Dunia Tanpa Women’s March?
Jutaan orang di Amerika Serikat kembali turun ke jalan di kota-kota
AS menuntut hak-hak perempuan dalam unjuk rasa besar bertajuk Women’s
March. Barangkali buat orang awam, ajang ini (juga seperti di Jakarta
pada 2017) nampak seperti parade perempuan membawa poster warna-warni.
Hanya ikut-ikutan, hanya seru-seruan. Namun isinya lebih dari itu.

Figure 1: Ribuan orang berunjuk rasa di New York, utamanya mengutuk pelecehan seksual terhadap perempuan. Unjuk rasa juga mengkritik kebijakan imigrasi dan pemerintahan Presiden Trump secara umum. (Naratama/VOA)
Jika saya dilahirkan sebagai perempuan, pasti hidup saya akan sepenuhnya berbeda. Barangkali saya tidak diutamakan untuk kuliah karena orangtua saya menganggap pendidikan tidak penting buat saya, dan juga saya diharapkan akan berakhir jadi ibu rumah tangga. Barangkali saya akan dituntut bisa memasak, menjahit, dan mengasuh anak – karena hanya itulah harapan yang ada di benak masyarakat.
Kalau pun saya
bekerja, tidak semua bidang pekerjaan menilai saya berdasarkan
kemampuan. Jadi peneliti, apalagi ilmu-ilmu eksakta, barangkali hanya
mimpi. Belum lagi gaji yang lebih rendah ketimbang laki-laki. Dan, oh,
tidak dipercaya jadi pemimpin? Tidak kaget. Semuanya jadi lebih berat
karena pekerjaan menjadi beban ganda. Jika pulang ke rumah, saya harus
mengurus anak karena suami saya tidak mau melakukannya.

Figure 2: Ibu saya bekerja di Departemen Penerangan pada 1980-an sambil membesarkan dua kakak saya.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang mengomentari baju yang saya enakan. Masyarakat mendikte saya harus pakai atau jangan pakai baju tertentu, tanpa memperhatikan kehendak saya. Kalau lewat gang sempit bisa disiul-siul oleh orang ganjen. Kalau orang ganjen itu berbuat kurang ajar–misalnya memegang tubuh saya tanpa izin–malah saya yang dibilang gatel.
Semua hal di atas tidak saya alami sebagai laki-laki. Saya bisa menyebutnya keberuntungan. Padahal sebetulnya saya diuntungkan oleh patriarki, di mana laki-laki dianggap lebih unggul dari perempuan. Di mana perempuan harus berjuang dua kali lipat hanya untuk mendapatkan yang laki-laki terima cuma-cuma. Inikah dunia yang kita dambakan?
Mereka yang mengalami beban ganda itu bukan
hanya perempuan di Amerika Serikat. Mereka adalah orang-orang terdekat
di sekitar kita: teman-teman perempuan, kolega, bibi, saudara, juga ibu
kita sendiri. Hak mereka diinjak, hidupnya dipersulit, supaya laki-laki
berdiri lebih tinggi. Bukankah ada yang salah dengan itu semua?

Figure 3: “Perempuan yang berdaya harus memberdayakan perempuan lain,” tulis poster yang saya pegang. Poster milik teman saya, Michelle Winowatan, mahasiswa pasca-sarjana New York University, dalam Women’s March di New York. (foto: Michelle Winowatan)
Itulah kenapa saya ikut Women’s March baik di Jakarta pada 2017 dan New York pada 2018. Sebab saya tahu sudah terlalu lama dibuai, diberi tipu daya, akan segala kemudahan dalam hidup yang ternyata mengorbankan orang lain. Sudah saatnya perempuan dihormati sejajar, berdampingan, dengan laki-laki.
Saya
memimpikan suatu masa ketika Women’s March tidak dilaksanakan. Bukan
karena tidak penting, namun karena kesetaraan memang sudah tercapai. Yakni
ketika semua orang—perempuan, laki-laki, siapapun—bisa menghormati,
berkolaborasi, dan berkompetisi secara adil tanpa melihat gender atau
jenis kelamin lagi.[]
Rio Tuasikal
@riotuasikal
rtuasikal@voanews.com
Pengalaman Mencari Teman di Washington DC
Datang ke Amerika Serikat dengan program PPIA-VOA Fellowship tidak berarti saya hanya bekerja. Pertemanan pun sangat berharga ketika menghabiskan satu tahun di kota ini.
Sebelum saya berangkat, saya sudah tanamkan niat untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Saya ingin memperluas lingkaran internasional saya, di samping orang Indonesia. Apalagi saya akan tinggal di salah satu kota paling beragam di dunia, dengan orang dari lebih 100 negara.
Awalnya saya sedikit kuatir dan gugup. Bagaimanakah caranya mencari teman dari nol di kota yang asing? Apakah saya akan bisa terintegrasi dengan masyarakat DC? Apakah saya akan diterima? Dapatkah saya mengatasi jurang budaya dan bahasa?
Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benak saya sampai suatu hari mbak Vina Mubtadi, teman di VOA, memberikan ide mencari teman.
“Kamu coba install Meet Up app,” ujarnya suatu malam. “Aku juga bertemu kelompok ibu muda yang sama-sama membesarkan anak.” Aplikasi itu merupakan gerbang buat saya menemukan komunitas-komunitas (yang seluruh kegiatannya gratis) berikut.
1. Georgetown Library English Conversation Group

Figure 1. Lintas-budaya di kelas percakapan. (Foto: Georgetown Library English Conversation Group)
Saya ingin meningkatkan kemampuan percakapan bahasa Inggris saya. Di sini, profesor politik dari Georgetown University, Catharin Dalpino, jadi relawan yang memimpin diskusi. Setiap Selasa malam, Catharin menyediakan dua artikel dari media massa terkemuka untuk kami baca dan diskusikan, mulai dari politik sampai budaya. Pesertanya? Orang-orang dari seluruh dunia, baik itu mahasiswa, au pair, ibu rumah tangga, dan profesional, dengan berbagai level kemampuan bahasa Inggris dari malu-malu sampai berpengetahuan luas.
2. “English Weekend”

Figure 2: Piknik ke Rehoboth Beach, Delaware, entah kenapa harus banget foto sama bendera Maryland haha
“English Weekend adalah lingkaran pertemanan yang saya dapatkan dari Georgetown Library. Ada Jose (Venezuela), Emma, Camila, dan Alejandra (ketiganya Colombia), ditambah Francesca (Italia) dan Darliany (Brazil). Bersama mereka, saya bisa merasakan piknik ke Georgetown Waterfront, mengunjungi museum, pergi ke Rehoboth Beach di Delaware, sampai karaoke di Chinatown. Karena Venezuela dan Colombia berbahasa Spanyol, kadang saya harus menjadi wasit dan mengingatkan 4 teman saya untuk tetap menggunakan bahasa Inggris haha..
3. Adventuring Outdoors Club

Figure 3. Hiking ke Harpers Ferry, foto ini diambil di bagian West Virginia (Foto: Adi Szarenski)
Seperti ketika tinggal di Jakarta, saya ingin tetap hidup aktif ketika di Washington. Kelompok ini adalah para pecinta hiking dan jalan-jalan. Bersama mereka saya menelusuri C&O Canal Lock 70 di Oldtown, Maryland. Kemudian naik tiga gunung di Harpers Ferry, West Virginia, yang sangat indah. Mereka rutin menggelar kegiatan setiap Sabtu dan Minggu, baik jalan keliling kota atau naik gunung.
4. DC Front Runners

Figure 4. Lari “Holiday Run” harus pakai aksesoris khas liburan akhir tahun. Anggap kami kelompok peri yang bekerja di rumah Sinterklas. (Foto: Marcel Acosta)
Kelompok satu ini lebih seru lagi karena menggelar
lari seru setiap akhir pekan. Tiap minggu kira-kira ada 20-30 orang, dari
pelari pemula sampai yang sudah ikut marathon, yang menyusuri jalur lari
sekitar Washington DC: seperti Rock Creek Trail, Potomac River, dan The
National Mall. Saya baru bergabung dua kali, namun kehangatan mereka membuat
saya ingin datang terus.
5. Alumni Fulbright

Figure 5. Foto di tengah suasana Thanksgiving (foto: Virginia Gunawan)
Lingkaran ini tercipta dari teman dan juga
rekan kerja saya Virginia Gunawan yang merupakan alumni fulbright. Satu kali dia
mengundang dua puluhan teman sesama alumni untuk bertemu dan merayakan
Thanksgiving. Berbincang dengan mereka sangat membuka wawasan karena ada yang
merupakan peneliti (asal Brazil) di bidang kebijakan inovasi sampai mahasiswa
hukum (asal Belgia) yang fokus dalam isu hak asasi manusia.
Di lingkaran pertemanan mana pun, selalu ada hal yang menarik. Apalagi jika kita menjadi satu-satunya orang Indonesia di antara orang asli Amerika. Kemampuan percakapan sangat diuji di sini. Namun tak perlu takut, karena mereka mengerti kita sebagai penutur kedua bahasa Inggris, mereka akan berbicara lebih jelas dan mendengarkan kalimat kita meski ada salah sedikit.
Mencari teman di Washington DC, atau kota mana pun di
seluruh dunia, sebetulnya mudah. Semuanya bisa dimulai dari mengikuti kegiatan
komunitas yang bisa dicari di Google atau aplikasi seperti Meet Up. Orang-orang
di komunitas biasanya ramah dan terbuka, sehingga kita tidak perlu merasa
canggung. Pertemanan selalu tersedia, tinggal apakah kita mau menjemputnya.
Rio Tuasikal
rtuasikal@voanews.com
@riotuasikal
Bolehkah Kita Pakai Kostum Moana untuk Halloween?
Sejak sebulan belakangan, linimasa media sosial ramai dengan perdebatan ini. Satu pihak berargumen ini adalah “cultural appropriation”. Karena dengan memakai baju Moana, kita memakai produk kebudayaan Pasifik dan menggunakannya untuk lucu-lucuan. Tapi kemudian ada pula yang bilang bahwa itu lebay. Bahwa jika ada yang suka dengan karakter Moana, pakai saja kostumnya untuk Halloween.

Figure 1: Artikel Daily Mail yang mengupas bias di balik kostum Halloween.
Sebetulnya, tidak ada jawaban mudah. Dari kedua spektrum di atas, ada area abu-abu yang sangat luas. Kita harus melihatnya dalam kerangka yang lebih besar.
Istilah cultural appropriation memang menjadi ramai belakangan ini. Di Amerika Serikat, terutama menjelang Halloween, akan ada perdebatan tahunan tentang apakah ini appropriation atau bukan. Seperti misalnya kostum Pocahontas untuk anak-anak yang dikeluarkan Disney.
Cultural appropriation terjadi ketika orang dari kelompok yang diistimewakan (privileged) mengambil bagian dari kebudayaan lain yang marjinal atau minoritas, dan menggunakannya untuk keuntungan diri sendiri, tanpa pengetahuan mengenainya, di luar konteks dan maksud kebudayaan itu.

Figure 2: Kampanye “kami kebudayaan, bukan kostum” mendorong kesadaran akan cultural appropriation.
Lalu jika ada anak perempuan kulit putih menggunakan baju Moana, bagaimana? Okelah kalau memang anak tersebut menyukai karakter Moana. Kita tidak perlu memarahinya. Tetapi apakah orangtuanya mengerti bahwa baju tersebut dalam kebudayaan Pasifik adalah sesuatu yang bernilai, bukan sekedar kostum Halloween untuk lucu-lucuan saja? Di samping itu, bukankah film Moana sendiri merupakan eksploitasi raksasa Disney terhadap kebudayaan asli Pasifik?
Apakah ini berarti satu produk kebudayaan hanya boleh
digunakan oleh orang dari budaya tersebut? Tidak juga. Pertukaran kebudayaan
sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak Marcopolo menjelajahi jalur sutra sampai
ke Cina kuno dan menemukan mie, keramik, dan lainnya. Apalagi di saat dunia
terhubung lewat teknologi, komunikasi, dan imigrasi, mustahil kebudayaan
eksklusif menjadi milik komunitas aslinya saja.
Di Mana Batas Appropriation dan Appreciation?
Semua orang pasti terpapar budaya asing: anime Jepang, film hantu Thailand, makanan Timur-Tengah, bahasa Skandinavia, atau musik Afrika. Bisa jadi ada yang menyukai produk kebudayaan lain. Hal ini alami, wajar, dan sah dilakukan.
Lalu di mana batasannya antara appropriation dan appreciation? Jawabannya terletak pada niat. Tapi bagaimana membaca niat ini? Hal itu terefleksi dalam sikap kita selama ini terhadap budaya lain.
Ketika kita menggunakan kebudayaan orang lain, apakah kita memperlakukannya dengan penuh hormat? Apakah kita memang mengagumi kebudayaan tersebut, mempelajari makna-makna di belakangnya, atau cuma sombong dan memakai kostum untuk seru-seruan saja? Pikirkan kesan yang akan orang tangkap: apakah orang akan mengagumi atau mengolok-olok budaya itu?
Baiklah. Ini saatnya studi beberapa kasus. Bagaimana dengan Mas Memet, asli Amerika, yang senang menggunakan batik karena dia pernah tinggal di Banyuwangi? Lalu bagaimana jika orang Mexico menggunakan baju sari untuk datang ke pernikahan temannya yang India?

Figure 3: Matthew “ Memet” Delaney mengajar bahasa Inggris di Banyuwangi, Jawa Timur, selama dua tahun lewat program Peace Corps.
Kita perlu pahami bahwa setiap kasus itu unik. Namun kita bisa melihat mereka telah menggunakannya sesuai peruntukannya.
Kemudian teman saya yang asli Bangka Belitung sangat mencintai musik country dan bahkan telah menciptakan sejumlah lagu country bersama teman Amerikanya? Bagaimana jika Silvia Smart, asli Amerika, membuka sekolah pencak silat di Beaverton, Oregon? Atau orang kulit hitam yang datang ke museum untuk melihat karya seni Jepang?

Figure 4: Zay Nova, asli Bangka Belitung, menekuni musik country sejak remaja.
Kita bisa melihat mereka telah mendedikasikan waktu untuk mempelajari kebudayaan itu. Selain itu, dengan mengobrol, kita dapat mengetahui apakah mereka mengagumi kebudayaan itu atau sebaliknya. Mereka bukan lucu-lucuan. Dengan demikian, kita dapat berkesimpulan, mereka menggunakan budaya orang lain dengan pantas.
Bagaimana dengan @londokampung yang dengan logat Jawanya membuat video mengetes orang Jawa berbahasa Inggris dan menertawakan mereka yang tidak lancar? Bagaimana jika saya yang bukan orang Papua menggunakan koteka untuk lari Marathon? Tentu kita sudah tahu jawabannya.

FIgure 5: Dave Jephcott membuat video komedi tentang kendala bahasa yang dialaminya ketika berbicara dengan orang yang tidak fasih berbahasa Inggris.
Ini bukan soal seru atau apa. Ini soal bias implisit, baik itu rasisme, seksisme, imperialisme, kolonialisme, prasangka, stigma, dan bentuk ketidakadilan pikiran lainnya.
Maka, ketika kita ingin pakai kostum Moana untuk Halloween,
tanyakan pada hati kita sendiri, apakah kita memperlakukan kebudayaan itu
dengan hormat? Putuskan dengan bijak. []
Rio Tuasikal
rtuasikal@voanews.com
Belajar Hijau dari Portland
Kota Portland, Oregon, adalah contoh kota idaman dari segi tata kota. Bangunan ramah lingkungan, transportasi publik masif dan terintegrasi, plus kesadaran warga akan kelestarian alam. Ditambah 400 hektar taman kota, terluas di Amerika Serikat. Tak aneh jika kota seluas 375km2 (dua kali Kota Bandung) ini selalu masuk 10 besar kota paling hijau di dunia.

Figure 1. Portland skyline - Kawasan downtown Portland dilihat dari kejauhan.
Kota
berpenduduk 583 ribu orang (kurang lebih seperti populasi Pontianak)
ini memang dikenal berkomitmen tinggi terhadap isu hijau. Di kota
ini, pemerintah menyediakan transportasi publik: bus, kereta listrik, kereta
ringan dengan panjang jalur total 100 kilometer, street car di pusat
kota, penyewaan 600 sepeda, bahkan kereta gantung – semua
guna mengurangi penggunaan mobil pribadi.
Selain itu, pejalan kaki juga dimanjakan. Berbekal cetak biru fasilitas pejalan kaki sejak 1991 – yang menjamin
trotoar lebar, aman, dan pendek-pendek – kota ini masuk jadi salah satu kota dengan tingkat walkability (layak-jalan) tertinggi. Walkability
ini berarti kita hanya perlu jalan kaki untuk mencapai seluruh keperluan
sehari-hari – toko, tempat kerja, dan lainnya – atau setidaknya sampai
ke transportasi publik.
Portland
makin meneguhkan citranya sebagai kota ramah lingkungan ketika
membangun jembatan Tilikum. Jembatan ini khusus untuk bus, kereta,
sepeda, pejalan kaki, dan justru melarang mobil – pertama di Amerika
Serikat yang demikian.
Video 1. Tilikum Bridge “jembatan orang-orang” diambil dari bahasa Chinook, masyarakat asli Oregon, 14 abad silam.
Apa Yang Bisa Dipelajari dari Portland?
Kalau ada yang bisa dicontoh dari warga Portland adalah keinginan mereka untuk menggunakan transportasi publik. Bahkan 8 persen
(46 ribu) warga Portland bepergian di pagi hari menggunakan sepeda, tertinggi dibandingkan kota lain di AS.

Figure 2. Warga Portland senang menggowes sepedanya untuk bepergian dalam kota.
Namun
kita akan masuk ke debat kusir tak berkesudahan. Jika ingin mendorong
orang menggunakan transportasi publik dan berjalan kaki, harus
mulai dari infrastruktur atau kesadaran warga?
Ambil
contoh Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia. Orang masih
menggunakan kendaraan pribadi, apalagi
mobil yang isinya hanya satu orang – dan orang itu masih bisa mengeluh
macet. Namun, ketika sebagian orang berbondong-bondong mengantre bus
rapid transit (BRT) Transjakarta, jadwal busnya tidak bisa diandalkan, frekuensinya tidak bisa ditebak.
Pada kasus lain ketika trotoar bagus, justru orang malas jalan kaki. Masih ingat penelitian
Universitas Stanford tentang orang Indonesia sebagai yang paling malas jalan kaki? Memang betul. Orang
lebih memilih motor atau mobilnya bahkan untuk jalan kaki 15 menit
saja. Pernah lihat kawasan SCBD
dan Bundaran HI saat jam makan siang? Ketika mereka harus naik kendaraan
pribadi hanya untuk ke gedung seberang? Atau jajan ke Alfamart?
Alhasil, motor dan mobil tetap memenuhi jalanan.
Namun
regulasi pemerintah DKI Jakarta juga membingungkan. Pemerintah melarang
motor masuk jalan protokol tapi membagi
mobil hanya dengan sistem ganjil-genap. Hal ini menimbulkan pertanyaan.
Sebab yang memakan banyak ruang adalah mobil apalagi jika diisi satu
orang. Sementara motor menjadi penyebab kemacetan jika pengendaranya
tidak sabar sehingga maju terus dan menyebabkan
leher botol arus kendaraan. Di sinilah peran penegakkan hukum jadi
penting, baik bagi motor dan mobil.
Membangun kota ideal buat saya memerlukan tiga elemen utama: infrastruktur, edukasi, dan penegakkan hukum. Semuanya
harus mulai secara berbarengan dan simultan. Hilang satu, yang lain tidak bisa jalan.

Figure 3. Jalur kereta “MAX” sedang melintas di dekat Portland State University.
Infrastruktur harus dibangun secara bagus, supaya orang mau naik transportasi publik, termasuk orang kaya yang punya mobil. Namun secara bertahap, batasi penggunaan kendaraan ke pusat kota, tegakkan aturannya. Bisa mencontoh Barcelona. Sementara aspek kesadaran bisa diserahkan ke kelompok masyarakat seperti Koalisi Pejalan Kaki.
Mungkin 50 atau 100 tahun lagi, kota nyaman buat semua orang bisa jadi kenyataan. Namun upaya itu harus dimulai
dari sekarang. Dan kita bisa belajar dari keberpihakan Portland terhadap transportasi publik.
Musim Panas di Pantai Ocean City!
Musim panas
di Amerika sangat dinanti-nanti banyak orang. Sekolah dan kampus libur dari Juni sampai
Agustus dan banyak orang pergi berlibur. Sederet kegiatan dilakukan orang Amerika, mulai dari piknik dan
barbeque, menonton kembang api 4th of July, olahraga di luar ruangan, sampai
berwisata. Semua itu dilakukan di suhu musim panas Washington DC yang kadang
sangat ekstrem – bisa mencapai 100oF atau 38oC – jauh
lebih panas dari Jakarta yang 35-an oC.
Orang-orang biasanya pergi mengunjungi kota-kota besar seperti New York dan Washington DC atau main ke pantai. Di pantai, orang Amerika suka berjemur untuk tanning sambil melepas penat. Teman saya asal Venezuela, Jose Sanchez, juga tak mau ketinggalan. Dia mengajukan ide berlibur ke pantai sebelum musim panas usai. Akhirnya, saya dan sejumlah teman pun memutuskan menyewa mobil dan pergi ke Ocean City di Maryland.

Figure 1. Ocean City, Maryland, berbentuk pulau panjang dan pipih menghadap Samudra Atlantik. (Google Maps)
Subuh-subuh kami sudah berkumpul di Bandara Ronald Reagan
(DCA), Virginia, untuk mengambil mobil sewaan. Kami semua bertujuh. Ada saya,
Jose asal Venezuela, Fransesca asal Italia, Darliany asal Brazil, serta Camila,
Emma, dan Alejandra asal Colombia. Sebagian saya kenal lewat klub bahasa
Inggris di Perpustakaan Georgetown.
Petualangan pun dimulai! Francesca mengemudikan mobil sementara kami mengobrol terus sepanjang jalan, ditemani pemandangan rural Amerika, yang meski adalah pedesaan tetap terlihat rapih dan resik.
Ocean City merupakan nama kota di negara bagian Maryland, jadi satu dari tiga tujuan utama pantai dari Washington DC bersama Rehoboth City, Delaware, atau Virginia Beach, Virginia. Kota berbentuk pulau pipih sepanjang 14 kilometer ini bisa ditempuh selama kurang dari 3 jam saja.
Kami tiba di pantai pukul 9 pagi dan cuacanya cerah. Kami semua bergegas menggelar kain untuk duduk-duduk dan membuat istana pasir. (Kami meminjam ember kecil dari seorang anak yang duduk di sebelah). Lalu kami berlarian ke arah ombak dan… byur! Dingin!
Baru ingat ini menghadap Samudra Atlantik, yang lebih dingin dari Samudra Pasifik, sangat berbeda jika dibandingkan dengan pantai tropis. (DI titik ini saya tahu kenapa orang Amerika atau Eropa berlibur ke Bali, dan untuk ke sekian kalinya saya semakin bangga sebagai orang tropis). Uh, dan anginnya kencang juga dingin.

Figure 2. Akhirnya ngerasain dikubur di dalam pasir pantai. (Pic: Maria Alejandra)
Tapi mataharinya tetap enak, kok, sampai sampai Fransesca dan Darliany memilih berjemur, sementara yang lain bermain air sambil tergeser arus. Setiap ada ombak, kami selalu bergeser ke selatan. Bahkan usai 5 menit berenang, rasanya kami sudah bergeser 15 meter.
Pelesiran tidak lengkap kalau tidak makan. Kami menyusuri jalanan di pantai dan menemukan Brass Balls Saloon, pujasera yang nampak penuh dengan pengunjung. Dari Philly Steak sampai salmon burger ukuran jumbo, semuanya menggugah selera. Tapi nafsu makan kami sangat tinggi, sampai-sampai setelah makan kami beli funnel cake stroberi yang manisnya gila-gilaan.

Figure 3. Konsumsi funnel cake tidak dianjurkan buat penderita diabetes.
Main pasir sudah, berenang sudah, makan sudah. Oleh-oleh jangan sampai terlupa. Dari macam-macam buah tangan yang dijual, yang paling populer adalah baju-baju, kartu pos, dan magnet kulkas. Dengan desain menarik yang memprofil Ocean Dity, negara bagian Maryland, atau negara Amerika, membuat liburan ini makin berkesan.
Kami menghabiskan tujuh jam saja di Ocean City dan kami kembali pulang dengan Darliany yang kini mengemudi. Perjalanan pulang mencapai 5 jam karena banyak orang menuju ke arah yang sama sehingga sangat macet sebelum masuk Chesapeake Bay Bridge. Tapi itu semua harga yang pantas untuk liburan singkat bersama teman-teman terdekat.

Figure 4. Foto dulu sama bendera Maryland.