Karena kemarin Marsha menulis tentang pengalamannya menari Bali di Amerika, sekalian saya ingin menulis mengenai pengalaman saya meliput orang-orang di Amerika yang menekuni kesenian tradisional Indonesia.

Shadow Light Production

Pernahkah kita menonton wayang? Mungkin sebagian besar dari kita pernah menonton wayang. Pertanyaan berikutnya, seberapakah kita menikmati saat kita menonton wayang? Mungkin hanya setengah dari kita. Sisanya, saya yakin, berusaha mencoba menahan kantuk. Lalu seberapa banyakdari kita yang pernah belajar wayang atau menekuni wayang? Mungkin jawabannya, hanya beberapa.

Lalu bagaimana bisa ketika kita tidak tertarik dengan warisan budaya kita ini, sementara orang lain yang tidak ada darah Indonesia, tidak hanya menonton, tidak hanya jatuh cinta, tetapi menekuni dan akhirnya menyebarkan kesenian tradisional kita ini ke seluruh dunia? Ironis! Saya tidak berbicara mengenai Anda, tetapi juga mengenai diri saya sendiri. Betapa malunya diri saya, karena orang bule yang saya temui, jauh lebih menguasai kesenian Indonesia.

Bule yang menekuni wayang ini bernama Larry Reed. Dengan latar belakang pembuat film dokumenter, Reed datang ke tanah Jawa puluhan pada tahun 70-an, dan tanpa sengaja menemukan wayang. Bagi pria yang juga menekuni teater ini, pertunjukkan wayang mempunyai keunikan pada media yang digunakannya serta dalang yang memainkannya. Permainan cahaya dan kain putih untuk menghasilkan bayangan ditambah suara serta ekpresi dalang ketika memainkannya, membuatnya jatuh hati pada wayang.

Ketika kedua kalinya datang ke Indonesia, Reed singgah ke Bali, dan menemukan keunikan lainnya pada wayang Bali, yang membuat dirinya semakin mantap mempelajari dan menekuni kesenian wayang.

Kemudian tahun 1990-an, Reed mulai mendirikan Shadow Light Production, sebuah perusahaan kecil non komersil yang menampilkan pertunjukkan wayang. Dengan kemampuannya bermain wayang, serta latar belakangnya di bidang teater dan pembuat film, Reed kemudian mengembangkan wayang dan menggabungkannya dengan berbagai budaya negara lain seperti Jepang, Tibet, Filipina, China, serta Amerika Latin.

Kita bisa melihat karya Larry di www.shadowlight.org.

Gamelan Kori Mas

Bali memang mempunyai segudang daya tarik bagi orang-orang di berbagai belahan dunia. Betapa tidak, selain alamnya yang indah, masyarakatnya yang terbuka namun tetap mempertahankan budayanya, kesenian tradisionalnya juga sangat kaya.

image

Beberapa waktu lalu saya meliput dua kelompok gamelan yang berbasis di San Francisco. Satu kelompok gamelan bernama Gamelan Kori Mas yang berarti Gamelan “Golden Gate,” lanscape ternama kota San Francisco (http://www.gamelankorimas.com).

Gamelan Kori Mas ini terdiri dari tiga bule yang semuanya sangat mencintai gamelan dari Bali. Ketiga orang ini, masih tergabung atau pernah bergabung dalam kelompok Gamelan Sekar Jaya asal Berkeley, California, yang cukup ternama di Amerika.

Michael Steadman, Samuel Wantman, dan Ken Worthy sangat memukau saya saat memainkan dua gamelan dan satu suling bambu bersama-sama.

Sebelum mendirikan kelompok Gamelan Korimas, Michael Steadman mempelajari kesenian Bali di kampusnya di New York, sebelum bergabung untuk belajar gamelan bali bersama Gamelan Sekar Jaya di pertengahan tahun 90-an.

Sementara Michael Steadman, telah mulai mempelajari gamelan sejak tahun 70-an, ketika ia berguru pada Dennis Murphy, salah satu orang yang dijuliki sebagai “Fathers of American Gamelan.”

image

Sam (foto di atas) kemudian belajar gamelan ke Jawa, sebelum akhirnya tertarik dengan gamelan Bali. Ia menghabiskan waktu delapan bulan untuk belajar gamelan di Pulau Dewata. Setelah kembali ke San Francisco, Sam kemudian bergabung dengan Gamelan Sekar Jaya.

Sedangkan Ken Worthy, awalnya mempelajari gamelan di California bersama Gamelan Sekar Jaya. Karena ketertarikannya, Ken mempelajari musik Bali selama dua  tahun. Ia kemudian mempunyai spesialiasi sebagai peniup suling. Ken sangat mahir berbahasa Indonesia.

Ketiganya lalu membentuk Gamelan Kori Mas, dan tampil trio untuk berbagai acara berdasarkan undangan, seperti di pesta-pesta, restoran, hingga diundang oleh Maya Sutoro, adik Presiden AS, Barack Obama.

Gamelan Jegog

image

Sam kemudian memperkenalkan saya dengan kelompok gamelan lainnya yang ia dirikan, yaitu Gamelan Jegog di Berkeley, California. Gamelan Jegog merupakan kelompok ansambel yang menjadi bagian dari kelompok Gamelan Sekar Jaya (http://www.gsj.org/jegog).

Gamelan Jegog berasal dari Jembrana, Bali. Karena kontur tanahnya yang tidak meraka, maka banyak tumbuh pohon bambu dengan ukuran besar. Inilah yang mendorong para seniman menciptakan alat musik dari bambu. Musik gamelan jegog ini sangat energik. Rata-rata anggota Gamelan Jegog sudah bergabung dalam kurun waktu puluhan tahun.

Saya sangat terpukau melihat bagaimana orang-orang Amerika ini memainkan Gamelan Jegog. Mereka begitu bersemangat dan tampak sangat senang, ketika Sam atau musisi dari Bali yang diundang, mengajarkan musik yang baru.

Sejenak wajah frustasi yang gagal mengikuti ketukan sang pengajar, seketika berubah menjadi wajah riang disertai teriakan, ketika mereka berhasil mengikuti pengajar dengan benar.

image

Wah, betapa irinya saya sebagai orang Indonesia yang justru tidak bisa “apa-apa” di tengah orang-orang Amerika yang begitu mahirnya memainkan alat musik tradisional Indonesia.

Pertemuan saya dengan mereka, menimbulkan pertanyaan di diri saya. Siapakah saya? Darimanakah saya berasal? Seberapa saya mencintai budaya dan kesenian saya? Apa yang sudah saya lakukan untuk melestarikan budaya saya? Jawabannya, saya memang dari Indonesia, tetapi saya merasa orang-orang tersebut lebih Indonesia daripada saya.

Sekembalinya ke Indonesia, mungkin saya akan mencari akar budaya saya dan mempelajarinya, untuk tetap melestarikan keindahan Indonesia.

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

  1. hotbiz reblogged this from myyearatvoa
  2. myyearatvoa posted this