“Itu kan mimpi loe dari dulu, No.” Begitulah komentar seorang sahabat, saat saya memberitahu bahwa saya terpilih sebagai salah satu dari dua orang fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 yang akan berangkat ke Amerika.

Sejak dulu saya punya mimpi untuk bisa tinggal di luar negeri selama satu atau dua tahun. Saya ingin sekali merasakan tinggal di negara orang dan mempelajari berbagai hal seperti budaya, adat istiadat, membuka wawasan serta pola pikir, dan last but not least, memperlancar berbahasa Inggris. Salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan adalah melalui beasiswa.

Perjalanan untuk mendapatkan beasiswa ini sebenarnya cukup panjang. Saya yang tadinya lulusan D3 harus melanjutkan dulu ke S1 dengan usaha yang cukup berat karena tidak adanya biaya. Perlu waktu empat tahun bagi saya untuk bisa masuk ke bangku calon sarjana selepas lulus D3. Berbagai pengorbanan pun harus saya lakukan, termasuk melepaskan pekerjaan saya yang sangat saya cintai.

PPIA-VOA Broadcsting Fellowship

Singkat cerita, saya menyelesaikan kuliah Juli tahun 2011 dan resmi menjadi sarjana pada bulan September. Satu pintu akhirnya terbuka untuk berjuang mencari beasiswa. Sambil mencari kerja saya pun semangat untuk mengejar beasiswa. Lalu tanpa sengaja saya melihat ada peluang beasiswa PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 saat saya mengetikkan kata kunci “beasiswa September 2011.”

Persyaratan fellowship ini adalah lulusan Komunikasi, berusia tidak lebih dari 27 tahun, belum banyak berpengalaman di dunia broadcasting dan jurnalistik. Aha! Saya masuk persyaratan. Maka saya mencoba pelan-pelan mengisi formulir beasiswa. Menghubungi orang-orang yang bisa dituliskan namanya sebagai referensi, dan menyiapkan jawaban untuk esai.

Sebagai referensi, saya tuliskan nama orang-orang dekat yakni yang pernah menjadi atasan saya, serta dosen yang menjadi pembimbing skripsi saya. Senangnya, mereka bersedia. Langkah selanjutnya, esai.

Saat akhirnya lulus dari program S1 Ilmu Komunikasi FISIP UI

Nah, untuk yang satu ini bukan perkara mudah. PPIA dan VOA memberikan pertanyaan-pertanyaan yang benar tajam sehingga tidak bisa main-main untuk menjawabnya. Saya sadar bahwa esai adalah kunci sebuah beasiswa. Tanpa membuat esai yang baik, jangan harap kita akan dipanggil untuk wawancara. Sehingga butuh waktu hingga dua hari menjelang penutupan pendaftaran online bagi saya untuk mengirimkan aplikasi.

Kalau ditanya apa tips dan triknya, saya sendiri juga tidak bisa memberikannya. Karena saya tidak tahu kriteria seperti apa yang dicari pemberi beasiswa. Namun, saya akan menceritakan apa yang saya lakukan untuk menulis esai.

Menjawab Esai

Saat itu pertanyaan esai adalah seputar diri kita sendiri, pengalaman, dan juga mengenai pengetahuan umum kita mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Soal diri kita dan pengalaman, yang perlu disiapkan adalah kita harus mengetahui dengan baik mengenai diri kita, apa yang kita inginkan, dan apa yang ingin kita lakukan.

Kalau dirangkum secara singkat, ya, bagaimana visi misi kita dalam hidup. Tunjukkan apa yang kita inginkan dan apa yang telah kita lakukan untuk mencapainya dalam bahasa singkat, jelas, padat.

Pertanyaan lainnya saat itu adalah mengenai komunikasi antar budaya. Wah, pertanyaan ini membuat saya kembali membaca beberapa literatur mengenai komunikasi antar budaya. Tetapi tantangannya adalah bagaimana menghubungkan apa itu komunikasi antar budaya serta tujuannya, dengan pengalaman kita serta apa yang kita inginkan terhadap fellowship ini. Hmmm…terdengar sulit? Tidak juga. Just read! Kita akan bisa memahami serta menghubungkannya dengan baik.

Nah, pertanyaan paling sulit bagi saya adalah mengenai peristiwa yang paling mempunyai dampak besar.

“Dampak buat siapa, No?” Dari sinilah kita harus menentukan lebih dahulu. Dampak kepada siapa? Negara kita? Dunia?

Terus apalagi yang harus kita lakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut? Kalau saya, lagi-lagi saya membaca. Kali ini bukan buku tetapi koran dan situs-situs berita internet. Mulai dari berita nasional hingga internasional.

Setelah kita mengetahui perkembangan mengenai apa yang terjadi di dunia baru kita akan tahu mana yang mempunyai dampak besar dan mana yang tidak.

Untuk anak-anak Komunikasi, khususnya Jurnalistik, pasti bisa memilah-milah berbekal teori yang kita pelajari. Apa yang menentukan news values? Gunakanlah itu untuk memilih peristiwa yang punya impact besar.

Saya dan teman-teman di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI

Apakah saya langsung bisa menjawab pertanyaan tersebut setelah menerapkan cara di atas? Oh, tentu tidak. Saya bingung memilih dua peristiwa yang sama pentingnya. Saya sampai membaca lebih dalam mengenai dua peristiwa yang saya pilih melalui berbagai literatur.

Hingga, mentok!

Saya tinggalkan esai tersebut selama beberapa hari. Sampai suatu hari saya ingat bahwa saya mempunyai dosen dan rekan-rekan kerja yang bisa saya ajak diskusi mengenai hal tersebut. Dosen dan wartawan adalah dua profesi yang bisa membantu kita untuk membuka pikiran terhadap sebuah peristiwa dan berita. Jadi saya kontak mereka dan saya datangi untuk diskusi.

Ini sangat penting dilakukan saat membuat esai. Tunjukan jawaban kita pada mereka, lalu ajak berdiskusi. Mereka tentu tidak akan memberikan jawabannya, tapi mereka akan memberikan pandangan terhadap masalah dari kacamata mereka. Nah ini akan jadi masukan yang sangat baik untuk kita mempertimbangkan sebuah jawaban esai. Saya pun akhirnya bisa menentukan jawaban saya, dan menuliskannya tidak lebih dari 300 kata. 

Wawancara yang Menegangkan

Setelah kurang dari dua hari penutupan aplikasi online, saya pun mengirimkannya. Saya tidak menaruh banyak harapan saat itu. Saya hanya mencoba berusaha yang terbaik dan let God do the rest, alias berdoa.

Waktu pun berlalu, satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Saya akhirnya lupa pernah mengirimkan aplikasi beasiswa. Apalagi jarak satu bulan dari aplikasi tersebut, saya sibuk melakukan tes kerja di sana-sini yang cukup menyita konsentrasi. Saya pun diterima bekerja di sebuah perusahaan media, sehingga tiada hari tanpa bekerja.

Hingga tibalah sebuah hari di bulan Januari 2012. Ada telfon dari nomor tak bertuan dengan angka 0213*****, pada sore hari pukul 5. Ibu Barbara namanya. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang membuat saya terkejut. Saat itu juga Ibu Barbara meminta waktu untuk wawancara melalui telfon dengan dua orang lainnya dari kejauhan.

Saya meminta waktu untuk bersiap. Ibu Barbara menelepon lagi lima menit kemudian dan melakukan wawancara singkat mengenai diri saya serta pengalaman kerja saya. Setelah itu baru saya berpikir, “Oh, iya, kan, saya pernah mendaftar PPIA-VOA Broadcasting Fellowship.”

Ibu Barbara memberi tahu saya adalah satu dari 20 orang yang ditelepon untuk diwawancara melalui telepon. Dan jika terpilih, saya akan menjadi satu dari 10 orang yang akan diminta datang ke kantor VOA Indonesia di Jakarta, untuk melakukan wawancara selanjutnya. Pengumuman ini kalau saya tidak salah, akan diumumkan satu hingga dua minggu ke depan.

Rezeki Tidak ke Mana-mana

Minggu itu akhirnya tiba. Burung-burung dan ayam jadi saksinya.

Lho?

Iya, saya sedang berada di Pasar Barito ketika Ibu Barbara kembali menelepon untuk memberitahukan saya lolos ke 10 besar. Jadwal wawancara akan dikirim lewat email. Ah, tiba-tiba burung-burung di sekitar saya bak bernyanyi dengan riangnya.

Saya kemudian membuka email dan membaca bahwa saya mendapatkan jadwal wawancara di hari kedua dengan empat orang lainnya.

Hmm…saya langsung meng-Google sembilan kandidat lainnya, dan saya mendapatkan informasi mengenai mereka. Wow, ternyata kandidat lainnya hebat-hebat. Ada yang pernah pertukaran pelajar, ada yang juara debat bahasa Inggris, ada yang reporter sebuat televisi berita.

Namun, hanya satu kandidat yang saya tidak bisa temukan datanya. Dan nantinya, dialah yang akan menjadi roomate saya di Amerika.

Benar kata orang, kalau rezeki tidak akan ke mana. Kalau memang rezeki, pasti akan ada jalannya. Wawancara itu jadwalnya tepat dengan hari libur saya, sehingga saya tidak perlu meminta izin dari kantor.

Hari itu Rabu pagi ketika saya datang ke kantor VOA, Jakarta. Begitu sampai, Mbak Alina langsung memberi saya tempat duduk, beberapa lembar kertas, dan sebuah kamus.

“Ini tugasnya menerjemahkan ya. Kamu boleh menggunakan tools apa saja. Buku, internet, boleh kamu pakai,” kata Mbak Alina. Kemudian saya bertanya, “Ini menerjemahkan untuk TV, online, atau cetak?”

“Untuk online,” jawab Mbak Alina. Maka saya langsung segera menerjemahkan dalam waktu 20 menit yang diberikan.

Selesai? Tidak, karena ternyata waktu itu tidak cukup untuk menerjemahkan empat lembar berita. Paling tidak saya sudah mencoba mengisi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Setelah waktu menerjemahkan selesai, saya melihat kandidat-kandidat lainnya keluar masuk ruangan wawancara. Di mana di dalamnya terdapat empat orang. Pak Frans, Ibu Barbara, Ibu Atiek, dan Mas Dian sang juru kamera.

Senyum cerah menghiasi wajah kandidat satu per satu saat keluar dari ruangan. Wah, sepertinya mereka berhasil dengan baik. Kemudian tibalah waktu saya wawancara. Saya dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Dan, saya langsung menarik nafas panjang ketika melihat ada lima orang lainnya dalam sebuah layar kecil di laptop. Ada Norman Goodman, Irna, Helmi Yohanes, Patsy Widyakuswara, dan Nadia Madjid. Orang-orang ternama itu.

Maka pertanyaan pun dimulai. Mengenai diri sendiri, pengalaman kerja, hingga pertanyaan teknis menyangkut jurnalistik. Saya begitu tegangnya hingga hampir tidak bisa berpikir. Pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab dengan baik, malah tidak bisa saya jawab.

Saya mewawancarai mantan kiper timnas Inggris, David James

Otak saya berlomba dengan waktu untuk menerjemahkan jawaban dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan menyampaikannya kepada mereka. Kalimat-kalimat itu pun akhirnya tertahan oleh mulut yang gemetaran. Ah, saya pun terdiam. Saya tahu jawabannya, tetapi saya sama sekali tidak bisa mengeluarkannya. Otak saya serasa beku.

“Ada apa denganmu?” tanya Peterpan. Saya seperti bukan diri saya saat itu. Kepercayaan diri saya entah mengapa menjadi menciut. Saya yang biasanya bisa dengan mudah menyampaikan apa yang ada pikiran tiba-tiba terdiam seribu bahasa.

Saya bukan mau menakuti. Sebenarnya pertanyaannya juga tidak terlampau sulit. Malah berhubungan dengan pekerjaan jurnalis yang sudah biasa saya lakukan. Tapi saya terlalu tegang. Saya sudah sangat menginginkan fellowship ini saat itu. Sehingga saya terlalu banyak berpikir dan merusak mental saya. Ditambah lagi, saya paling tidak suka wawancara melalui media. Entah itu telfon atau skype. Karena saya merasa tidak bisa berbagi emosi. Ini juga yang tidak saya persiapkan. Ternyata saya lebih suka wawancara tatap muka yang memungkinkan saya langsung menatap mata pewawancara.

Memang, persiapan mental saya lupakan saat akan menghadapi wawancara tersebut. Jadi kalau suatu saat nanti kita akan diwawancara untuk beasiswa atau bekerja, mental juga harus dipersiapkan. Bukan hanya jawaban.

Selesai wawancara, saya mengatakan bahwa ini adalah wawancara saya dengan pewawancara terbanyak dan wawancara yang paling menegangkan seumur hidup saya. Wajah pucat pasi menghiasi wajah saya begitu keluar dari ruangan. Mbak Alina pun menawarkan sebuah cake coklat dan sebotol minuman.

VOA tahu saja memberi makanan manis untuk melancarkan aliran darah di tubuh saya. Hahaha. Tanpa basa basi dengan kandidat lain, saya pun tancap gas pulang. Saya memikirkan betapa malunya saya karena sempat “blank” saat menjawab pertanyaan.

Ya, sudahlah, semua sudah berlalu. I did my best. Kalau tidak dapat, ya, bukan rezeki. Itu prinsip saya. Maka saya pun melepaskan beban tersebut. “Legowo” kalau kata orang Jawa. Ikhlas kita menyebutnya.

Ternyata pucuk di cinta ulam pun tiba. PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 adalah rezeki milik saya. Bank Mandiri cabang Ampera kali ini jadi saksi bisunya. Saksi yang tidak bisu tentu para teller, CS, serta nasabah yang saat itu ada di sana.

“Aaaaaaaaaa….” Begitu teriak saya saat Ibu Barbara memberitahukan lewat telepon kalau saya terpilih. Teman saya, teller, dan nasabah lainnya sampai menengok mendengar teriakan saya. Saya tidak bisa berpikir. Aliran darah dalam otak saya seakan berhenti. Mulut saya terkatup sulit berbicara.

“Tell your family, your friends…” Kata ibu Barbara. Akan tetapi, butuh waktu beberapa hari bagi saya untuk bisa turun ke bumi dan meyakinkan diri kalau itu bukan mimpi, serta memberitahukannya kepada keluarga.

Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Bukan hanya saya bisa tinggal di luar negeri, tetapi saya juga bisa mendapatkan beasiswa kerja di bidang yang menjadi passion saya, broadcasting dan jurnalistik. Itulah kisah saya mengikuti proses seleksi PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013. 

Salam,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari