Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Real Democracy is Beautiful

O beautiful for pilgrims feet,

Whose stem impassioned stress

A thoroughfare for freedom beat

James Taylor – America the Beautiful

Akihirnya saat yang dinanti-nanti datang juga. Inaugurasi presiden Amerika.

Kira-kira dua bulan lalu juru kamera yang biasa syuting Dunia Kita menggerutu karena tidak bisa parkir di basement kantor VOA. Alasannya, karena tempat parkir digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan persiapan inagurasi. Tidak hanya di VOA yang mempersiapkan inagurasi, tapi juga seluruh Washington, DC. Berbagai ruas jalan mulai diatur untuk persiapan parade dan beberapa gedung mulai berhias. Misalnya Newseum (museum berita dan jurnalisme) yang memasang banner raksasa “Newseum celebrates freedom. Newseum welcomes President Obama.”

Saya sempat melihat dari kejauhan prosesi pelantikan presiden. Salah satu yang saya kagumi dari acara formal di Amerika adalah tidak membosankan. Para pejabat negara sering kali mengeluarkan candaan yang cerdas, atau setidaknya ekspresi wajah yang terlihat santai dan senang. Bahkan sebagai pembawa acara Senator Chuck Schumer, ia selalu tersenyum, sesekali tertawa karena ikut merayakan transisi kekuasaan yang damai tersebut. 

Serunya lagi, upacara kenegaraan ini menghadirkan artis seperti Beyonce yang membawakan “Star Spangled Banner” lagu kebangsaan Amerika, lalu Kelly Clarkson  dan James Taylor yang membawakan lagu nasional. Setiap inagurasi presiden Amerika, Ada tradisi pembacaan puisi, dan berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya, kali ini yg membawakan puisi adalah Richard Blanco. Seorang Hispanik, gay, dan imigran pertama yang membacakan puisi pada inagurasi bersejarah itu. Ia pun adalah pembaca puisi inagurasi termuda.  Semua terlihat gembira merayakan terpilihnya kembali presiden Barack Obama. Semua terlihat manusiawi pada hari inagurasi. Presiden Obama pun demikian. 

Saya kagum dengan betapa manusiawinya Presiden Obama. Saat ia diminta masuk kembali ke Capitol Building (tempat dilaksanakannya pelantikan adalah di balkon gedung tersebut) ia terlihat membalikkan badan ke arah puluhan ribu rakyat yang hadir. Kemudian saya ketahui dari televisi, bahwa yang ia katakan adalah, “I’m not going to get to see this again, berhubung memang ini adalah masa jabatan terakhirnya. Saat itu ia terlihat bangga sekaligus terharu. Saya kagum karena, Presiden Obama sangat berwibawa tapi disaat bersamaan, ia bisa spontan selayaknya manusia. I think that’s what makes a president. Dan menurut saya itulah salah satu faktor yang membuatnya terpilih kembali, his presence. Sebagai contoh, dulu ketika terjadi tornado di Georgia dan Alabama, presiden Bush hanya menginspeksi dari udara. Ia naik helikopter. Sedangkan Obama lagsung turun ke lapangan menemui para korban badai Sandy. Dan semua orang yang sehat akal pasti bisa membedakan pelukan presiden atau pejabat publik yang tulus karena ia berempati dengan media atau berempati dengan rakyat.

Sebelum mulai parade, saya mengantre di jalan 10 dan Pennsylvania. Di situ saya memikirkan kata-kata orang yang berdiri disampingh saya. Katanya kepada saya, “Do you think Obama would come out of his car and walk to greet the crowd? I think he would. No question. Because he loves his people and the people love him. You know, there some who hate his guts but most American loves him. We got his back. That’s why we want him to get the second term. Because we know he’s on our side.”

Lalu saya terdiam. Dalam hati saya berpikir, sudah lama Indonesia tidak punya pemimpin yang dihormati dan dicintai rakyatnya. Maksud saya, yang benar-benar dihormati dan dicintai tanpa kepentingan. Padahal, that’s what makes a nation.

Tiba-tiba pikiran saya buyar karena Presiden Obama dan Ibu negara keluar dari mobilnya dan ia melihat ke arah saya (coba temukan Obama pada foto buram di blog ini. Maklum suasana terlalu semarak, jadi tidak fokus mengambil gambar, hehe). Benar kata orang yang berdiri disebelah saya, ia pasti bela-belain keluar mobil lapis bajanya itu demi rakyat yang sudah memilih dan menunggu berjam-jam. Bahkan menunggu bertahun-tahun untuk mengalami perubahan.

Real Democracy is beautiful, huh?

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata