Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Prabowo atau Jokowi?

Malam itu, suhu mungkin sekitar 80° F atau 29°C. Saya berpeluh memegang kamera di Reflecting Pool Capitol Hill, dikerumuni puluhan wanita Indonesia yang mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo. Slogannya kalau tidak salah “Indonesian Women in Greater Washington DC for Jokowi-JK”. Dengan semangat, mereka menyanyikan lagu Salam Dua Jari, sambil membawa bendera, pernak-pernik dan spanduk mendukung si Capres Kerempeng, meminjam istilah Ibu Megawati. Sayup-sayup saya mendengar, kegelisahan beberapa ibu yang datang kalau Prabowo yang terpilih. Tidak jelas apa yang menjadi dasar kekhawatiran, tapi saya bisa menangkap dua hal yaitu “militerisme” dan kembalinya “Orde Baru”.

Sekitar dua minggu sebelumnya, saya juga meliput acara deklarasi dukungan untuk Prabowo Subianto di depan Gedung Putih. Kebanyakan yang datang adalah pengurus sejumlah partai pendukung Prabowo-Hatta (Gerindra, Golkar, PKS) cabang DC dan keluarga mereka. Mereka dengan lantang menyerukan dukungan kepada mantan Komandan Jenderal Kopassus dengan slogan “Indonesia Bangkit”. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, perwakilan dari para pendukung menjelaskan bahwa Joko Widodo lebih baik tetap memerintah di Jakarta.

Panasnya suhu politik tidak hanya dirasakan warga di tanah air, di Amerika Serikat, WNI juga ikut mendorong Capres pilihan mereka. Menurut informasi dari Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Washington DC, ada enam PPLN yang tersebar di seluruh Amerika yaitu di Chicago, Los Angeles, Houston, San Francisco, New York dan tentunya Washington DC. Di DC area (Washington DC, Virgina dan Maryland), jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) hanya sekitar 2000an orang. Dalam Pemilihan Legislatif 9 April lalu, tercatat sekitar 36 ribu pemilih di seluruh Amerika. Jika dilihat, angka ini sangat kecil dibandingkan dengan PPLN di negara lain semisal Malaysia yang jumlah DPT nya bisa lebih dari 1 juta orang. Namun sedikitnya jumlah, tidak menyurutkan semangat WNI di Amerika Serikat untuk mendeklarasikan dukungan.

Panasnya suhu politik tidak hanya dirasakan warga di tanah air, di Amerika Serikat, WNI juga ikut mendorong Capres pilihan mereka. Menurut informasi dari Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Washington DC, ada enam PPLN yang tersebar di seluruh Amerika yaitu di Chicago, Los Angeles, Houston, San Francisco, New York dan tentunya Washington DC. Di DC area (Washington DC, Virgina dan Maryland), jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) hanya sekitar 2000an orang. Dalam Pemilihan Legislatif 9 April lalu, tercatat sekitar 36 ribu pemilih di seluruh Amerika. Jika dilihat, angka ini sangat kecil dibandingkan dengan PPLN di negara lain semisal Malaysia yang jumlah DPT nya bisa lebih dari 1 juta orang. Namun sedikitnya jumlah, tidak menyurutkan semangat WNI di Amerika Serikat untuk mendeklarasikan dukungan.

Indonesia Kini

Menurut data yang dikeluarkan CIA Factbook, populasi Indonesia saat ini mencapai lebih dari 253 juta orang. GDP Indonesia diperkirakan mencapai $867,5 miliar dengan GDP Per capita mencapai $5,200, mengukuhkan Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar ke-16 dunia. Boston Consulting Group tahun lalu merilis ada sekitar 74 juta warga kelas menengah di Indonesia saat ini, angka itu akan meningkat menjadi 141 juta orang pada 2020[1]. McKinsey & Company dua tahun lalu merilis data saat ini ada 45 juta warga kelas menengah di Indonesia dan akan ada tambahan 90 juta orang bergabung dalam segmen kelas ini pada 2030. Hal ini bisa dicapai dengan catatan Indonesia bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi, memperbaiki regulasi yang tumpang tindih serta membangun infrastruktur[2]. Perlu diingat, setiap lembaga memiliki ukuran sendiri saat menghitung jumlah kelas menengah sehingga terjadi perbedaan hasil dan angka.

Siapa itu kelas menengah? Ini juga relatif karena tidak ada definisi yang baku soal siapa kelas menengah. Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan warga kelas menengah sebagai orang dengan rentang pengeluaran antara $2-$20 per hari[3]. Kelas menengah dibagi dalam tiga kelompok:

  1. Lower Middle class                   : Pengeluaran $2-$4 per hari
  2. Middle-middle class                 : Pengeluaran $4-$10 per hari
  3. Upper-middle class                   : Pengeluaran $10-$20 per hari

Saya tidak ingin berpanjang lebar dengan definisi atau kriteria yang dipakai untuk menghitung jumlah kelas menengah, namun poinnya adalah saat ini ada puluhan juta warga yang memiliki daya beli yang baik di Indonesia. Pengeluaran dan konsumsi yang dilakukan oleh kelas menengah berkontribusi 61% terhadap Produk Domestik Bruto (GDP)[4]. Secara ekonomi, dunia internasional melihat Indonesia jauh lebih baik dari sepuluh tahun lalu. Indonesia bahkan didaulat sebagai salah satu growth engine dunia.

Namun pendapat ini tidak sepenuhnya disetujui pengamat ekonomi. Faisal Basri menegaskan angka Koefisien Gini (ukuran ketimpangan distribusi) Indonesia memburuk menjadi 0,41. Artinya, kesenjangan dan jurang pendapatan maupun pengeluaran antara Si kaya dan Si miskin makin parah. Dalam blognya, Faisal mengulas buku berjudul “Capital in the Twenty-First Century” karya Thomas Piketty. Faisal mencontohkan Amerika Serikat sebagai negara maju yang paling timpang pendapatannya. Penelitian terbaru oleh Saez  menunjukkan 10% orang terkaya di Amerika menikmati 50,4% pendapatan nasional[5].


Menurut Faisal, Indonesia mengikuti tren Amerika. Pola ketimpangan ekonomi di Indonesia juga membentuk huruf U.

Jadi siapa sesungguhnya yang menikmati pertumbuhan ekonomi 5-6% selama sepuluh tahun terakhir ini? Memang benar bahwa GDP per capita Indonesia meningkat, namun siapa yang paling menikmati? Mengutip ekonom Amerika, Joseph Stiglitz, dalam bukunya “The Price of Inequality”, GDP per capita tidak menjelaskan seberapa makmur suatu negara. Saya ingin mengajak pembaca menyaksikan video yang mengelaborasi ketimpangan pendapatan di dunia. 

Kontemplasi

Hari-hari ini kita masih mendengar banyak anak putus sekolah, orang-orang tua tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Pengemis keleleran di jalanan, prostitusi merajalela, tindak kriminal makin canggih, kekerasan atas nama agama dibiarkan. Papua masih miskin meski di bawah kaki mereka terhampar emas dan kekayaan bumi. Warga di Kalimantan harus menanggung pemutusan arus listrik hampir setiap hari, meski tanahnya kaya akan batu bara, minyak dan gas.

Seorang Ibu tidur di kawasan kumuh Jakarta (AP Images)

Tanah-tanah subur dialihfungsikan, menyebabkan produksi bahan pangan inti menurun. Keran impor dibuka seluas-luasnya! Beras, gandum, singkong, bawang, daging sapi, susu, kedelai, dan yang lainnya. Hutan dibabat, supaya pengusaha kelapa sawit semakin kaya raya, supaya konglomerat kayu makin tebal dompetnya. Laut kita dijarah tetangga. Padahal ikan-ikannya bisa memenuhi perut anak-anak yang lapar di penjuru nusantara. Korupsi dibiarkan! Ya dibiarkan! Yang ditangkap baru pemain-pemain kecil. Bukan karena KPK tidak bisa, tapi pemerintah kita yang gagal memperkuat mereka.

Hutan di Nagan Raya, Aceh, dibabat untuk lahan kelapa sawit (AP Images)

Saya percaya, jika kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia terjamin, masalah-masalah yang saya sebut di atas bisa diselesaikan dengan lebih mudah. Ketimpangan ekonomi inilah yang menjadi kunci terjadinya masalah-masalah sosial.  Buruknya kinerja lembaga penegak hukum ikut menyuburkan permasalahan-permasalahan yang ada.

Jadi Pilih Siapa?

Pagi tadi saya baru berdebat dengan Ibu via BlackBerry Messenger. Intinya, kami punya pilihan yang berbeda untuk Pilpres. Dua hari sebelumnya, ada teman lama yang tiba-tiba bertanya soal track record para Capres ke saya, katanya saya wartawan jadi harusnya lebih tahu. Padahal ya ngga juga hehe. Selama beberapa bulan terakhir, saya juga banyak berdiskusi dengan teman-teman alumni PPSDMS angkatan V via grup di Whatsapp tentang Pilpres. Prabowo atau Jokowi? Kalau lihat visi misi, keduanya pandai bersilat lidah. Masalah pencitraan, keduanya sama-sama punya armada media massa. Tapi soal rekam jejak, mereka berbeda.

Saya sudah menentukan pilihan. Kebetulan kami di Amerika mencoblos pada tanggal 5 juli, lebih awal dari teman-teman di Indonesia. Saya memilih Capres yang sederhana, yang rekam jejaknya baik, yang sudah terbukti mampu memimpin pemerintahan. Capres yang punya gagasan dan terobosan besar, yang akan menjamin pelayanan pendidikan dan kesehatan setidaknya bagi mereka yang miskin atau semoga bagi rakyat keseluruhan. Capres yang akan mengganti politik anggaran kita sesuai dengan UUD 45. Capres yang mau turun ke bawah, menyapa dan mendengar keluh kesah rakyat. Capres yang mau mengambil resiko agar konstitusi tegak, kebenaran menang dan rakyat sejahtera. Capres yang akan membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri secara ekonomi, politik dan budaya.

Bagi saya, Pilpres kali ini cukup mudah. Tidak perlu pertimbangan yang sulit-sulit. Saya berharap siapapun yang menang, Indonesia akan lebih makmur di masa depan. Selamat memilih! Saya sudah! :p

Facebook: Yurgen Alifia

Twitter: @yurgenalifia

Email: yalifia@voanews.com


[5] http://faisalbasri01.wordpress.com/2014/06/01/twit-buku-piketty-capital-in-twenty-first-century/

The Pursuit of Good Indonesian Food

Hampir dua bulan saya di Amerika. Senang, karena bisa belajar banyak di VOA. Senang, karena bertemu orang-orang baru, budaya baru, suasana baru. Dalam hati, rasanya beruntung sekali bisa tinggal di sini. Namun rasa senang itu ditemani rasa rindu. Rindu melihat ayah ibu, rindu melihat kakak tertua. Rindu sama yang udah punya pacar lagi. Hahaha. Ya udah sih. Yang tak kalah penting, rindu makanan Indonesia :p

Kalau rindu ayah ibu, ya telfon, kalau rindu makanan Indonesia? Teman-teman di VOA yang sudah tinggal di DC selama bertahun-tahun punya kiatnya! Setiap hari rabu, biasanya Mbak Puspita (salah satu produser untuk radio di VOA) menawarkan catering masakan Indonesia. Ini cukup memuaskan dahaga masakan Indonesia. Nasi uduk, sambel ijo, ikan asin, sayur asem, wah pokoknya maknyus!

Cara kedua adalah, cari restoran Indonesia di DC. Sejauh yang saya tau, resto Indonesia tidak banyak di DC, saya cuma tau satu resto yaitu Sate Sarinah. Lokasinya di Van Dorn, Alexandria, Virginia. Ya sekitar 30 menit naik mobil dari kantor atau naik metro turun di Stasiun Van Dorn dan jalan kaki sekitar 15-20 menit. Menunya? Bisa dilihat di sini http://www.sataysarinah.com. Nah, yang menarik si Sate Sarinah ini punya food truck. Apa itu? Yuk kita lihat episode Dunia Kita yang bahas soal food truck.


Food truck Sate Sarinah deket banget dari kantor, yaitu di L’Enfant Plaza Metro Station. Ya, memang nggak setiap hari mereka mangkal di sana sih, tapi setidaknya bisa memberikan harapan. Menunya ada sate ayam, mie ayam, semuanya enak! Kalau di food truck, menunya memang tidak selengkap di restoran. But anyway, itu cara kedua.

Cara ketiga, cari masakan Asia! Atau bisa juga Asia Tenggara. Saya tinggal di Annandale, Virginia, yang notabene “sarang” nya orang Korea. Restoran Korea menjamur disini. Masakan favorit saya adalah Galbi, iga yang diasinkan dan diberi bumbu khas Korea. Saya, Mbak Anne dan Zahra paling sering ke restoran Yechon dan Light House Tofu. Yang saya cari sebenarnya adalah “keberanian” orang Korea memakai bumbu. Jadi sama lah, sama orang Indonesia. Selain Galbi, saya juga suka Bulgogi. Ga beda lah sama galbi, cuma ini daging bukan Iga.

image

image

Bisa juga coba masakan Vietnam. Beberapa waktu lalu, saya bersama teman-teman baru di DC, mencoba masakan Vietnam di kawasan Eden, kalau ini “sarang” nya orang Vietnam, hehehe.

image

image

Nah saya nyobain mie kuning pakai burung dara goreng. Rasanya enak, tapi bumbunya kurang berani. Tapi setidaknya, ini bisa jadi alternatif. Tapi di atas itu semua ada cara lain yang lebih sakti. Ini adalah cara terbaik untuk menghapus dahaga masakan Indonesia di VOA. Tunggulah jadwal ulang tahun orang Indonesia atau karyawan di VOA, niscaya nasi kuning akan datang ke kantor. Ha Ha Ha Ha!

Ini waktu Zahra berulang tahun

image

Yang ini, ultahnya Mbak Nadia dan Mbak Vina Mubtadi :D

image

image

Jika masakan Indonesia dirasa membosankan karena rasanya yang kurang oke, ada satu cara lain lagi. Saya tipe orang yang suka sambal. Mau makan ayam, ikan, bebek, daging sapi, pokoknya pakai sambal. Menurut saya, ini cara lain untuk menghapus rindu. Saya belum lama liputan launching sambal Three Anoa (salah satu merek sambal Indonesia di DC area) di Whole Foods dengan Mbak Yuni Salim. Ini salah satu contoh liputan VOA untuk sambal Three Anoa.

image

image

Ada beberapa jenis sambal Three Anoa yaitu Mango Sambal, Lado Sumatra, Bumbu Bali dan Bumbu Rujak. Sambal bumbu rujak yang paling pedas sedangkan Lado Sumatra itu sambal ijo, paling ga pedas. Tapi, sepedas-pedasnya sambal Indonesia di sini, ya masih kalah lah ya sama di tanah air. Tapi lumayan, makan masakan apapun di sini bisa sambil dicocol sambal Anoa. Feels like home!

image

Facebook: Yurgen AlifiaT
Twitter: @yurgenalifia
Email: yalifia@voanews.com

Memorial Day: A Better World Is Possible

I have been interested in writing something about the U.S. military for quite some time now. As we know, the U.S. is a superpower and a global hegemon. Some people even think the U.S. is the global police, the leader of the international communities. In the spirit of Memorial Day, I would like to express what I think about U.S. foreign policies, in this case, especially its military policies. Americans annually commemorate their fallen soldiers, missing ones, and honor veterans. This is a good thing and it must be an example for many. Indonesia’s founding father, Soekarno, once said that a great nation never forgets the service and dedication of its heroes.

U.S. Military Parade, Please?

It was a hot day. Tom and I were going back to the office from Poolesville high. Tom is one of the best VOA camerapersons. Poolesville high was indeed an interesting school; we met and interviewed some of their best students. We hope we would make a good episode for Dunia Kita. As a new fellow, I asked Tom a lot about VOA and the people who are working for it. Tom’s a really nice guy and he’s a good listener. I suspect he’s in his 50s.  Then we talked about his exceptional experiences, like making documentary films in Eastern Europe and South America. He went to Poland, making films on how the Polish lived after the Soviet Union had collapsed. He told me he had witnessed a horrific scene of poverty in the country. He also enlightened me of how Jewish communities in Poland rose up after decades of Soviet oppression.

When talking about the Soviets, what came to my mind was sophisticated weaponry, the great army marching in Red Square and Stalin’s rhetoric. It was two days before Memorial Day in the United States, so I asked Tom “Why don’t Americans have a military parade to honor the veterans and the dead? I have watched how Russians commemorate their victory over Nazi by showing their muscles in the Square. I just think it would be cool.” Tom’s answer was “Hmm, I don’t know, we just don’t have it here. We honor our veterans by looking after them.”

image

Russian tanks move along Red Square during a Victory Day Parade, Moscow, May 9 (Courtesy: voanews.com)

image

Russian troops march in Moscow’s Red Square on Victory Day, Moscow, May 9 2014 (Courtesy: theguardian.com)

The North Koreans are not different in this sense. They sometimes depict a more interesting military parade.

image

North Korean soldiers march in front of flower waving civilians during a mass military parade in Pyongyang’s Kim Il Sung Square. (Courtesy: voanews.com)

It would be a great experience tho, to see American soldiers parading in Washington D.C. Perhaps they would show us if they have bigger nuclear warheads than the Russians or Chinese. Then I recalled that The United States doesn’t need to hold such parade. If it wants to show its might, there is a better way. HOLLYWOOD. Yeah, the American film industry has performed the job. Hope you have seen Transformers: Revenge of The Fallen, Battleship, The Green Zone, Armageddon, etc? Too many Hollywood movies have accommodated U.S. military images. As a soft power, Hollywood images and movies are better accepted by the rest of the world as “the truth” rather than Russia’s efforts to polish its image on RT or North Koreans with their KCNA.

You see, the industry really constructs the way people think about the U.S. military. Does it mean that Hollywood exaggerates when depicting U.S. military? Perhaps. Some science fiction movies even regard the U.S. military invincible by other nations; as only aliens could pose imminent threat to American front liners.  Now, let’s talk about the U.S. military.

The U.S. Military: The greatest

The U.S. military consists of the Army, Navy, Air Force, Marine Corps, Coast Guard, National Guard and Air National Guard[1]. U.S. Defense budget is more than $600 billion. Is it a lot? YES. The U.S. military spending is the biggest in the world and literally bigger than other 10 countries listed in Global Firepower combined.

Let me draw your attention to U.S. military capabilities according to globalfirepower.com. The website crowns the U.S. as the strongest nation on earth regardless the nuclear weapons possession[2]:

Manpower

Total Population                                       : 316.668. 567

Available Manpower                               : 145.212. 012

Fit For Service                                            : 122. 022.084

Reaching Military Age Annualy         : 4.217.412

Active Frontline Personnel                  : 1.430.000

Active Reserve Personnel                     : 850.880

Land Systems

Tanks                                                              : 8.325

Armored Fighting Vehicles (AFVs) : 25.782

Self-Propelled Guns                                 : 1.934

Towed-Artillery                                        : 1.791

Multiple-Launch Rocket Systems     : 1.330

Air Power

Total Aircraft                               : 13.683

Fighters/Interceptors             : 2.271

Fixed-Wing Attack Aircraft  : 2.601

Transport Aircraft                     : 5.222

Trainer Aircraft                          : 2.745

Helicopters                                   : 6.012

Attack Helicopters                    : 914

Naval Power

Total Naval Strength                : 473

Aircraft Carriers                         : 10

Frigates                                          : 15

Destroyers                                    : 62

Submarines                                  : 72

Coastal Defense Craft               : 13

Mine Warfare                               : 13

image
It is noteworthy that most of the next 10 countries (Russia, China, India, UK, France, Germany, Turkey, South Korea, Japan, Israel) are U.S. allies. So basically the U.S. military is a global dominance. Moreover, the U.S. is among the founders and members of North Atlantic Treaty Organization (NATO). This organization is an alliance to safeguard the interests of its members through political and military means. There are currently 28 members in NATO, making it the most powerful military alliance on earth. Supposedly, China attacked the state of Alaska, then the 28 members would help U.S. politically and militarily to bombard China. To recap, the U.S. is the biggest military spender; it has a strong alliance with NATO, anything else? Is it enough? No. In 2011, former congressman Ron Paul stated the U.S. had 900 military bases around the world and it has military personnel in 130 countries[3]. The number is debatable, other sources reveal that U.S. maintains between 700 to 800 military bases outside America.

U.S. Military Dominance

Professor of Political Science at the University of Chicago, John Mearsheimer, offered his analysis in CrossTalk program on RT recently, about the U.S. dominance in the world. The subject was about Russian “annexation” of several Ukrainian territories including Crimean Peninsula. Mearsheimer argued that the U.S. continuing containment policy to counter Russia’s influence in Europe triggered Russia’s response. The overthrow of President Viktor Yanukovich was deemed as a U.S.-EU effort to transform Ukraine as a NATO member in the short run. This is definitely an imminent threat to Russia’s security, as it can’t afford to have NATO military installations in front of their front yard.

Moreover, the U.S. is also maintaining military bases in many countries in the Middle East. Iran as a tough rival in the region, has been criticizing U.S. presence. It continually counters Israel’s (strong U.S. ally) war rhetoric to the Mullah country. If Israel decides to attack Iran tomorrow, U.S. military bases in Bahrain, Qatar, Saudi Arabia, Afghanistan, and other countries in the region will be Israeli advantage.

In addition, U.S. military presence in some countries faces public protest, such as Japan and the Philippines. My point is, U.S. military dominance and expansion overseas is absolutely seen as a direct threat by some countries. The rise of China as an economic superpower and other emerging powers, have changed the course of international politics. It was safe for America to expand its military influence after the fall of the Soviet Union. The U.S. had no real rivals. However, today, the U.S. is pretty much dependent on China and other regional powers have started to denounce U.S. dominance.

The Rolling Thunder

Every Sunday before the Memorial Day, a U.S. advocacy group called Rolling Thunder, hold an annual event called Ride to the Wall in Washington D.C. The group seeks to bring full accountability for prisoners of war and missing-in-action service members of all U.S. wars. The ride starts from the Pentagon parking lot at noon, crosses the Memorial Bridge, and ends at the Vietnam Veterans Memorial. I had the chance to see the event, it was great.

image

image

image

So why is it called the rolling thunder? The participants rally with motorcycles; most of them are big motorcycles like Harley Davidson. When thousands of motorcycles rally together, they sound like a thunder.

The Contemplation

The U.S. military policy in Iraq, Afghanistan and other parts of the world cause misery not only for the American families who lost their loved ones in wars, but also millions of civilians.

Annually, we commemorate the dead. We honor the veterans. However, have we ever asked ourselves, does the U.S. have to go to war? Why? Osama bin Laden is dead, according to the U.S. government. But it doesn’t make Afghanistan any better. Iraq is facing the worst sectarian conflict ever happened, after the U.S. invaded. Taliban has capitalized its power in Pakistan, a new front to oppose the Uncle Sam. These multi-trillion dollar wars are funded by taxpayers’ money. If only it could be used for something better. I am against wars. I pray that the U.S. government will agree to make a better world, one day.

Facebook: Yurgen Alifia

Twitter: @yurgenalifia

Email: yalifia@voanews.com

Typhus dan Si Kecil Zahra

The Press Conference

Kemeja sudah wangi, celana panjang sudah rapih, sudah oke lah pokoknya. Cuma yang ga bisa dibenerin adalah lingkar perut yang semakin maju.  Bermodal cium pipi dari Mama, saya meluncur dari Depok jam 9 pagi menuju The Pacific Place di SCBD, Jakarta. PPIA dan VOA Jakarta akan menggelar konferensi pers di @america untuk menyambut fellow 2013-2014, Rafki Hidayat, dan melepas fellow 2014-2015, yaitu saya. Di sana saya akhirnya bertemu Uda Rafki Hidayat. Dia tampak sumringah, meski ada gurat wajah ingin kembali ke Amerika, hehe.

Jumat Keramat
Jadwal keberangkatan saya ke Washington DC hanya berselang dua hari dari konferensi pers, yaitu hari Jumat 26 April 2014.  Kamis pagi, suhu badan saya tinggi, saya curiga ini bukan cinta biasa, eh maksudnya bukan kelelahan biasa.

Akhirnya, karena tidak ada perubahan meski sudah istirahat dan minum obat flu, saya memutuskan untuk menunda keberangkatan.

Hari Jumat, saya ke dokter, lalu hari Sabtu, cek darah. Hasilnya? “Iya nih, kamu kena gejala Typhus” kata Dokter Anton. Dia adalah dokter keluarga, kami selalu ke klinik dia sejak saya balita. Alhamdulillah,  saya tidak perlu dirawat dan hanya diberikan obat anti-biotik untuk tiga hari serta harus istirahat total. Alhasil, saya memastikan berangkat ke DC pada Jumat 2 Mei 2014.

Seminggu istirahat dirumah rasanya lama sekali, ngga sabar mau ke DC. Kenapa ini typhus justru datang saat mau ke DC? Ngga seru banget nih bakteri. Ga bisa liat orang seneng kayaknya. :p

Jakarta-Tokyo-San Francisco-Washington DC

Akhirnya berangkat. Diantar Papa, Mama dan Kakak ke Bandara Soekarno-Hatta. Saya berharap demam tidak kembali menusuk dan berdoa agar perjalanan panjang ke the land of the free akan lancar-lancar saja. Sweater putih Manchester United menjadi saksi.

Flight dari Jakarta ke Narita International Airport, Tokyo, was nothing but perfect. Kursi banyak yang kosong sehingga saya pun bisa selonjoran. Ditambah, maskapai All Nippon Airways (ANA) menyediakan personal TV monitor, yang isinya film-film bagus! Ngga nyesel naik ANA, pramugarinya mirip yang di kartun-kartun Jepang… Ya karena memang punya Jepang. Ya udah sih.

Yang berat adalah perjalanan dari Tokyo ke San Francisco International Airport. I can’t remember how long the flight took. Perhaps it was 13 hours or so. Nah maskapai yang satu ini berbeda dari ANA, ngga ada tv monitor dan duduk nya dempet banget. Tiga belas jam tanpa film. Hebatnya, saya lupa ngga bawa satu pun buku. Jadi ya merem melek aja. Tidur… lalu bangun karena ditawarin makan sama pramugari berambut pirang… Lalu tidur lagi… Begitu terus selama 13 jam.

Sampai di San Francisco, saya tidak sabar segera terbang ke Dulles International Airport, Virginia, my final destination.  For your information, bandara Dulles ini dekat kok dengan Washington DC, dia berada di negara bagian Virginia. Tidak beda dengan Bandara Soekarno-Hatta yang wilayahnya lebih ke Tangerang, namun sangat dekat aksesnya ke Jakarta. Dengan pesawat domestik, kami dibolehkan menyalakan handphone dengan Airplane Mode, jadi meski ngga ada TV, masih bisa dengerin musik kesukaan. Entah kenapa untuk International Flight, Airplane Mode ini ngga dibolehkan. Anyway, sekitar 6 jam dari SFO, akhirnya saya menginjakkan kaki di ibukota Amerika Serikat. Saat mau mengambil bagasi, ada suara memanggil “Gen…!!” Mbak Anne sudah menunggu bersama Mbak Nadia, Mas Alam dan si kecil Zahra.

Left to Right: Mbak Nadia, saya, Zahra dan Mas Alam. Nah, yang motret Mbak Anne, hehehe.

Mbak Anne, Mbak Nadia and Mas Alam work VOA Indonesian Service. Sedangkan Zahra adalah putri Mbak Anne, she is now 6 years old.  Mereka berbaik hati mau menjemput pemain pinjaman dari Manchester United ini di bandara…

Saya yang agak-agak ngantuk tiba-tiba harus memutar otak. “How many bags do you carry?” Zahra bertanya. “I have two bags”. Setelah koper  pertama saya ambil, Zahra kembali bertanya “Does your second bag have orange lines just like this bag?” Saya langsung…. Berpikir… Hmm… “I didn’t even notice, Zahra, but I put tags in my bags, so I can recognize them.”

I was very excited to meet this girl. Dulu saya pernah ikut project di Trans7, judulnya Homestay. Pada dasarnya acara ini mengajak anak-anak Indonesia belajar bahasa Inggris dengan bermain bersama anak-anak ekspatriat khususnya di Jakarta. It was fun, karena saya ikut latihan Bahasa Inggris, partnernya anak-anak, hehe…

What excited me is that children asked you unimaginable questions. And when they do it in English, it was just a challenge, as well as an opportunity to improve your English skills.

So Zahra reminds me of my great memories working with children. And I’m gonna see her for the next 12 months.

Here I am Washington DC!!!

Facebook: Yurgen Alifia

Twitter: @yurgenalifia

Email: yalifia@voanews.com

The Fellowship Drama: Cerita tentang Perjuangan

Rafki Hidayat, PPIA-VOA fellow periode 2013-2014 sudah kembali ke Indonesia setelah melewati satu tahun yang penuh dengan berbagai pengalaman mengesankan di Amerika, khususnya di Washington D.C.

Yurgen Alifia, fellow untuk periode 2014-2015 akan menggantikan Rafki dan akan mendokumentasikan petualangannya bekerja di VOA Indonesian Service di Washington D.C. Inilah tulisan pertama Yurgen.

The Moment. Alhamdulillah…

It was Friday, 11.30 AM. Saya baru berangkat dari kantor untuk liputan. Lupa mau liputan ke mana dan ngejar siapa, hehehe. Yang pasti ada Thofiq (Cameraman), Zilah (Anak JDP 11 Metro TV) sama Hasan (Driver). Saat lagi ribet mengontak narasumber di tengah macetnya Jalan Panjang Kebon Jeruk menuju masjid di Pondok Indah, si Babeh telepon. “Dek, itu si Barbara nelfon kamu ngga bisa-bisa, dia nelfon ke rumah”.  Langsung deh dag dig gug! Is it a good call!?? Or is it another rejection!?? Tak lama, ada telepon masuk ke handphone saya, nomornya belum tersimpan, tapi hati sudah tahu ini pasti Barbara. “Hello Yurgen, I am happy to inform you that you are selected as PPIA-VOA fellow this year!!” I was like aaaaaaaaaaa!!!! Finallllyyyyyyyy!!!!! Yeeeeaaaaaayyyyyy!!!! Uh yeah uh yeah!!!! My dream has come trueee!!!!! Tapi itu semua dalam hati, karena ga enak sama seisi mobil. Mereka udah curiga juga, ngapain ini si Yurgen ngomong pake Bahasa Inggris di telepon. Alhamdulillah…

Who Am I?

Perkenalkan, nama saya Yurgen Alifia, lahir di Jakarta 26 September 1990. Sebelum di VOA, saya bekerja sebagai reporter Metro TV selama dua tahun untuk meliput isu politik, hukum dan keamanan. Lebih dari separuh masa kerja di Metro TV saya habiskan untuk meliput isu politik seperti Pilgub DKI Jakarta, dinamika politik di DPR, kampanye dan hari pencoblosan Pileg 2014. Ayah saya asli Solo, Jawa Tengah dan Ibu saya orang Batak. Saya punya kakak laki-laki bernama Alfon Mehdigan. Sebelum di Metro TV, saya kuliah S1 Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI angkatan 2008.

image

PPIA-VOA Broadcasting Fellowship

Sebelum saya ke VOA, tugas terakhir saya adalah sebagai embedded reporter ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) jelang Pileg 2014. Perjuangan. Perjuangan. Perjuangan. Mungkin Tuhan memang menakdirkan saya untuk dekat dengan segala hal yang berbau perjuangan. Why? Ya, berbeda dengan para fellow sebelumnya yang mayoritas diterima di pendaftaran pertama, saya berjuang untuk lolos program PPIA-VOA Fellowship sampai tiga kali pendaftaran atau tiga tahun :D.

image

image

Pertama adalah tahun 2012, di mana saya berhasil menembus sepuluh besar final hingga diwawancara, namun belum beruntung kala itu untuk mendapatkan kursi DPR RI dari dapil Depok-Bekasi. Eh, salah, maksudnya belum dapat kursi fellow, hehehe :p. Waktu itu Retno Lestari dan Marsya Ryadi yang terpilih untuk berangkat. Tapi saat itu, untuk pertama kalinya saya bertatap muka dengan Pak Frans Padak Demon (Director VOA Jakarta), Ibu Barbara Johnson (PPIA Board), Ibu Netty Kalalo (PPIA Board) dan Mbak Alina Mahamel (VOA). Moreover, saya berkesempatan (dengan perasaan super excited) diwawancara via Skype oleh Helmi Johannes, Patsy Widakuswara, Nadia Madjid, Irna Sinulingga dan Norman Goodman (VOA Indonesia Service Chief). Mereka semua wawancara saya dari Washington D.C. Mas Helmi dan Mbak Patsy adalah dua orang yang sering saya lihat di TV sejak SMP. So it was like…. scary :p

Sekitar dua minggu setelah final interview, Pak Frans menelepon saya dan mengabarkan bahwa saya belum diterima. So sad. But it was okay juga sih, karena saat itu saya baru banget masuk Metro TV, jadi sekalian menimba pengalaman dulu di Indonesia.

Tak patah arang, tahun 2013, saya kembali mendaftarkan diri. Ada yang berbeda saat itu. Dalam daftar sepuluh besar final interview, ada nama yang familiar. Rafki Hidayat. Saat itu saya langsung minder, hehehe. Wah, Rafki ikut!! Dengar gossip dari Mbak Alina kalau tahun 2012-2013, hanya satu fellow yang akan dikirim ke Washington DC. Tahu akan hal itu bikin saya tambah deg-degan. Rafki adalah senior saya di Metro TV, ya kira-kira dia masuk setahun lebih awal dari saya. I adore him in some ways, karena kualitas berita yang dia buat dan live report-nya sangat baik. And I know he is a very hardworking person. Kadang suka malu aja, Rafki itu rajin datang kantor lebih pagi, pulang lebih malam dan bikin berita lebih banyak.

Anyways, lama ga ada kabar dari VOA, ada email masuk. Dari Mbak Alina. Isinya, gagal lagi. Yah…sudah lah… Namanya belum rejeki. Then I found out, Rafki yang terpilih. Orangtua di rumah pun memberikan semangat agar saya tidak sedih-sedih amat. “Daftar lagi nak tahun depan” kata si Babeh. Ya memang sedih sih waktu itu. Ibarat kata, dua kali ditolak. Mungkin pembaca pernah merasakan ditolak interview dua kali? Atau malah ditolak cintanya dua kali? Yasudahlah, kata Bapak saya, “daftar aja lagi”.

So there you go, saya daftar lagi. Alhamdulillah, lolos lagi ke final interview. Bedanya, tahun 2014 hanya ada tiga orang di final interview. Mereka adalah Saurin Apriliawan, Lasmi Teja Respati (Aci) dan saya. Harusnya ada satu applicant lagi, namun dia batal hadir karena sakit. Saurin adalah junior saya di UI sedangkan saya baru kenalan sama Aci di sana. Nah Si Aci ini gorgeous. Jadi pas nunggu interview, seneng juga rasanya, hahahahaa… :p

Saat interview, with the same people for the last three years, mereka senyum lihat muka saya. Mungkin, mungkin ini lho ya, “ini anak daftar mulu perasaan, padahal udah ditolak dua kali,” hehehe. Basically mereka minta saya jelasin aktivitas setahun terakhir dan target di masa depan seperti apa. Lalu, mereka juga tanya soal kontribusi yang saya bisa berikan as a fellow. Dan setelah menunggu dua minggu lebih, akhirnya kabar baik itu datang juga… Alhamdulillah…

image

Facebook: Yurgen Alifia

Twitter: @yurgenalifia

Email: yalifia@voanews.com

Negara (Tanpa) Agama

Agama adalah nafas hidup hampir seluruh penduduk bumi. Berdasarkan data The World Factbook CIA 2012, sekitar 90% penduduk dunia adalah pemeluk agama.

Begitu juga dengan di Indonesia. Agama ada di setiap sendi kehidupan, dari rumah hingga ke gedung-gedung pemerintah, menjadi urat nadinya, penentu benar dan salah.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Amerika, saya bertanya-tanya ketika mengetahui bahwa di sini, antara negara dan agama, dipisah. Kasarnya, negara tidak bisa ikut campur soal agama warganya dan agama tidak bisa pula mengatur negara. Yang ada di pikiran saya ketika itu, pasti bobrok sekali moral bangsa Amerika ini. Pasti agama-agama minoritas, termasuk Islam, sangat tertindas di sini. Namun, saya keliru.

Konstitusi Tanpa Tuhan & Agama

Jika dilihat dari demografi semata, Amerika bisa disebut sebagai negara relijius. Berdasarkan American Religious Identification Survey (ARIS), sekitar 80% warganya adalah pemeluk agama, dengan 76% di antaranya adalah pemeluk berbagai aliran Kristen Protestan (51%), serta Katolik (25%). Sementara sisa 4% nya terdiri dari Yahudi (1.2%), Budha dan berbagai agama dari Asia (0.9%), Islam (0.6%), serta agama-agama lainnya (1.3%).

image

Namun, cukup mengejutkan ketika mengetahui tidak ada satu pun kata “Tuhan” atau “Jesus” di konstitusi Amerika, yang merupakan hukum tertinggi negara. Kata “agama” hanya muncul sekali, itu pun sebagai penegas bahwa untuk menjadi anggota Kongres atau pejabat publik seperti walikota, gubernur dan lain sebagainya, tidak boleh menjadikan agama sebagai persyaratan.

Menarik untuk membayangkan bagaimana Bapak-bapak Bangsa Amerika merancang konstitusi, lebih dari dua abad lalu. Meskipun sebagian besar mereka diyakini memiliki kepercayaan sama, yaitu Kristen, mereka berasal dari aliran dan sekte berbeda, dengan gaya peribadatan yang berbeda pula. Para penyusun konstitusi ini ingin memastikan, nantinya tidak ada satu agama atau aliran pun yang mengontrol pemerintah.

image

Pemisahan negara dan agama diperkuat oleh surat balasan Presiden Thomas Jefferson kepada Gereja Danbury Baptist yang merupakan aliran Kristen minoritas di Connecticut, pada tahun 1802. Mereka merasa kebebasan beragama yang dinikmati saat itu, tidaklah abadi, melainkan hanya hadiah basa-basi dari pemerintah negara bagian belaka. Namun, Jefferson menegaskan :

“Kita sama-sama percaya bahwa agama adalah urusan yang sangat pribadi antara manusia dan Tuhannya. Sehingga para wakil rakyat tidak boleh membuat undang-undang yang mengatur tentang keberadaan agama atau melarang kebebasan beragama. Ini berujung pada adanya dinding pemisah antara negara dan agama.”

Apa pengaruhnya?

Dengan penegasan Jefferson, di Amerika siapa pun berhak memeluk agama dan kepercayaan apapun yang diyakininya atau tidak memeluk agama sama sekali. Siapapun tidak bisa memaksa atau melarang orang lain untuk beragama atau beribadah.

Dari segi pemerintahan, tidak ada Kementerian Agama di Amerika. Agama juga tidak pernah ditanyakan dan dicantumkan pada kartu identitas, misalnya KTP, karena dinilai sebagai privacy. Anggaran negara juga tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan agama. Jadi, jika ada pembangunan gereja, mesjid atau sinagog, serta berbagai acara keagamaan, pemerintah tidak boleh mendanainya. Pemerintah harus netral.

 image

Selain itu, Konstitusi Pemisahan Negara dan Agama melarang pemasangan patung dan simbol keagamaan di kantor-kantor pemerintah. Meskipun begitu, individu atau tempat ibadah tetap boleh memasangnya di rumah/gedung atau di halaman mereka. Sementara, pemasangan simbol agama di tempat umum, dinilai ilegal.

image

Misalnya, akhir Desember lalu Pengadilan Federal Amerika memutuskan untuk memindahkan Mount Soledad Cross, sebuah salib setinggi hampir 13 meter dari Gunung Soledad, San Diego, California, yang semula didirikan sebagai monumen peringatan untuk veteran Perang Korea. Keputusan ini diambil setelah kontroversi terus memanas, terutama dari kelompok Ateis, yang menilai pemasangan salib di tempat umum menunjukkan keberpihakan pemerintah pada kelompok tertentu.

Saya tambah terkejut ketika mengetahui ternyata agama tidak diajarkan di sekolah negeri di Amerika. Bahkan, memaksa untuk berdoa atau beribadah bersama di sekolah, dianggap mencederai hak asasi siswa yang tidak ingin melakukannya atau yang meyakini cara lain untuk beribadah.

Semua ini didasarkan pada fakta bahwa 90% anak Amerika menuntut ilmu di sekolah negeri. Mereka berasal dari keluarga dengan latarbelakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Tidak ikut serta mengatur pendidikan agama, adalah salah satu cara yang bisa dilakukan sekolah untuk menghormati agama dan kepercayaan setiap anak, serta melindungi hak orang tuanya.

Sulitkah Beribadah?

Meskipun terdapat tembok pemisah antara negara dan agama, di sisi lain, kebebasan beragama sangat dijunjung. Pelajaran agama bisa didapat dengan bebas di berbagai tempat ibadah. Tidak sedikit pula orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah swasta berbasis agama, seperti sekolah Katolik, Yahudi atau Islam.

Nilai-nilai agama juga bisa diperoleh dari berbagai organisasi. Misalnya, untuk Muslim Indonesia di Washington, D.C. Area, bisa belajar tentang Islam, belajar mengaji, melaksanakan Sholat berjamaah, atau ikut pesantren kilat saat bulan Ramadan, bersama organisasi IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) yang telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu.

image

image

Karena kebebasan beragama ini pula, pegawai negeri Amerika, bahkan tetap bisa beribadah di kantornya. Di kantor VOA Indonesian Service di Washington, D.C. yang merupakan instansi pemerintah Amerika, terdapat Mushola tempat para karyawan Muslim beribadah.

Mushola ini dulunya adalah gudang, yang kemudian disepakati untuk dijadikan tempat Sholat. Para karyawan Indonesia kemudian memasang karpet dan sajadah di ruang ini. Selain itu, setiap Jumat-nya, karyawan Muslim dari seluruh servis bahasa juga bisa menggunakan aula kantor VOA sebagai tempat pelaksanaan Sholat Jumat bersama. Saat perayaan Idul Fitri, karyawan juga dipersilahkan untuk cuti atau masuk setengah hari agar bisa melaksanakan Sholat Ied paginya.

image

Siswa sekolah negeri juga dibolehkan untuk beribadah di sekolah. Misalnya saja, jika diminta, guru-guru SMA di Negara Bagian Virginia dan Maryland, selalu memberi izin kepada siswa Indonesia untuk Sholat Dzuhur atau Ashar di sekolah, bahkan saat proses belajar-mengajar berlangsung. Mereka Sholat di ruangan yang tidak terpakai atau perpustakaan sekolah. Tidak hanya itu, saat bulan Ramadan mereka dipersilahkan untuk tidak mengikuti kelas olahraga.

Intinya, asal dilaksanakan individu atau kelompok secara sukarela, tanpa paksaan, tidak membahayakan orang lain, serta tidak dibiayai dan tidak diatur oleh negara, kegiatan agama di instansi pemerintah, dipersilahkan.

Orang sini (Amerika) mah, gak akan berani melarang-larang orang beribadah,” kata seorang Ibu asal Indonesia yang telah lebih dari 15 tahun tinggal di Amerika dan mempunyai dua anak yang bersekolah di Virginia.

Kisah Semu Terpinggirkannya Islam

Sejak kecil saya sering mendengar betapa Amerika disebut sebagai negara yang membenci Islam. Apapun akan dilakukan negara ini untuk meruntuhkan Islam. Siapapun yang datang akan dicuci otaknya dan dijadikan kafir. Namun, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sudah nyaris setahun menghirup udara Amerika, saya tidak bisa membuktikan tuduhan itu. Yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah tragedi 11 September, Islam, yang merupakan minoritas, justru menjadi agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika. Berdasarkan Association of Religious Data Archives, sepuluh tahun sejak tragedi yang menewaskan lebih dari tiga ribu orang tersebut, jumlah pemeluk Islam di Amerika meningkat 66%, dari 1.5 juta pada tahun 2001 menjadi 2.6 juta orang tahun 2011 lalu. Kemana pun pergi, mulai dari New York, Los Angeles, Miami, bahkan Las Vegas, Muslim dan perempuan berhijab bukan hal yang janggal untuk ditemui.

image


Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri tragedi 11 September sempat menyulut sentimen negatif terhadap Islam.

Misalnya rencana pembakaran Al-Quran oleh Pastur Terry Jones di Florida, pada peringatan sembilan tahun serangan 11 September, 2010 silam. Secara hukum, dia dilindungi hak kebebasan dalam berekspresi. Namun, meski antara negara dan agama dipisah, sebelum Terry melaksanakan aksinya, pemerintah tetap memberi himbauan.

Menteri Luar Negeri saat itu, Hillary Clinton, menyayangkan aksi Terry yang disebutnya sebagai penghinaan yang memalukan. Presiden Barack Obama bahkan menegaskan rencana Terry bisa menyulut kekerasan di berbagai penjuru dunia. Alhasil, sang Pastur mengurungkan niatnya.

image


April 2013, Terry ditahan dengan tuduhan membawa bahan bakar dan senjata api secara tidak sah di tempat umum, saat berencana membakar 2998 Al-Quran, jumlah yang sama dengan korban tragedi 11 September. Walaupun bebas berekspresi, jika berpotensi mengganggu keamanan dan berujung kriminal, aparat berhak menindak.

Kontroversi juga sempat menyelimuti pembangunan Islamic Community Center, dua blok dari bekas tempat berdirinya World Trade Center, beberapa waktu lalu. Sebagian besar pihak yang kontra, tidak mempermasalahkan Islam dan kegiatan agama yang akan dilakukan di sana. Mereka mempermasalahkan pemilihan lokasi yang dinilai kurang sensitif terhadap keluarga korban. Mengapa harus sangat dekat dengan Ground Zero?

Namun, kontroversi hanyalah kontroversi. Pemikiran bebas diutarakan. Meskipun tahun 2010 unjuk rasa penolakan terus terjadi, pembentukan Islamic Community Center tetap berlanjut karena hukum melindunginya, melindungi kebebasan beragama. Apalagi Presiden Obama menegaskan :

Adanya hak bagi siapapun untuk membangun tempat ibadah di properti milik pribadi di lower Manhattan.”

Alhasil, September 2011 lalu, pusat komunitas Muslim yang kontroversial tersebut telah menyelenggarakan acara besar perdananya, yaitu pameran foto anak-anak dari berbagai penjuru dunia.

 image

Ketika berkunjung ke New York beberapa waktu lalu, saya sempat mendatangi Islamic Center tersebut. Lantai dasar, yang merupakan lokasi utama berbagai aktivitas, terdiri dari dua bagian ; ruang bercat putih tempat sejumlah kegiatan budaya dilaksanakan, serta ruang Sholat yang bisa menampung lebih dari 250 jamaah. Sementara, tempat Wudhu terdapat di basement. Meskipun tidak banyak, siang itu saya melihat Muslim dari berbagai ras berdatangan dan melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.

 image

image

image

Berkembangnya Islam di Amerika juga bisa dilihat dari keberadaan Mesjid. Saat berkunjung ke berbagai negara bagian di Amerika, saya selalu bisa menemukan Mesjid atau setidaknya Mushola. Ini sejalan dengan hasil penelitian Hartford Institute of Religion Research tahun 2011 yang menyatakan sejak tahun 2000, jumlah Mesjid di Amerika naik 74%. Setidaknya terdapat 900 mesjid baru dengan total lebih dari 2100 Mesjid di Amerika. Sebagian besar terletak di kota besar.

Namun, seiring bertambahnya warga yang hidup di daerah pinggiran kota, keberadaan Mesjid juga semakin menyebar. Salah satunya, sedang diusahakan oleh Pak Kustim Wibowo, seorang dosen asal Indonesia di Indiana University, Pennsylvania. Lahan untuk Mesjid seluas 6.000 meter persegi seharga $48.000, diperoleh Pak Kustim dan rekan-rekannya tanpa masalah. Kini mereka sedang mengumpulkan dana agar rumah ibadah tersebut dapat segera dibangun.

image

Yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan adalah hal serupa, bahkan terjadi di negara bagian paling relijius di Amerika, dengan 60% penduduknya beragama Mormon, yaitu Utah. Setidaknya terdapat 5 Mesjid di ibukota Utah, Salt Lake City, yang dikelilingi lekuk-lekuk cantiknya pegunungan.

Saya semakin tersentuh mendengar cerita Pak Heru Hendarto, lelaki asal Indonesia yang menjadi tokoh masyarakat Asia di Salt Lake City. Ketika menjadi Presiden Muslim Student Organization (MSO) di University of Utah (U of U) tahun 1997-1999 silam, Ia menuliskan keluhannya di jurnal mahasiswa tentang kesulitan mahasiswa Muslim mendapatkan ruangan untuk Sholat Jumat. Padahal saat itu organisasi Kristen, Mormon, Yahudi bahkan Budha, mendapat perhatian kampus.

Membaca tulisan tersebut, Presiden U of U dan Ketua Senat langsung memanggil Pak Heru untuk menanyakan apa yang bisa dibantu. Setelahnya, setiap Jumat, satu ruang kuliah, sepanjang tahun disediakan khusus untuk MSO.

image

Di sini masalah agama bagus kok. Orang tidak mau ada isu soal diskriminasi agama. Salah satu Mesjid di Salt Lake City, tanahnya bahkan disumbangkan oleh Gubernur Utah.” Ujar Pak Heru. Saya hanya bisa terdiam.

Bahkan, Ahmadiyah yang mendapat diskriminasi di Indonesia, berkembang pesat di Amerika. Di Mesjid mereka yang megah di Silver Spring, Maryland, saya terenyuh melihat bagaimana para jamaah bisa bersujud tanpa mendengar hujatan, tanpa disergap ketakutan.

imageimage

“Di berbagai tempat di dunia, kami tidak dianggap. Namun di sini, hak dasar kemanusiaan kami untuk mempraktikkan agama, tidak pernah direbut,” ungkap Wakil Presiden Komunitas Ahmadiyah Amerika, Naseem Mahdi dengan suara bergetar. Saya terenyuh dengan berbagai fakta, malu terhadap stigma semu yang pernah saya yakini tentang Amerika.

Ironi Negeri di Jantung Khatulistiwa

Awal 2014, saya menelpon orang tua di kampung halaman di Sumatera. Pembicaraan kami santai seperti biasa sampai ayah saya bercerita tentang berita yang baru dibacanya di koran : Wali Kota membatalkan rencana pembangunan sebuah rumah sakit dan sekolah di Kota Padang, Sumatera Barat. Salah satu alasan utamanya adalah karena protes warga bahwa proyek yang direncanakan Pemkot bersama sebuah grup konglomerasi besar yang berasal dari etnis dan agama minoritas tersebut, nantinya dikhawatirkan masyarakat, akan merusak akidah mereka. Hati saya mencelos mendengarnya.

Di saat percakapan dengan ayah terus berlanjut, ingatan saya terbang secepat kilat, kembali ke beberapa penugasan liputan sebelum berangkat ke Amerika. Saya masih ingat berada di dalam sebuah Mesjid milik jamaah Ahmadiyah di Sindang Barang, Bogor, Jawa Barat. Satu-satunya Mesjid yang menerima saya dan tim liputan, setelah seharian ditolak berbagai komunitas Ahmadiyah di Bogor karena mereka ketakutan, kedatangan kami untuk meliput dampak konflik komunal di tanah air, akan memicu kemarahan warga. Di dalam Mesjid yang pernah disegel Pemkot Bogor dan tidak lagi memiliki plang nama itu, para jamaah mengungkapkan harapan mereka, yang semuanya hampir sama : keamanan, ketentraman dan kebebasan dalam beribadah.

image

image

Teriakan puluhan orang di tanggal 25 Desember 2011, juga kembali terngiang di telinga. Mereka menghadang puluhan jemaat GKI Yasmin, Bogor, yang sedang menuju Gereja untuk melaksanakan Misa Natal.

Pagi itu, ratusan aparat kepolisian memblokade setiap jalan untuk menuju Gereja GKI Yasmin, yang izinnya telah dimenangkan oleh Mahkamah Agung. Puluhan orang yang tadi berteriak-teriak, lalu menyebut-nyebut nama Tuhan sambil mengusir para Jemaat menjauh dari barikade polisi, yang tentunya tidak akan bisa dilewati. Tercekat rasanya mengingat kejadian itu.

Memori peristiwa-peristiwa serupa terus berganti di benak, bagai roll-film yang diproyeksikan ke layar bioskop: Pembakaran rumah dan penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di Sampang, Madura, Agustus 2012, Penyegelan, penutupan dan bahkan pembongkaran berbagai Gereja di tanah air dengan dalih tidak adanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Penyerangan yang mengakibatkan tewasnya tiga penganut Ahmadiyah di Cikeusik, Bogor, Februari 2011, dan masih banyak kejadian menyedihkan lainnya.

image

Ironis sekali, ternyata di negara saya sendiri lah, di tempat yang mengakarkan berbagai sisi kehidupan pada agama, dengan Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai bagian ideologinya, dengan kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusinya, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara, serta Kementerian Agama untuk membina kerukunan umatnya, toleransi dan bahkan kebebasan untuk menjalankan agama, justru masih menjadi barang mewah yang sulit didapatkan.

Pemerintah seakan menjadi wakil dan milik kelompok mayoritas, yang bergerak dengan pemikiran mayoritas pula. Minoritas dilihatnya menakutkan, dianggap sebagai kelompok pendosa yang layak dibasmi karena dinilai menjadi racun pengancam keberadaan mayoritas.

Saya malu, karena saya sendiri pernah tumbuh dengan pemikiran itu. Saya tumbuh melihat orang dengan agama berbeda sebagai makhluk asing yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan, sehingga kewaspadaan dan jarak harus tetap dijaga.

Apakah ini karena saya dan banyak dari kita dididik sedari kecil, di berbagai tempat pendidikan, ditanamkan pemikiran yang kemudian larut di alam bawah sadar bahwa hanya kita lah yang benar, agama kita lah yang paling benar, sementara agama berbeda itu salah, menyesatkan dan tidak dapat diterima?

Memang, itulah kepercayaan. Namun, apakah ini membuat kita terlena, larut memaknai agama sebatas betapa benarnya keyakinan kita dan betapa salahnya keyakinan yang berbeda? Bukankah di mata orang dengan keyakinan berbeda, keyakinan kita lah yang salah dan mereka lah yang benar?

Mengapa kita menggunakan fakta mayoritas kita untuk mendiskriminasi mereka dan merebut hak mereka? Mengapa kita tidak bisa menerima perbedaan ini dan menjadikan agama urusan paling pribadi antara individu dengan Tuhan, tanpa perlu memperdebatkannya, tanpa perlu menyakiti orang lain?

Memang tidak pantas untuk membanding-bandingkan Indonesia dengan Amerika. Masing-masing punya catatan baik dan buruk tentang toleransi beragama. Apalagi saya baru tinggal setahun di sini. Masih sangat banyak hal yang belum saya lihat, tempat yang belum saya kunjungi.

Namun, sebagai orang yang tumbuh di tanah air dengan stigma betapa kejamnya Amerika memperlakukan orang-orang beragama minoritas, betapa Amerika kerap dituding akan akal busuk dan kekafirannya, saya merasa perlu untuk menyampaikan bahwa apa yang saya lihat dan rasakan selama ini di Amerika, justru sebaliknya, toleransi lah yang ada, tepa selira lah yang terasa.

Menjadi pemeluk agama minoritas, bukan berarti menjadi alasan untuk tidak dihargai. Mayoritas bukan berarti berkuasa untuk menindas.

Ironis, ini bukan terjadi di sebuah negara di jantung khatulistiwa, yang menjadikan agama sebagai akar hidupnya. Ini justru terjadi di sebuah negara yang seakan agama dibungkam tapi sebenarnya dimerdekakan, di sebuah negara yang moralnya kerap dipandang sebelah mata, di sebuah negara yang seakan hidup tanpa agama. ()

P.S. Terima kasih kepada Nia Iman-Santoso, Indah Tandra, Heru Hendarto dan berbagai pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu, atas bantuan dan kontribusinya yang luar biasa untuk tulisan ini.

 

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Menakar Sang ‘Berandal’

“Iko… Iko… Iko…”

Teriakan puluhan wartawan disambut kilatan blitz, terus menghujani Iko Uwais. Tatapan mata dan senyum tipisnya menyiratkan kepercayaan diri. Menoleh ke kanan dan ke kiri, aktor-pesilat ini berusaha memuaskan hasrat puluhan wartawan internasional yang telah setia menunggunya, lebih dari dua jam sebelum red carpet dimulai.

image

Iko tampaknya mulai terbiasa dengan sorotan dunia. Tidak sampai sehari sebelumnya, saat baru menginjakkan kaki di Amerika, hal serupa telah terjadi meskipun tanpa kilatan lampu kamera. Lelaki Betawi ini disapa hangat petugas-petugas keamanan dan imigrasi bandara Los Angeles yang terkenal dingin. Mereka mengenalnya sebagai Rama, polisi dan petarung tangan-kosong di film The Raid : Redemption. Iko merinding, tidak menyangka ribuan kilometer dari tanah air, ada yang mengenalnya, bahkan mengingat karyanya.

image

Blitz kamera terus berkedap-kedip terang di mata. Dibalut suit hitamnya yang gagah, sang aktor laga tanpa pikir panjang memenuhi permintaan para pencari berita. Iko memeragakan tendangan dan pukulan silat yang tegas menghentak angin. Pesona tangguh yang selalu digilai pecinta The Raid : Redemption. Teriakan kini berganti tepuk tangan dan siul sanjungan. Untuk pertamakalinya, pencak silat Indonesia mewarnai red carpet Festival Film Sundance. Iko tenang, membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan pewarta.

image

Di luar, lebih dari seribu orang penikmat dan kritikus film yang antri panjang di bawah suhu beku -5 derajat Celcius, mulai memasuki Eccles Theater. Ekspektasi mereka tinggi terhadap kelanjutan kisah Rama, di The Raid 2 : Berandal (selanjutnya akan disebut Berandal). Inilah satu-satunya yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri Iko. Kini dia gugup. Buah jerih payah berbulan-bulan dan tetesan darah tim Berandal akan terbayar dalam dua setengah jam ke depan. Di dalam teater, Iko menghela nafas panjang. Begitu pula ribuan penonton di ruangan itu. Kini jantung mereka sama-sama berdegub kencang. Lampu pun dimatikan.

MELENGGANG DI SUNDANCE

image

Sebagai pecinta film, adalah sebuah kebanggan bagi saya bisa berada di Festival Film Sundance, Utah, salah satu ajang perfilman paling prestisius di dunia.

Festival film inilah yang melahirkan sineas-sineas jenius seperti Quentin Tarantino (Reservoir Dogs, Pulp Fiction) Steven Soderbergh (Sex, Lies, and Videotape, Ocean Eleven) dan Darren Aronofsky (Pi, Black Swan).

Di sini pulalah film-film kecil yang semula tidak diperhitungkan misalnya Saw, Little Miss Sunshine, The Blair Witch Project, Fruitvale Station dan (500) Days of Summer ditayangkan perdana. Sundance membuat film-film tersebut mendapat perhatian dan distribusi internasional, bahkan berujung merajai tangga box office.

image

Meskipun merupakan festival film independen, dalam 30 tahun penyelenggaraannya, Sundance telah banyak berubah. Acara tahunan yang dikepalai Robert Redford ini telah menjadi wadah bagi selebritis papan atas untuk menyalurkan kemampuan akting terbaiknya. Jadi, bukan hal yang janggal jika selama penyelenggaraan Festival Film Sundance 2014 (16-26 Januari), banyak selebriti Hollywood yang lalu lalang di Main Street, Park City, Utah, jantung keramaian Sundance.

image

Seru juga melihat Lindsay lohan, Irrfan Khan (The Amazing Spiderman, life of Pi, Slumdog Millionaire) langsung di depan mata. Lebih seru lagi saat dihadang dan didorong bodyguard Selena Gomez ketika mengambil gambar sang selebriti dikejar-kejar fans-nya yang menggila.

Namun, tak ada yang lebih membanggakan berada di Sundance tahun ini selain melihat dua film Indonesia, The Raid 2 : Berandal dan Killers, dipertontonkan di kancah internasional. Kebanggaan bertambah ketika mengetahui film-film tersebut dipilih dari 12.218 film yang mendaftar dari 37 negara. Prestasi yang luar biasa. Apalagi mengetahuinya disandingkan sejajar dengan mahakarya jenius-jenius film dunia.

MENAKAR ‘BERANDAL’

Dengan semua alasan itu, tidak salah jika Iko dan tim Berandal grogi. Selain menanggung beban berat kesuksesan film pertama, Berandal juga menjadi salah satu film paling ditunggu di Festival Film Sundance 2014. Hinaan atau pujian setinggi langit, akan dimulai di sini.

Namun, kini mereka tidak perlu khawatir lagi. Ketika lampu bioskop kembali dinyalakan, yang pertama kali menyeruak di benak saya sebagai penikmat film adalah kebanggaan, bahwa karya anak bangsa-lah yang ditepuki dan disanjung penonton Amerika.

(Review – Spoiler Alert!)

image

Melanjutkan aksi Rama (Iko Uwais) di The Raid : Redemption, satu-satunya polisi elit yang berhasil selamat dari serbuan maut ke sarang gembong narkotika ini, kini harus kembali mempertaruhkan hidup demi keluarganya. Rama dipaksa bertugas untuk membuka borok korupsi di petinggi kepolisian, dengan menyusup ke sarang penyuap, Bangun (Tio Pakusadewo), seorang gangster di Jakarta. Bermula dengan mendekati calon pewaris tahta Bangun yaitu sang putra, Ucok (Arifin Putra) yang sedang dipenjara, Rama akhirnya menyadari misi barunya ternyata tak segampang yang dikira. Darah kembali berceceran ketika konflik ini berujung persaingan antarkelompok mafia kelas kakap, yang melibatkan pembunuh-pembunuh bayaran yang tak kenal ampun.

Jelas, Berandal adalah film action keras dengan pertarungan yang berkali-kali lipat pula lebih keras. Namun, sang sutradara tampak tidak mau terjebak membuai penonton hanya dengan aksi visual yang membelalakkan mata. Gareth berusaha membangun cerita yang lebih cerdas, dengan kerumitan dan kekayaan karakter khas film-film gangster, yang mengingatkan pada karya Andrew Lau & Alan Mak (Infernal Affairs) serta Martin Campbell (Casino Royale). Ada intrik, nafsu, ambisi dan pengkhianatan, resep sempurna untuk menyentuh penonton, langsung ke akar karakter manusia, hal yang tidak terjadi di film pertama.

image

Setiap kali klimaks hampir tercapai, penulis sekaligus sutradara Berandal, Gareth Evans, terus menghadirkan cabang-cabang cerita dan tokoh baru yang dibumbui kisah latarbelakangnya. Misalnya Mr. Goto (Ken’ichi Endo) mafia asal Jepang yang merupakan mitra bisnis Bangun ; Prakoso (Yayan Ruhian) pembunuh-sadis tangan kanan Bangun ; hingga Bejo (Alex Abbad) gangster yang sedang naik daun tempat Ucok mengalihkan kepercayaan dan mulai mengkhianati ayahnya. Namun, kompleksnya cerita kadang membingungkan dan terasa berpanjang-panjang.

image

Di sisi lain, semua itu bisa dimaklumi. Gareth melakukannya untuk membuat wadah bagi aksi pertarungan, yang merupakan inti film, semakin banyak, beragam di berbagai lokasi, dengan berbagai alasan. Melihat eksekusi action tersebut disajikannya dengan cantik dan nyaris sempurna, segala kekurangan terlupakan.

Dari banyak sekali pertarungan yang menyesakkan dada di Berandal, setidaknya ada empat adegan yang tak akan terlupakan.

Pertama, Perkelahian di lumpur yang melibatkan seratus orang.

Kapan lagi kita melihat Benteng Van Der Wijck di Gombong, Jawa Tengah disulap menjadi penjara tempat Rama bertemu Ucok. Rusuh brutal para tahanan di lapangan berlumpur setelah hujan deras, digarap menjadi adegan kolosal dengan koreografi apik. Bertarung tapi ber-estetik. Brutal bagai adegan fenomenal serangan pasukan Amerika ke Normandy di film Saving Private Ryan.

image

Kagum mengetahui aksi sekitar 5 menit itu disyuting selama 10 hari. Lebih kagum lagi melihat kesungguhan tim produksinya ; tidak kurang dari 14 truk lumpur-buatan diserakkan di halaman benteng. Jika ada yang salah, adegan kembali diulang. Pemain dibersihkan dengan semprotan air pemadam kebakaran. Hasilnya, sangat sepadan dengan usahanya.

Kedua, Pembantaian di kereta oleh anak buah Bejo, “Hammer Girl”.

image

Jika di film pertama karakter Mad-Dog yang mencuri perhatian, di sekuelnya ini pembunuh bayaran cantik-bisu dengan senjata sepasang martil dan berjuluk “Hammer Girl”-lah yang menyita mata.

Saya masih ingat dengan semangat yang membuncah-buncah ketika karakter yang diperankan Julie Estelle tersebut memulai ritual pembantaiannya di dalam gerbong kereta. Penonton Sundance dibuat hening tak bergerak, menunggu langkah demi langkah sang wanita jelita, sebelum akhirnya mematahkan dan menyobek-nyobek tubuh sasarannya, memuncratkan darah ke seluruh penjuru gerbong, dengan wajah tanpa dosa.

image

Kerja pol-polan tim musik (Aria Prayogi, Joseph Trapenese dan Fajar Yuskema) untuk adegan ini patut diacungi jempol tinggi. Gubahan mereka tak kalah dengan musik-musik tegang karya James Newton Howard (Batman Begins, Blood Diamond)dan Hans Zimmer (The Dark Knight, Black Hawk Down). Mereka dilengkapi dengan tim sound yang tak kalah hebat. Suasana benar-benar terbangun seperti akan terjadi pembantaian. Semakin menegaskan bahwa Gareth membuat karyanya dengan detail dan totalitas setinggi langit.

image

Tetapi tidak ada yang patut disanjung lebih tinggi selain Julie Estelle. Selalu menarik saat melihat seorang pembunuh dihadirkan kontras, melalui sosok perempuan cantik berkulit pucat, berwajah bak fashion model lengkap dengan kaca mata hitam dan gaunnya. Julie yang tampil hanya di dua adegan utama, berhasil menghidupkan “Hammer Girl” dengan meyakinkan serta memorable. Di antara dominasi lelaki, Ia menebar pesona seperti pembunuh bayaran hasil rekaan Quentin Tarantino dalam Kill Bill Vol. 1 ; cantik, unik, tapi mematikan.

 Setelah menonton Berandal untuk pertamakalinya di Sundance, Julie mengaku tak mengenal dirinya dalam karakter perempuan jagal yang diperankannya itu.

Ketiga, Adegan kejar-kejaran mobil di jalanan Jakarta.

image

Balap-balapan di jalanan, penembakan, atau tabrak-tabrakan mungkin bukan hal baru di Jakarta. Namun, menghadirkan semua itu dalam sebuah adegan kolosal bak film-film Hollywood, mungkin Berandal-lah yang pertama kali melakukannya. Jalan Kemayoran, SCBD, Sunter dan Kemenpora pun ditutup khusus untuk memenuhi hasrat sang sutradara.

Semua departemen bekerja maksimal. Namun, yang paling membuat saya bertepuk tangan adalah departemen sinematografi dan car-stunts-nya. Tak pernah terbayang di benak, saat kejar-kejaran mobil, ada sebuah sekuen yang luar biasa ; gambar dimulai dari luar mobil yang melaju kencang, lalu masuk ke dalam mobil lewat jendela sopir, kemudian keluar lagi melalui jendela penumpang dan menghadap ke mobil pengejar di belakangnya. Semua dalam satu shot tanpa terputus.

image

Seusai pemutaran, seorang penonton Sundance menanyakan trik apa yang dilakukan dalam mengambil sekuen itu. Awalnya, saya berpikir itu dibantu spesial efek. Namun, jawaban Gareth membuat kami ternganga. Adegan itu ternyata dikerjakan manual ; kamera semula berada di depan mobil pertama, lalu mendekati mobil dan masuk lewat jendela. Kamera disambut operator di dalam mobil yang kemudian membawanya kembali keluar mobil lewat jendela penumpang. Di luar, operator berbeda menyambut kamera dan mengarahkannya ke hadapan mobil yang di belakang. Semua dilakukan saat mobil bergerak. WOW!

Keempat, adegan pertarungan puncak di dapur.

image

Meskipun di sepanjang film, penonton disuguhkan segudang adegan pertarungan, tetapi Gareth memang lihai menyimpan aksi pamungkasnya. Uniknya, adegan tersebut sama sekali tidak melibatkan banyak orang atau kebut-kebutan mobil, melainkan hanya dua orang di dapur ; Rama dan pengawal utama Bejo, seorang pembunuh bayaran tanpa nama dan bersenjata karambit, pisau khas Indonesia yang melengkung bagai kuku macan.

Pertarungan brutal bermula dengan tangan kosong. Setiap sisi ruangan, dinding dan peralatan dapur, dijadikan senjata dalam perkelahian panjang tersebut. Menjelang klimaks, penonton bisa melihat gerakan silat super cepat dan tanpa ampun dari kedua pendekar ini, menyelinap brutal tapi sangat indah bagai tarian mematikan. Dan ketika puncaknya tiba, saat darah tak dapat lagi dibendung, semuanya terasa seperti First Sonata gubahan Rachmaninoff ; menyesakkan dan sangat emosional.

Penonton bisa merasakan, pertarungan yang seakan tanpa ujung itu, telah menguras seluruh energi kedua petarung tangguh. Letih melihatnya. Ingin rasanya berteriak bersama Rama saat dirinya berhasil menusuk-nusuk karambit tajam ke tubuh empunya senjata, si pembunuh berdarah dingin yang diperankan sangat apik oleh pesilat Garut yang telah mendunia, Cecep Arif Rahman.

image

Melihat adegan ini, saya jadi mengerti apa yang disampaikan Yayan dan Iko (keduanya juga berperan sebagai fight-choreographer) beberapa jam sebelum premiere. Koreografi pertarungan Berandal telah selesai, bahkan sebelum ide tentang The Raid : Redemption ada.

Namun, karena skalanya terlalu besar dan membutuhkan banyak dana, Berandal ditunda. Ketika ide The Raid : Redemption muncul, Gareth meminta koreografi pertarungan untuk film yang bersetting di satu gedung tersebut, dibuat tidak boleh lebih keras dan dahsyat dibandingkan Berandal, supaya penonton nantinya tetap terpuaskan. Dan ide itu tampaknya berhasil.

image

Secara keseluruhan, Berandal adalah film action yang jauh lebih megah, gelap, rumit dan bertutur dibandingkan pendahulunya. Cerita yang lebih berisi, didukung akting yang mumpuni dan natural dari para aktor. Terutama saya junjungkan salut untuk permainan singkat Cok Simbara, Deddy Sutomo, Tio Pakusadewo, Pong Hardjatmo, Roy Marten dan banyak aktor senior lainnya. Kepiawaian mereka, membuat nafas kriminal dan busuknya dunia gangster Jakarta di film berbudget lebih dari Rp.50 miliar ini, kental terjaga, meskipun mereka tidak mematahkan satu pun tulang lawannya.

Dari pemain muda, Iko Uwais tampak lebih luwes dan matang di depan kamera. Aksi tangan kosong Iko tak kalah dengan pendahulunya seperti Jackie Chan atau Jet Li, bahkan bintang muda Thailand yang sedang berkibar Tony-Ja (Ong-Bank). Tak salah puluhan wartawan mengincarnya sebelum penayangan perdana. Saya juga angkat topi terhadap Arifin Putra yang mampu menghidupkan karakter Ucok dengan nafsu, ketamakan, kekecewaan dan pengkhianatan yang nyaris sempurna. Namun, penghormatan tertinggi pantas diterima ratusan pendekar yang menjadi pendukung film. Setiap pukulan, teriakan dan erangannya, telah menjadi nyawa abadi Berandal.

FILM INDONESIA?

image

“Di negara kita sendiri, pencak silat dipandang sebelah mata. Lewat film ini, kami tidak bertujuan memperkenalkan pencak silat pada dunia. Dunia sudah mengetahui, mempelajari, bahkan mencintai. Kami justru ingin memperkenalkan silat pada kaum muda Indonesia.”

–Yayan Ruhiyan (aktor dan fight-choreographer Berandal)

Di saat kita berkoar-koar dan bangga terhadap prestasi Berandal, film ini sebenarnya adalah pengingat untuk amnesia pada banyaknya kekayaan negeri yang kerap terlupakan.

Sebelum sampai di Sundance, saya sendiri membawa pertanyaan :

Apa kita wajar menyebutnya film Indonesia, ketika Gareth Evans, otak dari film, ini adalah seorang non-Indonesia, seorang dari Wales, Inggris?

Berhak-kah kita mengklaim sebuah film yang kemudian sukses secara internasional, sebagai “film Indonesia”, padahal sebelumnya kita jarang berbangga terhadap nilai-nilai asli negeri yang berusaha diangkat film tersebut?

Apakah kita hanya mendompleng popularitas belaka?

image

Namun, pemikiran itu gamang ketika melihat seribuan orang antre di udara dingin hanya untuk menonton Berandal, sinema yang mereka sebut sebagai “film Indonesia”.

Pertemuan dengan Gareth, semakin meruntuhkan kegamangan itu. Saya tercenung menyadari bagaimana sang sutradara berusaha keras untuk menampilkan Indonesia di setiap karyanya ; Merantau, The Raid : Redemption dan Berandal. Mulai dengan hal-hal sederhana seperti kisah perantau, penggunaan singlet, shot makan mie instan, hingga Reog Ponorogo yang memang kental nilai budayanya.

Tak hanya itu, sebagian besar kru film besutan Gareth adalah orang Indonesia. Bahkan di bagian teknis penting Berandal seperti di departemen sinematografi, editing dan musik, selalu ada kru Indonesia. Aria Prayogi dan Fajar Yuskema yang dulu hanya mengerjakan musik The Raid : Redemption versi Indonesia, kini ikut mengerjakan versi internasional Berandal. Tampak sekali Gareth tak ingin filmnya kehilangan identitas nusantara.

image

Saya semakin terdiam, apalagi ketika ditanya apakah dirinya akan pindah ke Hollywood setelah kesuksesan Berandal, Gareth hanya menjawab ringan namun penuh makna ;

“No, not really. Indonesia is kind of become my home now.”

Saat Indonesia telah dicintainya, ketika bakat silat Iko Uwais dan Yayan Ruhian telah diperkenalkannya ke panggung dunia, ketika negeri ini telah diharumkannya, pertanyaan apakah Berandal adalah film Indonesia atau bukan, kini tak penting lagi. Terima kasihlah yang patut diutarakan. ()

P.S. Tulisan ini tidak akan ada tanpa kesempatan dan ide-ide brilian dari Alam Burhanan dan wawancara luar biasa Vena Annisa dengan kru Berandal.

*Semua poster dan still film adalah milik Merantau Film

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Membeku di Kota Bangkrut

Mungkin tak banyak yang tertarik untuk menghabiskan saat-saat terindah akhir tahun di Detroit, sebuah kota bangkrut di negara bagian Michigan. Kriminalitas merajalela di kota yang beberapa dekade lalu sempat mengecap kejayaannya sebagai jantung industri otomotif Amerika ini.

Namun, ketika dua orang sahabat menunggu di sana, tak ada alasan untuk menolak. Tak ada alasan untuk mengabaikan godaan melihat bekas-bekas kegemilangan Detroit, berkelana ke kota-kota kecil di sekelilingnya, merasakan Natal putih dengan salju yang terus jatuh menghujani bumi dan mengabadikan semuanya dengan kamera smartphone.

DI BAWAH TITIK BEKU

Saya baru menyadari bahwa tidak semua daerah, bersalju, saat musim dingin di Amerika. Hanya beberapa negara bagian, terutama yang terletak di utara dan daerah-daerah pegunungan, yang selalu bersalju.

Washington, D.C. yang berlokasi di timur laut Amerika saja, lumayan jarang tertimbun serpihan-serpihan putih ini. Namun, berbeda dengan Detroit. Berbatasan dengan Kanada, dingin yang membekukan adalah santapan keseharian warganya. Di kota inilah, saya merasakan suhu terdingin seumur hidup. Jauh di bawah 0 derajat Celcius. 

image

Berlapis-lapis. Berganti musim berarti berganti cara berpakaian. Satu lapis, dua lapis, tiga lapis, berlapis-lapis. Ini maksimal yang rela saya gunakan. Jika masih kurang hangat, nikmati saja.

image

Welcome to Detroit. Sejak tahun 1980-an, Detroit Metro Airport adalah salah satu bandara transit internasional tersibuk di dunia. Tiga puluh juta penumpang dilayaninya setiap tahun. Berbagai kemudahan disediakan ; mulai dari arahan dwi-bahasa, hingga kereta listrik dalam terminal yang beroperasi tepat di atas ruang tunggu. Maklum, panjang sebuah terminal mencapai hampir 2 km.

image

-15 derajat Celcius. Jika berlama-lama di udara terbuka dengan suhu -15 derajat, cuping telinga dan ujung-ujung jari bisa kesakitan dan mati rasa. Wajah tanpa sadar langsung mengkerut karena ujung-ujung syaraf terkejut. Tidak terbayang bagaimana rasanya dikepung suhu terendah yang pernah terjadi di Detroit, tahun 1984 silam, yaitu -31 derajat Celcius.

image

image

Hanya Indah di Mata. Orang Amerika ternyata masih terkesima melihat turunnya salju. Semakin lebat dan tebal, semakin dramatis-lah suasana. Namun setelahnya, ketika buntelan-buntelan putih itu menumpuk, membeku dan harus dikeruk, hidup menjadi tak seindah kelihatannya.

image

Hibernasi? Tidak. Di saat dingin, ketika manusia lebih memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah, tupai abu-abu ternyata meninggalkan sarang dan menjalin jaket-jaket penghangat tubuh, dari tumpukan lemak makanan.

imageimage

Memetik Hasil. Sekitar 96.000 (2.2%) warga Detroit adalah keturunan Yahudi. Sebagian besar dari mereka berimigrasi ke Amerika pada awal abad 20 dan kemudian menjadi bagian penting dari era otomotif maju Detroit saat itu. Dengan kerja keras, tidak mengagetkan jika banyak rumah mereka dan keturunannya di pinggiran Kota Detroit yang bagus-bagus, dan tentunya hangat.

WHITE CHRISTMAS

Natal putih bergelimang salju adalah impian semua orang, termasuk bagi yang tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia. Indah melihat butir-butir kristal es itu melayang-layang tertiup angin, jatuh di pekarangan rumah yang penuh kerlap-kerlip hiasan Natal. Sangat menghangatkan hati.

imageimage

Warm Winter-Night. Meskipun saya tidak merayakan Natal secara relijius, saya bahagia melihat kebahagiaan itu terpancar dari tuan rumah, dari sahabat saya di Detroit, pak Haryono dan bu Indah. Saya merayakan kehangatan, merayakan kebahagiaan mereka.

imageimageimage

Berdaun salju. Hari itu kami berkendara ke utara, menuju kota kecil bernama Frankenmuth. Kanan-kiri semuanya putih. Pohon-pohon berdaun salju. Tak bisa berbicara, mereka terlihat merana, namun seakan memaksa diri untuk tegap dan berkata, “Jangan mengeluh, tak mampu mengeluh menerjang dingin.”

imageimage

Deer Whisperer. Frankenmuth adalah Little Bavaria dan kota Natal-nya Michigan. Selain banyak bangunan bercorak Jerman, trotoar dan taman juga dipenuhi berbagai patung bernuansa Natal, seperti rusa-rusa yang terlihat sangat hidup ini.

image

image

image

Inside-Out. Tidak ada yang dapat menolak keindahannya. Keindahan yang memedihkan, ketika lemari es jauh lebih hangat dibandingkan pekarangan. Namun, di bawah masing-masing tudung atap rumah ini, sebuah keluarga sedang berkumpul, bercanda, makan siang bersama, menghangatkan hari dengan unggun yang muncul dari tawa renyah belahan jiwa.

DARI AVATAR HINGGA KENNEDY

Awalnya saya mengira The Henry Ford Museum adalah sebuah museum otomotif, karena di Detroit-lah Ford pada awal abad ke-20 membangun kerajaan industri mobil, yang terjangkau bagi masyarakat kelas menengah Amerika. Saya tidak sepenuhnya salah. Namun, yang ada di museum ini jauh lebih beragam daripada itu.

image

Menjadi Na’vi. Ingin tahu rasanya menjadi Na’vi di film Avatar? Museum ini menyediakan sebuah virtual set bewarna merah sebagai representasi dunia Pandora, yang memiliki sensor untuk menangkap gerakan manusia. Di layar, gerakan aktor di set akan digantikan oleh Avatar-nya secara real-time. Inilah rekaman Aksi Avatar saya!

imageimage

Hitam-Putih. Di negara semaju Amerika, demokrasi sejati, pengakuan manusia sebagai manusia sebenarnya tanpa melihat warna kulit, ternyata baru terjadi pada pertengahan tahun ‘60an.

Sebelumnya, orang kulit hitam didiskriminasi ; di restoran, tempat minum, kendaraan umum dan lain sebagainya. Di dalam bus hijau-kuning di ataslah, Rosa Parks pada tahun 1955 melakukan aksi yang saat itu dinilai kontroversial, menolak memberikan tempat duduknya di deretan bangku kulit hitam, kepada seorang penumpang kulit putih yang tidak kebagian tempat duduk.

image

Pencetak Rekor. Mobil berbagai zaman dipamerkan di museum yang berdiri sejak tahun 1929 ini. Tidak ketinggalan Goldenrod, pemegang rekor mobil tercepat tahun 1965 hingga 1991. Kecepatan maksimumnya mencapai 658.64 km/jam.

image

Saksi Kennedy. Setengah abad yang lalu, Amerika berkabung ketika Presiden John F. Kennedy tewas ditembak saat iring-iringan mobil kepresidenan melintas di jalanan Dallas, Texas. Mengagetkan mengetahui mobil yang menjadi saksi penting sejarah itu, ternyata tidak memiliki satu-pun lapisan anti-peluru ketika dikendarai sang presiden. Lebih mengejutkan lagi, meskipun menjadi tempat terbunuhnya Kennedy, limousine ini ternyata tetap digunakan tiga presiden setelahnya ; Lyndon Johnson, Nixon dan Ford. Namun, tentunya setelah beberapa penyempurnaan, seperti penambahan kaca dan ban anti-peluru serta atap permanen yang tidak bisa dibuka.

DI KOTA BANGKRUT

“Apalah yang bisa dilihat di Detroit. Sudah bangkrut, pasti gak menarik.” Itulah beberapa komentar teman yang tahu saya akan berkunjung ke Detroit.  Namun, fakta itulah yang menjadi magnet bagi saya untuk mendatangi kota ini. Melihat bagaimana kota yang dulunya adalah salah satu jantung ekonomi, industri dan lambang metropolis Amerika, hancur dan kehilangan hampir segalanya. Dan tidak ada tempat yang lebih tepat menikmati pengalaman ini, selain di Downtown Detroit.

image

The Renaissance Center. Saya pertama kali mengenalnya sebagai gedung “baterai” dalam film 8 Mile. Gedung paling tengah dari kumpulan 7 pencakar langit yang sambung-menyambung ini, sejak tahun 1977 adalah bangunan tertinggi di Michigan. Tingginya 230 meter, hampir seperempat kilometer.

image

Fisher Building. Bergaya Art-Deco dengan batu gamping, granit dan pualam yang menjadi rangka dan daging tubuhnya, Fisher Building yang dibangun pada salah satu masa terkelam ekonomi Amerika pada tahun 1930-an, adalah ikon pencakar langit yang kerap terlupakan.

 image

Bangkrut. Sejak tahun 1962 hingga 2012, pendapatan Detroit turun drastis 40%. Alhasil, Juli lalu kota ini bangkrut, tak mampu membayar hutang yang jumlahnya tak tanggung-tanggung, mencapai 20 miliar dolar.

image

Tak Mampu Bertahan. Ekonomi memburuk. Gedung-gedung ditinggalkan. Detroit telah menjadi rumah bagi lebih dari 78.000 bangunan rusak tak berpenghuni.

image

People Mover. Tidak ada cara yang lebih tepat menikmati sisa-sisa kejayaan Detroit selain dengan People Mover, kereta listrik tanpa pengemudi yang mengelilingi jantung Ibukota Michigan ini, di jalur sepanjang lebih dari 4 km. Apalagi biayanya cuma 75 sen sekali jalan.

image

Transformers : Age of Extinction. Fisiknya yang bobrok membuat sineas tergoda menjadikannya lokasi pembuatan film. Seorang penumpang People Mover mengatakan kepada saya, Transformers 4, Juli lalu syuting di sekitar gedung ini. Detroit disulap menjadi Hongkong.

image

image

Ibukota Kejahatan. Di masa kejayaannya sebagai kota utama penghasil mobil Amerika, penduduk Detroit mencapai 1.8 juta jiwa. Kini, hanya 700 ribu orang yang bersedia bertarung hidup di sini. Angka kejahatan stabil di kondisi terburuk. Forbes magazine tahun 2012 lalu menobatkan Detroit untuk kelima kalinya, sebagai kota dengan tingkat kejahatan tertinggi di Amerika.

SISA-SISA KEINDAHAN

Masih ada emas di tengah payaunya sungai. Pasti ada yang manis tersisa, betapapun buruknya suasana. Itu juga terjadi di Detroit. Nafas kerasnya menjadi daya pikat tersendiri. Apalagi kota terbesar di Michigan ini memang dulu didesain untuk menjadi primadona. Di sini saya melihat berbagai karya memukau hasil pemikiran dan buah tangan manusia, serta mendatangi salah satu instalasi seni luar ruangan yang membelalakkan mata, The Heidelberg Project.

image

Detroit Skyline. Di balik cerita kelamnya, tak dapat ditampik, hati selalu bergetar melihat goresan puncak-puncak gedung di dinginnya kaki langit Detroit.

image

Tuhan & Manusia. Di Balaikota, sebuah patung perunggu duduk megah setinggi 7 meter. Terang mentari di tangan kirinya sebagai perlambang Tuhan. Pion-pion emas di tangan kanannya sebagai perlambang manusia. Marshall Fredricks memahat The Spirit of Detroit sebagai simbol kasih Tuhan yang nyata terwakili dalam sebuah keluarga.

image

Horace E. Dodge and Son Memorial Fountain. Saat musim panas, air menghambur antara bagian cincin dan sumurnya. Instalasi seni ini adalah hadiah Anna Thompson Dodge, salah satu wanita terkaya di dunia, untuk mengenang mendiang putra dan suaminya, Horace Elgin Dodge, miliarder pemakarsa industri otomotif Amerika.

image

Mencari Kebebasan. Awal abad ke-19, Michigan telah menjadi tempat pelarian warga kulit hitam dari perbudakan di selatan. Sementara, terletak hanya di seberang sungai Detroit, Kanada pada tahun 1834 telah menghapus perbudakan. Ketika Fugitive Slave Act, peraturan untuk membawa budak yang telah kabur kembali ke selatan, disahkan tahun 1850 oleh Kongres Amerika, para mantan budak ini tidak memiliki pilihan lain. Mereka harus menyeberang ke Kanada untuk meraih kebebasan sepenuhnya. Patung Gateway to Freedom International Memorial ini mewakili kisah itu.

image

image

The Heildelberg Project. Melangkahkan kaki di sini bagai berjalan di dunia fantasi. Tak terbayangkan semuanya bermula dari kisah seorang tentara bernama Tyree Guyton, yang pulang ke kampung halamannya setelah mengabdi untuk negara pada pertengahan ‘80an.

Dia trenyuh melihat apa yang ada di hadapan mata. “Detroit bagai telah dibombardir,” rintihnya ironis. Gedung-gedung hancur menjamur, sisa dari pergolakan antara polisi dan warga kulit hitam pada tahun 1967. Pergolakan yang menewaskan lebih dari 40 orang, meluluhlantakkan ribuan bangunan dan menjadi pemantik masa suram Detroit. The Heidelberg Project adalah wujud protes Tyree.

imageimage

Absurd. Kagum melihat bagaimana Tyree melampiaskan kemarahan dan kesedihannya melalui bangunan di sepanjang jalan Heidelberg, seluas lebih dari 12 ribu meter persegi. Takjub melihatnya meledakkan kreativitas seninya untuk mewakili teriakan hati, memohon agar Detroit kembali bewarna.

image

Berbuah Manis. Usaha kerasnya berbuah manis. Karya-karya seni mantan tentara ini berhasil merubah lingkungan di sekitar jalan Heidelberg. Warga yang dulu ketakutan paska tragedi 1967, mulai berani keluar rumah, menikmati luapan imajinasi Tyree. Tak kurang dari 275 ribu pengunjung baik lokal maupun internasional, menikmati The Heidelberg Project setiap tahunnya.

image

Memudar. Namun, keceriaan yang dipancarkannya mulai redup. Satu per satu instalasi ini dibakar orang tak dikenal, menyisakan arang-arang hitam,tanpa tahu jejak pelaku. Sepanjang tahun 2013, lima bangunan penuh warna Heidelberg rusak dilalap api.

image

Baby-Barbie Christ. Namun, apapun yang terjadi saat ini, The Heidelberg Project telah menjadi bukti bahwa kekuatan kreativitas dan imajinasi, bisa menjadi lentera menuju masa depan yang lebih baik. Mengingatkan kita bahwa di tengah kebangkrutannya, di tengah dingin yang terus menerpa, Detroit dulu pernah bangkit dan pastinya bisa bangkit lagi. ()

P.S. Perjalanan dan tulisan ini tidak mungkin ada tanpa pak Haryono dan bu Indah Tandra, dosen saya dulu ketika kuliah di Bandung, yang sekarang pindah mengajar ke Detroit Metro Area. Mereka adalah guru dan sahabat, yang berada di balik sejumlah petualangan seru kami di Amerika, mulai dari Chicago hingga ke Niagara. Pengalaman di Detroit ini telah menjadi pamungkas kisah jalan-jalan kami, yang akan saya kenang selamanya.

image

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Lautan Mimpi di Cape Cod

image

"A man may stand there and put all America behind him." -Henry David Thoreau

Henry David Thoreau, pujangga abad ke-19 yang telah menginspirasi pemikiran Tolstoy dan Gandhi, memuji keindahan Cape Cod. Pujian Thoreau inilah yang akhirnya membawa saya dan Aryo ke semenanjung di tepi Atlantik,  berkendara satu setengah jam dari Boston menuju ke selatan.

image

Kalau dilihat dari udara, Cape Cod terlihat bagai lengan yang sedang dikepalkan, dengan kota-kota kecil yang terkenal akan keindahan pantainya.

Malam itu kami menginap di salah satu hotel di bagian trisep Cape Cod, di sebuah kota kecil bernama Hyannis, tempat anak-anak keluarga Kennedy dibesarkan.

Presiden John F. Kennedy sendiri pernah menjadikan rumah keluarganya di sini sebagai markas pemenangan Pemilu Presiden tahun 1960. Setelah terpilih, salah satu Presiden Amerika paling karismatik dan fotojenik itu menjadikan Hyannis sebagai rumah musim panasnya, sebagai Summer White House.

image

Saya ingin sesegera mungkin menikmati kenyataan itu, namun gelapnya langit dan letih telah menenggelamkan ambisi kami hari itu.

KE UJUNG SEMENANJUNG

Pukul 9 pagi, kami bergegas ke tujuan pertama, Race Point Beach, Provincetown, di bagian paling ujung, di kepalan tangan Cape Cod.

Hari itu benar-benar sempurna. Langit bersih tanpa awan bagai membentang lebih tinggi berkali-kali lipat. Matahari terik, namun suhu hanya 10 derajat Celcius. Sangat sempurna.

Ketika mendekati pantai, saya hampir tidak percaya apa yang tersaji di hadapan mata. Mungkin sekilas hanya lapangan kosong dengan sebuah rumah bercat putih mencolok menyendiri. Namun, suasana ketika itu membuatnya terasa tidak nyata. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Semua warna terasa pekat. Biru pekat. Putih pekat. Saya merasa kami bagai dua bocah yang tersedot ke dunia mimpi dan disajikan sebuah petualangan.

image

Kami berlari ke pantai. Ada keraguan di hati karena tidak ada bau laut. Tak terdengar debur ombak. Hanya butir-butir pasir kering yang berderai ketika dipijak. Ilalang-ilalang laut bergemerisik, tidak hanya berbunyi, tetapi berkerlap-kerlip memantulkan cahaya matahari. Di pinggir laut, mereka terbentang sejauh mata memandang. Saya tak mampu berkata-kata.

Menyusuri setapak, ilalang berganti hamparan pasir maha luas. Saya hanya bisa tertawa, ternganga dan berlari-lari kecil. Yang terbayangkan saat itu hanyalah, di setiap langkah apakah saya akan terbangun dari mimpi? Tapi itu tidak pernah terjadi.

image

RAHIM AMERIKA

Selain keindahannya, tidak ada yang lebih mengagumkan dari Race Point Beach selain kebersihannya. Tidak ada satu pun sampah terlihat. Kadang ada perasaan bersalah memijak pasir, meninggalkan bekas telapak kaki, menghilangkan kehalusannya.

image

Meskipun menjadi salah satu tempat favorit di musim panas, Race Point bagai masih perawan. Tak ada yang berjualan di pinggir pantai, tak ada bangunan-bangunan tinggi berjejer, tak ada komersialisasi, bahkan tak ada hotel dalam radius dua kilometer.

Dengan ketenangan airnya dan keheningannya, mungkin tidak banyak yang menyangka, di pantai inilah koloni dari Inggris, para Pilgrim berlabuh, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Amerika pada awal abad ke-17.

image

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka ketika sampai di Provincetown, hampir empat ratus tahun lalu. Mereka mungkin berlayar ribuan kilometer melintas samudera hanya untuk mencari kebebasan beragama. Tapi saya tahu, ketika sampai di sini, di pantai ini, letih terombang-ambing di lautan yang mereka rasakan berbulan-bulan, terbayarkan.

image

Jika mereka melihat yang sama dengan apa yang saya lihat saat ini, mereka mungkin merasa perjalanan panjang itu memang diberkati yang Kuasa. Mereka disambut pantai, disambut daratan yang bagai nirwana. Surga tempat mereka melahirkan anak-anaknya, para tetua Amerika.

RUMAH PENYELAMAT

image

Satu-satunya bangunan yang ada di pinggir pantai ini adalah The Life Saving Station.  Pertama kali melihatnya, gedung ini seperti rumah seorang kaya penyendiri yang memiliki sebuah pantai pribadi. Namun, faktanya lebih mengagumkan daripada itu. Sejak tahun 1897, rumah ini adalah stasiun penyelamatan bagi korban-korban kapal karam di sekitar Race Point Beach.

image

Ada kisah menarik. Gedung yang diarsiteki George R. Tolman ini awalnya  berada di Nauset Beach, Chatham, di bagian siku Cape Cod. Namun, karena abrasi laut terus menerus, memaksa pemerintah pada tahun 1977 memindahkan bangunan ini ke tempatnya sekarang.

image

Di belakang The Life Saving Station, terhampar bukit-bukit pasir, menambah kesan surreal yang amat layak dibingkai bak lukisan.

image

BERBURU MERCUSUAR HINGGA KE PORTLAND

 image

Ketika matahari menerangi pucuk kepala, kami meninggalkan Race Point menuju ke destinasi berikutnya, Portland, di Negara Bagian Maine, tempat mercusuar paling sering difoto di Amerika Utara, Portland Head Light berdiri megah.

image

Portland terletak di bagian utara Boston. Dari Provincetown, Cape Cod, kami harus berkendara sekitar 3 jam. Dalam mobil, kami tergelak, takjub sendiri karena seluruh rencana sejauh ini berjalan lancar. Dalam satu setengah hari, kami mendatangi semua tempat yang ditargetkan. Tinggal satu tujuan lagi dan sempurnalah perjalanan ini.

Sebagai pemanasan, kami singgah dulu ke mercusuar Chatham Light di bagian siku Cape Cod.

Lebih dari separuh persitiwa tenggelamnya kapal di Samudera Atlantik hingga Teluk Meksiko terjadi di sekitar Cape Cod. Peran mercusuar sebagai penanda daratan, pantai penuh karang dan pembantu navigasi, amatlah vital di wilayah ini.

image

Chatham Light adalah bagian dari sistem penyelamatan itu. Mengagumkan mengetahui mercusuar ini dibangun atas inisiasi Thomas Jefferson, founding father-nya Amerika.

Meskipun saat ini satelit dan navigasi canggih telah dimiliki kapal-kapal, mercusuar Chatham tetap dipertahankan. Sebuah lentera penerang modern bahkan dipasang tahun 1969. Semua, tak lain dan tak bukan hanya untuk mengingatkan keunikan dan pentingnya peran mercusuar ini dalam sejarah maritim Cape Cod.

 image

Saya kaget melihat waktu telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Masih perlu berkendara selama dua jam hingga sampai ke Portland. Tatkala musim gugur, waktu terang memendek. Sekitar pukul lima sore, matahari telah terbenam. Apa indahnya melihat mercusuar ketika segalanya gelap? Kami pasti hanya akan melihat cahaya yang dipancarkan lenteranya saja.

Aryo langsung memacu mobil. Boston terlintasi. Kami terus bergerak ke utara melewati negara bagian New Hampshire, sebelum sampai di Maine.

image

Musim gugur membuat alam benar-benar menawan. Apalagi kami berkemudi di salah satu tempat paling Indah untuk melihat daun-daun berubah warna, yaitu di New England, kawasan pemukiman pertama imigran Inggris di timur laut Amerika, yang melingkupi Negara Bagian Maine, New Hampshire, Massachusetts, Vermont, Rhode Island dan Connecticut.

image

Memasuki Maine, jalanan sempat macet beberapa kali. Ufuk barat mulai menelan sang mentari. Gelap datang. Jalan terus mengecil dan kami memasuki kawasan pemukinan warga di pinggir hutan. Sangat gelap. Tidak ada lampu jalan. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu mobil sewaan kami. GPS memperlihatkan, dalam tiga menit kami akan sampai.

GAGAL

“Destination is on your left.”

Suara siri terdengar sangat kencang di tengah kesunyian itu. Saya agak was-was. Di sekeliling kami gelap gulita. Aryo sedang memutar setir ke kiri, berbelok masuk, ketika badan saya tiba-tiba terdorong ke depan dan terhempas lagi ke kursi mobil. Rem digenjot dadakan.

“Ada pagar,” sahut Aryo agak terengah.

Saya hanya terdiam dan ternganga. Jalan ke Portland Head Light ditutup.

Perlu beberapa saat bagi kami untuk mengambil keputusan. Saya sendiri kesal dan bertanya-tanya, mengapa tempat wisata di tempat terbuka  dan seterkenal itu sudah ditutup sebelum jam 6 sore?

“Yo, kita cari jalan masuk dari tempat lain, kita balik lagi aja, coba terus jalan ke atas.”

Mobil kami mundurkan ke jalan besar, terus menyusuri dan mencari apakah ada gerbang lain ke Head Light. Belokan pertama ditutupi pagar. Belokan kedua bukan pagar, tetapi palang yang panjang membentang. Belokan ketiga, tidak ada pagar dan palang, tetapi di kanan-kirinya terdapat papan bertuliskan “Private Property.” Kemungkinan besar itu adalah kediaman penduduk. Belokan-belokan selanjutnya membuat kami putus asa. Semuanya dipagari.

Meskipun nyaris tidak ada lagi kemungkinan melihat mercusuar paling terkenal di Amerika itu, kami kembali ke gerbang utama, berharap menemukan petunjuk yang bisa membawa kami ke gerbang yang masih terbuka. Namun, harapan itu hampa belaka. Melihat tulisan di salah satu dinding pagar, saya tersadar, kami sudah pasti tidak akan melihat Head Light hari itu.

“Open Daily 10:00 AM – Sunset.”

Kami benar-benar telat, matahari telah terbenam lebih dari setengah jam yang lalu.

MERCUSUAR TERAKHIR

Dengan berat hati, kami meninggalkan gerbang Portland Head Light tanpa mendapatkan apa-apa. Hanya hampa. Meskipun tidak mau berpikir bahwa tiga jam perjalanan terbuang sia-sia, tetapi itu terus menggaung di kepala.

Mobil kemudian kami arahkan ke pusat Kota Portland. Sepi. Memang menjadi kebiasaan di Amerika, pada hari Minggu, sebagian besar toko dan pusat ekonomi tutup lebih awal, bahkan sebelum pukul enam petang. Namun, di kiri-kanan kami ada beberapa restoran seafood yang masih buka. Portland memang terkenal akan hasil lautnya yang kaya. Berharap mengobati kekecewaan, kami singgah dan santap malam di salah satu restoran itu.

image

Masih penasaran, setelah makan malam saya iseng bertanya kepada pelayan restoran, apakah ada mercusuar lain di dekat kota yang masih bisa didatangi hingga malam. Pertanyaan kami dibalas si pelayan dengan sebuah brosur berisi peta lokasi-lokasi mercusuar di Portland. Hanya satu yang terbuka untuk umum 24 jam, Spring Point Ledge Lighthouse. Letaknya hanya lima belas menit dari restoran seafood itu.

Saya dan Aryo bergegas naik ke mobil karena pukul sebelas malam, mobil harus dikembalikan ke car-rental di Boston. Aryo sangat bersemangat. Jalanan Portland yang sepi diterjangnya dengan mulus. Kurang dari lima belas menit kemudian, kami sampai. Tidak ada palang. Tidak ada pagar. Kami bahkan bisa memarkirkan mobil di dermaga.

Udara dingin menusuk. Bau laut menyeruak. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Lagi-lagi segalanya gelap gulita. Cahaya putih berkali-kali menerabas mata kami. Spring Point Ledge Lighthouse, berdiri tidak lebih dari 100 meter di depan mata. Hanya cahaya dari lenteranya saja yang tampak. Selebihnya gelap.

Saya dan Aryo terus mendekati sumber cahaya. Kami melangkah perlahan diterangi cahaya lampu handphone. Rumput tebal berganti onggokan-onggokan batu yang memanjang sejauh 50 meter ke arah laut, menuju mercusuar.

Tidak tahu apa yang ada di pikiran, mungkin hanya ambisi, kami terus berjalan di atas batu-batu itu mendekati mercusuar. Di sekeliling kami gulita. Langkah hanya diterangi temaram sumber cahaya di genggaman tangan. Semakin jauh, saya mulai merasa bodoh. Tak akan ada yang bisa dilihat. Hanya cahaya mercusuar yang tampak hilang-timbul. Saya menghentikan langkah. Aryo telah terlebih dahulu melakukannya.

 “Kayaknya percuma deh Ki,” sahutnya.

image

Saya pasrah, berjalan kembali ke arah rumput. Angin laut semakin kencang. Kami telah dikalahkan malam. Tidak ada lagi yang bisa kami perbuat selain merelakan keinginan kami untuk melihat mercusuar. Saya coba ingatkan diri. Menyadarkan diri bahwa yang dilihat dalam kurang dari 48 jam terakhir ini, sudah lebih dari cukup. Mungkin mercusuar-mercusuar itu memang disimpan untuk kunjungan selanjutnya ke negara ini.

Kami terus berjalan kembali ke mobil, berkendara ke selatan menuju Boston, untuk terbang pulang ke DC esok subuh-nya. Malam itu suara radio yang memenuhi mobil. Kami letih. Fisik dan emosional. Letih yang saya syukuri karena kami telah mengeluarkan segala daya upaya untuk melihat Boston, Cape Cod, dan Portland. Melintasi tiga Negara Bagian dan melihat sebanyak mungkin dalam dua hari. Hanya dua hari, yang akan kami kenang selamanya. ()

Rafki Hidayat

rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

Massachusetts: Dari Boston Hingga ke Semenanjung Atlantik

Musim gugur ini saya sempat jalan-jalan ke Massachusetts, negara bagian tempat sejarah Amerika dirangkai selama beratus-ratus tahun, surga bagi orang-orang berotak ‘paling encer’ di dunia,  rumah asal-muasal keluarga Kennedy, salah satu dinasti politik paling berpengaruh di Amerika, dan tempat bom menghentak Amerika… bulan April lalu.

MEMORI 11 TAHUN LALU

image

Suhu tidak lebih dari 5 derajat Celcius ketika kaki saya dan Aryo, seorang teman dari Maryland, memijak jalanan bata di jantung Kota Boston, ibukota Massachusetts.

Dengan uap mengepul dari mulut tanpa henti dan tangan yang terpaksa harus disembunyikan di kantong jaket supaya tetap hangat, memori 11 tahun lalu, ingatan pertama saya tentang kota Boston, kembali hadir.

Guru sejarah kelas 1 SMP berkisah tentang Boston Tea Party, protes warga Boston terhadap pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1773, yang memaksa mereka membeli teh dari Inggris dan membayar pajak. Kebijakan ini dinilai merugikan petani lokal. Murka, warga Boston pun menyamar menjadi orang Indian, menyelundup ke kapal-kapal Inggris dan membuang berpeti-peti teh Inggris ke Boston Harbor.

image

Peristiwa itu ternyata berujung klimaks dengan revolusi dan bahkan kemerdekaan Amerika. Bu Guru berkali-kali berujar, banyak guratan sejarah penting Amerika itu mengambil tempat di Boston. Tidak nyata rasanya, sekarang saya sedang melangkah di tengah bekas guratan sejarah itu.

MENELUSURI JEJAK KEBEBASAN

Bagaikan tahu dengan kebutuhan menikmati sejarah, Boston hadir dengan Freedom Trail, sebuah jalur bata merah sepanjang 4 kilometer yang menuntun pengunjung ke 17 lokasi sejarah penting Amerika.

image

Salah satunya adalah Boston Common, taman umum tertua di Amerika. Setahun sebelum kemerdekaan Amerika pada tahun 1776, ribuan tentara Inggris kerap berkemah di sini. Dengan senapan di tangan, mereka mencegah berbagai perlawanan warga Boston untuk memperjuangkan kemerdekaan Amerika.

Indah sekali melihat langit biru musim gugur dengan matahari pekatnya, menyinari dedaunan kuning yang tumbuh di taman ini. Saya tidak tahu apakah banyak yang berubah di Boston Common. Namun, ada satu hal menarik, yang saya yakin berbeda dengan 200 tahun lalu. Jika dulu tentara Inggris yang berkemah, sekarang para tunawisma-lah yang menjadikan taman ini tempat tidur raksasa mereka.

image

Mencengangkan mengetahui ada 7.000 tunawisma yang hidup di Boston. Mereka tak ubahnya manusia-manusia jalanan Ibukota. Jumlah mereka sekitar satu persen dari populasi warga Boston.

image

Sebenarnya rumah singgah telah disediakan. Namun, hanya sekitar 12 persen yang bersedia tinggal di sana. Alasannya, banyak kisah buruk. Mulai dari pencurian barang oleh sesama tunawisma, pengedar narkoba dengan jebakan-jebakannya, dan banyaknya kutu kasur pembawa penyakit.

YANG TUA SELALU DIJAGA

Perjalanan di Freedom Trail, sempat berhenti lama di Old State House. Saya terkesima melihat bangunan kuno ini masih kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya.

Pada rumah bata berusia hampir 300 tahun inilah, para pendobrak-pendobrak muda Massachusetts memperdebatkan pajak, peraturan kolonial Inggris yang mengekang, serta menyusun strategi revolusi untuk meraih kemerdekaan.

image

Saat itu ada belasan orang Amerika di samping saya dan Aryo. Saya yakin di pikiran kami berbeda. Di saat mereka bersemangat mencari tahu sejarah negaranya, saya bertanya-tanya apakah masih banyak bangunan kuno-bersejarah di tanah air yang dibiarkan berdiri, tumbuh berkembang bersama kemajuan di sekelilingnya? Saya yakin Anda lebih tahu jawabannya.

Kekaguman ini bukan tanpa cela. Kami sempat bingung mencari Old Corner Bookstore, salah satu situs di Freedom Trail tempat karya-karya penanda zaman Charles Dickens, Nathaniel Hawthorne dan Mark Twain diproduksi. GPS berkali-kali mengarahkan kami ke restoran Meksiko, Chipotle. Tak yakin, kami memutar arah, namun tetap berakhir di tempat yang sama. Bertanya kanan-kiri, ternyata memang gedung Old Corner Bookstore sekarang digunakan oleh Chipotle. Namun, penggunaan ini disepakati tidak boleh merusak bentuk asli gedung.

image

Langkah siang itu akhirnya membawa kami ke Boston Harbor, pengkristalan ingatan puncak peristiwa Boston Tea Party, lebih dari 2 abad yang lalu. Wujudnya ternyata jauh lebih Indah dari yang saya bayangkan. Kapal-kapal layar berpadu berkibar-kibar, seakan terus memberikan semangat kepada warganya menolak setiap ketidakadilan. Semangat yang seakan merayakan kebebasan yang telah diusahakan nenek moyang mereka, beratus-ratus tahun lalu.

image

MENCIUM KAKI HARVARD

image

Boston adalah Yogya-nya Amerika, terkenal dengan sebutannya sebagai kota pendidikan. Terang saja, salah satu universitas terbaik di dunia, Harvard University, ada di sini.

Dulu saya sempat mempunyai cita-cita kuliah jurusan Hubungan Internasional di Jakarta, lalu lanjut S2-nya di Harvard. Keren sekali kedengarannya meskipun tahu sulitnya minta ampun untuk masuk Harvard. Namun, rasa penasaran mengunjungi mantan kampus idaman ini tidak pernah hilang. Hidup sering tidak terduga, saya hanya bisa berharap dan berupaya.

Harvard sebenarnya berada di Cambridge, sebuah kota di utara Boston. Mencapainya, saya dan Aryo menggunakan T, kereta api listrik mirip Metro-nya Washington DC.

image

Menghirup udara segar, saya keluar dari stasiun dengan awan-awan yang memenuhi langit. Muda-mudi lalu-lalang dengan pakaian hangat mereka. Dari gaya dan tas yang digendongnya, ketahuan mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang sedang menyegarkan otak di Harvard Square.

image

Harvard Square adalah tempat gaulnya anak-anak Harvard. Penuh outlet, pub dan restoran. Siang itu kelabu. Berkeliling diiringi semilir angin dingin, saya merasa sedang berada di sebuah kota kecil di Inggris ; jalanan kecil dengan bangunan-bangunan tuanya. Tidak salah, karena nama Cambridge sendiri diambil untuk menghormati Universitas Cambridge di Inggris, tempat banyak penduduk-awal kota ini berasal.

image

Gerbang kampus Harvard berada di salah satu sisi Harvard Square. Gedung-gedung berdiri rapat bewarna merah bata mengelilingi daun-daun menguning yang mulai berguguran di Harvard Yard, lapangan yang merupakan salah satu bagian tertua Harvard.

image

Tidak terbayangkan di sini pernah melangkah dan menuntut ilmu tokoh-tokoh penting dunia: delapan Presiden Amerika termasuk George W. Bush dan Barack Obama, Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, aktivis lingkungan hidup Al Gore, penulis Michael Crichton, aktor Tommy Lee Jones dan ratusan pemenang penghargaan Nobel.

Aneh juga rasanya membayangkan mereka hanyalah manusia biasa yang bersekolah, menggendong tas, bercanda dengan teman-temannya dan kedinginan menatap daun-daun berguguran. Apakah ketika itu mereka tahu, bertahun-tahun kemudian, setiap kata, tindakan atau keputusan mereka akan berpengaruh bagi dunia?

image

Lamunan saya buyar saat melihat kerumunan turis yang berjalan mendekati sebuah patung dan berfoto bergantian di taman itu. Patung itu berwujud lelaki berjubah wisuda yang sedang duduk dan memegang buku di tangan. Uniknya, setiap orang berusaha memegang telapak kaki kirinya. Pastinya tak terhitung jumlah orang yang melakukan itu, terlihat dari warna kakinya yang telah memudar keemasan.

Turis di sebelah saya memberi tahu, itu adalah patung John Harvard, salah satu pendiri universitas tertua di Amerika itu. Memegang kakinya bisa membawa keberuntungan. Tak ada salahnya mencoba, tetapi saya tidak mau hanya memegangnya:-).

image

MIT : KAMPUS TEKNIK ARSITEKTUR CIAMIK

Tak berhenti sampai di Harvard, napak tilas kampus ternama di Cambridge, berlanjut ke universitas yang selalu digaung-gaungkan oleh dosen-dosen saya di ITB dulu, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Awan-awan hitam yang tadi menaungi, mulai menyingkir membiarkan langit biru pekat bergantung di atas kepala. Suasana bumi terkesan lebih bahagia ketika kami menumpang bus dari Harvard ke MIT. Hanya 20 menit. Lebih bahagia lagi ketika kami sampai dan melihat sulur-sulur arsitektur menakjubkan dari salah satu kampus teknik terbaik di dunia ini.

image

Mula-mula saya terkesima dengan Kresge Auditorium. Berdiri sejak tahun 1955 dan pernah menjadi ikon arsitektur pertengahan abad ke-19, auditorium ini adalah tempat pelaksanaan acara formal, konser dan bahkan pernikahan mahasiswa-mahasiswa MIT. Di mata saya, wujudnya tak ubah kerang yang sedang mengintip, memperlihat isi-isi perutnya.

image

Simmons Hall. Mungkin ini adalah asrama-mahasiswa paling unik di seluruh dunia. Bentuknya bagai lego. Tapi jangan salah, gedung bernilai Rp900 miliar dan rumah bagi sekitar 400 mahasiswa MIT ini pernah disebut sebagai “the most beautiful piece of architecture” di Boston, tahun 2004 silam.

image

Mencari gedung ketiga bukan hal gampang. Kami sempat tersesat meskipun GPS dan suara siri terus menuntun. Namun, siapa yang kesal saat tersesat, jika yang dilihat adalah para tentara yang sedang melakukan penelitian tentang misil, gemerisik ilalang di tengah kampus, dan laboratorium dengan pemandangan yang dramatis.

image

image

Dan sampailah kami di gedung ketiga. Ray and Maria Stata Center. Inilah arsitektur yang paling saya kagumi di MIT. Rupanya merefleksikan pemikiran dan kerja keras. Patahan-patahannya bagai meneriakkan kebahagiaan sebuah temuan. Wajar jika jurusan Ilmu Komputer dan laboratorium Artificial Intelligence MIT bermarkas di sini.

 image

KE KAMPUNG KENNEDY

Udara menjadi sangat dingin. Pukul 5 sore, matahari perlahan-lahan terbenam setelah kami mengunjungi lokasi bom Boston yang telah pulih dan melihat lelaki-lelaki paruh baya bermarathon, menuju garis finish Boston Marathon yang selalu terpajang di jalan.

image

Letih rasa kaki berjalan seharian. Namun, itulah inti travelling. Melihat langsung segalanya, merasakan segala hal, mematri memori sebanyak mungkin.

Langit sudah hitam ketika kami menerjang jalanan kota, yang saat itu penuh uap bekas tersiram hujan dengan mobil sewaan kami. Sepanjang jalan, saya dan Aryo sibuk menceritakan pengalaman yang lumayan banyak seharian tadi.

Dari Boston, kami berencana nyetir satu setengah jam dan menginap di Hyannis, Cape Cod, , kota tempat kediaman keluarga Kennedy. Sang mantan Presiden fenomenal, John F. Kennedy, pernah tinggal dan menghirup keindahan Amerika di setiap musim panas kota ini.

Rasanya saya tidak sabar menunggu hari esok yang akan membawa saya  ke salah satu semenanjung paling indah di Massachusetts yang berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik.

 

image

Bersambung ke “Lautan Mimpi di Cape Cod”

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat