New York, concrete jungle where dreams are made of.

There’s nothin’ you can’t do.

These streets will make you feel brand new.

Big lights will inspire you.

(“Empire State of Mind” - Alicia Keys & Jay-Z)

 

Lirik lagu itu terngiang-ngiang di telinga saat saya tahu akan ke Amerika. Begitu membuai asa, membangkitkan angan-angan akan satu cita, memijakkan kaki di kota ternama dunia.

Halah, bahasanya. Tetapi memang begitu rasanya saat mendengar lagu Alicia Keys dan Jay-Z itu Mimpi apa coba saya bisa mengunjungi kota yang tadinya hanya mampu saya lihat lewat layar kaca? Apalagi New York akan menjadi kota pertama di Amerika yang saya dan Marsha akan injak, karena pesawat kami saat itu adalah Cathay Pasific tujuan Jakarta-New York.

We were so excited!

Sampai, penerbangan dramatis (lihat cerita Marsha) membuyarkan keindahan mimpi saya. Pengalaman pertama saya dan Marsha di New York adalah pengalaman asam dan pahit. Kami kedinginan, kelaparan, dan harus bermalam tanpa bisa beristirahat karena tidak mendapat kamar hotel. Ditambah kelelahan karena harus menarik dan mengangkat koper hampir 50 kilo naik turun Air Train, yang menghubungkan satu terminal dengan terminal lainnya di bandara JFK.

 “New York,” teriak Alicia Keys penuh harapan dan teriakan kami penuh kemalangan.  


New York Part 2

Akhirnya, kesempatan untuk mengunjungi New York datang lagi saat co-host saya dalam acara “Dunia Kita,” Vici Vadeline harus mendatangi sebuah graduate session di New York University (NYU). Kami mencocokkan jadwal kerja kami dan meminta izin satu hari. Dari awal Vici sudah berkata, “Bakalan hujan terus seharian di DC sama NY.”

Selasa pukul 05.00 pagi, saya pun sudah bersiap dijemput Vici sambil memandangi hujan dari dalam apartemen. Vici memutuskan ke New York dengan menyetir mobil sendiri yang akan ditempuh selama kurang lebih empat jam.

Dan, here we go, drama sudah dimulai begitu akan berangkat dari apartemen saya. GPS di mobil Vici tiba-tiba mati dan tidak bisa dinyalakan. Padahal tanpa GPS, kami akan sangat kesulitan untuk menuju ke New York. Akan sangat repot jika harus menggunakan GPS yang ada di smartphone. Vici bahkan sudah berencana untuk membeli GPS baru di jalan.

Namun kami memutuskan menunda perjalanan kami untuk mencari tahu ada apa dengan GPS Vici. Untungnya, kami menemukan solusinya di Google. Kami coba pencat-pencet tombol yang ada berdasarkan petunjuk yang kami temukan. Dan, voila, GPS kembali menyala.

“New York,” teriak saya dan Vici.

 

Berhutang pada Tol

Perjalanan kami lewati dengan cukup lancar tanpa hambatan. Hingga….kami kehabisan uang tunai! Drama pun kembali dimulai.

Saya hanya membawa 20 dolar uang tunai, sementara Vici hanya membawa beberapa lembar uang satu dolar dan sedikit uang koin.

Tol dari Washington DC ke New York City ternyata cukup mahal. Kami tidak memperhitungkan berapa biaya tol yang dibutuhkan untuk sampai ke NYC. Vici tidak mempunyai kartu langganan EazyPass sehingga setiap membayar di pintu tol harus menggunakan uang tunai. Di pintu tol terakhir, uang kami hanya tinggal delapan dolar.

“Cukup lah, Ci, masa iya lebih dari sembilan dolar,” kata saya waktu itu sambil mengumpulkan koin-koin berserakan di tas. Begitu sampai di pintu tol, Vici menyerahkan kartu dan petugas berkata, “Thirteen……dollars.”   

Saya sampai tidak bisa mendengar akhir kata thirteen, karena shock melihat uang di tangan saya tinggal delapan dolar. Saya dan Vici pun panik mencari sisa-sisa uang di tas dan di dompet, sampai akhirnya pasrah karena hanya beberapa sen yang ada.

Ma’am, I don’t have anymore cash. Can I use debit or credit card?” Tanya Vici sambil memasang tampang memelas.

“No,” tukas sang petugas.

Dang! Senyum kecut penuh harap menghiasi wajah sendu kami. Vici kemudian bertanya apa yang harus dia lakukan untuk membayar, karena di belakang kami banyak mobil yang mengantri dan mulai tak sabar mengklakson kami.

Lalu si petugas menulis di atas sebuah kertas sambil meminta SIM milik Vici. Ternyata itu adalah sebuah surat utang. Hahahaha. Ya, kami berhutang pada tol! Kami tertawa terbahak-bahak karena akhirnya kami bisa keluar tol sambil membawa sebuah kertas tagihan, yang bisa dibayar dalam waktu lima hari atau kami bayar saat kami kembali melewati pintu tol dari New York nanti. Phew!

 

China Town dan Little Italy

Kami menarik napas sangat lega saat kami memasuki terowongan Lincoln, pertanda akhirnya keluar dari tol. Saya pun langsung mengeluarkan Lexi, si kamera Lumix kesayangan saya.

Saya dan Vici tersenyum begitu senangnya karena NYU jaraknya tidak terlalu jauh karena terletak di Brooklyn. Kami melewati Williamsburg Bridge, lalu kami mulai menjumpai kemacetan yang memang akrab di NYC. 

Sekitar 10 menit berlalu, saya melihat orang-orang ramai berlalu-lalang di jalan. Gedung-gedung di kanan kiri bangunannya tidak teratur. Semrawut. Berantakan. Papan tulisan nama banyak menggunakan bilingual alias dua bahasa. Bahasa Inggris dan aksara Cina, yang mengingatkan saya pada Glodok, Jakarta.

Tidak salah memang karena kami berada di Chinatown. Hehehe.

Tidak lama kemudian, warna tulisan yang didominasi merah dan kuning itu berubah menjadi warna hijau, putih, dan merah. Menu-menu Chinese food yang tadi terlihat dari dalam mobil kini berubah menjadi ristorante, pasta, spaghetti, lasagna, canoli dan lain-lainnya.

Ah, buon giorno, Little Italy! Kami melewati Little Italy, sebuah kawasan di Manhattan di mana banyak berdomisili imigran asal Italia.

Karena saat itu hampir jam makan siang, maka saat melewati Chinatown dan Little Italy, yang terbaca mata kami adalah nama-nama makanan. Slurp!


GPS Bingung

Kami pun akhirnya sampai di NYU. Namun kami harus memutar untuk mencari parkir yang memang sangat sulit di dapat di NYC.

Dan…drama kembali dimulai.

Jika tadi saya dan Vici silih berganti berbicara tanpa henti, maka kini giliran GPS yang banyak bicara mencari perhatian karena kebingungan.

“Recalculating.”

“Turn right to bla…bla…bla…”

Kemudian, “Recalculating.”

Dan, “Recalculating.”

“Arrrrrghhhhh,” teriak Vici, karena GPS selalu terlambat memberi tahu kami saat harus berbelok sehingga kami beberapa kali berada di jalur yang salah sehingga terpaksa terbuang ke arah lain.

Dan, “Recalculating.”

Cukup sulit untuk kembali menemukan jalan ke NYU yang tadi sudah kami lewati. Jika GPS saja bingung, Vici juga bingung, apalagi saya yang belum sampai dua bulan tinggal di Amerika. 

Kami akhirnya terbuang, dan kali ini harus melewati Brooklyn Bridge. Vici geram, tapi saya justru senang.

Saya bisa melewati jembatan terkenal. Maklum, saya adalah turis. Jadi, pemandangan seperti ini sangat berarti untuk saya.

“Maaf ya, Ci. Gue foto-foto dulu.”

Setelah memutar-balik, kami akhirnya kembali melewati Chinatown dan Little Italy. Vici akhirnya memutuskan parkir di Hotel Marriot tepat di seberang NYU dengan tarif 23 dolar plus tips bagi petugasnya. Karena ternyata aturan parkirnya harus menggunakan jasa valet.

Jadi kalau dihitung, tol satu kali perjalanan Washington DC-New York 37 dolar. Parkir 23 dolar. Tips 5 dolar. Total 65 dolar. Mahal!

 

Toh, oh, Tol

Sampai di NYU, Vici masuk ke graduate session. Sementara saya memutuskan duduk di Starbucks sambil menunggu Vici dan bertemu dengan Ika, teman yang dulu menempati apartemen yang saya dan Marsha tinggali saat ini.

Selesai di NYU, kami mengarah ke apartemen Ika di daerah Queens, sambil mampir makan siang mencicipi restoran padang Upi Jaya, yang jaraknya hanya dua blok dari apartemen Ika.

Ternyata apartemen di New York tidak sebesar di DC. Harga sewanya pun jauh lebih mahal. Saya langsung merasa bersyukur dengan apartemen tempat sekarang saya tinggal.

Dari Queens, kami menuju ke Manhattan untuk bertemu seorang teman Vici yang pernah tinggal juga di DC.

Dan, GPS-nya kembali ngaco. GPS membuat kami kembali masuk ke tol. Bayar lagi, deh.

Kali ini kami sudah mempunyai uang tunai. Tapi…kami salah masuk jalur. Kami masuk jalur di tempat khusus bagi pengendara dengan EazyPass. Palang pintu tidak bisa diterobos. Mau mundur, mobil-mobil sudah ada di belakang. Mau melapor, tetapi karena pintu itu otomatis terbuka dengan EazyPass, maka tidak ada petugas yang menjaga.

“Tin…tin…tin,” klakson mobil di belakang menambah kepanikan kami. Ika keluar dari dalam mobil, dan berteriak pada petugas yang berada agak jauh dari jalur kami.

Can you help us, Sir? We are from Washington DC, and we don’t know this is for EazyPass only,” ujar Ika memanfaatkan plat mobil Vici yang Washington DC. Nice try, Ika.

Beruntung si petugas langsung keluar, meminta uang tunai lima dolar dan membukakan pintu. Kami pun keluar dari masalah. Phew!

Sambil menunggu teman Vici pulang kerja, kami berputar-putar untuk mencari parkir. Ternyata mencari parkir di Manhattan begitu sulitnya. Kami hanya mendapat parkir satu jam. Kami parkir tidak jauh dari Union Square. Kami memutuskan nekat berjalan-jalan menembus rintik-rintik hujan untuk melihat sekitar Union Square sambil sedikit berfoto-foto.

Begitulah pengalaman kedua saya ke New York. Pengalaman yang lagi-lagi belum seindah bayangan saya, tetapi tetap seru dan menyenangkan.

Seperti kata-kata ibu Barbara dari PPIA yang selalu saya ingat, “This is the part of the adventure.”

Dan seperti Alicia Keys bilang, “The streets are mean!” Tapi, “If I can make it here, I can make it anywhere.”


Cheers,

Retno
@retno_lestari
rlestari@voanews.com