New York City, Manhattan Island

Follow, follow the leader

If it makes you feel like you want to dance

The Velvet Underground - Follow the Leader

Hey, what do you know? I can finally listen to my all-time favorite, one of New York’s finest bands, IN New York!”. Itu yang terpekik di kepala saya ketika saya tiba di perhentian bus antar kota Penn Station di New York City. Ya, New York (NYC) yang dulu hanya saya lihat lewat film Home Alone 2. Sebelum salah satu TV swasta nasional terlalu rajin memutar film itu setiap musim libur sekolah, saya harus berkali-kali ke tempat rental laser disc. Memakai patokan laser disc, berarti sudah hampir dua dekade saya berangan ingin berada di NY.

Mungkin ini yang namanya the power of mind; ketika alam bawah sadarmu selalu memikirkan suatu hal, niscaya kamu akan mencapai hal itu. Atau mungkin the power to convince; karena untuk ke NY saya harus meyakinkan Kepala VOA Indonesian Service agar saya diperbolehkan meliput rangkaian kegiatan Presiden SBY dan United Nations General Assembly atau Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di NY. Saya ditugaskan meliput “power”.

Power” dapat diartikan daya, kekuatan, kekuasaan, kekayaan atau negara besar. Suatu kata yang menurut pengalaman saya di NY, sudah dapat disandingkan dengan kata “Indonesia” Mengapa? Karena…

Hari pertama: We occupied Wall Street! Hari itu bendera Merah Putih dikibarkan di gedung New York Stock Exchange di distrik keuangan NY atau Wall Street. Hari itu untuk pertama kalinya diadakan “Indonesia Investment Day.” Indonesia kini sudah menjadi negara yang dipandang dengan kedua mata dalam bidang ekonomi. Di tengah ekonomi dunia yang lesu, pertumbuhan ekonomi Indonesia nomor satu di Asia Tenggara dan nomor dua di Asia setelah Cina dan melampaui India. Bisa saja saya memberikan beberapa statistik lagi di tulisan ini, dan beberapa hal yang sifatnya mikro ekonomi yang tidak diangkat para pemimpin Indonesia di forum yang berfungsi sebagai panggung promosi itu. Tapi kali ini, biarlah kita sekali-sekali jadi orang Indonesia yang optimis dan tidak sinis. Presiden SBY saja di forum investor itu dengan optimis dan penuh percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris, menyampaikan pencapaian-pencapaian ekonomi Indonesia. Ya, memang menggunakan teleprompter, tapi tetap saja saya menyaksikan sisi langsung beliau yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Hari pertama ditutup dengan Gala Dinner malam penganugerahaan. Malam itu Presiden SBY menerima penghargaan bidang lingkungan hidup; “Valuing Nature Award atas Coral Triangle Initiative” yang dipimpinnya dan bidang ekonomi; “21st Century Economic Achievement Award.” Lalu muncul pernyataan instan: Hebat ya, Indonesia! dan kemudian, pertanyaan instan: apakah benar konservasi laut dan pesisir sudah sebaik itu dan tidak kompromi dengan perusahaan pengelola sumber daya alam yang nakal? apa kah benar akses terhadap perdagangan yang adil sudah diterima orang-orang di, misalnya, NTT?. Eh, harusnya saya tidak melempar pertanyaan itu, karena kali ini peraturannya dilarang sinis. Hehe. Biar bagaimanapun, ini merupakan pencapaian yang diakui komunitas internasional.

Hari Kedua: Sidang Umum PBB. Pasti di antara kamu yang sedang membaca ada yang pingin bilang: “Terus? Gue harus bilang “WOW” gitu?” Ya, tidak harus sih, biarlah saya yang mengucap “WOW” itu. Karena ini pengalaman yang memang “WOW” bagi saya. Bayangkan, bertemu banyak sekali kepala negara, teman-teman baru dari kantor-kantor media di seluruh dunia yang berbagi ruang kerja di markas besar PBB, bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Liberia yang juga pemenang Nobel Peace Prize Ellen Johnson Sirleaf, kesempatan mewawancarai berbagai tokoh dunia dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Bergegas kesana kemari dengan sepatu hak tinggi dan  pakaian formal, mencatat segala sesuatu yang penting dan menodongkan perekam ke siapa pun yang penting. Hari itu saya berpikir: How could it be any better than this? Ternyata bisa. Yaitu ketika saya berendam air panas di hotel setelah 18 jam bekerja.

Hari Ketiga: World Leadership Forum. Akhirnya saya datang ke forum ini! Forum ini adalah acara tahunan Foreign Policy Association dan memang sudah tiga tahun terakhir saya ingin hadir.  Beruntung akhirnya kesampaian. Sebenarnya acaranya sehari penuh, namun karena tugas saya memang untuk ‘mengintili’ presiden, saya hanya hadir di sesi diskusi “How the Emerging Powers Will Reshape the Global Politic”. Presiden SBY berbicara satu panel dengan George Soros; pendiri Open Society Foundation (dan nama yang secara otomatis saya asosiasikan dengan krisis ekonomi Asia Tenggara 1997), Lakhdar Brahimi; Utusan Khusus PBB untuk Suriah dan Kishore Mahbubani; Dekan Kebijakan Publik pada  Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore dan mantan petinggi Dewan Keamanan PBB. Hari ketiga di NY ditutup dengan wawancara one-on-one dengan Menteri favorit saya, Gita Wirjawan. Ada istilah bahasa Inggris; starstruck. Yaitu ketika kamu bertemu idola dan benar-benar kagum akan status selebritas orang itu. Kalau saya, terkena leaderstruck!

Hands down. Tiga hari pertama di NY sangat berkesan. Tapi pengalaman berkesan di NY tidak berhenti pada tiga hari pertama. Saya masih menyimpan cerita tiga hari terakhir yang bisa kamu simak di blog ini. I’ll keep you posted. Until then!

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata