Gedung Capitol Hill, Washington, DC

Symbols of democracy, pinned up against the coast

Outhouse of bureaucracy, surrounded by a moat

Citizens of poverty are barely out of sight

Overlords escape in the evening with people of the night

Morning brings the tourists, peering eyes and rubber necks

To catch a glimpse of the cowboy making the world a nervous wreck

It’s a mass of irony for all the world to see

It’s the nation’s capital, it’s Washington D.C.

Gil Scott-Heron (1 April 1949 – 27 Mei 2011)

 
Lirik di atas berjudul “Washington, DC” digubah pada tahun 1982 oleh Gil-Scott Heron, seorang penyair soul Amerika. Saya teringat lirik lagu tersebut saat mencari inspirasi untuk tulisan pertama di blog ini.  Selain karena sekarang saya sudah berada di Washington, DC, saya juga tertarik dengan kehidupan Amerika yang sering ditulis Heron dalam karya-karyanya. Kalau saya ditanya, apakah lirik di atas masih menggambarkan Washington, DC, sekarang? Saya belum bisa jawab. Hey, I’m new here.
 
Saya tertarik dengan kehidupan di Amerika; segala kemajuannya dan segala kontroversinya. Dibesarkan di Jakarta membuat saya suka dengan beberapa produksi Amerika. Waktu kecil saya suka “Care Bears” dan “My Little Pony,” bahkan masih koleksi sampai sekarang. Ketika remaja saya mulai mengikuti Grammy Awards dan Academy Awards, mendengarkan dan menonton semua nominasi dan pemenangnya. Dari awal kuliah, saya memperhatikan hubungan luar negeri dan kebijakan dalam negeri Amerika, selain juga mengikuti dengan taat beberapa serial TV-nya.  Dan sekarang, saya di sini, di ibu kota Amerika, untuk broadcasting fellowship dari Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika dan Voice of America untuk jurnalis muda Indonesia.

Marsha saat bekerja di Radio Trax FM, Jakarta

Sebenarnya saya sudah mendengar tentang program ini empat tahun yang lalu, tapi memang baru mencoba di tahunnya yang kelima. Ada dua alasan mengapa saya mendaftar tahun ini: 1. Karena waktu itu saya sedang bertugas di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan di losmen tempat tinggal saya tidak ada hiburan, kecuali internet yang lambat dan kebetulan, saya tidak bisa tidur. Lalu, mulailah saya menulis esai sebagai persyaratan fellowship ini. 2. Karena tahun 2012 adalah tahun pemilu di Amerika. Saya pikir, tidak ada yang lebih baik dari meliput proses politik Amerika, langsung dari pusatnya. Washington, DC, is where the world is being run. Begitu yang saya dengar dari banyak orang dan itu yang ingin saya alami.

Proses seleksi fellow terbilang cukup sulit, apalagi saat wawancara. Mungkin itu adalah wawancara yang paling sulit yang pernah saya ikuti. Faktor utamanya, yang mewawancarai adalah orang-orang yang sangat berpengalaman di bidang penyiaran (saya ingat waktu kecil suka melihat Patsy Widakuswara dan Helmi Johannes di TV dan sekarang saya satu kantor dengan mereka). Tapi jangan khawatir kalau tahun depan ingin mencoba.

Yang penting, tahu berita-berita terkini di Indonesia dan di dunia, khususnya di Amerika dan (mungkin ini aneh, tapi ternyata benar) harus cakap berbahasa Indonesia. Ya, karena nantinya kan, kita bekerja untuk VOA Indonesian Service yang penyampaiannya dalam bahasa Indonesia. Sebagai tambahan, seperti halnya wawancara kerja atau beasiswa, kita harus meriset visi dan misi organisasi yang mewawancarai, supaya semua jawaban kita berbenang merah dengan organisasi tersebut. Intinya menurut saya ketika wawancara: just stay current and stay relevant. Who knows next year you will be able to stay in DC. A big break with VOA awaits you!

Persiapan pergi ke Amerika, bagi saya lebih ke persiapan mental. Soalnya ini pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri untuk waktu yang lama dan jauh dari support system saya di Jakarta; keluarga, teman-teman dan pacar. Sampai hari-H berangkat sebenarnya saya belum siap juga. Sempat bilang ke fellow yang satu lagi, Retno Lestari, “Eno, gue kayanya harus dilempar aja ke dalem pesawat deh biar siap.” Dan alas, itu lah yang terjadi, akhirnya saya siap juga.

Perjalanan ke Amerika… oh dear, saya hanya bisa bilang dalam satu kata: dramatis! Dimulai dari pesawat yang telat berangkat dari Hong Kong ke Jakarta, karena cuaca buruk di sana. Seharusnya saya berangkat jam 12 tengah malam, tapi akhirnya boarding jam 4 pagi. Itu pun hanya boarding, karena kapten pesawat masih harus dibujuk agar mau menerbangkan pesawat untuk kembali transit di Hong Kong. Setelah hampir empat jam, pesawat menunjukkan tanda-tanda akan mendarat, saya kira sudah sampai di Hong Kong, ternyata pendaratan darurat di Manila karena awak pesawat terlalu lelah untuk melanjutkan penerbangan. Akhirnya kita terpaksa duduk di dalam pesawat selama tiga jam, sampai tim awak pesawat yang baru tiba di Manila dari Hong Kong (if you think the airport drama stops here, think and read again).

Dalam penerbangan menuju Hong Kong.

Sesampainya di Hong Kong, kita hanya punya kurang dari satu jam untuk mengejar penerbangan ke New York, padahal saya tahu, airport Hong Kong itu sangat luas dan waktu kurang dari 1 jam tidak mungkin untuk mengejar penerbangan. Setelah lapor ke petugas maskapai, mereka bilang, mereka akan mengurus jadwal baru penerbangan domestik dari New York ke DC. Langsung lah saya lari menuju pesawat. Sesampainya di New York (Wow, was I really in New York? It still feels surreal!) antrean imigrasinya sangat panjang, jadi sekali lagi, saya ketinggalan penerbangan penghubung. Nama saya dan Retno dipanggil untuk lapor ke ticketing counter dan kami diberi voucher menginap di hotel, karena penerbangan ke DC baru ada keesokan paginya. Pontang-panting kami membawa koper yang beratnya sekitar 50 kg ke halte bus untuk menunggu shuttle service hotel. New York dingin sekali malam itu, dan kami harus menunggu di halte selama sejam. Sesampainya di hotel, petugas hotel bilang kamar sudah habis. Kami diminta balik lagi ke bandara untuk ambil voucher baru. Sesampainya di bandara, ticketing counter sudah tutup dan akan buka kembali pukul 4 pagi. Beruntung, saya bertemu empat orang Indonesia yang juga bernasib sama. Mereka awak kapal pesiar yang ketinggalan pesawat menuju Miami. Disitu, filosofi universal yang saya percayai terbukti; God is good and people are basically good too. Saya dan Retno diberikan kamar di hotel bintang lima untuk beristirahat, walaupun hanya untuk dua jam.

Setelah kembali ke bandara, kami masih harus menunggu ticketing officer datang. Yang katanya buka jam 4, ternyata baru buka jam 7 lewat. Di situ lah, saya menguji kemampuan berbahasa Inggris saya. Teman saya pernah bilang, “Loe belum jago bahasa Inggris kalau loe belum bisa lancar marah-marah pakai bahasa Inggris.” Karena saya terlalu lelah, saya tidak sampai marah, hanya “complain” berlebihan. Akhirnya kami dapat penerbangan jam 8.20, rasanya senang sekali! tapi sesampainya di terminal penerbangan domestik yang cukup jauh itu… (guess what, the drama continues. keep reading), kami tidak diperbolehkan naik pesawat karena ada peraturan bagasi sebanyak yang kami bawa tidak bisa dimasukkan pesawat kalau jadwal penerbangan kurang dari sejam lagi. Akhirnya, kami pasrah mendapatkan penerbangan jam 2 siang. Pada tiket tercetak kami harus menunggu di Gate 5, ternyata mereka salah tulis. Yang benar adalah Gate 23. Dengan sisa tenaga, kami lari ke gate yang dimaksud. Lega sekali ketika sudah di dalam pesawat. Tapi (lagi-lagi) kami harus menunggu sejam di dalam pesawat, karena pesawat mengalami kerusakan. Secara keseluruhan, kami menghabiskan lebih dari 3 hari sampai akhirnya tiba di DC.

Katanya pengalaman adalah guru terbaik. Karena saya orang Indonesia, mungkin saat perjalanan dari Jakarta ke DC, saya dapat “guru” honorer yang sedang uring-uringan karena tidak juga dijadikan pegawai negeri, but overall it was an awesome trip. Kalau tidak ada pengalaman itu, belum tentu ada yang diceritakan di blog ini. Karena, katanya lagi, yang terpenting itu perjalanannya, bukan tujuannya.

Bicara soal pegawai negeri, di VOA saya menjadi federal contractor dan bekerja di dalam kantor pemerintah Amerika. “Menarik,” itu yang kata yang muncul ketika pertama kali masuk kantor, dan itu adalah kata yang selalu saya pakai ketika saya sebenarnya belum punya pendapat. Haha. Tapi ternyata memang menarik. Saya bekerja di satu gedung yang terdiri dari banyak sekali ruangan dari berbagai layanan bahasa di dunia. Saya selalu suka bekerja di tempat yang multikultural. Ternyata, saya senang berada di sini.

Setelah tiba di bandara JFK, New York. Ini toh, yang namanya Amerika!Ini adalah tulisan blog pertama saya untuk VOA. Sebenarnya, ini adalah blog pertama saya seumur hidup. Semoga betah di sini! Untuk saya, semoga (sepertinya pasti) betah tinggal di DC dan untuk kamu, semoga betah membaca blog ini. Let’s catch up again next week!   

Love,
Mars 

sryadi@voanews.com 
@marsuryawinata

  1. hidayatfami reblogged this from myyearatvoa
  2. myyearatvoa posted this