It’s been a long, a long time coming
But I know a change gone come
Sam Cooke (22 Januari 1931 – 11 Desember 1964)
Ini adalah minggu ketiga saya bekerja untuk VOA dan tinggal di Washington, DC. Adakah yang berubah? Kecuali diri saya, semuanya berubah. Change has come.

Dari dulu saya selalu membayangkan betapa nyamannya kalau bisa tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor, pulang-pergi jalan kaki, di perjalanan menuju kantor bisa melewati taman yang bersih, udaranya tanpa polusi, semua orang sopan di jalan.
Semua menunggu gilirannya lewat dan tidak ada yang bersiul mencoba mengganggu. Lalu, sepulangnya dari kantor, saya masih punya waktu untuk olah raga, memasak dan membaca buku sebelum akhirnya tertidur pulas tanpa harus merencanakan untuk bangun beberapa jam lebih awal agar tidak telat sampai ke kantor.
Sekarang, semuanya itu menjadi keseharian saya. Selain nyaman, hidup juga lebih efisien:
Jalan kaki dari apartemen ke kantor: 15 menit
Jalan kaki dari apartemen ke toserba: lima menit
Jalan kaki dari apartemen ke stasiun Metro: lima menit
Mencuci pakaian di ruang laundry apartemen: 35 menit. Mengeringkan: 45 menit
Tidak ada lagi antrean TransJakarta yang tidak bisa diprediksi durasinya, tidak ada lagi malas masak karena minimarket dekat rumah tidak menjual sayuran segar, dan tidak ada lagi “acara” melongok ke atas untuk memastikan apakah matahari akan muncul untuk mengeringkan pakaian saya.
Tetapi, teman-teman saya di sini juga (masih) bisa dihitung.
Tantangan terbesar ketika awal tinggal di Amerika adalah banyak sekali urusan administrasi yang harus dilakukan sendiri. Mulai urusan imigrasi, pekerjaan, tempat tinggal sampai nantinya, urusan membayar pajak. Rasanya seperti memulai kehidupan yang benar-benar baru. Beruntung, teman-teman yang bekerja di VOA Indonesian Service sangat membantu saya dalam beradaptasi. Misalnya, mereka rela menunggu berjam-jam di bandara untuk menjemput saya (ingat kan, cerita saya soal perjalanan ke DC yang dramatis?). Mereka juga mau menemani saya membuka rekening bank yang banyak persyaratannya. Di luar jam kantor, mereka suka mengajak saya ke tempat-tempat hiburan. Dari tempat-tempat itu lah saya bertemu teman-teman baru.
Orang-orang yang saya temui di jalan mau pun di tempat-tempat yang saya kunjungi, sopan dan ramah. Saya mau cerita soal keramahan. Orang-orang di sini tidak sungkan untuk tersenyum dan sekedar mengucapkan, “How’s it going?” atau “Hey, how are you?” padahal tidak saling kenal, kemudian lewat begitu saja dengan mengucapkan “Have a good day!” atau “You take care of yourself, okay!” Bahkan, salah seorang satpam gedung VOA yang berkulit hitam dan berbadan besar, selalu menyapa saya dengan ucapan, “Selamat pagi, sampai jumpa lagi!” Walaupun hanya kata-kata itu yang dia tahu, tapi setidaknya dia berusaha untuk membuat saya senang ketika memulai hari. Little things count a great deal.

Sekarang saya mau cerita soal kesopanan. Kamis minggu lalu saya berkesempatan untuk datang ke sebuah konser. Tidak bisa dipungkiri, salah satu keuntungan tinggal di luar negeri bagi pencinta konser seperti saya adalah; banyak konser dan tiket murah, hehe. Konser ini diadakan di 9:30 Club dia daerah U Street. Saya pergi ke sana sendiri usai siaran dan ini pengalaman pertama saya nonton band di Amerika. Sebenarnya ketika pertunjukan, saya langsung rindu teman-teman saya di Jakarta dan crowd yang biasa saya temukan. Mereka seru, banyak berinteraksi dengan sesama dan tidak malu untuk nyanyi bersama. Disini, penonton konser cenderung diam dan asik sendiri. Itu nilai minusnya menurut saya. Tapi nilai plusnya adalah: tidak ada yang memotong antrean masuk atau memaksakan diri untuk menerobos sampai ke depan barikade. Tidak ada orang yang mengambil tempat orang lain. Semua sopan dan tertib.
Saya juga berkesempatan melongok pergaulan anak muda di Washington, DC. Seusai piknik VOA (lihat tulisan blog Retno, “We Are Family”). Sebuah malam, saya dan teman-teman pergi ke sebuah bar di daerah Adams Morgan. Menurut saya, orang-orang Amerika itu tidak sepandai orang Indonesia dalam berbasa-basi. Silakan menilai pendapat saya barusan dari kacamata positif atau negative. Hehe. Bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba ada yang mengajak berkenalan. Saya mengalami itu. Ada pria yang menghampiri dan memulai percakapan.
Dia: “Excuse me, I couldn’t help but notice you. Are you here with someone?”
Karena saya tidak mau mengambil resiko, saya tanggapi dengan lekas
Saya: “I’m afraid I am. Sorry”
Dia: “Oh sorry, my bad.”
Kemudian pria random itu pergi. Orang-orang di sini memang pintar mengutarakan apa yang mereka mau dengan ringkas dan tidak berbelit-belit. Dan mereka bisa menerima penolakan dan perbedaan ekspektasi atau perbedaan pendapat dengan baik. Percakapan saya di atas adalah contoh sederhananya.
Sebelum akhir pekan lalu berakhir, saya menyempatkan diri untuk ke daerah Dupont Circle. Disini lah saya merasa saya mulai menikmati tinggal di DC. Sebabnya, saya menemukan toko buku yang koleksi literaturnya sangat lengkap. Di Kramerbooks dan Afterwords, saya menemukan buku yang sudah bertahun-tahun saya cari. Senangnya bukan kepalang. Hari itu saya tambah senang karena ada acara Dance Circle di taman. Disitu, dari balita, kakek-nenek sampai transgender menari bersama dan disitu saya merasa nyaman. Akhirnya saya tinggal di sebuah kota di mana energinya sangat positif dan orang-orangnya sangat menikmati hidup.
Well, that’s it for now. Sepertinya saya sudah kepalang menulis blog pertama dan kedua saya dengan diawali lirik lagu dan sepertinya akan terus begitu. Selain memudahkan saya untuk menulis, saya berharap ini juga bisa memudahkan kamu untuk ikut merasakan “My Year at VOA.” -
Love,
Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata
-
myyearatvoa posted this