Kisah dua jurnalis muda dari Indonesia, Marsha Ryadi dan Retno Lestari, yang menggali pengalaman sebagai Broadcast Fellow PPIA-VOA di Washington, DC, Amerika Serikat.

Text

Airport menjadi tempat favorit paparazzi untuk mengabadikan selebritis yang baru saja turun pesawat. Tidak heran selebritis berusaha tampil se-fashionable mungkin, meski bagi saya, hal ini sangat tidak masuk akal.

Pertama, karena semakin banyak layer pakaian dan asesoris yang dikenakan, maka akan makin repot saat harus melewati pemeriksaan custom bandara. Kedua, naik pesawat itu cukup melelahkan. Biasanya saya akan tertidur, dan bangun dengan wajah “bantal.” Malas sekali rasanya untuk memasang make up di wajah saya. Tapi, yah, namanya selebritis.

Nah, bandara yang sering saya lihat di caption foto celeb airport fashion adalah bandaranya kota Los Angeles yang bernama LAX.

Saya cukup penasaran seperti apa LAX itu dan bagaimana rasanya berjalan keluar bandara LAX bak selebritis. Ternyata LAX hanya bandara biasa dan sama sekali tidak mewah. Bahkan ruangan-ruangannya remang-remang yang membuat mata minus saya sulit membaca papan-papan petunjuknya. Hahaha…saya benar-benar termakan media.

Tol ke Tol
Mau kemanakah saya dari LAX? Tentu ke kota Los Angeles. Anyway, keingintahuan saya terhadap kota Los Angeles (seperti yang pernah saya tulis mengenai kota San Francisco) berawal dari film Catatan Si Boy. Saat saya kecil dulu, saya ternganga dengan betapa kerennya Si Boy dan para wanitanya yang tinggal di LA.

Lagi-lagi, khayalan untuk bisa ke LA kembali menjadi kenyataan. Namun apakah kenyataannya seperti yang saya bayangkan? Itu lain soal.

Saya tidak mempunyai banyak waktu di LA. Tentu karena saya harus bekerja dengan jadwal yang cukup padat. Waktu berjalan-jalan hanya selipan dan berkat kebaikan hati seorang Maria-Iman Santoso.

Saya memang tidak bisa keliling kota Los Angeles. Namun dari tempat satu ke tempat lainnya yang saya datangi, semua aksesnya melewati highway. Di sini semua orang menggunakan mobil pribadi. Transportasi umum sepertinya sulit diandalkan. Oleh sebab itu, pemandangan paling banyak yang saya saksikan di LA adalah jalan tol!

image


Hollywood

Saat saya datang, Hollywood sedang mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan Academy Awards. Nah kebetulan saya ingin melihat tempat yang ditutupi red carpet yang tersohor itu. Lagi-lagi saya terkejut, bukan karena keindahannya, tapi justru karena apa yang saya liat berbeda 180 derajat.

image


Jalan Hollywood ini relatif kotor. Baunya juga tidak sedap. Banyak sekali tuna wisma di tepi jalan. Nah bagaimana dengan Dolby Theather gedung yang dijadikan tempat penyelenggaraan Oscar? Ternyata juga tidak semewah yang tampak di televisi. Gedung yang dulunya bernama Kodak Theather ini, ya, biasa saja.

image


Tapi tentu saya tetap senang bisa mampir ke Hollywood dan berfoto dengan bintang-bintang di Hollywood Walk of Fame. Hollywood is not so “Hollywood.”

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari

Text

Someday I’m gonna draw from the left side of my brain

People are gonna ask, “Is it brilliant or plain?”

But as long as I don’t know how to hang a Warhol

I’ll keep sketching birds that are all like her

Very simple and true


“Little Joy – How to Hang a Warhol”

Perasaan saya bercampur aduk tiap kali berpikir bahwa sebentar lagi saya akan meninggalkan Washington DC. Jadi daripada sedih, lebih baik saya bawa senang. Sekaranglah saat yang pas untuk memberikan ‘tanda centang’ sebanyak-banyaknya pada daftar tempat-tempat yang harus saya datangi sebelum pulang ke Indonesia. Dan salah satunya adalah mendatangi semua museum yang ada di kota ini.

image

I’m really all about museums and galleries. So to me, DC is the place to be. Apalagi tempat tinggal saya dan Retno hanya 20 menit jalan kaki ke National Mall, tempat sebagian besar museum itu terletak. Kalau kamu juga suka pergi ke tempat-tempat seperti itu, ini dia daftar tempat-tempat yang sudah saya kunjungi:

Corcoran Gallery of Art

Hirshhorn Museum and Sculpture Garden

International Spy Museum

Library of Congress

National Air and Space Museum

National Archives

National Gallery of Art

National Museum of the American Indian

National Museum of Natural History

National Portrait Gallery

Newseum

Phillips Collection

Arthur M. Sackler Gallery

Smithsonian American Art Museum

Salah satu sudut di Newseum, Washington DC

Dari semuanya, tempat favorit saya adalah National Gallery of Art, National Potrait Gallery dan Corcoran Gallery of Art. Nah, ketiga tempat ini sangat magis bagi saya. Menurut saya, museum yang bagus adalah yang peletakan pameran dan multimedianya mampu membuat si pengunjung benar-benar merasa dibawa ke ‘tempat lain’, benar-benar menikmati dan benar-benar lupa dimana pintu keluarnya hehe.

I just love to be lost in a museum.

Memang saya lebih suka museum yang menampilkan seni dan bernuansa perdamaian, daripada yang bernuansa perang; misalnya United States Holocaust Memorial Museum – yang sampai sekarang masih enggan saya datangi.

Kalau kamu berkesempatan ke DC, menurut saya dua museum paling seru adalah Newseum dan International Spy Museum karena kedua tempat itu memberikan pengalaman interaktif yang (kemungkinan besar sih) belum pernah kamu alami.

Selain museum-museum besar yang dikelola Smithsonian Institution – yang kesemuanya dapat dinikmati secara gratis - sebenarnya masih banyak lagi tempat semacam galeri atau tempat pertunjukan yang lebih kecil di DC dan kebanyakan dimiliki komunitas atau perorangan. Tempat-tempat tersebut juga tidak kalah seru walaupun biasanya harus bayar untuk masuk. Tapi itu tidak masalah.

Kunci menikmati hidup di Amerika bagi saya adalah berlangganan informasi dari situs-situs seperti goldstar.com, livingsocial.com, meetup.com, freeindc.blogspot.com dan situs masing-masing tempat pertunjukan atau museum. Karena situs-situslah saya bisa menikmati dunia dari satu tempat yang pasti akan saya rindukan; a place I can almost call home, Washington DC.

Love,

Mars

Text

Karena kemarin Marsha menulis tentang pengalamannya menari Bali di Amerika, sekalian saya ingin menulis mengenai pengalaman saya meliput orang-orang di Amerika yang menekuni kesenian tradisional Indonesia.

Shadow Light Production

Pernahkah kita menonton wayang? Mungkin sebagian besar dari kita pernah menonton wayang. Pertanyaan berikutnya, seberapakah kita menikmati saat kita menonton wayang? Mungkin hanya setengah dari kita. Sisanya, saya yakin, berusaha mencoba menahan kantuk. Lalu seberapa banyakdari kita yang pernah belajar wayang atau menekuni wayang? Mungkin jawabannya, hanya beberapa.

Lalu bagaimana bisa ketika kita tidak tertarik dengan warisan budaya kita ini, sementara orang lain yang tidak ada darah Indonesia, tidak hanya menonton, tidak hanya jatuh cinta, tetapi menekuni dan akhirnya menyebarkan kesenian tradisional kita ini ke seluruh dunia? Ironis! Saya tidak berbicara mengenai Anda, tetapi juga mengenai diri saya sendiri. Betapa malunya diri saya, karena orang bule yang saya temui, jauh lebih menguasai kesenian Indonesia.

Bule yang menekuni wayang ini bernama Larry Reed. Dengan latar belakang pembuat film dokumenter, Reed datang ke tanah Jawa puluhan pada tahun 70-an, dan tanpa sengaja menemukan wayang. Bagi pria yang juga menekuni teater ini, pertunjukkan wayang mempunyai keunikan pada media yang digunakannya serta dalang yang memainkannya. Permainan cahaya dan kain putih untuk menghasilkan bayangan ditambah suara serta ekpresi dalang ketika memainkannya, membuatnya jatuh hati pada wayang.

Ketika kedua kalinya datang ke Indonesia, Reed singgah ke Bali, dan menemukan keunikan lainnya pada wayang Bali, yang membuat dirinya semakin mantap mempelajari dan menekuni kesenian wayang.

Kemudian tahun 1990-an, Reed mulai mendirikan Shadow Light Production, sebuah perusahaan kecil non komersil yang menampilkan pertunjukkan wayang. Dengan kemampuannya bermain wayang, serta latar belakangnya di bidang teater dan pembuat film, Reed kemudian mengembangkan wayang dan menggabungkannya dengan berbagai budaya negara lain seperti Jepang, Tibet, Filipina, China, serta Amerika Latin.

Kita bisa melihat karya Larry di www.shadowlight.org.

Gamelan Kori Mas

Bali memang mempunyai segudang daya tarik bagi orang-orang di berbagai belahan dunia. Betapa tidak, selain alamnya yang indah, masyarakatnya yang terbuka namun tetap mempertahankan budayanya, kesenian tradisionalnya juga sangat kaya.

image

Beberapa waktu lalu saya meliput dua kelompok gamelan yang berbasis di San Francisco. Satu kelompok gamelan bernama Gamelan Kori Mas yang berarti Gamelan “Golden Gate,” lanscape ternama kota San Francisco (http://www.gamelankorimas.com).

Gamelan Kori Mas ini terdiri dari tiga bule yang semuanya sangat mencintai gamelan dari Bali. Ketiga orang ini, masih tergabung atau pernah bergabung dalam kelompok Gamelan Sekar Jaya asal Berkeley, California, yang cukup ternama di Amerika.

Michael Steadman, Samuel Wantman, dan Ken Worthy sangat memukau saya saat memainkan dua gamelan dan satu suling bambu bersama-sama.

Sebelum mendirikan kelompok Gamelan Korimas, Michael Steadman mempelajari kesenian Bali di kampusnya di New York, sebelum bergabung untuk belajar gamelan bali bersama Gamelan Sekar Jaya di pertengahan tahun 90-an.

Sementara Michael Steadman, telah mulai mempelajari gamelan sejak tahun 70-an, ketika ia berguru pada Dennis Murphy, salah satu orang yang dijuliki sebagai “Fathers of American Gamelan.”

image

Sam (foto di atas) kemudian belajar gamelan ke Jawa, sebelum akhirnya tertarik dengan gamelan Bali. Ia menghabiskan waktu delapan bulan untuk belajar gamelan di Pulau Dewata. Setelah kembali ke San Francisco, Sam kemudian bergabung dengan Gamelan Sekar Jaya.

Sedangkan Ken Worthy, awalnya mempelajari gamelan di California bersama Gamelan Sekar Jaya. Karena ketertarikannya, Ken mempelajari musik Bali selama dua  tahun. Ia kemudian mempunyai spesialiasi sebagai peniup suling. Ken sangat mahir berbahasa Indonesia.

Ketiganya lalu membentuk Gamelan Kori Mas, dan tampil trio untuk berbagai acara berdasarkan undangan, seperti di pesta-pesta, restoran, hingga diundang oleh Maya Sutoro, adik Presiden AS, Barack Obama.

Gamelan Jegog

image

Sam kemudian memperkenalkan saya dengan kelompok gamelan lainnya yang ia dirikan, yaitu Gamelan Jegog di Berkeley, California. Gamelan Jegog merupakan kelompok ansambel yang menjadi bagian dari kelompok Gamelan Sekar Jaya (http://www.gsj.org/jegog).

Gamelan Jegog berasal dari Jembrana, Bali. Karena kontur tanahnya yang tidak meraka, maka banyak tumbuh pohon bambu dengan ukuran besar. Inilah yang mendorong para seniman menciptakan alat musik dari bambu. Musik gamelan jegog ini sangat energik. Rata-rata anggota Gamelan Jegog sudah bergabung dalam kurun waktu puluhan tahun.

Saya sangat terpukau melihat bagaimana orang-orang Amerika ini memainkan Gamelan Jegog. Mereka begitu bersemangat dan tampak sangat senang, ketika Sam atau musisi dari Bali yang diundang, mengajarkan musik yang baru.

Sejenak wajah frustasi yang gagal mengikuti ketukan sang pengajar, seketika berubah menjadi wajah riang disertai teriakan, ketika mereka berhasil mengikuti pengajar dengan benar.

image

Wah, betapa irinya saya sebagai orang Indonesia yang justru tidak bisa “apa-apa” di tengah orang-orang Amerika yang begitu mahirnya memainkan alat musik tradisional Indonesia.

Pertemuan saya dengan mereka, menimbulkan pertanyaan di diri saya. Siapakah saya? Darimanakah saya berasal? Seberapa saya mencintai budaya dan kesenian saya? Apa yang sudah saya lakukan untuk melestarikan budaya saya? Jawabannya, saya memang dari Indonesia, tetapi saya merasa orang-orang tersebut lebih Indonesia daripada saya.

Sekembalinya ke Indonesia, mungkin saya akan mencari akar budaya saya dan mempelajarinya, untuk tetap melestarikan keindahan Indonesia.

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

Tulisan kali ini tidak diawali dengan lirik. Andai saja saya bisa menjelaskan bagaimana orang-orang Amerika di Richmond yang tergabung dalam Gamelan Raga Kusuma, bisa dengan persis dan mengesankan membawakan beberapa repertoire tari dan lagu tradisional Bali.

Saya memang pernah belajar tari Bali sekitar 12 tahun, dan ini bukan pertama kalinya saya menari di Amerika. Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan menari lagi di University of Indiana, negara bagian Pennsylvania. Walaupun waktu itu tempat pertunjukannya sangat memadai, apalagi dari segi akustiknya, tapi waktu itu rasanya beda. Pasti kamu yang biasa menari juga tahu perbedaan menari diiringi CD dan menari secara langsung diiringi instrumen lengkap.

Sepertinya saya sudah mengalami banyak peristiwa dan keseruan selama saya di Amerika, tapi menari di Richmond, Virginia, diiringi Gamelan Raga Kusuma, di sebuah bar/restoran berkonsep urban bernama Ballicaeux, dan dengan penonton padat, mungkin ada di daftar “10 most awesome things I did in America” -  (dan mungkin saya harus mulai membuat daftar yang masih fiktif ini, hehe).

image

What makes it cool is, those gamelan players are probably as good, if not better than my gamelan teacher.

Sayapun pernah belajar main gamelan, tapi tidak pernah bisa selihai teman-teman Gamelan Raga Kusuma. Dan pasti banyak juga dari kalian yang tidak bisa memainkan alat musik tradisional. Jadi, menurut saya, mereka keren.

Yang keren juga adalah, tempat pertunjukkannya biasa dipakai untuk acara dance, di mana DJ-DJnya memainkan musik semacam post-punk, soul, house¸lalu digunakan juga sebagai tempat pertunjukan standup comedy. Jadi menurut saya, pemilihan tempatnya juga pas untuk memperkenalkan sesuatu yang sangat tradisional kepada komunitas yang modern.

VOA pernah meliput latihan Gamelan Raga Kusuma tahun lalu.
Dan ini saya, menarikan Legong Condong.

Saya sempat deg-degan ketika itu, karena terakhir saya menarikan tarian ini adalah 15 tahun yang lalu dan saya hanya latihan sekali, dan itu juga kali pertama kelompok gamelan itu memainkan Legong. Maka dari itu, saya mau membuat pengakuan publik, bahwa saya melakukan sejumlah kesalahan, hehe.

Mohon maaf juga bagi para penari Bali, teman-teman dari Bali, dan lainnya yang merasa aneh melihat tampilan ini, saya memutuskan untuk tidak menggunakan kostum lengkap karena harus menarikan beberapa tarian secara berurutan.

All in all, ini adalah salah satu pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan. Saya kira saya tidak akan menari lagi di Amerika berhubung sebentar lagi pulang. Tapi ternyata, dalam waktu dekat saya akan menari lagi untuk Gamelan Raga Kusuma. Yay!

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata 

Text

O beautiful for pilgrims feet,

Whose stem impassioned stress

A thoroughfare for freedom beat

James Taylor – America the Beautiful

Akihirnya saat yang dinanti-nanti datang juga. Inaugurasi presiden Amerika.

Kira-kira dua bulan lalu juru kamera yang biasa syuting Dunia Kita menggerutu karena tidak bisa parkir di basement kantor VOA. Alasannya, karena tempat parkir digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan persiapan inagurasi. Tidak hanya di VOA yang mempersiapkan inagurasi, tapi juga seluruh Washington, DC. Berbagai ruas jalan mulai diatur untuk persiapan parade dan beberapa gedung mulai berhias. Misalnya Newseum (museum berita dan jurnalisme) yang memasang banner raksasa “Newseum celebrates freedom. Newseum welcomes President Obama.”

Saya sempat melihat dari kejauhan prosesi pelantikan presiden. Salah satu yang saya kagumi dari acara formal di Amerika adalah tidak membosankan. Para pejabat negara sering kali mengeluarkan candaan yang cerdas, atau setidaknya ekspresi wajah yang terlihat santai dan senang. Bahkan sebagai pembawa acara Senator Chuck Schumer, ia selalu tersenyum, sesekali tertawa karena ikut merayakan transisi kekuasaan yang damai tersebut. 

Serunya lagi, upacara kenegaraan ini menghadirkan artis seperti Beyonce yang membawakan “Star Spangled Banner” lagu kebangsaan Amerika, lalu Kelly Clarkson  dan James Taylor yang membawakan lagu nasional. Setiap inagurasi presiden Amerika, Ada tradisi pembacaan puisi, dan berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya, kali ini yg membawakan puisi adalah Richard Blanco. Seorang Hispanik, gay, dan imigran pertama yang membacakan puisi pada inagurasi bersejarah itu. Ia pun adalah pembaca puisi inagurasi termuda.  Semua terlihat gembira merayakan terpilihnya kembali presiden Barack Obama. Semua terlihat manusiawi pada hari inagurasi. Presiden Obama pun demikian. 

Saya kagum dengan betapa manusiawinya Presiden Obama. Saat ia diminta masuk kembali ke Capitol Building (tempat dilaksanakannya pelantikan adalah di balkon gedung tersebut) ia terlihat membalikkan badan ke arah puluhan ribu rakyat yang hadir. Kemudian saya ketahui dari televisi, bahwa yang ia katakan adalah, “I’m not going to get to see this again, berhubung memang ini adalah masa jabatan terakhirnya. Saat itu ia terlihat bangga sekaligus terharu. Saya kagum karena, Presiden Obama sangat berwibawa tapi disaat bersamaan, ia bisa spontan selayaknya manusia. I think that’s what makes a president. Dan menurut saya itulah salah satu faktor yang membuatnya terpilih kembali, his presence. Sebagai contoh, dulu ketika terjadi tornado di Georgia dan Alabama, presiden Bush hanya menginspeksi dari udara. Ia naik helikopter. Sedangkan Obama lagsung turun ke lapangan menemui para korban badai Sandy. Dan semua orang yang sehat akal pasti bisa membedakan pelukan presiden atau pejabat publik yang tulus karena ia berempati dengan media atau berempati dengan rakyat.

Sebelum mulai parade, saya mengantre di jalan 10 dan Pennsylvania. Di situ saya memikirkan kata-kata orang yang berdiri disampingh saya. Katanya kepada saya, “Do you think Obama would come out of his car and walk to greet the crowd? I think he would. No question. Because he loves his people and the people love him. You know, there some who hate his guts but most American loves him. We got his back. That’s why we want him to get the second term. Because we know he’s on our side.”

Lalu saya terdiam. Dalam hati saya berpikir, sudah lama Indonesia tidak punya pemimpin yang dihormati dan dicintai rakyatnya. Maksud saya, yang benar-benar dihormati dan dicintai tanpa kepentingan. Padahal, that’s what makes a nation.

Tiba-tiba pikiran saya buyar karena Presiden Obama dan Ibu negara keluar dari mobilnya dan ia melihat ke arah saya (coba temukan Obama pada foto buram di blog ini. Maklum suasana terlalu semarak, jadi tidak fokus mengambil gambar, hehe). Benar kata orang yang berdiri disebelah saya, ia pasti bela-belain keluar mobil lapis bajanya itu demi rakyat yang sudah memilih dan menunggu berjam-jam. Bahkan menunggu bertahun-tahun untuk mengalami perubahan.

Real Democracy is beautiful, huh?

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata 

Text

Saya sangat beruntung sekali bisa menjadi fellow pada tahun 2012-2013 dan bekerja di VOA yang berkantor di Washington, DC. Karena pada tahun inilah Amerika Serikat merayakan pesta demokrasi dengan banyak kegiatan politik yang berbasis di Washington, DC. Salah satunya tentu adalah inaugurasi atau pesta pelantikan presiden.

Saya masih ingat saat menonton pelantikan Barack Obama untuk pertama kalinya pada tahun 2009 di televisi. Layar televisi di rumah saya seolah penuh karena jutaan orang menghadiri inaugurasi. Tidak pernah terbayangkan saya akan hadir pada pesta pelantikan Obama pada masa jabatan yang kedua, di Washington, DC. Maka, tanggal 21 Januari yang lalu adalah salah satu kesempatan besar yang saya tunggu-tunggu.

image

***

Pelantikan presiden berlangsung pada siang hari kemudian diteruskan dengan parade sepanjang jalan Pennsylvania, dari Capitol menuju White House. Tim televisi di VOA sudah melakukan rapat jauh-jauh hari, untuk menentukan siapa akan bertugas di mana.

Sebagian tim bertugas di studio, sebagian dari atap gedung VOA, sebagian di Capitol, yang lain di National Mall, dan sisanya di Freedom Plaza.

Jadwal reportase langsung VOA kepada stasiun televisi di Indonesia, berlangsung sejak tanggal 21 dini hari. Saya kebagian bertugas di Freedom Plaza dan dijadwalkan melakukan reportase langsung mulai pukul 17:30.

Kantor VOA pun telah mengumumkan untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan dan sulitnya akses berjalan di seputar Gedung Capitol dan Gedung Putih karena banyaknya massa. Oleh karena itu kami dihimbau untuk datang ke lokasi yang sudah ditentukan, beberapa jam sebelum waktu siaran.

***

image

Saya datang ke Freedom Plaza, sebuah lapangan di tepi jalan Pennsylvania sekitar pukul 12 siang. Jujur, saya sempat agak menyesal karena tidak memberanikan diri untuk berada di dekat gedung Capitol saat Presiden Obama dilantik dan menyampaikan pidatonya. Saya melewatkan kesempatan untuk berdiri bersama ratusan ribu orang lainnya, untuk menyaksikan inaugasi terakhir Barack Obama. “Well, things happened for a reason,” kata saya dalam hati menghibur diri.

Untuk masuk ke wilayah di Freedom Plaza ternyata harus melewati screening dari petugas polisi. Antrian sangat panjang, karena polisi menggeledah tas orang satu per satu. Untungnya, dengan credential media, saya tidak perlu mengantri panjang. Tinggal mendekati petugas keamanan dan memperlihatkan ID dan mereka akan memeriksa semua barang bawaan.

Di Freedom Plaza, sebuah panggung bersusun yang cukup besar disediakan bagi media peliput inaugurasi. Namun demikian, kami tidak bisa masuk semua ke area media, karena diperlukan id card tambahan. Maklum, VOA adalah organisasi dengan banyak language service. Maka personel yang ingin turun ke lapangan juga multi negara. Berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Kami harus bergantian masuk dengan ID tambahan.

Karena jadwal reportase langsung saya pukul 18:30, maka saya belum diperbolehkan masuk. Saya pun sempat merana dan terlunta-lunta. Sendiri pula.

Mau ke pinggir jalan Pennsylvania, tidak bisa. Sepanjang jalan sudah penuh dengan penonton, yang tingginya hampir dua kali tinggi badan saya. Mana bisa saya melihat ke jalan saat nanti parade dimulai pukul 14:30?

Akhirnya saya hanya mondar mandir di Freedom Plaza, sampai ada seorang petugas yang menegur saya dan bertanya apakah saya mempunyai tiket. Tiket ini adalah tiket bagi warga yang bisa digunakan untuk duduk di beberapa tribun yang disediakan disepanjang jalan Pennsylvania.

No,” jawab saya. Petugas itupun kemudian pergi.

Tidak lama kemudian, petugas itu datang lagi dan berkata, “Do you want to come in and sit on the bleachers?”

Petugas itu menawarkan saya untuk masuk ke tribun penonton di Freedom Plaza, yang letaknya tepat di samping tribun media. Wah, rejeki nomplok. Saya jadi freeloader! Kemudian saya pun duduk di tempat yang bisa dengan bebas melihat ke arah jalanan, tempat Presiden Obama dan rombongan nantinya akan lewat.

Setelah acara di Capitol usai, pengumuman terdengar dari pengeras suara bahwa parade akan dimulai. Parade mulai terlambat sekitar 40 menit dari jadwal.

Parade ini diikuti 8.800 orang dari sekitar 59 kelompok dan organisasi, mulai dari militer, marching band, kelompok cultural, dan kelompok-kelompok multi etnis lainnya yang merupakan simbolis dari keberagaman Amerika.

Rombongan pertama yang membuka parade adalah motor-motor polisi yagn membentuk display segitiga. Kemudian diikuti dengan unit-unit angkatan bersenjata Amerika.

image

Setelah itu menyusul rombongan presiden. Saya turut larut bersama kegembiraan para penonton di sekitar saya. Terutama saat limousine yang dinaiki Obama lewat. Tapi sayangnya, dia tidak keluar mobil saat lewat di depan saya.

Ya, paling tidak saya bisa melihat wajahnya saat ia tersenyum sambil melambaikan tangan.

***

Setelah rombongan kepresidenan lewat, penonton mulai meninggalkan tribun. Saya ikut turun dan menuju tribun media. Saya pun bisa masuk tanpa ID tambahan karena moment yang paling krusial sudah usai.

Di tribun media saya bisa melihat banyak sekali wajah-wajah ternama yang tengah menyampaikan laporannya. Saya pun merasa sangat senang bisa diberi kesempatan untuk berada di sana.

image

Tidak lama, Mbak Ade (Astuti) pun datang. Jadwal laporan langsung Mbak Ade, lebih dulu daripada saya. Kami pun bersiap-siap dengan catatan serta hasil riset kami, untuk di sampaikan kepada pemirsa. 

Setelah berdiri berbeapa lama, saya baru sadar, cuaca yang tadinya hangat akibat sinar matahari, tiba-tiba menjadi dingin karena jam sudah menunjukkan pukul 17:00.

Tubuh saya mulai menggigil dan harus siap sedia melompat-lompat ditempat, untuk tetap menghangatkan diri. 

Mbak Ade selesai. Inilah giliran saya.

Saya bertugas menyampaikan laporan langsung pada 3 stasiun televisi di Indonesia hingga pukul 19:15. Laporan pertama berjalan cukup lancar. Antara satu laporan dengan laporan yang lain berlangsung sekitar 30 menit. Saya pun tetap harus berdiri sambil menahan hawa dingin yang mulai sulit saya tahan.

Kameramen yang bertugas, Rob, membelikan saya teh panas. Kameramen lainnya, Cindy memberi saya penghangat tangan (hand warmers). Semua masih berlangsung baik, hingga menjelang laporan terakhir, ketika angin besar berhembus.

Saya harus bediri di atas kotak kecil karena ukuran tubuh saya yang mini. Untuk itu, saya harus mencoba mempertahankan keseimbangan ketika kaki saya sudah membeku. Maka ketika angin kencang dan dingin bertiup, saya pun kehilangan kesadaran beberapa detik hingga hampir terjatuh. Untung saya tersadar dan berhasil menyeimbangkan diri. Lima menit kemudian, laporan terakhir saya lewati dengan mulut yang setengah terkatup hingga merusak artikulasi alias ngomong belepotan. 

Satu lagi pelajaran berharga saat harus melakukan siaran langsung. Selain persiapan materi dan persiapan mental, maka persiapan kondisi dan situasi cuaca juga tidak kalah penting.

Meskipun ada beberapa kendala, saya sangat menikmati tugas inaugrasi ini. It was really fun and exciting!

Oh, karena saya melewatkan pidato Presiden Obama, maka saya berniat di dalam hati. “Saya akan hadir lagi di sini!”

Lagi-lagi saya bermimpi!

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

image

“Three, two, one…Happy New Year!”

Begitulah teriakan saya dan Marsha, bersama lebih dari satu juta orang lainnya yang berkumpul di Time Square, New York City, untuk menyaksikan ball drop sebagai penanda pergantian tahun 2012 menuju 2013.

Menyaksikan ball drop di Times Square adalah cara klasik untuk merayakan tahun baru yang didambakan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Termasuk saya dan Marsha tentunya.

 

Mengapa Ball Drop?

Perayaan tahun baru di Times Square memang sudah diadakan sejak tahun 1904. Namun ball drop pertama, baru terjadi pada tahun 1907. Ball drop ini dibuat untuk menggantikan pesta kembang api yang saat itu dilarang di New York City. Kemudian tradisi ball drop terus berlangsung tiap tahunnya hingga saat ini.

Pada awalnya, bola yang dijatuhkan dari puncak Times Square terbuat dari kayu dan besi. Namun kini, bola yang dijatuhkan terbuat dari kristal yang beratnya lebih dari 5000 kg dan diameternya mencapai 3,6 meter.

Nah, tidak heran kalau festival ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia dan selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan orang setiap tahunnya.

image

Antri Sejak Jam 12 Siang

Saya dan Marsha sudah membulatkan tekad sejak awal hijrah ke Amerika, untuk merayakan tahun baru di Times Square, New York. Kami ingin tahun baru kami di Amerika akan selalu kami kenang dan akan menjadi pengalaman once in a life time.

Lho, nggak mau lagi?” Kalau ditanya begitu, saya dan Marsha akan menjawab dengan kompak, “Nggak!”

Tidak mudah memang masuk ke Times Square untuk menyaksikan drop ball. Bagaimana tidak, jutaan orang berlomba untuk bisa berada di sana dan mendapatkan tempat berdiri yang paling enak. Tidak salah kalau orang bilang posisi menentukan prestasi.  Karena posisi yang enak akan dengan jelas melihat jatuhnya bola di Times Square dan juga menyaksikan para pengisi acara di tiga panggung yang disediakan panitia.

Untuk itu, maka orang-orang akan datang berjam-jam sebelumnya. Bagaimana dengan saya dan Marsha? Kami cukup datang dan mengantri sejak jam 12 siang saja!

Kami pergi ke Times Square bersama seorang teman asal Spanyol bernama Carlos. Begitu sampai di area Times Square, Carlos bertanya kepada polisi di manakah kami harus berdiri untuk bisa masuk ke tempat-tempat yang telah ditentukan dan sudah dipagari besi.

Kami pun masuk dari persilangan jalan 46th Street dan 7th Avenue. Inilah enaknya jalan di New York, menggunakan sistem angka yang berurutan sehingga mudah untuk dicari.

Kami harus mengantri untuk melewati petugas polisi yang akan mempersilakan kami masuk ke dekat panggung, setelah melakukan pemeriksaan pada setiap orang. Tentu, orang-orang di depan dan di belakang kami sudah ribuan. Aksi dorong-mendorong mewarnai usaha kami masuk ke dalam area yang saya sebut “safe zone.” Yang artinya, area dimana kami aman dan tidak akan diusir seperti yang terjadi di tahun sebelumnya pada Vici Vadeline dan fellow VOA tahun sebelumnya Kartika Octaviana. 

“Untung pengalaman naik kereta Jabodetabek,” ujar saya pada Marsha yang sibuk menahan diri di tengah himpitan laki-laki berbaju wanita.

Setelah sekitar 45 menit mengantri dan dorong-mendorong, kami pun berhasil masuk ke dalam zona aman di dekat panggung dan bisa dengan jelas melihat Times Square.

 

We Made Friends!

image

Kami langsung bertemu dengan rombongan enam perempuan muda “gila” asal North Carolina, dua laki-laki cupu nan lucu dari New Hampshire, suami istri beserta anak perempuannya yang gaul asal San Diego, dan empat orang lainnya yang kalau tidak salah berasal dari Inggris.

Sejak awal berdiri, kami sudah berkenalan, bercanda, bernyanyi, berfoto-foto, menari, hingga membuat seisi Times Square bernyanyi untuk Carlos.

Everyone, this is my friend Carlos. He’s all the way coming from Spain to celebrate his birthday today. So let’s sing happy birthday for him,” teriak gadis lucu bernama Summer dengan kencang.

Saat itu sekitar pukul 3 sore, Times Square bernyanyi “Happy birthday” untuk Carlos.

Kemudian, jam demi jam terus berlalu. Setiap countdown kami lewati sambil menghitung sisa jam menuju ke waktu tengah malam. Untuk menghilangkan jenuh, kami pun menari-nari mengikuti alunan lagu yang diputar dan terdengar lewat pengeras-pengeras suara raksasa. Mulai dari lagu top 40, lagu-lagu hits tahun 2012, hingga lagu Fun Factory. 

Hayo, siapa yang tahu Fun Factory? Yang tunjuk tangan berarti ketahuan umurnya. Haha.

Saya pun menjadi satu dari sedikit orang yang bersenandung, “Let’s have a celebration by the sea. And get together in peace and harmony. A celebration come and have some fun. Singing oh oh ooh oh, oh oh oh ooh oh..”

image

Kami Pakai Pampers!

Suhu udara di New York saat itu adalah 38 Fahrenheit atau sekitar 3 derajat celcius. Bagi kami suhu ini memang dingin, tetapi tidak sedingin yang kami perkirakan. Plus, kami berada bersama banyak orang sehingga kami merasa jauh lebih hangat.

Lelah? Tentu saja. Kami kan berdiri terus. Lapar? Pasti. Tapi kami sudah menyediakan protein bar. Snack yang mudah dibawa ketimbang harus berbekal makanan berat seperti sandwich atau makanan lainnya.

Minuman pun cukup satu botol saja. Karena yang paling kami takuti bukanlah berdiri berjam-jam, melainkan kalau kami kebelet ke belakang. Jadi, kami tidak mau banyak minum.

Nah, gara-gara Timse Square ini saya dan Marsha untuk pertamakalinya sejak puluhan tahun lalu kembali mengenakan pampers. Untungnya, kami sama sekali tidak ada keinginan untuk ke belakang. Kalau tidak? Hahahaha, saya enggan membayangkannya.

image 

Psy Wave! 

Menurut saya di Amerika yang terjadi bukan Korean Wave, tetapi Psy wave! Semua orang tahu Gangnam Style dan bisa berjoget kuda ala Psy.

Tentu saja Psy didaulat menjadi pengisi acara. Wah, betapa senangnya saya dan Marsha bisa menyaksikan langsung Psy bernanyi dengan goyangan Gangnam Style-nya. Apalagi Psy tampil bersama MC Hammer. Lagu Gangnam Style pun di remix dengan alunan beat MC Hammer.

 

Satu kata, “Awesome!”

Sejak jam 6 sore, panggung memang mulai diisi penampilan rehearsal para pengisi acara. Mulai dari Psy, Train, Carly Rae Jepsen, hingga Taylor Swift. Baru setelah melewati jam 9 malam, para pengisi acara ini tampil sesungguhnya dan disiarkan live oleh stasiun televisi.

image

Penampilan mereka membuat waktu seolah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, kami terus bernyanyi dan melompat-lompat hingga menjelang waktu jam 12 malam.

Ketika jam menunjukkan waktu pukul 11.59, kami pun sudah menyiapkan kamera untuk merekam ball drop sambil berteriak dengan gembira, “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2,1, Happy New Year!

Dua belas jam berdiri kami lalui hanya untuk satu detik menuju tahun baru 2013!

Tahun baru yang sangat melelahkan, namun sangat berkesan dan akan selalu kami kenang.

Selamat tahun baru!

image 

 

Cheers,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari  

 

Text

We’re apart, that’s true

But I can dream

And in my dreams

I’m Christmasing with you

Holidays are joyful

The Carpenters – Merry Christmas, Darling

Bulan Desember ini bisa dibilang adalah saat di mana saya benar-benar merasa jauh dari rumah. Lebih tepatnya, lebih merasa tinggal di Amerika karena banyak keriaan natal dan mulai musim dingin. Pakaian yang tadinya hanya satu lapis sekarang harus dua sampai tiga lapis, belum lagi coat, serta sarung tangan dan kaus kaki ekstra tebal.

Suasana menjelang natal disini memang sangat terasa. Kedai kopi yang tadinya hanya menjual menu biasa, sekarang mulai menjual kopi rasa eggnog, peppermint, dan racikan khas musim liburan lainnya, toko-toko mulai memajang dekorasi natal, dan orang-orang mulai banyak mengadakan pesta; di kantor, di bar, bahkan di berbagai ruas jalan.

Bulan Desember juga saat dimana saya benar-benar memikirkan ‘what’s next?’ karena berarti waktu saya disini tinggal empat bulan sebelum kembali ke Jakarta. Jadi sekarang mulai ‘merestrukturisasi’ rencana masa depan, hehe. Menurut saya, ini wajar bagi setiap orang yang pergi ke luar negeri, entah untuk sekolah atau bekerja - tapi hanya dalam waktu singkat seperti saya - kemudian memikirkan langkah selanjutnya di negara asal atau bahkan harus pindah lagi ke negara orang. Mungkin pemikiran terlalu dalam itu wajar kala musim dingin; didukung cuaca dan nuansa yang pas untuk menelangsa. Belum lagi malam sangat panjang, jam 5 sore sudah gelap seperti jam 8 malam di Jakarta.

Tapi semua itu tentu harus diimbangi dengan senang-senang selagi disini. Mulai dari belanja barang obral yang banyak dimana-mana sampai mendatangi acara-acara tradisi natal. Desember memang identik dengan hari natal. Dan di Amerika, menurut saya, natal tidak hanya milik penganut agama tertentu, tapi milik semua orang karena sudah menjadi tradisi, dimana orang-orang berkumpul dan menanggalkan semua perbedaan diantara mereka.

Sejarah mencatat, Amerika dibentuk dan dibangun oleh para imigran dari berbagai bangsa dan latar budaya. Jadi, menurut saya, bukan kebudayaan yang menjadi alat pemersatu bangsa ini, melainkan tradisi. Tradisi yang disokong bertahun-tahun oleh orang-orang asing yang menetap di Amerika — supaya ada yang seremonial, ada yang dipegang teguh, dan ada yang bisa dirayakan bersama.

image

Tentu, saya tidak akan menulis soal barang apa saja yang saya beli, hehe, tapi saya mau bercerita tentang acara dan tempat bertemakan natal yang saya alami dan datangi. Pertama adalah National Christmas Tree. Lokasinya di dengah lapangan berbentuk elips tepat di depan Gedung Putih. Mengapa dinamakan pohon natal nasional? Karena lagi-lagi ini adalah tradisi. 

Pohon natal besar pertama ditempatkan di tempat yang sama bulan Desember 1923. Pohon cemara setinggi 13 meter itu berhiasakan 2.500 lampu listrik warna merah, putih dan hijau. Upacara penyalaan lampunya dipimpin oleh Presiden Calvin Coolidge, diiringi paduan suara lokal dan Band Marinir AS. Tahun ini keluarga Obama yang menyalakan hiasan pohon natal nasional disertai hiburan, diantaranya dari penyanyi r&b, Baby Face dan pemenang American Idol, Phillip Phillips. Bagi yang mau melihat suasana di lokasi tersebut, simak Dunia Kita edisi terbaru bada tautan ini http://bit.ly/W3ALaJ 

image

Saya juga sempat ke konser natal Ronnie Spector, yang diberi nama ‘Ronnie Spector’s Best Christmas Party Ever’. Bagi sebagian orang pasti namanya kurang dikenal. Bagaimana kalau saya sebut Amy Winehouse dengan gaya rambut sarang lebahnya. pasti tau kan? Nah, Ronnie Spector adalah inspirasi utama Amy Winehouse dalam bermusik. Bahkan Ronnie Spector-lah yang pertama kali tampil dengan tatanan rambut seperti itu di tahun 1960-an ketika ia masih tergabung dengan kelompok musik The Ronettes.

Saya memang suka musik-musik dari dekade itu. Ronnie Spector yang kini sudah berusia 69 tahun memiliki sejarah yang panjang di dunia permusikan, belum lagi cerita hubungan dekatnya dengan personil The Ramones, The Rolling Stones dan John Lennon. Banyak kritikus musik yang bilang, ia adalah rockstar perempuan terakhir yang ada di dunia.

Ronnie Spector memang jarang mengadakan konser, namun konser natal ini sudah dijadikan tradisi dari tahun 1988 olehnya. Ia mengaku sangat tergila-gila dengan suasana natal. Dan saya pun, tergila-gila dengannya. Beruntung sekali ditengah lagu “Frosty the Snowman” yang ia bawakan, beberapa kado natal dilempar dari panggung dan saya mendapatkan satu kaos merchandise Ronnie Spector. No question about it. It was the best Christmas party ever!

image

Selain itu saya menghadiri pentas balet The Nutcracker. Ini juga merupakan tradisi, bahwa menjelang natal banyak sekali penampilan teater dan balet, dan yang paling populer adalah balet The Nutcracker ini. Bayangkan, dalam dua bulan yang sama ada 4 pementasan rutin dari 4 kelompok balet berbeda.

Tadinya saya ingin datang ke pementasan yang diadakan kelompok Moscow Ballet, karena sudah berabad-abad Rusia menjadi kiblat balet. Sayang lokasinya jauh dari pusat kota. Karena saya sedang dalam misi mencoba mendatangi setiap tempat pertunjukkan yang ada di DC, akhirnya saya memutuskan untuk datang ke pementasan di Warner Theater. Dan tidak kalah bagusnya dengan Moscow Ballet, yang satu ini ditarikan oleh The Washington Ballet. The Nutcracker yang mereka tampilkan tidak konvensional, banyak sekali unsur modernnya dan yang pasti tata panggungnya sangat fantastis.

Keriaan akhir tahun belum selesai sampai disini. Sambil memikirkan masa depan yang jangka panjang, sepertinya saya akan memikirkan masa depan yang jangka pendek dulu. Yaitu rencana merayakan tahun baru di New York.

It has been a great year at VOA. Can’t hardly wait for the remaining four months. You’ll read from me soon but for now, happy hollidays to you and your loved ones.

Love,

Mars

Text

image

Tidak terasa sudah setengah tahun saya dan Marsha menjadi fellow dari program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship. Dalam kurun waktu enam bulan banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan. 

Bagi saya, pengalaman paling berharga hingga saat ini adalah diberi kesempatan untuk turut membantu VOA Indonesia, dalam menyiarkan proses pemilihan presiden ke stasiun-stasiun televisi di Indonesia. 

Proses dari serangkaian ritual pemilihan pemimpin negara Paman Sam antara lain adalah Konvensi Nasional Partai Republik dan Partai Demokrat serta debat calon presiden. Konvensi ini lebih bersifat seremonial namun tetap menarik diikuti karena biasanya akan muncul pidato-pidato yang menarik baik dari presiden maupun tokoh-tokoh pendukungnya. Sementara debat presiden akan memperlihatkan secara langsung visi dan misi apa yang dimiliki oleh masing-masing kandidat yang ditawarkan kepada masyarakat.

Konvensi masing-masing partai kurang lebih berlangsung selama 3 hari. Sementara debat capres berlangsung 3 kali dan debat cawapres 1 kali. Berhari-hari pula tim VOA Indonesia sibuk mempersiapan diri untuk siaran langsung ke beberapa stasiun televisi. Persiapan ini mulai dari riset, mengumpulkan materi, hingga persiapan teknis yang melibatkan tidak hanya VOA Indonesia tetapi juga orang-orang di divisi-divisi lain.

Dengan lebih dari 40 language service (istilah bagi masing-masing bagian negara yang ada di VOA), maka pengaturan jadwal siaran, satelit, penggunaan studio, man power, bukanlah hal yang mudah. Belum lagi siaran langsung dilakukan tidak hanya ke satu stasiun televisi, tetapi ke banyak stasiun televisi dalam waktu yang sangat mepet.

Persiapan adalah kunci dari kelancaran jalannya siaran langsung. Persiapan materi tentu melibatkan riset, meliput, menerjemahkan, menulis naskah, menyiapkan paket berita, dan menyiapkan footage untuk insert gambar. Sementara persiapan dan eksekusi teknis, wah, saya bisa menulis beberapa halaman untuk menjelaskan secara detail. 

Di sini saya melihat bagaimana luarbiasanya kemampuan tim televisi di servis Indonesia. Bahkan orang-orang “bule” di VOA mengakui bahwa tim televisi servis Indonesia adalah yang terbaik di antara language service lainnya. “You guys know exactly what you’re doing!” Kata beberapa camera person dan program director.  

Siaran Langsung di Studio

image

Siaran langsung konvensi partai Republik dan Demokrat adalah debut pertama saya di studio VOA. Sebelum di VOA saya memang bukan hanya reporter di lapangan tetapi juga sering berada di studio untuk membantu atau mengawasi siaran. 

Saya sangat suka berada di dalam studio karena ketegangan yang saya rasakan akan menjadi sebuah kepuasan yang membuat ketagihan, jika siaran berjalan dengan lancar atau melebihi ekspektasi. Apalagi jika saat siaran langsung ada berbagai kendala, dan berhasil melewatinya. Wah, rasanya luar biasa.

Di Indonesia saya sering berada di studio, saat harus melakukan siaran dengan beberapa reporter yang melakukan reportase langsung (live report). Tetapi di VOA, siaran bukan hanya dilakukan dengan reporter yang melaporkan secara langsung (live), tetapi juga harus menghubungkannya juga secara langsung dengan televisi-televisi di Indonesia. Ini menjadi tantangan baru bagi saya. Tim televisi servis Indonesia tentunya sudah terbiasa. Namun saya sangat excited untuk melihat dan membantu jalannya siaran langsung yang kami sebut live hits. Apalagi kru studio VOA adalah orang-orang bule yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Sehingga kami menggunakan dwi bahasa. Nah lo, terbayang kan bagaimana ribetnya? 

Tugas saya saat itu adalah menelepon televisi-televisi di Indonesia untuk menanyakan dua nomor telepon yang akan digunakan untuk berkoordinasi dan menghubungkan audio presenter di Indonesia dengan reporter/presenter VOA. Tugas ini gampang-gampang sulit. Gampang karena tinggal menelpon dan meminta dua nomor. Satu nomor tidak boleh diganggu-gugat dan harus disambungkan oleh audio man di Indonesia dari presenter ke presenter. Instruksi, tentu dari produser atau siapapun yang bertanggung jawab di Indonesia. Sulit, karena terkadang bertemu dengan orang-orang yang belum terbiasa dengan siaran antar benua dan bahkan tidak terbiasa dengan siaran langsung.

Bagaimana jika produser atau orang yang bertugas tidak memiliki pengetahuan tentang ini? Tentunya kendala teknis karena human error. Nah, saat inilah saya melihat betapa pentingnya bagi pekerja di televisi terutama yang berada dalam tim produksi untuk memahami dan menguasai berbagai aspek teknis di studio. 

Setelah konvensi, proses berikutnya adalah debat calon presiden. Saat debat calon presiden, tugas saya berbeda. Jika sebelumnya saya bertugas di studio, kali ini saya berada di newsroom. Saya harus memperhatikan jalannya debat dan poin-poin apa yang menarik. Kemudian saya menunggu video debat tersebut ada di dalam sebuah aplikasi bernama Dalet, yang merupakan sistem bagi sebuah siaran televisi. Berdasarkan poin-poin menarik tersebut, saya harus memotong-motong gambarnya untuk dijadikan insert video pada saat nanti tim di lapangan melaporkan secara langsung.

Mbak Patsy, Mbak Ade, Mas Helmi, Mas Nova adalah tim di lapangan yang melaporkan langsung. Sementara Mbak Nadia, Mbak Ane, Mbak Nia, Cak Supri, Mas Alam, Mbak Yuni, dan saya adalah goal keeper yang bergantian berada di studio atau di newsroom.

Pengalaman di studio dengan tingkat keribetan yang amat tinggi ini membuat kemampuan saya meningkat pesat jika nanti kembali ke Indonesia. Pengalaman yang sangat berharga bukan? Sekarang saya bisa berkata, “Multitasking? No problemo!”

Salam,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text



Warna merah adalah warna “it” saya. Maksudnya? Maksudnya, warna merah adalah warna yang menurut saya membuat saya terlihat lebih menarik (self-proclaimed) tetapi tidak menjadi warna favorit saya. Sepatu saya mayoritas berwarna merah. Lipstik yang saya punya mayoritas berwarna merah. Dan akhir-akhir ini Anda tahu saya terobsesi dengan apa? Dengan daun-daun pepohonan yang berwarna merah.

Perubahan warna merah pada daun ini merupakan penanda masuknya musim gugur. Ini adalah fenomena alam, yang tidak bisa saya temukan di Indonesia. Perubahan warna daun ini disebut foliage. Mengapa bisa berubah? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan warna daun pada musim gugur yaitu pigmen daun, panjangnya malam hari, dan cuaca. Namun pengaruh cuaca, curah hujan, suplai makanan tidak sebesar pengaruh panjangnya malam terhadap perubahan warna tersebut. Saat siang hari lebih pendek, dan malam hari lebih panjang serta lebih dingin, proses bio kimia pada daun dimulai. 

Pigmen

Ada beberapa jenis pigmen yang mempengaruhi warna daun. Pertama, klorfil, yang memberi warna dasar hijau. Klorofil seperti yang kita pelajari semenjak sekolah dasar, sangat penting bagi proses fotosintesis. Kedua, karotin, yang memproduksi warna kuning, oranye, dan coklat seperti halnya pada tanaman jagung, wortel, dan pisang. Antosianin, yang memberikan warna merah seperti pada cranberriy, apel, anggur merah, bluberry, cherry, strrawberry, serta plum. 

Klorifil dan karotin terdapat dalam sel daun saat musim tumbuh. Sedangkan antosianin diproduksi saat musim gugur, yang menyebabkan perubahan warna daun menjadi terang. Saat malam hari menjadi lebih pendek, produksi klorofil menurun dan kemudian berhenti karena pigmen ini akhirnya mati. Selanjutnya, karotin dan antosianin akan berproses dan menghasilkan perubahan warna daun menjadi kuning, orannye, coklat, dan merah. 

Apakah semua daun akan berubah menjadi warna tertentu? Awalnya saya pikir demikian. Tetapi ternyata setiap spesies tumbuhan mempunyai karakteristik warna tersendiri. Beberapa jenis pohon, daunnya berubah warna menjadi merah kemudian menjadi coklat. Beberapa lainnya menjadi kuning, oranye atau warna emas sebelum menjadi warna coklat. Setelah berwarna coklat, tentu daun-daun ini akan gugur.

Mengapa gugur?

Karena pendeknya siang hari dan penurunan intensitas sinar matahari di musim gugur, daun mulai melakukan proses pengguguran. Pembulih vena yang membawa cairan keluar dan masuk di daun menutup. Penutupan pembuluh ini membuat gula dalam daun terperangkap dan mendorong produksi antosianin. Saat proses ini selesai, daun akhirnya gugur. 

Begitulah penjelasan mengapa daun-daun ini menjadi sangat cantik saat musim gugur. 

Shenandoah

Begitu sampai di Washington, orang-orang sudah memberi tahu saya dan Marsha, apa-apa saja yang layak di saksikan di sekitaran Washington, DC. Salah satunya adalah melihat fenomena foliage ini di lembah yang bernama Shenandoah, di negara bagian Virginia. 

Musim gugur pun akhirnya tiba. Saya sudah merengek kepada teman-teman di kantor untuk dibawa ke Shenandoah. Kemudian, karena obsesi saya akan warna daun merah, Cak Supri dan Mba Rinni dari VOA bersedia mengantarkan saya dan Marsha ke Shenandoah.

Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pintu masuk Shenandoah, dari Washington, DC. Kami pun mampir ke pemberhentian untuk membeli sarapan dan beberapa makanan. 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan selama 15 menit dan berhenti di tempat pemberhentian pertama. Di sini kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang merupakan anggota band dangdut Cak Supri dan Mbak Rinni. Mereka berencana untuk membuat video klip di sana.

Saya dan Marsha juga bertemu dengan beberapa teman dari VOA, dari service Vietnam, Kamboja, dan Burma. Namun kami tidak pergi bersama-sama karena mereka sudah lebih dulu sampai di Shenandoah.

Setelah semua orang Indonesia berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan menuju spot paling bagus di Shenandoah untuk melihat warna-warni dauh yakni di Skyland. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sana. 

Di sepanjang perjalanan, saya sudah disuguhi warna daun yang mayoritas berwarna kuning dan sesekali diselingi warna orannye serta merah. Saya curiga bahwa kami datang saat belum peak warnanya. Warna merah yang saya cari, masih jarang terlihat. Saya agak kecewa saat melihat pepohonan di kanan kiri saya tidak berwarna merah seperti di foto-foto websitenya.

“Tidak semua daun berubah warna merah,” katak Cak Supri. Dia memang benar, tapi kecurigaan saya bahwa kami datang terlalu cepat ke Shenandoah juga benar. Namun saya masih menaruh harapan, di Skyline, warna daun-daunnya akan berbeda.

Memang, semakin kami menuju ke atas ke arah Skyland, warna dauh semakin memerah. Kami pun akhirnya berhenti di sebuah tempat dan menghabiskan waktu sambil berfoto-foto di sana. Rasa kecewa saya karena lebih banyak melihat daun berwarna kuning pun lumayan terobati dengan hasil foto-foto yang memperlihatkan indahnya warna di musim gugur. 

Sampai saya menulis tulisan ini, saya masih berteriak dan berdecak kagum saat melihat pohon yang daunnya berwarna merah semua. Ah, indahnya warna dunia!

Cheers,

Retno Lestari

rlestari@voanews.com
@retno_lestari