Retno dan Marsha, culture shock tidak di Amerika? Itu pertanyaan yang sering kami dapat. Jawabannya adalah, tidak. Kecuali untuk satu hal. Apa itu? Gegar budaya itu kami temui saat harus mengurus paperwork alias dokumen.

Amerika Serikat adalah negara yang sangat tertib administrasi. Saat akan masuk dan tinggal di Amerika Serikat, mereka akan meminta kita untuk mengisi serangkaian dokumen dan memeriksa dokumen diri yang kita miliki. Mendapatkan visa Amerika baru sebuah langkah awal. Langkah berikutnya masih sangat panjang. Terlebih karena kami akan bekerja untuk lembaga berada di bawah pemerintahan Federal. 

Visa Amerika Serikat

Banyak orang bilang kalau mendapatkan visa ke Amerika Serikat itu susah-susah gampang. Beruntung, kami para fellow VOA menggunakan Visa J-I atau Cultural Exchange Visa dan mendapatkan undangan dari VOA.Antrian visa di depan Kedubes AS, Jakarta (foto: AP).

Kami harus mempersiapkan paspor dan foto ukuran paspor berlatar belakang warna putih. Kami mendengar bahwa foto bisa menimbulkan masalah jika tidak sesuai persyaratan dari Kedubes Amerika Serikat. Oleh karena itu, kami mencari aman dengan mendatangi tempat foto yang sudah direkomendasikan di Sabang, Jakarta Pusat. 

Setelah itu kami harus mengisi formulir DS-160 yang merupakan aplikasi visa non-imigran. Kami juga harus memberikan DS-2019 yang dikeluarkan oleh lembaga sponsor, dalam hal ini adalah VOA. Tidak lupa kami harus menunjukkan bukti pembayaran visa sebesar 140 dolar yang telah dibayarkan terlebih dulu ke bank yang ditunjuk. Masalah pembayaran ini sudah ditangani oleh VOA. Untuk tahu selengkapnya tentang Visa jenis J-1, bisa melihat ke website J-1 Visa.

Nah, untuk mengisi DS-160 maka kita harus mempersiapkan data diri kita yang lengkap. Selain biodata, kami juga perlu mempersiapkan informasi tentang pendidikan kita, pekerjaan, referensi orang yang bisa dihubungi. Kalau perlu, buatlah seperti CV untuk melamar pekerjaan yang sangat lengkap. Semua tanggal dan tahun jangan terlewat. Setelah itu, CV bisa dicetak. Ini untuk membantu kita agar tidak bolak-balik harus melihat banyak kertas. 

DS-2019

Selain paspor, formulir DS-2019 yang dikeluarkan lembaga sponsor ini sangat penting sekali. Karena bukan hanya digunakan untuk melamar visa, tetapi juga akan ditanya saat kita sampai di biro imigrasi bandara Amerika Serikat. Saya sempat kebingungan ketika  petugas imigrasi di bandara JFK, New York menanyakan tentang form DS-2019.

Saya tidak tahu apa bentuknya, karena tidak terlalu memperhatikan dan tidak tahu akan ditanyakan di bandara. Alhasil, saya sempat panik membuka semua dokumen yang saya bawa. Saya buka, saya cari, dan tidak ada. Petugas imigrasi sampai membantu saya mengobrak-abrik tas dokumen saya. Dan ternyata, form DS-2019 saya masih tertempel di paspor, dan belum saya lepaskan dari paspor saya setelah dikembalikan oleh Kedubes Amerika. Sementara Marsha, sudah melenggang dengan koper-kopernya. Phew!

Marsha sesaat setelah mendarat di bandara JFK, New York.

Asuransi Kesehatan

Untuk ke Amerika kita harus mempunyai asuransi kesehatan. Kami dibuatkan asuransi kesehatan oleh Ibu Barbara dari PPIA melalui website HTH Worldwide. Asuransi kesehatan ini berlaku setengah tahun dengan biaya $700. Memang mahal, tapi akan sangat bermanfaat jika sakit di Amerika Serikat, karena biaya kesehatan di sini berkali lipat lebih mahal apabila tidak mempunyai asuransi.

Dokumen Ratusan Lembar

Sesampainya di Washington DC, kami diharuskan melapor ke bagian Human Resources. Di sini, kami menyerahkan paspor serta form DS-2019 yang telah diberi cap di bandara, dan kami diberi formulir DS-2019 baru yang berlaku hingga satu tahun.

Kemudian kami diharuskan mengisi dokumen yang jumlahnya ratusan lembar. Dokumen ini diisi lewat komputer dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama, karena kami tidak mempersiapkan informasi data yang dibutuhkan. Kedua, ketika mengisi dan ingin kami hapus dengan backspace, dokumen ini akan kembali kosong. Sehingga di halaman berapapun kami mengisi, maka kami harus kembali mengisi dari awal. Saya melakukan kesalahan satu kali, sementara Marsha berkali-kali.

Lalu dokumen itu diisi apa? Data riwayat hidup kami yang sangat lengkap. Sampai berapa kali kita pindah tempat tinggal pun harus diisi dengan alamat lengkapnya, serta kontak orang yang mengetahui kita pernah tinggal di sana. Kontak ini tidak boleh dari keluarga. Bayangkan kalau kita pindah berkali-kali. Dan, bayangkan kalau kita tidak tahu alamat orang yang mengetahui kita pernah tinggal di sana.

Begitu pula dengan riwayat kerja. Kami harus memberikan nama serta alamat yang kita tuliskan namanya sebagai referensi. Jadi, jika ingin bekerja atau mendapat kesempatan dengan Visa J-1 seperti kami, tidak ada salahnya menyiapkan semuanya sebelum datang ke Amerika.

Untuk apa data ini? Data ini untuk dimasukkan ke dalam sistem database di Amerika. Sounds scary

Data ini nantinya juga akan diperlukan saat kita membuat Social Security Number (SSN). 

Kartu Social Security Number

Social Security Number

SSN adalah 9 digit nomor untuk penduduk tetap atau penduduk yang tinggal dan bekerja sementara di Amerika Serikat. SSN digunakan untuk tujuan pengecekan social security seseorang. SSN juga digunakan untuk banyak keperluan lainnya, seperti pajak, pembuatan rekening bank, dan lain-lain sebagainya.

Lalu apa syarat membuat SSN? Syaratnya, kita harus menunggu hingga 10 hari sejak kita mengisi ratusan lembar dokumen yang telah kami sebutkan. Mengapa? Karena setelah 10 hari barulah data-data kita terhubung dengan sistem-sistem data base, yang kami sendiri juga tidak mengerti. Kemudian paspor, DS-2019, dan surat keterangan dari kantor yang menyebutkan bahwa kita membutuhkan SSN. Kita juga harus sudah mengisi dokumen aplikasi SSN yang tersedia di website SSN dan kemudian mencetaknya, serta dibawa saat menuju kantor SSN. 

Kami perlu menunggu kurang lebih 1-2 minggu untuk mendapatkan kartu SSN yang dikirimkan melalui pos. 

Perjanjian Kontrak Tempat Tinggal

Sewa apartemen ternyata juga tidak kalah pentingnya. Surat perjanjian kontrak tempat tinggal ini harus kita isi segera dan ditandatangai landlord atau manajemen apartemen. Semua surat-menyurat dan urusan administratif akan menggunakan alamat tempat tinggal kita. Mudahkah mengisi surat perjanjian itu? Untuk orang seperti kami yang baru datang ke Amerika, tentu tidak mudah. Banyak poin-poin yang tidak kami mengerti. Sehingga kami harus bolak-balik bertanya kepada manajemen apartemen kami.

Jadi, apabila kita tinggal berpindah-pindah di Amerika, bisa dibayangkan bagaimana pusingnya kita memperbaharui semua administrasi dengan alamat yang baru dan mengisi semuanya lagi satu per satu. Sejauh ini saya menyimpulkan, moving around is a bad idea.

Tanpa perjanjian kontrak tempat tinggal (leasing agreement), kita tidak bisa membuat rekening bank yang akan digunakan untuk mentransfer gaji kita. 

Rekening Bank

Untuk membuat rekening bank di sini maka kami harus menyerahkan paspor, leasing agreement, SSN, dan ID Card kantor. Kami membuka rekening di bank pemerintah, SDFCU. Karena selain letaknya hanya bersebrangan dengan kantor, kami juga bekerja di kantor pemerintah, dan ATM SDFCU di VOA hanya lima meter jaraknya dari ruangan Indonesian Service. 

Kami hanya perlu menuliskan beberapa data dan tanda tangan lewat sebuah mesin elektronik. Sisanya dilakukan semua oleh petugas bank. Dan, kita tidak diwajibkan harus menyetorkan sejumlah uang seperti di Indonesia. 

Rekening bank di sini sedikit berbeda dengan di Indonesia. Ada dua jenis rekening yang akan kita miliki. Checking account dan savings account. Jika kita akan sering menarik uang untuk keperluan belanja dan yang lain, maka kita bisa minta uang kita dimasukkan ke dalam checking account. Namun jika kita ingin menabung, kita bisa memindahkan sebagian uang kita ke savings account. Di rekening saving account ada batasan jumlah penarikan dalam kurun waktu tertentu. 

Begitulah. Ternyata pindah ke Amerika itu cukup repot juga. Tapi, semua pengalaman ini, termasuk pengalaman berurusan dengan birokrasi ala Amerika, pasti ada manfaatnya!

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

  1. myyearatvoa posted this