
Tidak terasa sudah setengah tahun saya dan Marsha menjadi fellow dari program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship. Dalam kurun waktu enam bulan banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan.
Bagi saya, pengalaman paling berharga hingga saat ini adalah diberi kesempatan untuk turut membantu VOA Indonesia, dalam menyiarkan proses pemilihan presiden ke stasiun-stasiun televisi di Indonesia.
Proses dari serangkaian ritual pemilihan pemimpin negara Paman Sam antara lain adalah Konvensi Nasional Partai Republik dan Partai Demokrat serta debat calon presiden. Konvensi ini lebih bersifat seremonial namun tetap menarik diikuti karena biasanya akan muncul pidato-pidato yang menarik baik dari presiden maupun tokoh-tokoh pendukungnya. Sementara debat presiden akan memperlihatkan secara langsung visi dan misi apa yang dimiliki oleh masing-masing kandidat yang ditawarkan kepada masyarakat.
Konvensi masing-masing partai kurang lebih berlangsung selama 3 hari. Sementara debat capres berlangsung 3 kali dan debat cawapres 1 kali. Berhari-hari pula tim VOA Indonesia sibuk mempersiapan diri untuk siaran langsung ke beberapa stasiun televisi. Persiapan ini mulai dari riset, mengumpulkan materi, hingga persiapan teknis yang melibatkan tidak hanya VOA Indonesia tetapi juga orang-orang di divisi-divisi lain.
Dengan lebih dari 40 language service (istilah bagi masing-masing bagian negara yang ada di VOA), maka pengaturan jadwal siaran, satelit, penggunaan studio, man power, bukanlah hal yang mudah. Belum lagi siaran langsung dilakukan tidak hanya ke satu stasiun televisi, tetapi ke banyak stasiun televisi dalam waktu yang sangat mepet.
Persiapan adalah kunci dari kelancaran jalannya siaran langsung. Persiapan materi tentu melibatkan riset, meliput, menerjemahkan, menulis naskah, menyiapkan paket berita, dan menyiapkan footage untuk insert gambar. Sementara persiapan dan eksekusi teknis, wah, saya bisa menulis beberapa halaman untuk menjelaskan secara detail.
Di sini saya melihat bagaimana luarbiasanya kemampuan tim televisi di servis Indonesia. Bahkan orang-orang “bule” di VOA mengakui bahwa tim televisi servis Indonesia adalah yang terbaik di antara language service lainnya. “You guys know exactly what you’re doing!” Kata beberapa camera person dan program director.
Siaran Langsung di Studio

Siaran langsung konvensi partai Republik dan Demokrat adalah debut pertama saya di studio VOA. Sebelum di VOA saya memang bukan hanya reporter di lapangan tetapi juga sering berada di studio untuk membantu atau mengawasi siaran.
Saya sangat suka berada di dalam studio karena ketegangan yang saya rasakan akan menjadi sebuah kepuasan yang membuat ketagihan, jika siaran berjalan dengan lancar atau melebihi ekspektasi. Apalagi jika saat siaran langsung ada berbagai kendala, dan berhasil melewatinya. Wah, rasanya luar biasa.
Di Indonesia saya sering berada di studio, saat harus melakukan siaran dengan beberapa reporter yang melakukan reportase langsung (live report). Tetapi di VOA, siaran bukan hanya dilakukan dengan reporter yang melaporkan secara langsung (live), tetapi juga harus menghubungkannya juga secara langsung dengan televisi-televisi di Indonesia. Ini menjadi tantangan baru bagi saya. Tim televisi servis Indonesia tentunya sudah terbiasa. Namun saya sangat excited untuk melihat dan membantu jalannya siaran langsung yang kami sebut live hits. Apalagi kru studio VOA adalah orang-orang bule yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Sehingga kami menggunakan dwi bahasa. Nah lo, terbayang kan bagaimana ribetnya?
Tugas saya saat itu adalah menelepon televisi-televisi di Indonesia untuk menanyakan dua nomor telepon yang akan digunakan untuk berkoordinasi dan menghubungkan audio presenter di Indonesia dengan reporter/presenter VOA. Tugas ini gampang-gampang sulit. Gampang karena tinggal menelpon dan meminta dua nomor. Satu nomor tidak boleh diganggu-gugat dan harus disambungkan oleh audio man di Indonesia dari presenter ke presenter. Instruksi, tentu dari produser atau siapapun yang bertanggung jawab di Indonesia. Sulit, karena terkadang bertemu dengan orang-orang yang belum terbiasa dengan siaran antar benua dan bahkan tidak terbiasa dengan siaran langsung.
Bagaimana jika produser atau orang yang bertugas tidak memiliki pengetahuan tentang ini? Tentunya kendala teknis karena human error. Nah, saat inilah saya melihat betapa pentingnya bagi pekerja di televisi terutama yang berada dalam tim produksi untuk memahami dan menguasai berbagai aspek teknis di studio.
Setelah konvensi, proses berikutnya adalah debat calon presiden. Saat debat calon presiden, tugas saya berbeda. Jika sebelumnya saya bertugas di studio, kali ini saya berada di newsroom. Saya harus memperhatikan jalannya debat dan poin-poin apa yang menarik. Kemudian saya menunggu video debat tersebut ada di dalam sebuah aplikasi bernama Dalet, yang merupakan sistem bagi sebuah siaran televisi. Berdasarkan poin-poin menarik tersebut, saya harus memotong-motong gambarnya untuk dijadikan insert video pada saat nanti tim di lapangan melaporkan secara langsung.
Mbak Patsy, Mbak Ade, Mas Helmi, Mas Nova adalah tim di lapangan yang melaporkan langsung. Sementara Mbak Nadia, Mbak Ane, Mbak Nia, Cak Supri, Mas Alam, Mbak Yuni, dan saya adalah goal keeper yang bergantian berada di studio atau di newsroom.
Pengalaman di studio dengan tingkat keribetan yang amat tinggi ini membuat kemampuan saya meningkat pesat jika nanti kembali ke Indonesia. Pengalaman yang sangat berharga bukan? Sekarang saya bisa berkata, “Multitasking? No problemo!”
Salam,
Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari