sineas-sineas jenius seperti Quentin Tarantino (Reservoir Dogs, Pulp Fiction) Steven Soderbergh (Sex, Lies, and Videotape, Ocean Eleven) dan Darren Aronofsky (Pi, Black Swan).

Di sini pulalah film-film kecil yang semula tidak diperhitungkan misalnya Saw, Little Miss Sunshine, The Blair Witch Project, Fruitvale Station dan (500) Days of Summer ditayangkan perdana. Sundance membuat film-film tersebut mendapat perhatian dan distribusi internasional, bahkan berujung merajai tangga box office.

image

Meskipun merupakan festival film independen, dalam 30 tahun penyelenggaraannya, Sundance telah banyak berubah. Acara tahunan yang dikepalai Robert Redford ini telah menjadi wadah bagi selebritis papan atas untuk menyalurkan kemampuan akting terbaiknya. Jadi, bukan hal yang janggal jika selama penyelenggaraan Festival Film Sundance 2014 (16-26 Januari), banyak selebriti Hollywood yang lalu lalang di Main Street, Park City, Utah, jantung keramaian Sundance.

image

Seru juga melihat Lindsay lohan, Irrfan Khan (The Amazing Spiderman, life of Pi, Slumdog Millionaire) langsung di depan mata. Lebih seru lagi saat dihadang dan didorong bodyguard Selena Gomez ketika mengambil gambar sang selebriti dikejar-kejar fans-nya yang menggila.

Namun, tak ada yang lebih membanggakan berada di Sundance tahun ini selain melihat dua film Indonesia, The Raid 2 : Berandal dan Killers, dipertontonkan di kancah internasional. Kebanggaan bertambah ketika mengetahui film-film tersebut dipilih dari 12.218 film yang mendaftar dari 37 negara. Prestasi yang luar biasa. Apalagi mengetahuinya disandingkan sejajar dengan mahakarya jenius-jenius film dunia.

MENAKAR ‘BERANDAL’

Dengan semua alasan itu, tidak salah jika Iko dan tim Berandal grogi. Selain menanggung beban berat kesuksesan film pertama, Berandal juga menjadi salah satu film paling ditunggu di Festival Film Sundance 2014. Hinaan atau pujian setinggi langit, akan dimulai di sini.

Namun, kini mereka tidak perlu khawatir lagi. Ketika lampu bioskop kembali dinyalakan, yang pertama kali menyeruak di benak saya sebagai penikmat film adalah kebanggaan, bahwa karya anak bangsa-lah yang ditepuki dan disanjung penonton Amerika.

(Review – Spoiler Alert!)

image

Melanjutkan aksi Rama (Iko Uwais) di The Raid : Redemption, satu-satunya polisi elit yang berhasil selamat dari serbuan maut ke sarang gembong narkotika ini, kini harus kembali mempertaruhkan hidup demi keluarganya. Rama dipaksa bertugas untuk membuka borok korupsi di petinggi kepolisian, dengan menyusup ke sarang penyuap, Bangun (Tio Pakusadewo), seorang gangster di Jakarta. Bermula dengan mendekati calon pewaris tahta Bangun yaitu sang putra, Ucok (Arifin Putra) yang sedang dipenjara, Rama akhirnya menyadari misi barunya ternyata tak segampang yang dikira. Darah kembali berceceran ketika konflik ini berujung persaingan antarkelompok mafia kelas kakap, yang melibatkan pembunuh-pembunuh bayaran yang tak kenal ampun.

Jelas, Berandal adalah film action keras dengan pertarungan yang berkali-kali lipat pula lebih keras. Namun, sang sutradara tampak tidak mau terjebak membuai penonton hanya dengan aksi visual yang membelalakkan mata. Gareth berusaha membangun cerita yang lebih cerdas, dengan kerumitan dan kekayaan karakter khas film-film gangster, yang mengingatkan pada karya Andrew Lau & Alan Mak (Infernal Affairs) serta Martin Campbell (Casino Royale). Ada intrik, nafsu, ambisi dan pengkhianatan, resep sempurna untuk menyentuh penonton, langsung ke akar karakter manusia, hal yang tidak terjadi di film pertama.

image

Setiap kali klimaks hampir tercapai, penulis sekaligus sutradara Berandal, Gareth Evans, terus menghadirkan cabang-cabang cerita dan tokoh baru yang dibumbui kisah latarbelakangnya. Misalnya Mr. Goto (Ken’ichi Endo) mafia asal Jepang yang merupakan mitra bisnis Bangun ; Prakoso (Yayan Ruhian) pembunuh-sadis tangan kanan Bangun ; hingga Bejo (Alex Abbad) gangster yang sedang naik daun tempat Ucok mengalihkan kepercayaan dan mulai mengkhianati ayahnya. Namun, kompleksnya cerita kadang membingungkan dan terasa berpanjang-panjang.

image

Di sisi lain, semua itu bisa dimaklumi. Gareth melakukannya untuk membuat wadah bagi aksi pertarungan, yang merupakan inti film, semakin banyak, beragam di berbagai lokasi, dengan berbagai alasan. Melihat eksekusi action tersebut disajikannya dengan cantik dan nyaris sempurna, segala kekurangan terlupakan.

Dari banyak sekali pertarungan yang menyesakkan dada di Berandal, setidaknya ada empat adegan yang tak akan terlupakan.

Pertama, Perkelahian di lumpur yang melibatkan seratus orang.

Kapan lagi kita melihat Benteng Van Der Wijck di Gombong, Jawa Tengah disulap menjadi penjara tempat Rama bertemu Ucok. Rusuh brutal para tahanan di lapangan berlumpur setelah hujan deras, digarap menjadi adegan kolosal dengan koreografi apik. Bertarung tapi ber-estetik. Brutal bagai adegan fenomenal serangan pasukan Amerika ke Normandy di film Saving Private Ryan.

image

Kagum mengetahui aksi sekitar 5 menit itu disyuting selama 10 hari. Lebih kagum lagi melihat kesungguhan tim produksinya ; tidak kurang dari 14 truk lumpur-buatan diserakkan di halaman benteng. Jika ada yang salah, adegan kembali diulang. Pemain dibersihkan dengan semprotan air pemadam kebakaran. Hasilnya, sangat sepadan dengan usahanya.

Kedua, Pembantaian di kereta oleh anak buah Bejo, “Hammer Girl”.

image

Jika di film pertama karakter Mad-Dog yang mencuri perhatian, di sekuelnya ini pembunuh bayaran cantik-bisu dengan senjata sepasang martil dan berjuluk “Hammer Girl”-lah yang menyita mata.

Saya masih ingat dengan semangat yang membuncah-buncah ketika karakter yang diperankan Julie Estelle tersebut memulai ritual pembantaiannya di dalam gerbong kereta. Penonton Sundance dibuat hening tak bergerak, menunggu langkah demi langkah sang wanita jelita, sebelum akhirnya mematahkan dan menyobek-nyobek tubuh sasarannya, memuncratkan darah ke seluruh penjuru gerbong, dengan wajah tanpa dosa.

image

Kerja pol-polan tim musik (Aria Prayogi, Joseph Trapenese dan Fajar Yuskema) untuk adegan ini patut diacungi jempol tinggi. Gubahan mereka tak kalah dengan musik-musik tegang karya James Newton Howard (Batman Begins, Blood Diamond)dan Hans Zimmer (The Dark Knight, Black Hawk Down). Mereka dilengkapi dengan tim sound yang tak kalah hebat. Suasana benar-benar terbangun seperti akan terjadi pembantaian. Semakin menegaskan bahwa Gareth membuat karyanya dengan detail dan totalitas setinggi langit.

image

Tetapi tidak ada yang patut disanjung lebih tinggi selain Julie Estelle. Selalu menarik saat melihat seorang pembunuh dihadirkan kontras, melalui sosok perempuan cantik berkulit pucat, berwajah bak fashion model lengkap dengan kaca mata hitam dan gaunnya. Julie yang tampil hanya di dua adegan utama, berhasil menghidupkan “Hammer Girl” dengan meyakinkan serta memorable. Di antara dominasi lelaki, Ia menebar pesona seperti pembunuh bayaran hasil rekaan Quentin Tarantino dalam Kill Bill Vol. 1 ; cantik, unik, tapi mematikan.

 Setelah menonton Berandal untuk pertamakalinya di Sundance, Julie mengaku tak mengenal dirinya dalam karakter perempuan jagal yang diperankannya itu.

Ketiga, Adegan kejar-kejaran mobil di jalanan Jakarta.

image

Balap-balapan di jalanan, penembakan, atau tabrak-tabrakan mungkin bukan hal baru di Jakarta. Namun, menghadirkan semua itu dalam sebuah adegan kolosal bak film-film Hollywood, mungkin Berandal-lah yang pertama kali melakukannya. Jalan Kemayoran, SCBD, Sunter dan Kemenpora pun ditutup khusus untuk memenuhi hasrat sang sutradara.

Semua departemen bekerja maksimal. Namun, yang paling membuat saya bertepuk tangan adalah departemen sinematografi dan car-stunts-nya. Tak pernah terbayang di benak, saat kejar-kejaran mobil, ada sebuah sekuen yang luar biasa ; gambar dimulai dari luar mobil yang melaju kencang, lalu masuk ke dalam mobil lewat jendela sopir, kemudian keluar lagi melalui jendela penumpang dan menghadap ke mobil pengejar di belakangnya. Semua dalam satu shot tanpa terputus.

image

Seusai pemutaran, seorang penonton Sundance menanyakan trik apa yang dilakukan dalam mengambil sekuen itu. Awalnya, saya berpikir itu dibantu spesial efek. Namun, jawaban Gareth membuat kami ternganga. Adegan itu ternyata dikerjakan manual ; kamera semula berada di depan mobil pertama, lalu mendekati mobil dan masuk lewat jendela. Kamera disambut operator di dalam mobil yang kemudian membawanya kembali keluar mobil lewat jendela penumpang. Di luar, operator berbeda menyambut kamera dan mengarahkannya ke hadapan mobil yang di belakang. Semua dilakukan saat mobil bergerak. WOW!

Keempat, adegan pertarungan puncak di dapur.

image

Meskipun di sepanjang film, penonton disuguhkan segudang adegan pertarungan, tetapi Gareth memang lihai menyimpan aksi pamungkasnya. Uniknya, adegan tersebut sama sekali tidak melibatkan banyak orang atau kebut-kebutan mobil, melainkan hanya dua orang di dapur ; Rama dan pengawal utama Bejo, seorang pembunuh bayaran tanpa nama dan bersenjata karambit, pisau khas Indonesia yang melengkung bagai kuku macan.

Pertarungan brutal bermula dengan tangan kosong. Setiap sisi ruangan, dinding dan peralatan dapur, dijadikan senjata dalam perkelahian panjang tersebut. Menjelang klimaks, penonton bisa melihat gerakan silat super cepat dan tanpa ampun dari kedua pendekar ini, menyelinap brutal tapi sangat indah bagai tarian mematikan. Dan ketika puncaknya tiba, saat darah tak dapat lagi dibendung, semuanya terasa seperti First Sonata gubahan Rachmaninoff ; menyesakkan dan sangat emosional.

Penonton bisa merasakan, pertarungan yang seakan tanpa ujung itu, telah menguras seluruh energi kedua petarung tangguh. Letih melihatnya. Ingin rasanya berteriak bersama Rama saat dirinya berhasil menusuk-nusuk karambit tajam ke tubuh empunya senjata, si pembunuh berdarah dingin yang diperankan sangat apik oleh pesilat Garut yang telah mendunia, Cecep Arif Rahman.

image

Melihat adegan ini, saya jadi mengerti apa yang disampaikan Yayan dan Iko (keduanya juga berperan sebagai fight-choreographer) beberapa jam sebelum premiere. Koreografi pertarungan Berandal telah selesai, bahkan sebelum ide tentang The Raid : Redemption ada.

Namun, karena skalanya terlalu besar dan membutuhkan banyak dana, Berandal ditunda. Ketika ide The Raid : Redemption muncul, Gareth meminta koreografi pertarungan untuk film yang bersetting di satu gedung tersebut, dibuat tidak boleh lebih keras dan dahsyat dibandingkan Berandal, supaya penonton nantinya tetap terpuaskan. Dan ide itu tampaknya berhasil.

image

Secara keseluruhan, Berandal adalah film action yang jauh lebih megah, gelap, rumit dan bertutur dibandingkan pendahulunya. Cerita yang lebih berisi, didukung akting yang mumpuni dan natural dari para aktor. Terutama saya junjungkan salut untuk permainan singkat Cok Simbara, Deddy Sutomo, Tio Pakusadewo, Pong Hardjatmo, Roy Marten dan banyak aktor senior lainnya. Kepiawaian mereka, membuat nafas kriminal dan busuknya dunia gangster Jakarta di film berbudget lebih dari Rp.50 miliar ini, kental terjaga, meskipun mereka tidak mematahkan satu pun tulang lawannya.

Dari pemain muda, Iko Uwais tampak lebih luwes dan matang di depan kamera. Aksi tangan kosong Iko tak kalah dengan pendahulunya seperti Jackie Chan atau Jet Li, bahkan bintang muda Thailand yang sedang berkibar Tony-Ja (Ong-Bank). Tak salah puluhan wartawan mengincarnya sebelum penayangan perdana. Saya juga angkat topi terhadap Arifin Putra yang mampu menghidupkan karakter Ucok dengan nafsu, ketamakan, kekecewaan dan pengkhianatan yang nyaris sempurna. Namun, penghormatan tertinggi pantas diterima ratusan pendekar yang menjadi pendukung film. Setiap pukulan, teriakan dan erangannya, telah menjadi nyawa abadi Berandal.

FILM INDONESIA?

image

“Di negara kita sendiri, pencak silat dipandang sebelah mata. Lewat film ini, kami tidak bertujuan memperkenalkan pencak silat pada dunia. Dunia sudah mengetahui, mempelajari, bahkan mencintai. Kami justru ingin memperkenalkan silat pada kaum muda Indonesia.”

–Yayan Ruhiyan (aktor dan fight-choreographer Berandal)

Di saat kita berkoar-koar dan bangga terhadap prestasi Berandal, film ini sebenarnya adalah pengingat untuk amnesia pada banyaknya kekayaan negeri yang kerap terlupakan.

Sebelum sampai di Sundance, saya sendiri membawa pertanyaan :

Apa kita wajar menyebutnya film Indonesia, ketika Gareth Evans, otak dari film, ini adalah seorang non-Indonesia, seorang dari Wales, Inggris?

Berhak-kah kita mengklaim sebuah film yang kemudian sukses secara internasional, sebagai “film Indonesia”, padahal sebelumnya kita jarang berbangga terhadap nilai-nilai asli negeri yang berusaha diangkat film tersebut?

Apakah kita hanya mendompleng popularitas belaka?

image

Namun, pemikiran itu gamang ketika melihat seribuan orang antre di udara dingin hanya untuk menonton Berandal, sinema yang mereka sebut sebagai “film Indonesia”.

Pertemuan dengan Gareth, semakin meruntuhkan kegamangan itu. Saya tercenung menyadari bagaimana sang sutradara berusaha keras untuk menampilkan Indonesia di setiap karyanya ; Merantau, The Raid : Redemption dan Berandal. Mulai dengan hal-hal sederhana seperti kisah perantau, penggunaan singlet, shot makan mie instan, hingga Reog Ponorogo yang memang kental nilai budayanya.

Tak hanya itu, sebagian besar kru film besutan Gareth adalah orang Indonesia. Bahkan di bagian teknis penting Berandal seperti di departemen sinematografi, editing dan musik, selalu ada kru Indonesia. Aria Prayogi dan Fajar Yuskema yang dulu hanya mengerjakan musik The Raid : Redemption versi Indonesia, kini ikut mengerjakan versi internasional Berandal. Tampak sekali Gareth tak ingin filmnya kehilangan identitas nusantara.

image

Saya semakin terdiam, apalagi ketika ditanya apakah dirinya akan pindah ke Hollywood setelah kesuksesan Berandal, Gareth hanya menjawab ringan namun penuh makna ;

“No, not really. Indonesia is kind of become my home now.”

Saat Indonesia telah dicintainya, ketika bakat silat Iko Uwais dan Yayan Ruhian telah diperkenalkannya ke panggung dunia, ketika negeri ini telah diharumkannya, pertanyaan apakah Berandal adalah film Indonesia atau bukan, kini tak penting lagi. Terima kasihlah yang patut diutarakan. ()

P.S. Tulisan ini tidak akan ada tanpa kesempatan dan ide-ide brilian dari Alam Burhanan dan wawancara luar biasa Vena Annisa dengan kru Berandal.

*Semua poster dan still film adalah milik Merantau Film

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Text

Mungkin tak banyak yang tertarik untuk menghabiskan saat-saat terindah akhir tahun di Detroit, sebuah kota bangkrut di negara bagian Michigan. Kriminalitas merajalela di kota yang beberapa dekade lalu sempat mengecap kejayaannya sebagai jantung industri otomotif Amerika ini.

Namun, ketika dua orang sahabat menunggu di sana, tak ada alasan untuk menolak. Tak ada alasan untuk mengabaikan godaan melihat bekas-bekas kegemilangan Detroit, berkelana ke kota-kota kecil di sekelilingnya, merasakan Natal putih dengan salju yang terus jatuh menghujani bumi dan mengabadikan semuanya dengan kamera smartphone.

DI BAWAH TITIK BEKU

Saya baru menyadari bahwa tidak semua daerah, bersalju, saat musim dingin di Amerika. Hanya beberapa negara bagian, terutama yang terletak di utara dan daerah-daerah pegunungan, yang selalu bersalju.

Washington, D.C. yang berlokasi di timur laut Amerika saja, lumayan jarang tertimbun serpihan-serpihan putih ini. Namun, berbeda dengan Detroit. Berbatasan dengan Kanada, dingin yang membekukan adalah santapan keseharian warganya. Di kota inilah, saya merasakan suhu terdingin seumur hidup. Jauh di bawah 0 derajat Celcius. 

image

Berlapis-lapis. Berganti musim berarti berganti cara berpakaian. Satu lapis, dua lapis, tiga lapis, berlapis-lapis. Ini maksimal yang rela saya gunakan. Jika masih kurang hangat, nikmati saja.

image

Welcome to Detroit. Sejak tahun 1980-an, Detroit Metro Airport adalah salah satu bandara transit internasional tersibuk di dunia. Tiga puluh juta penumpang dilayaninya setiap tahun. Berbagai kemudahan disediakan ; mulai dari arahan dwi-bahasa, hingga kereta listrik dalam terminal yang beroperasi tepat di atas ruang tunggu. Maklum, panjang sebuah terminal mencapai hampir 2 km.

image

-15 derajat Celcius. Jika berlama-lama di udara terbuka dengan suhu -15 derajat, cuping telinga dan ujung-ujung jari bisa kesakitan dan mati rasa. Wajah tanpa sadar langsung mengkerut karena ujung-ujung syaraf terkejut. Tidak terbayang bagaimana rasanya dikepung suhu terendah yang pernah terjadi di Detroit, tahun 1984 silam, yaitu -31 derajat Celcius.

image

image

Hanya Indah di Mata. Orang Amerika ternyata masih terkesima melihat turunnya salju. Semakin lebat dan tebal, semakin dramatis-lah suasana. Namun setelahnya, ketika buntelan-buntelan putih itu menumpuk, membeku dan harus dikeruk, hidup menjadi tak seindah kelihatannya.

image

Hibernasi? Tidak. Di saat dingin, ketika manusia lebih memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah, tupai abu-abu ternyata meninggalkan sarang dan menjalin jaket-jaket penghangat tubuh, dari tumpukan lemak makanan.

imageimage

Memetik Hasil. Sekitar 96.000 (2.2%) warga Detroit adalah keturunan Yahudi. Sebagian besar dari mereka berimigrasi ke Amerika pada awal abad 20 dan kemudian menjadi bagian penting dari era otomotif maju Detroit saat itu. Dengan kerja keras, tidak mengagetkan jika banyak rumah mereka dan keturunannya di pinggiran Kota Detroit yang bagus-bagus, dan tentunya hangat.

WHITE CHRISTMAS

Natal putih bergelimang salju adalah impian semua orang, termasuk bagi yang tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia. Indah melihat butir-butir kristal es itu melayang-layang tertiup angin, jatuh di pekarangan rumah yang penuh kerlap-kerlip hiasan Natal. Sangat menghangatkan hati.

imageimage

Warm Winter-Night. Meskipun saya tidak merayakan Natal secara relijius, saya bahagia melihat kebahagiaan itu terpancar dari tuan rumah, dari sahabat saya di Detroit, pak Haryono dan bu Indah. Saya merayakan kehangatan, merayakan kebahagiaan mereka.

imageimageimage

Berdaun salju. Hari itu kami berkendara ke utara, menuju kota kecil bernama Frankenmuth. Kanan-kiri semuanya putih. Pohon-pohon berdaun salju. Tak bisa berbicara, mereka terlihat merana, namun seakan memaksa diri untuk tegap dan berkata, “Jangan mengeluh, tak mampu mengeluh menerjang dingin.”

imageimage

Deer Whisperer. Frankenmuth adalah Little Bavaria dan kota Natal-nya Michigan. Selain banyak bangunan bercorak Jerman, trotoar dan taman juga dipenuhi berbagai patung bernuansa Natal, seperti rusa-rusa yang terlihat sangat hidup ini.

image

image

image

Inside-Out. Tidak ada yang dapat menolak keindahannya. Keindahan yang memedihkan, ketika lemari es jauh lebih hangat dibandingkan pekarangan. Namun, di bawah masing-masing tudung atap rumah ini, sebuah keluarga sedang berkumpul, bercanda, makan siang bersama, menghangatkan hari dengan unggun yang muncul dari tawa renyah belahan jiwa.

DARI AVATAR HINGGA KENNEDY

Awalnya saya mengira The Henry Ford Museum adalah sebuah museum otomotif, karena di Detroit-lah Ford pada awal abad ke-20 membangun kerajaan industri mobil, yang terjangkau bagi masyarakat kelas menengah Amerika. Saya tidak sepenuhnya salah. Namun, yang ada di museum ini jauh lebih beragam daripada itu.

image

Menjadi Na’vi. Ingin tahu rasanya menjadi Na’vi di film Avatar? Museum ini menyediakan sebuah virtual set bewarna merah sebagai representasi dunia Pandora, yang memiliki sensor untuk menangkap gerakan manusia. Di layar, gerakan aktor di set akan digantikan oleh Avatar-nya secara real-time. Inilah rekaman Aksi Avatar saya!

imageimage

Hitam-Putih. Di negara semaju Amerika, demokrasi sejati, pengakuan manusia sebagai manusia sebenarnya tanpa melihat warna kulit, ternyata baru terjadi pada pertengahan tahun ‘60an.

Sebelumnya, orang kulit hitam didiskriminasi ; di restoran, tempat minum, kendaraan umum dan lain sebagainya. Di dalam bus hijau-kuning di ataslah, Rosa Parks pada tahun 1955 melakukan aksi yang saat itu dinilai kontroversial, menolak memberikan tempat duduknya di deretan bangku kulit hitam, kepada seorang penumpang kulit putih yang tidak kebagian tempat duduk.

image

Pencetak Rekor. Mobil berbagai zaman dipamerkan di museum yang berdiri sejak tahun 1929 ini. Tidak ketinggalan Goldenrod, pemegang rekor mobil tercepat tahun 1965 hingga 1991. Kecepatan maksimumnya mencapai 658.64 km/jam.

image

Saksi Kennedy. Setengah abad yang lalu, Amerika berkabung ketika Presiden John F. Kennedy tewas ditembak saat iring-iringan mobil kepresidenan melintas di jalanan Dallas, Texas. Mengagetkan mengetahui mobil yang menjadi saksi penting sejarah itu, ternyata tidak memiliki satu-pun lapisan anti-peluru ketika dikendarai sang presiden. Lebih mengejutkan lagi, meskipun menjadi tempat terbunuhnya Kennedy, limousine ini ternyata tetap digunakan tiga presiden setelahnya ; Lyndon Johnson, Nixon dan Ford. Namun, tentunya setelah beberapa penyempurnaan, seperti penambahan kaca dan ban anti-peluru serta atap permanen yang tidak bisa dibuka.

DI KOTA BANGKRUT

“Apalah yang bisa dilihat di Detroit. Sudah bangkrut, pasti gak menarik.” Itulah beberapa komentar teman yang tahu saya akan berkunjung ke Detroit.  Namun, fakta itulah yang menjadi magnet bagi saya untuk mendatangi kota ini. Melihat bagaimana kota yang dulunya adalah salah satu jantung ekonomi, industri dan lambang metropolis Amerika, hancur dan kehilangan hampir segalanya. Dan tidak ada tempat yang lebih tepat menikmati pengalaman ini, selain di Downtown Detroit.

image

The Renaissance Center. Saya pertama kali mengenalnya sebagai gedung “baterai” dalam film 8 Mile. Gedung paling tengah dari kumpulan 7 pencakar langit yang sambung-menyambung ini, sejak tahun 1977 adalah bangunan tertinggi di Michigan. Tingginya 230 meter, hampir seperempat kilometer.

image

Fisher Building. Bergaya Art-Deco dengan batu gamping, granit dan pualam yang menjadi rangka dan daging tubuhnya, Fisher Building yang dibangun pada salah satu masa terkelam ekonomi Amerika pada tahun 1930-an, adalah ikon pencakar langit yang kerap terlupakan.

 image

Bangkrut. Sejak tahun 1962 hingga 2012, pendapatan Detroit turun drastis 40%. Alhasil, Juli lalu kota ini bangkrut, tak mampu membayar hutang yang jumlahnya tak tanggung-tanggung, mencapai 20 miliar dolar.

image

Tak Mampu Bertahan. Ekonomi memburuk. Gedung-gedung ditinggalkan. Detroit telah menjadi rumah bagi lebih dari 78.000 bangunan rusak tak berpenghuni.

image

People Mover. Tidak ada cara yang lebih tepat menikmati sisa-sisa kejayaan Detroit selain dengan People Mover, kereta listrik tanpa pengemudi yang mengelilingi jantung Ibukota Michigan ini, di jalur sepanjang lebih dari 4 km. Apalagi biayanya cuma 75 sen sekali jalan.

image

Transformers : Age of Extinction. Fisiknya yang bobrok membuat sineas tergoda menjadikannya lokasi pembuatan film. Seorang penumpang People Mover mengatakan kepada saya, Transformers 4, Juli lalu syuting di sekitar gedung ini. Detroit disulap menjadi Hongkong.

image

image

Ibukota Kejahatan. Di masa kejayaannya sebagai kota utama penghasil mobil Amerika, penduduk Detroit mencapai 1.8 juta jiwa. Kini, hanya 700 ribu orang yang bersedia bertarung hidup di sini. Angka kejahatan stabil di kondisi terburuk. Forbes magazine tahun 2012 lalu menobatkan Detroit untuk kelima kalinya, sebagai kota dengan tingkat kejahatan tertinggi di Amerika.

SISA-SISA KEINDAHAN

Masih ada emas di tengah payaunya sungai. Pasti ada yang manis tersisa, betapapun buruknya suasana. Itu juga terjadi di Detroit. Nafas kerasnya menjadi daya pikat tersendiri. Apalagi kota terbesar di Michigan ini memang dulu didesain untuk menjadi primadona. Di sini saya melihat berbagai karya memukau hasil pemikiran dan buah tangan manusia, serta mendatangi salah satu instalasi seni luar ruangan yang membelalakkan mata, The Heidelberg Project.

image

Detroit Skyline. Di balik cerita kelamnya, tak dapat ditampik, hati selalu bergetar melihat goresan puncak-puncak gedung di dinginnya kaki langit Detroit.

image

Tuhan & Manusia. Di Balaikota, sebuah patung perunggu duduk megah setinggi 7 meter. Terang mentari di tangan kirinya sebagai perlambang Tuhan. Pion-pion emas di tangan kanannya sebagai perlambang manusia. Marshall Fredricks memahat The Spirit of Detroit sebagai simbol kasih Tuhan yang nyata terwakili dalam sebuah keluarga.

image

Horace E. Dodge and Son Memorial Fountain. Saat musim panas, air menghambur antara bagian cincin dan sumurnya. Instalasi seni ini adalah hadiah Anna Thompson Dodge, salah satu wanita terkaya di dunia, untuk mengenang mendiang putra dan suaminya, Horace Elgin Dodge, miliarder pemakarsa industri otomotif Amerika.

image

Mencari Kebebasan. Awal abad ke-19, Michigan telah menjadi tempat pelarian warga kulit hitam dari perbudakan di selatan. Sementara, terletak hanya di seberang sungai Detroit, Kanada pada tahun 1834 telah menghapus perbudakan. Ketika Fugitive Slave Act, peraturan untuk membawa budak yang telah kabur kembali ke selatan, disahkan tahun 1850 oleh Kongres Amerika, para mantan budak ini tidak memiliki pilihan lain. Mereka harus menyeberang ke Kanada untuk meraih kebebasan sepenuhnya. Patung Gateway to Freedom International Memorial ini mewakili kisah itu.

image

image

The Heildelberg Project. Melangkahkan kaki di sini bagai berjalan di dunia fantasi. Tak terbayangkan semuanya bermula dari kisah seorang tentara bernama Tyree Guyton, yang pulang ke kampung halamannya setelah mengabdi untuk negara pada pertengahan ‘80an.

Dia trenyuh melihat apa yang ada di hadapan mata. “Detroit bagai telah dibombardir,” rintihnya ironis. Gedung-gedung hancur menjamur, sisa dari pergolakan antara polisi dan warga kulit hitam pada tahun 1967. Pergolakan yang menewaskan lebih dari 40 orang, meluluhlantakkan ribuan bangunan dan menjadi pemantik masa suram Detroit. The Heidelberg Project adalah wujud protes Tyree.

imageimage

Absurd. Kagum melihat bagaimana Tyree melampiaskan kemarahan dan kesedihannya melalui bangunan di sepanjang jalan Heidelberg, seluas lebih dari 12 ribu meter persegi. Takjub melihatnya meledakkan kreativitas seninya untuk mewakili teriakan hati, memohon agar Detroit kembali bewarna.

image

Berbuah Manis. Usaha kerasnya berbuah manis. Karya-karya seni mantan tentara ini berhasil merubah lingkungan di sekitar jalan Heidelberg. Warga yang dulu ketakutan paska tragedi 1967, mulai berani keluar rumah, menikmati luapan imajinasi Tyree. Tak kurang dari 275 ribu pengunjung baik lokal maupun internasional, menikmati The Heidelberg Project setiap tahunnya.

image

Memudar. Namun, keceriaan yang dipancarkannya mulai redup. Satu per satu instalasi ini dibakar orang tak dikenal, menyisakan arang-arang hitam,tanpa tahu jejak pelaku. Sepanjang tahun 2013, lima bangunan penuh warna Heidelberg rusak dilalap api.

image

Baby-Barbie Christ. Namun, apapun yang terjadi saat ini, The Heidelberg Project telah menjadi bukti bahwa kekuatan kreativitas dan imajinasi, bisa menjadi lentera menuju masa depan yang lebih baik. Mengingatkan kita bahwa di tengah kebangkrutannya, di tengah dingin yang terus menerpa, Detroit dulu pernah bangkit dan pastinya bisa bangkit lagi. ()

P.S. Perjalanan dan tulisan ini tidak mungkin ada tanpa pak Haryono dan bu Indah Tandra, dosen saya dulu ketika kuliah di Bandung, yang sekarang pindah mengajar ke Detroit Metro Area. Mereka adalah guru dan sahabat, yang berada di balik sejumlah petualangan seru kami di Amerika, mulai dari Chicago hingga ke Niagara. Pengalaman di Detroit ini telah menjadi pamungkas kisah jalan-jalan kami, yang akan saya kenang selamanya.

image

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Text

image

"A man may stand there and put all America behind him." -Henry David Thoreau

Henry David Thoreau, pujangga abad ke-19 yang telah menginspirasi pemikiran Tolstoy dan Gandhi, memuji keindahan Cape Cod. Pujian Thoreau inilah yang akhirnya membawa saya dan Aryo ke semenanjung di tepi Atlantik,  berkendara satu setengah jam dari Boston menuju ke selatan.

image

Kalau dilihat dari udara, Cape Cod terlihat bagai lengan yang sedang dikepalkan, dengan kota-kota kecil yang terkenal akan keindahan pantainya.

Malam itu kami menginap di salah satu hotel di bagian trisep Cape Cod, di sebuah kota kecil bernama Hyannis, tempat anak-anak keluarga Kennedy dibesarkan.

Presiden John F. Kennedy sendiri pernah menjadikan rumah keluarganya di sini sebagai markas pemenangan Pemilu Presiden tahun 1960. Setelah terpilih, salah satu Presiden Amerika paling karismatik dan fotojenik itu menjadikan Hyannis sebagai rumah musim panasnya, sebagai Summer White House.

image

Saya ingin sesegera mungkin menikmati kenyataan itu, namun gelapnya langit dan letih telah menenggelamkan ambisi kami hari itu.

KE UJUNG SEMENANJUNG

Pukul 9 pagi, kami bergegas ke tujuan pertama, Race Point Beach, Provincetown, di bagian paling ujung, di kepalan tangan Cape Cod.

Hari itu benar-benar sempurna. Langit bersih tanpa awan bagai membentang lebih tinggi berkali-kali lipat. Matahari terik, namun suhu hanya 10 derajat Celcius. Sangat sempurna.

Ketika mendekati pantai, saya hampir tidak percaya apa yang tersaji di hadapan mata. Mungkin sekilas hanya lapangan kosong dengan sebuah rumah bercat putih mencolok menyendiri. Namun, suasana ketika itu membuatnya terasa tidak nyata. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Semua warna terasa pekat. Biru pekat. Putih pekat. Saya merasa kami bagai dua bocah yang tersedot ke dunia mimpi dan disajikan sebuah petualangan.

image

Kami berlari ke pantai. Ada keraguan di hati karena tidak ada bau laut. Tak terdengar debur ombak. Hanya butir-butir pasir kering yang berderai ketika dipijak. Ilalang-ilalang laut bergemerisik, tidak hanya berbunyi, tetapi berkerlap-kerlip memantulkan cahaya matahari. Di pinggir laut, mereka terbentang sejauh mata memandang. Saya tak mampu berkata-kata.

Menyusuri setapak, ilalang berganti hamparan pasir maha luas. Saya hanya bisa tertawa, ternganga dan berlari-lari kecil. Yang terbayangkan saat itu hanyalah, di setiap langkah apakah saya akan terbangun dari mimpi? Tapi itu tidak pernah terjadi.

image

RAHIM AMERIKA

Selain keindahannya, tidak ada yang lebih mengagumkan dari Race Point Beach selain kebersihannya. Tidak ada satu pun sampah terlihat. Kadang ada perasaan bersalah memijak pasir, meninggalkan bekas telapak kaki, menghilangkan kehalusannya.

image

Meskipun menjadi salah satu tempat favorit di musim panas, Race Point bagai masih perawan. Tak ada yang berjualan di pinggir pantai, tak ada bangunan-bangunan tinggi berjejer, tak ada komersialisasi, bahkan tak ada hotel dalam radius dua kilometer.

Dengan ketenangan airnya dan keheningannya, mungkin tidak banyak yang menyangka, di pantai inilah koloni dari Inggris, para Pilgrim berlabuh, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Amerika pada awal abad ke-17.

image

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka ketika sampai di Provincetown, hampir empat ratus tahun lalu. Mereka mungkin berlayar ribuan kilometer melintas samudera hanya untuk mencari kebebasan beragama. Tapi saya tahu, ketika sampai di sini, di pantai ini, letih terombang-ambing di lautan yang mereka rasakan berbulan-bulan, terbayarkan.

image

Jika mereka melihat yang sama dengan apa yang saya lihat saat ini, mereka mungkin merasa perjalanan panjang itu memang diberkati yang Kuasa. Mereka disambut pantai, disambut daratan yang bagai nirwana. Surga tempat mereka melahirkan anak-anaknya, para tetua Amerika.

RUMAH PENYELAMAT

image

Satu-satunya bangunan yang ada di pinggir pantai ini adalah The Life Saving Station.  Pertama kali melihatnya, gedung ini seperti rumah seorang kaya penyendiri yang memiliki sebuah pantai pribadi. Namun, faktanya lebih mengagumkan daripada itu. Sejak tahun 1897, rumah ini adalah stasiun penyelamatan bagi korban-korban kapal karam di sekitar Race Point Beach.

image

Ada kisah menarik. Gedung yang diarsiteki George R. Tolman ini awalnya  berada di Nauset Beach, Chatham, di bagian siku Cape Cod. Namun, karena abrasi laut terus menerus, memaksa pemerintah pada tahun 1977 memindahkan bangunan ini ke tempatnya sekarang.

image

Di belakang The Life Saving Station, terhampar bukit-bukit pasir, menambah kesan surreal yang amat layak dibingkai bak lukisan.

image

BERBURU MERCUSUAR HINGGA KE PORTLAND

 image

Ketika matahari menerangi pucuk kepala, kami meninggalkan Race Point menuju ke destinasi berikutnya, Portland, di Negara Bagian Maine, tempat mercusuar paling sering difoto di Amerika Utara, Portland Head Light berdiri megah.

image

Portland terletak di bagian utara Boston. Dari Provincetown, Cape Cod, kami harus berkendara sekitar 3 jam. Dalam mobil, kami tergelak, takjub sendiri karena seluruh rencana sejauh ini berjalan lancar. Dalam satu setengah hari, kami mendatangi semua tempat yang ditargetkan. Tinggal satu tujuan lagi dan sempurnalah perjalanan ini.

Sebagai pemanasan, kami singgah dulu ke mercusuar Chatham Light di bagian siku Cape Cod.

Lebih dari separuh persitiwa tenggelamnya kapal di Samudera Atlantik hingga Teluk Meksiko terjadi di sekitar Cape Cod. Peran mercusuar sebagai penanda daratan, pantai penuh karang dan pembantu navigasi, amatlah vital di wilayah ini.

image

Chatham Light adalah bagian dari sistem penyelamatan itu. Mengagumkan mengetahui mercusuar ini dibangun atas inisiasi Thomas Jefferson, founding father-nya Amerika.

Meskipun saat ini satelit dan navigasi canggih telah dimiliki kapal-kapal, mercusuar Chatham tetap dipertahankan. Sebuah lentera penerang modern bahkan dipasang tahun 1969. Semua, tak lain dan tak bukan hanya untuk mengingatkan keunikan dan pentingnya peran mercusuar ini dalam sejarah maritim Cape Cod.

 image

Saya kaget melihat waktu telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Masih perlu berkendara selama dua jam hingga sampai ke Portland. Tatkala musim gugur, waktu terang memendek. Sekitar pukul lima sore, matahari telah terbenam. Apa indahnya melihat mercusuar ketika segalanya gelap? Kami pasti hanya akan melihat cahaya yang dipancarkan lenteranya saja.

Aryo langsung memacu mobil. Boston terlintasi. Kami terus bergerak ke utara melewati negara bagian New Hampshire, sebelum sampai di Maine.

image

Musim gugur membuat alam benar-benar menawan. Apalagi kami berkemudi di salah satu tempat paling Indah untuk melihat daun-daun berubah warna, yaitu di New England, kawasan pemukiman pertama imigran Inggris di timur laut Amerika, yang melingkupi Negara Bagian Maine, New Hampshire, Massachusetts, Vermont, Rhode Island dan Connecticut.

image

Memasuki Maine, jalanan sempat macet beberapa kali. Ufuk barat mulai menelan sang mentari. Gelap datang. Jalan terus mengecil dan kami memasuki kawasan pemukinan warga di pinggir hutan. Sangat gelap. Tidak ada lampu jalan. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu mobil sewaan kami. GPS memperlihatkan, dalam tiga menit kami akan sampai.

GAGAL

“Destination is on your left.”

Suara siri terdengar sangat kencang di tengah kesunyian itu. Saya agak was-was. Di sekeliling kami gelap gulita. Aryo sedang memutar setir ke kiri, berbelok masuk, ketika badan saya tiba-tiba terdorong ke depan dan terhempas lagi ke kursi mobil. Rem digenjot dadakan.

“Ada pagar,” sahut Aryo agak terengah.

Saya hanya terdiam dan ternganga. Jalan ke Portland Head Light ditutup.

Perlu beberapa saat bagi kami untuk mengambil keputusan. Saya sendiri kesal dan bertanya-tanya, mengapa tempat wisata di tempat terbuka  dan seterkenal itu sudah ditutup sebelum jam 6 sore?

“Yo, kita cari jalan masuk dari tempat lain, kita balik lagi aja, coba terus jalan ke atas.”

Mobil kami mundurkan ke jalan besar, terus menyusuri dan mencari apakah ada gerbang lain ke Head Light. Belokan pertama ditutupi pagar. Belokan kedua bukan pagar, tetapi palang yang panjang membentang. Belokan ketiga, tidak ada pagar dan palang, tetapi di kanan-kirinya terdapat papan bertuliskan “Private Property.” Kemungkinan besar itu adalah kediaman penduduk. Belokan-belokan selanjutnya membuat kami putus asa. Semuanya dipagari.

Meskipun nyaris tidak ada lagi kemungkinan melihat mercusuar paling terkenal di Amerika itu, kami kembali ke gerbang utama, berharap menemukan petunjuk yang bisa membawa kami ke gerbang yang masih terbuka. Namun, harapan itu hampa belaka. Melihat tulisan di salah satu dinding pagar, saya tersadar, kami sudah pasti tidak akan melihat Head Light hari itu.

“Open Daily 10:00 AM – Sunset.”

Kami benar-benar telat, matahari telah terbenam lebih dari setengah jam yang lalu.

MERCUSUAR TERAKHIR

Dengan berat hati, kami meninggalkan gerbang Portland Head Light tanpa mendapatkan apa-apa. Hanya hampa. Meskipun tidak mau berpikir bahwa tiga jam perjalanan terbuang sia-sia, tetapi itu terus menggaung di kepala.

Mobil kemudian kami arahkan ke pusat Kota Portland. Sepi. Memang menjadi kebiasaan di Amerika, pada hari Minggu, sebagian besar toko dan pusat ekonomi tutup lebih awal, bahkan sebelum pukul enam petang. Namun, di kiri-kanan kami ada beberapa restoran seafood yang masih buka. Portland memang terkenal akan hasil lautnya yang kaya. Berharap mengobati kekecewaan, kami singgah dan santap malam di salah satu restoran itu.

image

Masih penasaran, setelah makan malam saya iseng bertanya kepada pelayan restoran, apakah ada mercusuar lain di dekat kota yang masih bisa didatangi hingga malam. Pertanyaan kami dibalas si pelayan dengan sebuah brosur berisi peta lokasi-lokasi mercusuar di Portland. Hanya satu yang terbuka untuk umum 24 jam, Spring Point Ledge Lighthouse. Letaknya hanya lima belas menit dari restoran seafood itu.

Saya dan Aryo bergegas naik ke mobil karena pukul sebelas malam, mobil harus dikembalikan ke car-rental di Boston. Aryo sangat bersemangat. Jalanan Portland yang sepi diterjangnya dengan mulus. Kurang dari lima belas menit kemudian, kami sampai. Tidak ada palang. Tidak ada pagar. Kami bahkan bisa memarkirkan mobil di dermaga.

Udara dingin menusuk. Bau laut menyeruak. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Lagi-lagi segalanya gelap gulita. Cahaya putih berkali-kali menerabas mata kami. Spring Point Ledge Lighthouse, berdiri tidak lebih dari 100 meter di depan mata. Hanya cahaya dari lenteranya saja yang tampak. Selebihnya gelap.

Saya dan Aryo terus mendekati sumber cahaya. Kami melangkah perlahan diterangi cahaya lampu handphone. Rumput tebal berganti onggokan-onggokan batu yang memanjang sejauh 50 meter ke arah laut, menuju mercusuar.

Tidak tahu apa yang ada di pikiran, mungkin hanya ambisi, kami terus berjalan di atas batu-batu itu mendekati mercusuar. Di sekeliling kami gulita. Langkah hanya diterangi temaram sumber cahaya di genggaman tangan. Semakin jauh, saya mulai merasa bodoh. Tak akan ada yang bisa dilihat. Hanya cahaya mercusuar yang tampak hilang-timbul. Saya menghentikan langkah. Aryo telah terlebih dahulu melakukannya.

 “Kayaknya percuma deh Ki,” sahutnya.

image

Saya pasrah, berjalan kembali ke arah rumput. Angin laut semakin kencang. Kami telah dikalahkan malam. Tidak ada lagi yang bisa kami perbuat selain merelakan keinginan kami untuk melihat mercusuar. Saya coba ingatkan diri. Menyadarkan diri bahwa yang dilihat dalam kurang dari 48 jam terakhir ini, sudah lebih dari cukup. Mungkin mercusuar-mercusuar itu memang disimpan untuk kunjungan selanjutnya ke negara ini.

Kami terus berjalan kembali ke mobil, berkendara ke selatan menuju Boston, untuk terbang pulang ke DC esok subuh-nya. Malam itu suara radio yang memenuhi mobil. Kami letih. Fisik dan emosional. Letih yang saya syukuri karena kami telah mengeluarkan segala daya upaya untuk melihat Boston, Cape Cod, dan Portland. Melintasi tiga Negara Bagian dan melihat sebanyak mungkin dalam dua hari. Hanya dua hari, yang akan kami kenang selamanya. ()

Rafki Hidayat

rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

Text

Musim gugur ini saya sempat jalan-jalan ke Massachusetts, negara bagian tempat sejarah Amerika dirangkai selama beratus-ratus tahun, surga bagi orang-orang berotak ‘paling encer’ di dunia,  rumah asal-muasal keluarga Kennedy, salah satu dinasti politik paling berpengaruh di Amerika, dan tempat bom menghentak Amerika… bulan April lalu.

MEMORI 11 TAHUN LALU

image

Suhu tidak lebih dari 5 derajat Celcius ketika kaki saya dan Aryo, seorang teman dari Maryland, memijak jalanan bata di jantung Kota Boston, ibukota Massachusetts.

Dengan uap mengepul dari mulut tanpa henti dan tangan yang terpaksa harus disembunyikan di kantong jaket supaya tetap hangat, memori 11 tahun lalu, ingatan pertama saya tentang kota Boston, kembali hadir.

Guru sejarah kelas 1 SMP berkisah tentang Boston Tea Party, protes warga Boston terhadap pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1773, yang memaksa mereka membeli teh dari Inggris dan membayar pajak. Kebijakan ini dinilai merugikan petani lokal. Murka, warga Boston pun menyamar menjadi orang Indian, menyelundup ke kapal-kapal Inggris dan membuang berpeti-peti teh Inggris ke Boston Harbor.

image

Peristiwa itu ternyata berujung klimaks dengan revolusi dan bahkan kemerdekaan Amerika. Bu Guru berkali-kali berujar, banyak guratan sejarah penting Amerika itu mengambil tempat di Boston. Tidak nyata rasanya, sekarang saya sedang melangkah di tengah bekas guratan sejarah itu.

MENELUSURI JEJAK KEBEBASAN

Bagaikan tahu dengan kebutuhan menikmati sejarah, Boston hadir dengan Freedom Trail, sebuah jalur bata merah sepanjang 4 kilometer yang menuntun pengunjung ke 17 lokasi sejarah penting Amerika.

image

Salah satunya adalah Boston Common, taman umum tertua di Amerika. Setahun sebelum kemerdekaan Amerika pada tahun 1776, ribuan tentara Inggris kerap berkemah di sini. Dengan senapan di tangan, mereka mencegah berbagai perlawanan warga Boston untuk memperjuangkan kemerdekaan Amerika.

Indah sekali melihat langit biru musim gugur dengan matahari pekatnya, menyinari dedaunan kuning yang tumbuh di taman ini. Saya tidak tahu apakah banyak yang berubah di Boston Common. Namun, ada satu hal menarik, yang saya yakin berbeda dengan 200 tahun lalu. Jika dulu tentara Inggris yang berkemah, sekarang para tunawisma-lah yang menjadikan taman ini tempat tidur raksasa mereka.

image

Mencengangkan mengetahui ada 7.000 tunawisma yang hidup di Boston. Mereka tak ubahnya manusia-manusia jalanan Ibukota. Jumlah mereka sekitar satu persen dari populasi warga Boston.

image

Sebenarnya rumah singgah telah disediakan. Namun, hanya sekitar 12 persen yang bersedia tinggal di sana. Alasannya, banyak kisah buruk. Mulai dari pencurian barang oleh sesama tunawisma, pengedar narkoba dengan jebakan-jebakannya, dan banyaknya kutu kasur pembawa penyakit.

YANG TUA SELALU DIJAGA

Perjalanan di Freedom Trail, sempat berhenti lama di Old State House. Saya terkesima melihat bangunan kuno ini masih kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya.

Pada rumah bata berusia hampir 300 tahun inilah, para pendobrak-pendobrak muda Massachusetts memperdebatkan pajak, peraturan kolonial Inggris yang mengekang, serta menyusun strategi revolusi untuk meraih kemerdekaan.

image

Saat itu ada belasan orang Amerika di samping saya dan Aryo. Saya yakin di pikiran kami berbeda. Di saat mereka bersemangat mencari tahu sejarah negaranya, saya bertanya-tanya apakah masih banyak bangunan kuno-bersejarah di tanah air yang dibiarkan berdiri, tumbuh berkembang bersama kemajuan di sekelilingnya? Saya yakin Anda lebih tahu jawabannya.

Kekaguman ini bukan tanpa cela. Kami sempat bingung mencari Old Corner Bookstore, salah satu situs di Freedom Trail tempat karya-karya penanda zaman Charles Dickens, Nathaniel Hawthorne dan Mark Twain diproduksi. GPS berkali-kali mengarahkan kami ke restoran Meksiko, Chipotle. Tak yakin, kami memutar arah, namun tetap berakhir di tempat yang sama. Bertanya kanan-kiri, ternyata memang gedung Old Corner Bookstore sekarang digunakan oleh Chipotle. Namun, penggunaan ini disepakati tidak boleh merusak bentuk asli gedung.

image

Langkah siang itu akhirnya membawa kami ke Boston Harbor, pengkristalan ingatan puncak peristiwa Boston Tea Party, lebih dari 2 abad yang lalu. Wujudnya ternyata jauh lebih Indah dari yang saya bayangkan. Kapal-kapal layar berpadu berkibar-kibar, seakan terus memberikan semangat kepada warganya menolak setiap ketidakadilan. Semangat yang seakan merayakan kebebasan yang telah diusahakan nenek moyang mereka, beratus-ratus tahun lalu.

image

MENCIUM KAKI HARVARD

image

Boston adalah Yogya-nya Amerika, terkenal dengan sebutannya sebagai kota pendidikan. Terang saja, salah satu universitas terbaik di dunia, Harvard University, ada di sini.

Dulu saya sempat mempunyai cita-cita kuliah jurusan Hubungan Internasional di Jakarta, lalu lanjut S2-nya di Harvard. Keren sekali kedengarannya meskipun tahu sulitnya minta ampun untuk masuk Harvard. Namun, rasa penasaran mengunjungi mantan kampus idaman ini tidak pernah hilang. Hidup sering tidak terduga, saya hanya bisa berharap dan berupaya.

Harvard sebenarnya berada di Cambridge, sebuah kota di utara Boston. Mencapainya, saya dan Aryo menggunakan T, kereta api listrik mirip Metro-nya Washington DC.

image

Menghirup udara segar, saya keluar dari stasiun dengan awan-awan yang memenuhi langit. Muda-mudi lalu-lalang dengan pakaian hangat mereka. Dari gaya dan tas yang digendongnya, ketahuan mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang sedang menyegarkan otak di Harvard Square.

image

Harvard Square adalah tempat gaulnya anak-anak Harvard. Penuh outlet, pub dan restoran. Siang itu kelabu. Berkeliling diiringi semilir angin dingin, saya merasa sedang berada di sebuah kota kecil di Inggris ; jalanan kecil dengan bangunan-bangunan tuanya. Tidak salah, karena nama Cambridge sendiri diambil untuk menghormati Universitas Cambridge di Inggris, tempat banyak penduduk-awal kota ini berasal.

image

Gerbang kampus Harvard berada di salah satu sisi Harvard Square. Gedung-gedung berdiri rapat bewarna merah bata mengelilingi daun-daun menguning yang mulai berguguran di Harvard Yard, lapangan yang merupakan salah satu bagian tertua Harvard.

image

Tidak terbayangkan di sini pernah melangkah dan menuntut ilmu tokoh-tokoh penting dunia: delapan Presiden Amerika termasuk George W. Bush dan Barack Obama, Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, aktivis lingkungan hidup Al Gore, penulis Michael Crichton, aktor Tommy Lee Jones dan ratusan pemenang penghargaan Nobel.

Aneh juga rasanya membayangkan mereka hanyalah manusia biasa yang bersekolah, menggendong tas, bercanda dengan teman-temannya dan kedinginan menatap daun-daun berguguran. Apakah ketika itu mereka tahu, bertahun-tahun kemudian, setiap kata, tindakan atau keputusan mereka akan berpengaruh bagi dunia?

image

Lamunan saya buyar saat melihat kerumunan turis yang berjalan mendekati sebuah patung dan berfoto bergantian di taman itu. Patung itu berwujud lelaki berjubah wisuda yang sedang duduk dan memegang buku di tangan. Uniknya, setiap orang berusaha memegang telapak kaki kirinya. Pastinya tak terhitung jumlah orang yang melakukan itu, terlihat dari warna kakinya yang telah memudar keemasan.

Turis di sebelah saya memberi tahu, itu adalah patung John Harvard, salah satu pendiri universitas tertua di Amerika itu. Memegang kakinya bisa membawa keberuntungan. Tak ada salahnya mencoba, tetapi saya tidak mau hanya memegangnya:-).

image

MIT : KAMPUS TEKNIK ARSITEKTUR CIAMIK

Tak berhenti sampai di Harvard, napak tilas kampus ternama di Cambridge, berlanjut ke universitas yang selalu digaung-gaungkan oleh dosen-dosen saya di ITB dulu, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Awan-awan hitam yang tadi menaungi, mulai menyingkir membiarkan langit biru pekat bergantung di atas kepala. Suasana bumi terkesan lebih bahagia ketika kami menumpang bus dari Harvard ke MIT. Hanya 20 menit. Lebih bahagia lagi ketika kami sampai dan melihat sulur-sulur arsitektur menakjubkan dari salah satu kampus teknik terbaik di dunia ini.

image

Mula-mula saya terkesima dengan Kresge Auditorium. Berdiri sejak tahun 1955 dan pernah menjadi ikon arsitektur pertengahan abad ke-19, auditorium ini adalah tempat pelaksanaan acara formal, konser dan bahkan pernikahan mahasiswa-mahasiswa MIT. Di mata saya, wujudnya tak ubah kerang yang sedang mengintip, memperlihat isi-isi perutnya.

image

Simmons Hall. Mungkin ini adalah asrama-mahasiswa paling unik di seluruh dunia. Bentuknya bagai lego. Tapi jangan salah, gedung bernilai Rp900 miliar dan rumah bagi sekitar 400 mahasiswa MIT ini pernah disebut sebagai “the most beautiful piece of architecture” di Boston, tahun 2004 silam.

image

Mencari gedung ketiga bukan hal gampang. Kami sempat tersesat meskipun GPS dan suara siri terus menuntun. Namun, siapa yang kesal saat tersesat, jika yang dilihat adalah para tentara yang sedang melakukan penelitian tentang misil, gemerisik ilalang di tengah kampus, dan laboratorium dengan pemandangan yang dramatis.

image

image

Dan sampailah kami di gedung ketiga. Ray and Maria Stata Center. Inilah arsitektur yang paling saya kagumi di MIT. Rupanya merefleksikan pemikiran dan kerja keras. Patahan-patahannya bagai meneriakkan kebahagiaan sebuah temuan. Wajar jika jurusan Ilmu Komputer dan laboratorium Artificial Intelligence MIT bermarkas di sini.

 image

KE KAMPUNG KENNEDY

Udara menjadi sangat dingin. Pukul 5 sore, matahari perlahan-lahan terbenam setelah kami mengunjungi lokasi bom Boston yang telah pulih dan melihat lelaki-lelaki paruh baya bermarathon, menuju garis finish Boston Marathon yang selalu terpajang di jalan.

image

Letih rasa kaki berjalan seharian. Namun, itulah inti travelling. Melihat langsung segalanya, merasakan segala hal, mematri memori sebanyak mungkin.

Langit sudah hitam ketika kami menerjang jalanan kota, yang saat itu penuh uap bekas tersiram hujan dengan mobil sewaan kami. Sepanjang jalan, saya dan Aryo sibuk menceritakan pengalaman yang lumayan banyak seharian tadi.

Dari Boston, kami berencana nyetir satu setengah jam dan menginap di Hyannis, Cape Cod, , kota tempat kediaman keluarga Kennedy. Sang mantan Presiden fenomenal, John F. Kennedy, pernah tinggal dan menghirup keindahan Amerika di setiap musim panas kota ini.

Rasanya saya tidak sabar menunggu hari esok yang akan membawa saya  ke salah satu semenanjung paling indah di Massachusetts yang berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik.

 

image

Bersambung ke “Lautan Mimpi di Cape Cod”

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

Text

Sebagai orang Indonesia, saya sangat akrab mendengar betapa kita dinilai sebagai bangsa yang ramah dan penuh senyum. Persepsi asing yang telah mengkristal, yang tanpa disadari kita akui kebenarannya.

Di sisi lain, telah tertanam pula sejak kecil bahwa bule atau ‘orang barat’ adalah manusia pemuja kebebasan, individualis-dingin yang bertolak-belakang dengan kehangatan timur kita.

Namun, berbagai fakta yang terjadi di hadapan mata ketika di Amerika, membuat saya bertanya, masih relevankah persepsi-persepsi itu? Apakah kita benar-benar ramah dan hangat? Saya yakin, tidak saya seorang diri yang mempertanyakan ini.

Semua bermula dari rangkaian kejadian sehari-hari.

Kutahan Pintu Untukmu

Di Amerika, kebanyakan pintu tidak memiliki kenop, tetapi hanya pegangan, sehingga harus didorong atau ditarik dengan tenaga ekstra karena cukup berat.

Ketika menuju ke berbagai gedung,orang Amerika yang terlebih dahulu masuk, biasanya menahan pintu tetap terbuka agar orang lain di belakangnya, termasuk saya, bisa ikut masuk.

Kejadian pintu ditahan terbuka ini, awalnya saya kira hanya kebetulan, tetapi ketika terjadi setiap hari di berbagai tempat dengan orang yang berbeda, saya tertegun dan malu sendiri karena tidak pernah melakukannya untuk orang lain.

Saya merasa sangat egois, karena seumur hidup jarang sekali hal ini dilakukan. Kalau masuk ruangan, ya masuk saja, buka pintu untuk diri sendiri. Meskipun awalnya agak canggung, tak ada cara lain untuk menghapus rasa malu selain melakukan hal yang sama pada orang lain.

Eskalator “Kiri-Kanan”

Keteraturan adalah salah satu perwujudan saling menghargai. Di Amerika, ini bahkan terlihat saat sedang menggunakan eskalator.

Di stasiun Metro, setiap badan eskalator seakan memiliki batasan semu, bagian kiri dan kanan. Sisi kanan untuk pengguna yang tidak terburu-buru dan sisi kiri bagi yang bergegas sehingga bisa terus bergerak.

Alhasil, siapapun yang terburu-buru tidak kesal jika orang di depannya tidak bergerak. Dan yang santai, juga tidak terganggu karena orang di belakangnya ingin memotong jalan. Mungkin terlihat sederhana, tetapi dari hal-hal kecil inilah keteraturan hidup sebuah masyarakat bermula.

Bising “Terima Kasih”

Ucapan terima kasih terdengar di mana-mana. Misalnya ketika turun bus, penumpang mengantri turun, lalu satu persatu menggaungkan terima kasih kepada supir. Rasanya tidak mungkin terjadi di Indonesia: bus langsung tancap gas, bahkan sebelum penumpangnya sempat menginjakkan kaki di jalan.

Budaya mengantri sendiri sudah mendarah daging, termasuk untuk hal remeh-temeh seperti antri berfoto di tempat wisata. Ini mereka lakukan dengan inisiatif sendiri, tanpa peraturan dan tanpa penjagaan.

Saya sempat mengurut dada ketika antri hampir setengah jam hanya untuk berfoto di lambang Las Vegas. Sempat terpikir, keadaan ini sudah berlebihan. Namun, jika semua orang seperti saya dan memutuskan berfoto di sudut mana pun yang mereka mau, kekacauan lah yang terjadi. Wajar, di Amerika jarang terdengar ada orang yang terinjak-injak atau pingsan sesak nafas karena mengantri.

Sapaan Semu?

Kehangatan juga menembus dimensi kata-kata. Telah menjadi kebiasaan di Amerika untuk bertegur sapa bertanya kabar ketika berpapasan, “How are you?” “I’m good, thanks?” bahkan dengan orang tak dikenal.

Saya sempat berpikir negatif, menuding ada kemunafikan di tengah kebiasaan ini. Semuram apapun kondisi hati seseorang, mereka cenderung menjawab “baik-baik saja”. Ini tidak jujur, apa gunanya?

Namun, lama-lama, ketika melaksanakan sendiri sapaan tersebut setiap hari, saya mulai mengerti bahwa budaya yang sangat sederhana ini memiliki makna filosofi yang dalam: betapa setiap orang selalu peduli dan siap menjadi pendengar cerita dan keluhan orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya.

Selain itu, yang mungkin sudah sering kita dengar, setiap perpisahan berujung saling mengucap “Have a good day!” dan “You, too.” Kalimat yang jika direnungkan, dalam taraf yang berbeda, serupa dengan ungkapan Assalamualaikum-Wa’alaikum salam.

Silahkan Lewat

Di mana lagi tempat di bumi ini, mobil berhenti dan mempersilahkan pejalan kaki menyeberang di hadapannya terlebih dahulu?

Saya sangat akrab dengan jalanan Ibukota yang kadang terasa sangat brutal. Nyawa seakan dipertaruhkan di setiap langkah. Pengemudi mobil dan motor menjadi raja jalanan. Pejalan kaki termajinalkan.

Di Amerika, pejalan kaki bagai makhluk mulia. Seringkali ketika hendak menyeberang, saya berhenti karena ada mobil yang akan lewat. Tetapi yang terjadi kemudian, malah mobilnya yang berhenti dan mempersilahkan saya menyeberang.

Betapa orang menghargai satu sama lain, bahkan bisa dilihat saat menggunakan lift. Siapapun yang masuk lebih dulu, dipersilahkan keluar terlebih dahulu jika lantai tujuan sama, meskipun orangnya berdiri jauh dari pintu lift.

Manusia Setengah Dewa

Yang paling menyentuh adalah bagaimana Amerika memperlakukan orang-orang berkebutuhan khusus selayaknya manusia, yang berhak merasakan apa yang seharusnya mereka rasakan.

Di lapangan parkir, lampu rambu-rambu lalu lintas, toilet, jalan masuk ke gedung, kendaraan umum, bahkan bioskop, memiliki tempat bagi orang berkebutuhan khusus. Ini bukan untuk mengistimewakan, tapi agar mereka bisa menjadi manusia seutuhnya, memperoleh haknya terlepas dari apapun kekurangan mereka.

Saya semakin terkesima ketika tahu perhatian ini merambah dunia pekerjaan. Ketika membeli tiket film di bioskop, tidak jarang saya dilayani oleh seorang tuna-rungu atau petugas yang duduk di kursi roda.

Paradoks

Apa yang saya lihat sedikit banyak memberi jawaban, mengapa tidak sedikit orang Indonesia yang pernah tinggal atau mengecap pendidikan di luar negeri, tidak ingin kembali ke tanah air. Selain karena lapangan pekerjaan yang layak di luar negeri, kenyamanan dan rasa dihargai sebagai individu, tidak melihat warna kulit, agama dan asal negara, tidak dapat dipungkiri ikut menjadi alasannya.

Saya sempat berpikir, apakah sebutan dunia luar terhadap kita sebagai bangsa yang ramah, masih relevan? Apakah kita dinilai ramah oleh orang asing, padahal kita hanya ramah kepada mereka tetapi lupa terhadap bangsa sendiri?

Saya masih ingat, jika ada turis asing datang ke kampung, saya dan anak-anak kecil lainnya berlari untuk bisa menyapa mereka dengan bahasa Inggris, “Good morning, Sir!” minta bersalaman. Turis-turis pun diberikan pelayanan ekstra dengan senyum sumringah. Mereka diperlakukan selayaknya, bahkan seakan diagungkan. Mungkin dari sinilah mereka menilai kita sebagai orang-orang yang hangat.

Ironis, keramahan yang sama kerap terlupakan untuk orang dekat sendiri, terjadi di Indonesia, negara yang justru terkenal dengan berbagai aturan adat, norma kesopanan, dan ajaran-ajaran agama yang kuat dan menopang berbagai sendi kehidupan.

Memang tidak adil membanding-bandingkan dua kebudayaan yang telah terbangun berabad-abad dengan karakter dan keunikannya masing-masing. Tambah tidak adil lagi membandingkan Indonesia dengan Amerika, yang telah lama diamini dunia sebagai negara maju dari berbagai bidang.

Namun, saya yakin tetap ada celah untuk mengkritik persepsi kita tentang “budaya barat” dan “budaya timur”. Ada celah untuk mengatakan keramahan bukanlah soal timur dan barat. Keramahan bukanlah soal ras dan warna kulit. Namun, keramahan adalah wujud penghargaan manusia terhadap manusia lainnya, yang tak pandang buluh dan merata. Keramahan, yang rasanya janggal bagi saya mengakui Indonesia sebagai representasi “timur” sebenarnya, karena ada “timur” yang jauh lebih kental di “barat”-nya Amerika. ()

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

Text

Hidup di Amerika dan bekerja di VOA, begitu banyak yang terjadi. Berjuta kisah diujung telunjuk ingin sekali ditulis, namun waktu terus berpacu dan saya kalah. Semoga foto-foto dalam blog saya kali ini, bisa mewakili apa yang saya lihat dan rasakan dari berbagai kota dan negara bagian di Amerika, menebusnya dari balik lensa.

WASHINGTON, D.C .

Pertama kali tahu akan ke Washington DC, saya mengharapkan sebuah metropolis yang sempurna dengan kenyamanan tingkat tinggi karena inilah jantung ibukota Amerika. Namun, ternyata tak segalanya indah.

image

Panas-Basah-Basah. The Fourth of July atau hari kemerdekaan Amerika, selalu dinanti. Konser besar di Capitol Hill dengan bintang tamu Barry Mannilow menjadi daya tarik yang berhasil menyeret ribuan orang untuk berkumpul dan duduk di deretan tangga gedung wakil rakyat. Padahal suhu mencapai 40 derajat Celcius.

image

Tak Pandang Bulu. Sesekali saya begah dengan budaya keteraturan di Amerika yang kadang terasa berlebihan. Pengguna segway pun bahkan harus berhenti, ketika lampu merah menyala.

image

Ke Perut Bumi. Perjalanan terasa panjang ketika masuk ke stasiun Metro (kereta api bawah tanah) di Washington DC. Terutama stasiun Dupont Circle, yang ketinggian eskalatornya mencapai hampir 60 meter.

image

Busway ala DC. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika, pujianlah yang tergumam karena transportasinya yang lengkap, nyaman dan tepat waktu. Namun, perasaan itu hanya bertahan seminggu. Ketika Metro kerap telat dan perbaikan jalur yang menganggu hampir setiap minggu, pujian itupun tak lagi terucap. Melihat ratusan orang menunggu tanpa kepastian, tak jauh berbeda dengan pemandangan halte TransJakarta.

image

Inikah yang Dicari? Kathy (kanan) dan Jeannele, baru tiba dari Mississippi untuk menikmati The Mall, kawasan wisata tempat Capitol Hill dan museum-museum gratis berada. Tapi menyusuri National Mall ternyata tidak segampang dan sesingkat yang mereka kira. Carousel dekat Museum Smithsonian menjadi tempat melepas penat.

image

Sesak Gemilangsari. Banyak yang mengira selalu membahagiakan jadi reporter televisi. Pahit selalu ada di setiap manis dan begitu juga sebaliknya. Misalnya yang dialami reporter PopNews VOA Ribka Gemilangsari, yang harus bersabar gagal mewawancarai Channing Tatum di premier film ‘White House Down’ di Georgetown karena posisinya telah terlebih dahulu diambil Central News VOA.

NEW YORK

Bersama beberapa teman, saya pernah berkelana ke New York karena kami berpikir, belum sampai di Amerika kalau tidak pernah ke New York. Kami hanya menghirup udara New York selama satu hari, tapi sehari itu akan membekas di kenangan selamanya.image

Ibukota Dunia. New York City adalah ibukota dunia. Jangan terkejut jika mendengar 800 bahasa berbeda di kota ini.

image

The Yellow Cab. Coba cari taxi yang lebih ikonik di seluruh dunia selain taxi kuning-nya New York City. Saya yakin tak mudah mencarinya. Melihat mereka tak sengaja berjejer menunggu lampu hijau di bawah reranting musim gugur, membuat hati meleleh.

 image

Autumn in Central Park. Hampir semua orang yang saya temui menyebut musim gugur sebagai musim favorit mereka. Terutama ketika melihat daun-daun menguning, memerah dan berguguran, merasakan udaranya yang sejuk dan langit hangat cerah. Sempurna sekali jika itu semua dirasakan dari salah satu taman paling terkenal di dunia.

image

image

Niagara. Tak ada cara yang lebih tepat mengagumi kemegahan Air Terjun Niagara, selain melihatnya dari bawah. Melihat betapa dahsyatnya deru air dan betapa kecilnya kita sebagai manusia. 

VIRGINIA

Virginia adalah rumah. Tempat melarikan diri dari letihnya Washington DC. Virginia adalah Bandung di tengah lelah dan membosankannya Jakarta.

 image

Sepeda Pantai. Pantai tidak hanya untuk dinikmati lautnya. Tetapi juga suasananya, apalagi dengan bersepeda.

 image

Dingin… Tidak… Dingin…? Di Indonesia, hampir semua pantai udaranya terasa panas. Tetapi di Amerika, ketika musim semi pantai sangat sejuk, bahkan dingin dengan suhu udara sekitar 15 derajat Celcius. Tak hanya saya yang merasakan dinginnya, dua anak perempuan yang sedang berwisata di Virginia Beach, berusaha keras mengumpulkan nyali untuk menyentuh air.

 image

Hampir Berakhir. Pantai menjadi idola di musim panas. Kursi-kursi pantai di Virginia Beach telah siap untuk digunakan beberapa minggu sebelum kehadirannya,.

image

image

Manassas Air Show, Manassas, Virginia

MARYLAND

Memori pertama saya tentang negara bagian ini, khususnya Kota Baltimore adalah serial di The X-Files. Beberapa kasus yang diinvestigasi Mulder dan Scully terjadi di sini. Dengan kekerontangannya, kemisteriusan kota ini mengundang penasaran saya. Namun, ternyata bukan kering lah yang mencuri hati di sini.

image

Pikat Pelabuhan. Tak banyak yang disisakan Baltimore saat ekonomi perlahan-lahan memburuk. Kota ini seakan mati. Banyak gedung yang ditinggalkan. Sepi ketika mengunjunginya di akhir pekan. Namun, di balik semua itu Inner Harbor diam-diam memompakan denyut kehidupan bagi Baltimore, menjadikannya jantung yang menyemangati seluruh isi kota.

 image

Tatkala Langit Bersabda. Setiap hari feri melayani penumpang menyebrang dari National Harbor, Maryland menuju ke kota tua nan eksotis, Alexandria, Virginia. Tapi sore itu pemandangannya berbeda. Awan tebal dan secercah liang tempat cahaya matahari menyeruak, membuat langit seakan sedang berfirman.

PITTSBURGH, PENNSYLVANIA

Liputan sambil jalan-jalan adalah hal yang selalu ditunggu selama di VOA. Terimakasih untuk mba Nia ‘Ntes’ Iman-Santoso dan temannya Nurhaya ‘Aya’ Muchtar yang membawa saya melihat salah satu skyline paling mencengangkan di dunia.

image

The Skyline. Saya tak bisa berhenti berdecak mengagumi langit Pittsburgh dan gedung-gedungnya yang perkasa, dibumbui puluhan jembatan-jembatan besi yang mengelilinya. Menatapnya membuat saya teringat sebuah film. Ya, kota inilah yang menjadi setting film Batman, ‘The Dark Knight’. Pittsburgh adalah Gotham City.

image

Kombinasi Eksotis. Mendengar dan melihat Pittsburgh, sekilas kota ini terlihat kasar. Namun, tak dipungkiri, kekasaran itu membuat keindahannya berbeda. Gedung pencakar langit, disambut sungai, jembatan, dan rumah-rumah di kaki bukit. Di mana lagi bisa menemukan itu di satu tempat?

image

Gemerlap Kota. Dari Mount Washington, skyline Pittsburgh di malam hari bagai percikan kembang api yang menyilaukan mata tapi menggoda.

CHICAGO, ILLINOIS

Pertama kali saya melihat Chicago, hanya dari bandara, ketika kota ini diselimuti salju. Entah mengapa saya tidak begitu tertarik untuk berkunjung lagi. Saya bersyukur perasaan itu tidak lama, karena untuk kedua kalinya di Amerika, setelah NY, saya tercengang menatap arsitektur modern yang membelalakkan mata.

image

Chicago O’Hare Therapeutic Airport. Bandara adalah kesan pertama terhadap sebuah kota. Penghubung antar terminal di bandara Chicago ini adalah kesan yang tidak akan mudah dilupakan. Berjalan di bawah lampu, yang mengular bergerak dengan musik lembut, bagai dunia mimpi futuristik. Lelah dan penat hilang sejenak.

 image

Sulur Pucuk Kota. Di puncak John Hancock Center, salah satu pencakar langit tertinggi di Amerika, seperti inilah wajah Chicago dari ketinggian 300 meter.

 image

image

Si Tua & Si Muda. Tahun 1871 kota ini luluh-lantak hangus terbakar, hanya sedikit bangunan tua yang berhasil bertahan, salah satunya adalah Chicago Water Tower (bawah depan). Bencana ini tak lama melukai Chicago, dalam satu abad kemudian, puluhan gedung pencakar langit tumbuh sambung menyambung dari permukaan bumi, menjadikannya salah satu pusat ekonomi terpenting di Amerika.

image

Awan Kacang. Inilah kecerdasan yang muncul dari kesederhanaan. Cloud Gate ‘hanya’-lah sebuah seni instalasi luar ruangan, yang mengandalkan pencerminan. Terbuat dari baja, karya yang juga dikenal dengan sebutan the bean karena rupanya yang seperti kacang ini, membuktikan bahwa kesederhanaan dan fatamorgana visual bisa menjadi magnet wisata yang kuat. Cloud Gate telah menjadi tujuan wisata terfavorit kedua di Chicago.

 image

Holyluya. Didirikan tahun 1874, rupa ‘Holy Name Chatedral’ ini sesuci namanya.

image

Hold Me Tight. Latihan Salsa di dalam pekarangan The Art Institue of Chicago hanya diizinkan sampai pukul 4 sore. Waktu para peserta kelas ini pun habis. Semangat membuat mereka melanjutkan latihan di luar pagar.

Selama masih bisa, saya akan terus merekam apa yang terhampar di hadapan mata. Namun, saya tahu kamera hanyalah perwakilan mata. Satu frame untuk sebuah peristiwa. Satu frame untuk secercah alam dan kota yang indahnya jauh melebihi sudut mata. Memang, kadang selembar foto bisa sangat memikat hati, tapi melihat seluruh peristiwa itu langsung, bergerak bersamanya, menghirup udaranya, mendengar derap dan bunyinya, berkali-kali jauh lebih indah. Semoga kamu juga bisa merasakannya.

 

Rafki Hidayat

rhidayat@voanews.com

twitter : @RafkiHidayat

Text

image

Awal Perjalanan

Tidak ada cara yang lebih tepat memulai kisah perjalanan empat hari saya ke bagian barat Amerika, selain pertemanan dengan Ryan.

Di hari-hari menjelang akhir musim semi yang lalu, saya mulai berpikir betapa beruntungnya fellow-fellow sebelumnya yang selalu diundang ke Amerika berdua atau bertiga. Mereka bisa memulai segalanya bersama. Setidaknya, seburuk apapun yang terjadi, mereka saling memiliki satu sama lain.

Di tengah kegundahan itu, VOA menerima seorang intern (anak magang) baru. Ryan hadir di VOA sekitar dua minggu setelah kedatangan saya di Washington DC. Dua minggu yang terasa seperti dua bulan, buat saya. Bukan karena saya tidak mensyukuri nikmat Tuhan mengabulkan segala mimpi, tetapi karena saya belum memiliki teman.

Perlahan-lahan, konsep yang sudah lama saya tanamkan, bahwa saya bisa hidup tanpa teman, kembali runtuh. Saya hanya manusia biasa yang butuh membagi kebahagiaan dan kesedihan.

Biasanya saya terlalu malas untuk memulai percakapan dengan orang baru, jika tidak benar-benar niat. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Saya dalam status “Darurat Butuh Teman”. Tidak hanya memantik percakapan, Ryan bahkan saya ajak makan siang. Sebuah prestasi!

image

Dalam kurang dari 15 menit, saya tahu bahwa kami sama-sama penggemar berat film. Bedanya, Ryan mengoleksi ratusan blu-ray original, sementara saya mengoleksi sekoper DVD bajakan. Kami sama-sama penggemar Coldplay dan Bon Iver. Kami sama-sama ingin masuk jurusan Hubungan Internasional dan ditolak.

Ryan memutuskan mengejar mimpi dengan kuliah pertelevisian ke Amerika, sementara saya terjebak dengan rumus-rumus dan teorema di jurusan Matematika. Tapi, yang paling penting, kami hobi jalan-jalan dan sangat ingin berpetualang ke bagian barat Amerika.

"Lo tertarik ke Vegas gak?," tanya Ryan, “Kita harus rencanakan!," balas saya.

Dalam kurang dari satu jam perkenalan dengan teman baru ini, sebuah rencana jalan-jalan ke Sin City, kota dosa, Las Vegas tercipta. Kami memilih untuk pergi di awal Juli.

The Dinamic Duo

Satu setengah bulan sebelum keberangkatan kami ke Vegas, Ryan telah menjadi seorang sahabat untuk saya. Tak terkira bantuan yang diberikannya. Di kantor, dia menjadwal berbagai liputan ringan dan mengerjakan hal yang paling malas saya lakukan saat liputan di Amerika; menghubungi lokasi  liputan untuk izin.

Tidak seperti di Indonesia yang tinggal datang dan bisa langsung liputan karena banyak orang yang senang direkam kamera atau masuk televisi, di Amerika, semuanya serba diatur dan sebagian besar lokasi harus didahului izin. Lebih sulit lagi, tidak semua orang berkenan diambil gambarnya. Close-up wajah anak-anak bahkan dilarang, kecuali orang-tuanya mengizinkan.

Bersama-sama kami membuat liputan sekreatif mungkin. Karena kami relatif baru sebagai wartawan, berbagai ide angle dan stand-up (penjelasan reporter di hadapan kamera) bermunculan dengan mudah. Misalnya stand-up sambil bertarung menggunakan pedang melawan bajak laut untuk paket tentang Festival Bajak Laut di DC, berpura-pura menjadi kiper sepak bola untuk paket tentang alat pendeteksi gol, atau membuat ulang adegan fenomenal latihan Rocky Balboa dari film “Rocky” (1976) berlari menaiki tangga Philadelphia Museum of Art, saat membuat paket tentang jalan-jalan ke Philadelphia.

Saya sebenarnya salut dengan teman saya ini karena dia bisa tahan liputan dengan saya. Di Indonesia, banyak rekan kerja saya yang bilang, saya bukan orang yang asyik untuk menjadi rekan liputan. Saya terlalu banyak permintaan gambar. Saya tidak nyantai. Untuk sebuah stand-up berdurasi 20 detik, saya bisa take berulang-ulang belasan kali karena kerap salah atau tidak puas-puas.

Saya sering iseng bertanya apakah dia tertekan bekerja dengan saya. Pertanyaan retoris yang selalu berakhir dengan selorohan. Jawabannya mungkin ‘Iya’, tapi apa boleh buat, Ryan tidak punya pilihan, hahaha.

image

Dari Vegas Hingga Monument Valley

Waktu berlalu, rencana ke Las Vegas, negara bagian Nevada terus berkembang. Saya berpikir, sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Nevada, tetapi tidak mengunjungi Negara Bagian Arizona dan Utah, yang bersebelahan dengan Nevada di bagian timur. Apalagi, ada keajaiban alam Grand Canyon dan ikon Amerika, Monument Valley di dua negara bagian itu. Ryan setuju.

Rencana ini bahkan berkembang menjadi ambisi untuk liputan. Saya teringat janji ketika Konfrensi Pers Penerima Fellowship PPIA-VOA, beberapa hari sebelum saya berangkat ke Amerika. Saya mengatakan sangat ingin berkunjung ke Monument Valley, serta membuat liputan tentangnya.

Saya sebenarnya tidak enak dengan Ryan, melibatkannya dalam ambisi pribadi saya. Tapi seperti biasa, dia tidak menolak, dan saya benar-benar memegang pernyataannya itu, meskipun saya tetap berjanji, “Yang paling penting, jalan-jalan kita ‘gak terganggu Bro. Kita harus menikmati. Itu yang utama.” Dia mengiyakan, tetapi dalam hati saya tahu, perjalanan tersebut pasti akan terganggu.

Segala perencanaan berjalan lancar. Saya juga sudah membuat Itinerary. Jalan-jalan tersebut akan berlangsung selama empat hari (Sabtu-Selasa). Hari pertama, dari Las Vegas kami langsung menuju ke Grand Canyon melewati Hoover Dam. Hari Kedua, kami lanjut ke Monument Valley. Hari ketiga, dari Monument Valley kembali ke Las Vegas, dan hari keempat, menghabiskan waktu di Las Vegas. Malamnya kembali ke DC.

Kami mendapat tiket pesawat yang lumayan murah, $267 pulang pergi dari Bandara Baltimore, negara bagian Maryland.

Tak Semudah Itu

Untuk bepergian dari Las Vegas menuju Grand Canyon dan Monument Valley, kami perlu menyewa mobil. Dari awal kami sudah tahu itu, karena sewa mobil di Amerika jauh lebih menguntungkan daripada ikut tur yang harganya bisa mencapai ratusan dolar. Tergantung perusahaan penyewa dan Negara Bagiannya, sewa mobil bisa hanya 25 dolar perhari. Dan itu biasanya sudah mobil bagus.

image

Masalahnya, untuk menyewa mobil perlu kartu kredit dengan nama yang sama dengan pemilik SIM. Rencananya Ryan yang akan mengemudi karena dia yang punya SIM. Tetapi Ryan tidak punya kartu kredit. Di Amerika, kartu kredit nyaris menjadi keharusan, apalagi untuk sewa-menyewa seperti ini. Rekam jejak pembayaran si peminjam, telah tercatat lengkap di kartu kreditnya.

Dua minggu sebelum keberangkatan, kami sibuk mencari jalan keluar untuk solusi ini. Solusi yang hampir menyelesaikan masalah ini adalah beberapa perusahaan rental mobil ternyata memperbolehkan pembayaran lewat kartu debit. Saya punya kartu debit. Tetapi tetap, aturannya, nama pemegang SIM harus sama dengan nama pemilik kartu debit. Masalah malah semakin runyam, karena rasanya tanggung sekali.

Karena penasaran, kami datangi Budget, salah satu perusahaan rental mobil terkenal di Amerika, untuk menanyakan apakah memang tidak bisa SIM dan debit dengan nama yang berbeda. Toh kami jalan-jalannya bersama. Saya berharap, dengan bertanya langsung, bisa mendapat jawaban bagus dan memuaskan. Tapi, belum selesai kami bertanya, penjaga counter tersebut langsung memotong, “No, you can’t.”

Hitung Mundur Hari-H

Empat hari sebelum pergi, kami belum mendapatkan solusi. Jika kami tidak dapat menyewa mobil, apa yang akan kami lakukan di Las Vegas dengan uang pas-pasan selama empat hari di kota casino itu? Pasti membosankan.

Saya pun mulai mencari tur ke Grand Canyon. Yang paling murah ternyata tidak murah sama sekali, sekitar 80 dolar. Bus tur ke Monument Valley bahkan hampir tidak ada. Kalaupun ada, tur dimulai dari Kota Phoenix, Arizona dan tidak melewati Grand Canyon. Bagaimana cara kami ke Phoenix? Oh, mumet memikirkannya.

Jalan terang seakan melambai-lambai di depan mata, ketika Ryan menemukan ada perusahaan penyewaan mobil di Las Vegas yang bersedia menerima pembayaran dengan uang tunai. Namun, kesannya mencurigakan karena kami harus memberikan deposit $500 di luar biaya sewa, yang akan dikembalikan setelah mobil kembali.

Masalahnya, kami tidak punya uang sebanyak itu untuk di-depositkan. Selain itu, review perusahaan tersebut buruk sekali. Bahkan ada yang bercerita, ketika mobil kembali, uang penyewa mobil ternyata tidak dikembalikan. Di sekeliling kantor banyak anjing buas yang dikandang, yang siap dilepaskan kalau si penyewa macam-macam. Ah, membaca itu saja nyali sudah ciut…

 image

Di saat saya letih berkeluh kesah, ternyata Ryan melakukan hal yang lebih cerdas. Dia membuat kartu debit sendiri, di hari-hari terakhir. Wow! Itulah beda kualitas kami, hahahaha.

Tetapi bukan berarti masalah selesai. Dua hari sebelum berangkat, Ryan membawa kartu debit barunya dengan wajah datar. “Tadi gue tanya Budget di Union Station, katanya gak boleh juga,” kata Ryan sambil memperlihatkan kartu debit barunya, yang ternyata belum tercantum namanya, karena dibuat secara kilat.

Ya Tuhan. Ya sudah, saya pasrah luntang-lantung empat hari di Las Vegas.

Delusi dan Optimisme

Di hari terakhir sebelum keberangkatan kami ke Vegas, keyakinan kami tiba-tiba muncul kembali. “Bisa lah, Bro. Lo kan punya kartu debit. Nanti kita di sana pura-pura nggak tahu aja! Jadi lo kasih lihat SIM sama kartu debit lo, plus surat Bank yang menyatakan kartu debit itu memang punya lo. Selesai!,”

Mendengar ocehan saya, Ryan tampaknya terprovokasi.

Kamipun mencoba menelpon Payless, perusahaan rental mobil murah, yang sepertinya sedang berusaha menarik pelanggan sebanyak mungkin untuk mencari tahu. Mungkin saja mereka mau berkompromi.

"Halo, I’m from Washington DC. We plan to go to Vegas this weekend…," saya ceritakan kendala kami dan tanyakan apakah dia bersedia menerima kartu debit tanpa nama milik Ryan.

Penerima telepon dengan suara berirama khas African-American menjawab, “Okay, just come in. If we can swipe it, you’re good,” jelasnya.

"YES! Okay, thank you, Bye bye!"

Saya dan Ryan sangat girang, meskipun dalam hati, kami tahu ini janggal. Tapi ya sudahlah…, kami sudah letih berpikir negatif. Kami butuh ketenangan sebelum perjalanan.

Jumat pagi, saya dan Ryan tiba di kantor dengan tas ransel dan  kamera DSLR kami masing-masing. Yang milik saya untuk foto-foto, sementara milik Ryan untuk merekam video dan wawancara. Rekaman audio wawancara dan untuk stand-up akan diambil menggunakan alat terpisah. Bentuknya seperti kotak berukuran sekitar 25x15x5 sentimeter dan lumayan berat. Tapi kami sudah terlalu bersemangat. Beratnya tas punggung kami tidak lagi jadi kendala.

Semangat kami meluap-luap. Saya tidak sabar lagi menyambut pengalaman yang menanti. Pengalaman yang akan dimulai kurang dari 12 jam. “Yuhuuuu, tunggu kami Vegas!”

image

Bersambung ke ‘A Journey to the West : Las Vegas (Part 2)’

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

Text

image

Sudah tiga tahun berturut-turut saya tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan teman-teman dekat di kampung. Tahun-tahun yang mewakili lamanya saya berprofesi sebagai reporter berita televisi. Awalnya terasa berat, apalagi mendengar kumandang Takbir tetapi tidak ada orang tua di dekat saya.

Bersedia bekerja di televisi, berarti menandatangani kontrak untuk mengorbankan seluruh waktu dan tenaga, dan punya kewajiban ‘siap sedia bekerja’ bahkan di hari libur.

Di hari-hari besar, termasuk Lebaran, meskipun kebanyakan karyawan cuti bersama, para reporter terus bekerja, kerap kali lebih keras. Mengapa? Karena stasiun televisi berita tidak pernah menghentikan siarannya. Iklan antri untuk ditayangkan, program siaran semakin gencar, misalnya yang melaporkan arus mudik-balik ke kampung halaman. Saya selalu kebagian tugas ini.

image

Masih jelas terbayang dalam ingatan saya, di tahun pertama menjadi reporter (2011), saya berlari-lari di Kapal Roro Pelabuhan Merak, Banten bersama seorang kameraman, sambil berteriak-teriak kepada Nahkoda kapal, meminta tolong agar kapalnya jangan berlayar dulu.

Ketika itu saya asyik mewawancarai pemudik yang memilih pulang kampung di hari pertama Lebaran, lupa bahwa kapal siap berlayar dan semua pagar-jembatan ke pelabuhan sudah ditutup. “Pak, tolong Pak, saya mau laporan Pak, dipecat saya nanti Pak.” Nahkoda kapal hanya bisa tersenyum kecut, kembali menyandarkan kapal dan membuka pagar. Tahun kedua berjalan serupa.

Dan di sinilah saya sekarang, di tahun ketiga menjadi reporter. Di Amerika, kondisinya ternyata tidak jauh berbeda. Yang pertama, saya tidak mungkin pulang kampung hanya untuk berlebaran. Kedua, saya tetap bekerja karena Idul Fitri bukan tanggal merah di sini.

image

Hal yang cukup mengagetkan saya adalah di Amerika, ternyata hanya Natal satu-satunya hari besar keagamaan yang diliburkan. Itu pun hanya satu hari. Hari besar keagamaan umat Kristiani lainnya, yang di Indonesia diliburkan, seperti Paskah, bahkan tidak menjadi hari libur di Amerika. Salah satu alasannya karena antara pemerintahan dan keagamaan di Amerika dipisahkan. Negara tidak ikut campur urusan agama warga negaranya. Di KTP, agama bahkan tidak ditulis.

Di satu sisi, saya sangat suka dengan sistem ini, menjadikan agama sebagai kepentingan pribadi individu. Tapi di sisi lain, saya kurang setuju karena tanggal merahnya jadi sedikit, hehehe. Jadi, kita sebenarnya sudah sangat beruntung punya libur yang banyak dan bahkan cuti panjang Lebaran bersama. Tapi bagi saya apalah arti tanggal merah, karena bekerja sebagai reporter membuat semua tanggal menjadi hitam.

Di hari pertama Lebaran, jurnalis-jurnalis VOA sibuknya bukan main. Pukul 5 atau 6 pagi, kami sudah bangun untuk persiapan bekerja, karena hampir seluruh program yang ditayangkan di televisi afiliasi di Indonesia dan internet menyiapkan edisi khusus Lebaran.

image

Lihat saja mbak Nadia Madjid dan mbak Ariadne Budianto, jurnalis VOA yang menggawangi acara Warung VOA dan Dunia Kita. Dengan roll rambut terpasang, mereka harus menyetir, berdandan, mengkoordinasi liputan, bahkan melakukan laporan langsung persiapan Lebaran di Amerika kepada Radio Suara Surabaya, dari dalam mobil menuju tempat Sholat Idul Fitri, yang juga menjadi lokasi utama syuting kami, di negara bagian Maryland, sekitar satu jam dari DC.

image

Berbicara tentang multitasking, hampir menjadi keharusan seorang jurnalis VOA memiliki kemampuan beragam. Bukan karena ego masing-masing, tetapi karena keadaanlah yang membuat seperti itu. Anggota tim kami sangat terbatas.

Alhasil, meskipun dibantu oleh tim ENG (juru kamera pusat VOA), tetap saja tidak cukup untuk mengerjakan empat program news-feature yang diproduksi VOA, khusus untuk hari nan fitri. Mbak Nadia, mbak Patsy, cak Supri, mbak Anne dan saya saling bahu-membahu menggunakan kamera dan membantu mengambil gambar satu sama lain untuk program masing-masing.

Aktivitas kami ini lumayan menguras energi, karena kami bermain dengan momen. Kami harus sigap, berpacu dengan waktu. Jika momen keramaian, bermaaf-maafan, berbagi kasih dan sholat terlewat, hilanglah sudah gambar bagus. Untuk melaksanakan tugas menyajikan berita informatif, menarik dan mencerahkan bagi penonton di Indonesia, rencana Sholat Idul Fitri-pun terpaksa kami korbankan.

image

Selesai syuting bukan berarti tugas selesai. Kami harus segera mengedit dan mengirimnya ke Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia di kampung halaman dapat segera ikut merasakan momen awal Lebaran di Amerika. Apalagi mengingat waktu di Washington DC lebih lambat 12-13 jam dibandingkan waktu di Indonesia.

Mempersiapkan editing bukan perkara gampang, setidaknya bagi saya yang masih baru dengan software editing dan format-format khusus VOA. Di Lebaran pertama di Amerika ini, untuk menyelesaikan program ‘Dunia Kita’ edisi khusus Lebaran, saya baru selesai bekerja pukul 23:30, untuk kembali dilanjutkan paginya. Tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan mbak Nadia Madjid yang harus menyelesaikan program Warung VOA sampai jam 03:00 subuh dan disambung lagi paginya.

Saya sebenarnya iri melihat teman-teman saya di Indonesia, bisa memasang foto kebersamaan dengan keluarga, atau foto-foto reuni dengan teman SMP dan SMA di Facebook atau profile picture BBM mereka. Betapa bahagianya menjadi mereka. Hangat bersama orang-orang terkasih. Saya menginginkan hal serupa dan kadang merasakan ini tidak adil.

Namun, saya bersyukur perasaan itu tidak bertahan lama, ketika teringat apa yang saya temui saat liputan. Saya sudah cukup beruntung, bahkan sangat beruntung. Saya memiliki pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Soal tidak bertemu keluarga, masih banyak yang lebih menyedihkan dibandingkan saya. Kondisi saya ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan perasaan seorang bapak yang telah belasan tahun belum bisa pulang ke Indonesia atau seorang ibu-ibu yang tangisnya berderai …mengungkapkan kerinduannya yang telah 25 tahun tidak bersua dengan anaknya di hari nan fitri, saat diwawancara tim VOA.

Di hari lebaran, saya sempatkan Skype dengan keluarga di kampung halaman. Teknologi ini menurut saya sangat membantu di saat-saat seperti ini. Bahagia sekali rasanya dapat mendengar suara dan melihat ekspresi wajah Ibu dan Papa di rumah. Saya memang tidak bisa menyentuh mereka, namun mengetahui bahwa mereka sehat dan bahagia saat anaknya berada ribuan kilometer jauhnya melintas benua, itu saja sudah lebih dari cukup. Karena bagi saya, hal yang terperih adalah di saat melihat orangtua kita menangis, dan tidak ada hal yang dapat membuat kita lebih bahagia dibandingkan saat menyaksikan senyum merekah di wajah mereka yang kita kasihi.

Selamat Idul Fitri Ibu dan Papa. Selamat Idul Fitri semua.

image

Rafki Hidayat
rhidayat@voanews.com
@RafkiHidayat

Text

“I can’t believe it! I can’t believe it!”

Seorang bocah perempuan dari India berteriak-teriak sambil meloncat.Wajahnya bersemu merah saking girangnya.Teriakannya terus melengking tak berhenti. Saya terdiam menatapnya.

Ayah dan ibunya berusaha menenangkan, memegang bahu si gadis cilik. Di samping kami, ada puluhan bahkan mungkin seratusan orang berkerubung, tetapi tak ada satu pun yang memedulikan si gadis kecil. Mereka sibuk sendiri, menggumamkan bahasa-bahasa yang sangat asing di telinga, sambil terus berganti berdiri menempel di pagar.

Entah mengapa saya teringat demo-demo di depan Gedung DPR Senayan. Namun, di sini berbeda, massanya selalu tersenyum dan bahkan bergaya.Teriakan si bocah tiba-tiba semakin kencang, membangunkan saya dari lamunan. Ternyata dia telah berhasil mendapatkan apa yang dia dan mungkin semua orang di pinggir jalan ini inginkan, beberapa kali kilatan blitz.

“I’m in front of White House! I’m in front of White House!”

image

Ya, orang-orang dari berbagai bangsa, sedang asyik berfoto di depan salah satu bangunan paling terkenal di dunia, Gedung Putih. Pesona kantor Obama ini, telah mengalahkan teriknya matahari yang saat itu membuat suhu mencapai 95 derajat Fahrenheit, atau sekitar 35 derajat Celcius.

Energi manusia-manusia di sini luar biasa.Tak peduli keringat terus menetes, orang dari berbagai rentang usia, terus mondar-mandir mencari posisi yang tepat. Meskipun saat itu sedang sendiri, saya merasa hangat di sana, berbagi tawa sambil menawarkan diri membantu memotret mereka yang ingin berfoto bersama pasangan, foto satu keluarga, atau yang kesusahan memotret diri sendiri.

Di dalam hati, saya bertanya-tanya, apakah mereka sesemangat ini berfoto di depan kantor Presiden mereka sendiri? Atau jangan-jangan malah belum pernah.

Ketertarikan mereka, tentu tidak bisa dipungkiri karena daya tarik Amerika, yang pesonanya sudah mengental, mungkin sejak mereka kanak-kanak, melalui berbagai produk budaya. Namun, mengapa bangsa yang bahkan bukan bagian dari peradaban kuno ini bisa menjadi begitu besar? Dicintai bahkan oleh orang yang baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di lahan yang disebut tanah kebebasan ini?

Tentu sangat banyak alasannya. Namun, yang gamblang terlihat adalah bagaimana orang-orang Amerika sangat menghargai sejarahnya dan bangga pada jati diri bangsanya, yang secara timbal-balik membuat negara ini terus maju dan menjadi magnet.

Mengapa demikian? Dengan mencintai sejarah bangsa, masyarakat paham bahwa kebebasan dan kemajuan yang mereka peroleh saat ini, diusahakan orang-orang luar biasa, dengan cara yang tidak gampang. There’s no such thing as a free lunch.

Perjuangan pendahulu patut dihargai. Penghargaan atas perjuangan, membuat mereka menerapkan nilai-nilai murni yang diwariskan para tetua bangsanya.Tanpa disadari, konsisten menerapkan hal positif, membuat sebuah bangsa terus maju. Di Amerika, kecintaan pada sejarah, bisa dijaga, salah satunya karena pemerintah menyediakan banyak sarana untuk mengenangnya.

Misalnya, di jantung kota Washington DC, tak jauh dari Gedung Putih, berdiri monumen-monumen penting yang tak dinyana, dibangun sepenuh hati: Lincoln Memorial, bangunan serupa Parthenon Yunani, dengan patung pualam Abraham Lincoln seberat tidak kurang dari 170 ton, duduk megah menatap siapapun yang mengunjungi. Presiden ke-16 Amerika tersebut dijunjung tinggi karena perjuangannya menentang perbudakan kaum kulit hitam.

image

Masih di kawasan The National Mall, menjulang Washington Monument, obelisk untuk mengenang bapak pendiri bangsa sekaligus Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington. Meskipun awalnya dihina karena rupanya yang dinilai kurang artistik, tugu setinggi 169 meter (lebih tinggi 37 meter dibandingkan Monas di Jakarta) kini telah menjadi ikon Ibukota Amerika.

image

Beberapa meter dari Washington Monument, di pinggir waduk Tidal Basin, keanggunan Jefferson Memorial tidak dapat ditolak. Menggunakan gaya Pantheon Romawi, bangunan dengan tiang-tiang dan kubah di bagian belakangnya, hadir kokoh, sekokoh perjuangan Thomas Jefferson, seorang penulis, pelukis, pemain biola, perancang Declaration of Independence, sekaligus presiden ke-tiga Amerika. Apa yang saya lihat dengan mata, senada apa yang diraba dengan kulit. Setiap sisi Jefferson Memorial dibangun dengan pualam, yang bila diiringi keangkuhan, pendirinya, John Russell Pope, bisa saja berkoar bahwa karya seni buatannya tersebut, tidak akan bisa runtuh.

image

Namun, ini bukan berarti semua orang di Amerika baik dan mengagung-agungkan sejarah mereka. Banyak juga yang tidak peduli. Namun, respek untuk pendahulu tersebut telah menjadi karakter umum yang merasuk dalam keseharian. Misalnya, ketika naik Metro (kereta rel listrik, yang menghubungkan Washington D.C. dengan Negara Bagian Virginia dan Maryland), hampir setiap hari saya melihat keluarga-keluarga Amerika atau rombongan siswa SD dan SMP dari berbagai negara bagian, berbondong-bondong datang ke Washington D.C, untuk wisata sejarah ; ke museum-museum yang tersedia gratis atau melihat kawasan The National Mall.

Tatkala Metro melintas sungai Potomac yang memisahkan Virginia dan DC, Bapak-bapak, sibuk menunjuk Lincoln Memorial, Washington Monumen, atau Jefferson Memorial yang kuncup-kuncupnya tampak jelas dari sungai. Mereka asyik berkisah tentang sejarah bangsa kepada anak mereka, yang dengan mata biru berbinar-pupil membesar, sangat antusias dan sibuk bertanya.

Para remaja yang berdiri menggelantung di tengah Metro, menunduk menatap ke luar jendela, ribut, saling pamer pengetahuan mereka tentang bangunan-bangunan itu. Ada kebanggaan dari mereka pada negaranya.

image

Jika kita kembali ke negeri sendiri, kecintaan terhadap sejarah, jauh-jauh hari sebenarnya telah dikumandangkan Bapak Bangsa, Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Sebuah kalimat yang digaungkan untuk menyulut kebanggaan sebagai orang Indonesia. Sebuah pernyataan yang mungkin tidak dapat dihitung lagi, berkali-kali masuk ke telinga. Namun, ironisnya, harapan Soekarno sepertinya belum mewujud nyata di negeri yang diperjuangkannya dengan susah payah.

Lebih dari 60 tahun setelah merdeka, kita masih asyik menggumulkan urusan pribadi seperti suku dan agama sebagai hal yang dijadikan urusan bersama. Kita menjadikan hal yang tak mampu dirubah - mengalir di darah (suku) dan sebuah keyakinan spiritual yang interpretasinya bisa berbeda-sebuah kepercayaan antara ciptaan dengan Tuhannya-sebuah hal yang sangat pribadi (agama) sebagai identitas diri. Kita lupa, dua hal tersebut bisa menjadi racun yang berbahaya bagi sebuah Negara, yang terbukti telah menjadi akar berbagai konflik di tanah air.

Kita lupa, para pendahulu membentuk Indonesia, adalah untuk menyatukan nusantara yang terdiri dari berbagai kerajaan, suku, dan agama. Karena unsur-unsur itulah yang kerap digunakan penjajah untuk memecah belah kita.

Mengapa setelah merdeka, kita sendiri yang menggunakannya sebagai senjata untuk melawan kawan sendiri? Apakah kita terlalu larut dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu? Semboyan yang mungkin malah lebih menyadarkan bahwa kita berbeda, bukan menyadarkan bahwa kita satu?

Bukankah kita dulu tak pandang buluh, bersatu, bangga dengan merah putih ke-Indonesia-an kita, ketika bersama-sama mengangkat bambu runcing, membidikkan senjata rampasan, mengusir penjajah dari negeri ini? Bukankah pula emosi kita bergejolak meneriakkan “Indonesia”, saling rangkul mengibarkan merah putih belasan meter ketika mendukung Timnas bertanding di Final Piala AFF 2010 menghadapi Malaysia? Kemana kebanggaan itu kini?

Kita seakan kehilangan arah, mengapung di awang-awang, mungkin karena bangsa ini tidak punya lagi tujuan bersama. Perlukah lagi kita dijajah supaya mau bersatu dan bangga sebagai Indonesia?

image

Kita tidak perlu membangun monumen atau patung, seperti di Amerika, untuk mengenang sejarah. Kita masih terlalu ‘muda’ untuk menghargai dan memaknainya. Kita hanya perlu beretrospeksi, kembali membaca dan mengenang, bagaimana sejarah pernah membesarkan bangsa ini. Belajar bahwa pahlawan-pahlawan kita tidak kalah luar biasa, tidak kalah berjibaku memerdekakan Indonesia.

Perjuangan mereka tidak layak disia-siakan. Mereka harusnya dibanggakan. Apa salahnya terus melanjutkan nilai-nilai yang telah ditanamkan para Pahlawan?

Setidaknya, ini bisa menjadi obat bagi mereka di alam sana, meredakan kekecewaan melihat negeri yang dulu mereka perjuangan dengan darah dan nyawa, kembali terjerembab tak jelas ke mana tujuannya. Sebuah obat, yang mungkin beberapa tahun ke depan, membuat bocah-bocah dari berbagai belahan dunia meloncat girang berteriak melengkingkan hal yang rasanya kini tak mungkin terjadi,

I’m in front of Istana Merdeka! I’m in front of Istana Merdeka!” ()

P.S. Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang teman-teman VOA dengan Wakil Presiden Indonesia ke-enam, Try Sutrisno yang sedang berkunjung ke Washington D.C. beberapa waktu lalu.

image

Rafki Hidayat
rhidayat@voanews.com
@RafkiHidayat