Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Menari di Richmond, Virginia

Tulisan kali ini tidak diawali dengan lirik. Andai saja saya bisa menjelaskan bagaimana orang-orang Amerika di Richmond yang tergabung dalam Gamelan Raga Kusuma, bisa dengan persis dan mengesankan membawakan beberapa repertoire tari dan lagu tradisional Bali.

Saya memang pernah belajar tari Bali sekitar 12 tahun, dan ini bukan pertama kalinya saya menari di Amerika. Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan menari lagi di University of Indiana, negara bagian Pennsylvania. Walaupun waktu itu tempat pertunjukannya sangat memadai, apalagi dari segi akustiknya, tapi waktu itu rasanya beda. Pasti kamu yang biasa menari juga tahu perbedaan menari diiringi CD dan menari secara langsung diiringi instrumen lengkap.

Sepertinya saya sudah mengalami banyak peristiwa dan keseruan selama saya di Amerika, tapi menari di Richmond, Virginia, diiringi Gamelan Raga Kusuma, di sebuah bar/restoran berkonsep urban bernama Ballicaeux, dan dengan penonton padat, mungkin ada di daftar “10 most awesome things I did in America” -  (dan mungkin saya harus mulai membuat daftar yang masih fiktif ini, hehe).

image

What makes it cool is, those gamelan players are probably as good, if not better than my gamelan teacher.

Sayapun pernah belajar main gamelan, tapi tidak pernah bisa selihai teman-teman Gamelan Raga Kusuma. Dan pasti banyak juga dari kalian yang tidak bisa memainkan alat musik tradisional. Jadi, menurut saya, mereka keren.

Yang keren juga adalah, tempat pertunjukkannya biasa dipakai untuk acara dance, di mana DJ-DJnya memainkan musik semacam post-punk, soul, house¸lalu digunakan juga sebagai tempat pertunjukan standup comedy. Jadi menurut saya, pemilihan tempatnya juga pas untuk memperkenalkan sesuatu yang sangat tradisional kepada komunitas yang modern.

VOA pernah meliput latihan Gamelan Raga Kusuma tahun lalu.
Dan ini saya, menarikan Legong Condong.

Saya sempat deg-degan ketika itu, karena terakhir saya menarikan tarian ini adalah 15 tahun yang lalu dan saya hanya latihan sekali, dan itu juga kali pertama kelompok gamelan itu memainkan Legong. Maka dari itu, saya mau membuat pengakuan publik, bahwa saya melakukan sejumlah kesalahan, hehe.

Mohon maaf juga bagi para penari Bali, teman-teman dari Bali, dan lainnya yang merasa aneh melihat tampilan ini, saya memutuskan untuk tidak menggunakan kostum lengkap karena harus menarikan beberapa tarian secara berurutan.

All in all, ini adalah salah satu pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan. Saya kira saya tidak akan menari lagi di Amerika berhubung sebentar lagi pulang. Tapi ternyata, dalam waktu dekat saya akan menari lagi untuk Gamelan Raga Kusuma. Yay!

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata