Sudah hampir sebulan saya dan Marsha bekerja di VOA. Banyak hal unik, menarik, menyenangkan, serta lucu yang kami temukan di kantor VOA. Bukan saja orang-orangnya, tetapi juga tempatnya.

Pengamanan Ketat

Kantor VOA ada di gedung Federal Wilbur J. Cohen. Untuk masuk ke sini setiap orang akan diperiksa dengan ketat, kecuali bagi mereka yang telah mempunyai ID tetap. Lalu bagaimana dengan saya dan Marsha? ID kami adalah ID sementara, yang berlaku hingga satu tahun. Karena status ID ini, maka setiap hari kami harus masuk gedung dan meletakkan barang-barang kami di sebuah alat dengan monitor pendeteksi, persis seperti di bandara. Barang-barang elektronik seperti kabel, charger, ponsel, baterai, dan lain-lain, harus di keluarkan dari tas dan diletakkan di tempat terpisah yang telah disediakan. Kemudian tas serta jaket yang kami kenakan juga harus di lepas dan di masukkan ke alat detektor tersebut.

Cukup? Tentu tidak. Jika kami melewati metal detector (bentuknya kotak seperti seperti pintu) dan berbunyi maka kami akan diminta untuk melepas benda berlogam yang ada di badan kami. Apa saja? Sepatu, ikat pinggang, bandana besi, ID, jam tangan, hingga jepitan rambut. Yup, sebuah jepitan rambut kecil bisa membuat metal detector berbunyi. Apakah lantas kami harus melepas semuanya? Untungnya tidak. Kami masih boleh mengenakan sepatu. Namun setelah melewati metal detector, kami akan disuruh berdiri merentangkan tangan dan kaki untuk diperiksa menggunakan tongkat metal detector.

Selesai? Belum. Kami harus memperlihatkan ID kami ke security. Proses ini bisa memakan waktu lima menit hingga 20 menit.

Kok, lama? Terkadang banyak orang yang mengantri di depan kami. Dan mereka harus bolak balik membongkar tas mereka untuk mengeluarkan barang-barang elektronik di dalamnya.

Prosedur ini berlangsung konsisten setiap harinya. Beda sekali dengan di Indonesia. Oleh karena itu kami sudah bersiap menghadapi pemeriksaan setiap harinya. Saya bahkan sampai memakai sendal jepit ke kantor karena sepatu saya selalu membuat metal detector berbunyi, dan membuat saya bolak-balik diperiksa.

Satpam VOA Berbahasa Indonesia

Masih soal kemananan. Kali ini soal orangnya. Di kantor VOA, ada beberapa pintu. Tapi kami hanya bisa masuk dari satu pintu saja yang dijaga tiga hingga lima orang petugas. Uniknya, ada seorang satpam berkulit hitam yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Tiap kami lewat, dia akan selalu berkata,

“Apa kabar?”

“Selamat pagi.”

“Selamat siang.”

Lalu saat kami jawab sapaannya, dengan menggunakan bahasa Indonesia, dia  langsung tidak mengerti. Hahaha.


Gedung Bingung

Butuh waktu dua minggu bagi saya untuk menghafal lorong dan bagian di dalam gedung VOA. Gedung VOA ini sangat luas. Sayap kanan dan sayap kiri sama bentuknya.

Kantor Indonesian Service ada di lantai dua. Saya berkali-kali salah belok setelah keluar dari lift. Harusnya ke kiri, saya malah ke kanan. Suatu hari saya bertemu seorang karyawan dari Service lain, dan kami asyik mengobrol. Setelah itu, saya kebingungan mencari ruangan Indonesian Service. Dia berkata, “Hey, you are from Indonesia. Your office is right there. This is Azerbaijan.” Ternyata harusnya saya ke sayap kanan. Mudah-mudahan dia tidak berpikir macam-macam. Hehehe.

Pekerjaan yang saya lakukan mengharuskan saya sering ke lantai G (bawah tanah). Di sana ada studio siaran, ruang editing, dan ruang ENG (Electronic News Gathering). Studio dan ruang ENG letaknya bersebrangan. Dan karena lorongnya terlihat sama, saya sering tertukar. Sampai sekarang pun saya masih suka nyasar.

Sulit Sinyal

Jangan harap karena kantor VOA adalah kantor media, maka sinyal handphone ada di mana-mana. Sinyal hanya ada di ruangan masing-masing Service. Setelah keluar dari ruangan dan masuk ke lorong, maka sinyal hilang. Banyak sekali blind spot di gedung VOA.

Jangan harap bisa bermain dengan smartphone di toilet. Karena sinyal SOS. Jadi, saat kami ada di luar ruangan Service, maka kami tidak akan bisa di kontak. Apalagi ruang editing di lantai bawah tanah yang kedap sinyal. Maka telepon kantor menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan.

Mengapa demikian? Wah, itu yang kami tidak tahu. Ada sebuah cerita tentang gedung VOA yang sudah cukup tua ini. Tapi kami perlu memverifikasi lagi.

 
Ruangan Indonesian Service

Ruangan Indonesian Service sangat besar. Panjangnya kira-kira 25 meter dengan lebar 12 meter. Kurang lebih seluas lapangan basket Internasional. Jumlah pegawai di Indonesian Service kira-kira 60 orang. Kami pikir Indonesian Service adalah yang paling besar. Ternyata, China Branch lebih besar lagi. Seperti menunjukkan jumlah pendudukanya, kan? Hehehe.

Ada apa saja di ruangan Indonesian Service? Tentu seperti kantor pada umumnya. Terdiri dari cubicle, masing-masing dengan PC dan beberapa lainnya dengan komputer Mac. Setiap meja mempunyai headphone sendiri. Karena semua pekerjaan Audio/Video kami lakukan dari meja, sehingga kami harus menjaga audio agar tidak mengganggu rekan-rekan yang lain.

 
Makeup

Satu hal yang membuat saya tersenyum saat masuk ke ruangan Indonesian Service adalah banyaknya alat-alat kecantikan, alias makeup di meja-meja kerja. Hair dryer, flat iron, curling iron juga ada. Cermin terlihat di mana-mana.

Meja siapa yang paling banyak alat kecantikannya? Kalau dari yang saya lihat, ya, Mbak Patsy. Yup, mau cari makeup apa saja sepertinya ada di mejanya. Awal saya datang ke VOA, saya pinjam punya Mbak Patsy (Thank you, Mbak).

Wanita-wanita di Indonesian Service memang banyak yang jago dandan dan memang diharuskan bisa dandan. Mbak Patsy, Mba Vivit, Mba Debbie, Mbak Ade, Mbak Nadia, Mba Ane, Vina, Mbak Yuni, Vici, dan yang lain, tampil cantik dengan DIY (Do-It-Yourself) makeupnya. Sepertinya kami tidak perlu kursus makeup karena banyak guru di sini.

  1. myyearatvoa posted this