But everything that I hold dear
Is close enough to touch
(Elvis Presley – “Home Is Where the Heart Is”)

Sampai bulan kedua di sini, saya masih tidak yakin, apa itu homesick. Katanya, homesick itu perasaan depresi atau melankolis kala berada jauh dari rumah dan keluarga. Melankolis, sih, memang “sudah dari sananya.” Tapi tidak sampai depresi. Karena di sini, banyak yang mengingatkan saya pada Indonesia.
Dalam tiga minggu ini saya hadir ke tiga acara yang merepresentasikan Indonesia. Yang pertama, saya pergi ke kediaman Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Bapak Dino Patti Djalal. Hari itu diadakan Pasar Minang. Di sini, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Ternyata jumlah kami cukup banyak disini. Selain menikmati penampilan tari daerah oleh anak-anak dan dangdut ibu-ibu, saya sukses membawa pulang batagor, cabe ijo a la Padang dan rempeyek.
Acara yang kedua, saya dan teman-teman VOA datang meliput kegiatan pemutaran film ’40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy’ http://www.40yearsofsilence.com/ di West End Cinema – sebuah teater kecil yang banyak menayangkan film independen. Film ini adalah kontra-naratif dari peristiwa G30S/PKI yang dibuat oleh Robert Lemelson, seorang antropolog pada UCLA. Merinding rasanya mengetahui sisi lain dari peristiwa itu melalui sebuah riset tahunan yang didokumentasikan secara apik. Dan seperti biasa, merinding yang seperti itu selalu saya alami kalau ada orang dari negara lain yang lebih mengetahui tentang Indonesia daripada kita.
Pada akhir minggu, lagi-lagi saya datang ke acara yang membuat saya merasa dekat dengan rumah. Bersama teman-teman VOA, saya datang ke pelabuhan Baltimore di Maryland. Letaknya kira-kira satu setengah jam ke utara Washington DC. Di teluk itu, kapal kebanggaan Indonesia; Dewa Rutji, berlabuh sebagai bagian dari Star Spangled Sailabration. Di atas kapal, ada banyak kegiatan khas Indonesia; seperti tari Bali, pertunjukan angklung dan poco-poco berasama para kadet Angkatan Laut RI. Tidak hanya orang Indonesia yang berpartisipasi, orang bule pun mengikuti keseruannya. Yang paling berkesan, saya bertemu Ibu Sri Mulyani disana, yang kebetulan menemani anaknya mengisi acara di atas Dewa Rutji.

Mau tau apa yang paling mencengangkan bagi saya dan Retno? Beberapa minggu yang lalu kami diajak ke kota Philadelphia di negara bagian Pennsylvania. Disana ada restoran Indonesia Jawa Timuran yang masakannya lezat sekali. Selain itu ada warung Pandawa, di mana segala macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman ada di sana. Mulai dari minyak rambut Tancho sampai jajanan pasar pun ada. Saya sampai terharu bisa makan kue lumpur dan kue cucur.
Kalau tahun depan adalah kesempatanmu jadi fellow VOA, pesan saya, jangan terlalu khawatir dengan perut Indonesiamu ataupun khawatir dengan the so-called pengaruh budaya barat. Take it easy, ‘cause home is where the heart is.
Love,
Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata