Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Menikmati Museum dan Galeri Seni di Washington DC

Someday I’m gonna draw from the left side of my brain

People are gonna ask, “Is it brilliant or plain?”

But as long as I don’t know how to hang a Warhol

I’ll keep sketching birds that are all like her

Very simple and true


"Little Joy – How to Hang a Warhol"

Perasaan saya bercampur aduk tiap kali berpikir bahwa sebentar lagi saya akan meninggalkan Washington DC. Jadi daripada sedih, lebih baik saya bawa senang. Sekaranglah saat yang pas untuk memberikan ‘tanda centang’ sebanyak-banyaknya pada daftar tempat-tempat yang harus saya datangi sebelum pulang ke Indonesia. Dan salah satunya adalah mendatangi semua museum yang ada di kota ini.

image

I’m really all about museums and galleries. So to me, DC is the place to be. Apalagi tempat tinggal saya dan Retno hanya 20 menit jalan kaki ke National Mall, tempat sebagian besar museum itu terletak. Kalau kamu juga suka pergi ke tempat-tempat seperti itu, ini dia daftar tempat-tempat yang sudah saya kunjungi:

Corcoran Gallery of Art

Hirshhorn Museum and Sculpture Garden

International Spy Museum

Library of Congress

National Air and Space Museum

National Archives

National Gallery of Art

National Museum of the American Indian

National Museum of Natural History

National Portrait Gallery

Newseum

Phillips Collection

Arthur M. Sackler Gallery

Smithsonian American Art Museum

Salah satu sudut di Newseum, Washington DC

Dari semuanya, tempat favorit saya adalah National Gallery of Art, National Potrait Gallery dan Corcoran Gallery of Art. Nah, ketiga tempat ini sangat magis bagi saya. Menurut saya, museum yang bagus adalah yang peletakan pameran dan multimedianya mampu membuat si pengunjung benar-benar merasa dibawa ke ‘tempat lain’, benar-benar menikmati dan benar-benar lupa dimana pintu keluarnya hehe.

I just love to be lost in a museum.

Memang saya lebih suka museum yang menampilkan seni dan bernuansa perdamaian, daripada yang bernuansa perang; misalnya United States Holocaust Memorial Museum – yang sampai sekarang masih enggan saya datangi.

Kalau kamu berkesempatan ke DC, menurut saya dua museum paling seru adalah Newseum dan International Spy Museum karena kedua tempat itu memberikan pengalaman interaktif yang (kemungkinan besar sih) belum pernah kamu alami.

Selain museum-museum besar yang dikelola Smithsonian Institution – yang kesemuanya dapat dinikmati secara gratis - sebenarnya masih banyak lagi tempat semacam galeri atau tempat pertunjukan yang lebih kecil di DC dan kebanyakan dimiliki komunitas atau perorangan. Tempat-tempat tersebut juga tidak kalah seru walaupun biasanya harus bayar untuk masuk. Tapi itu tidak masalah.

Kunci menikmati hidup di Amerika bagi saya adalah berlangganan informasi dari situs-situs seperti goldstar.com, livingsocial.com, meetup.com, freeindc.blogspot.com dan situs masing-masing tempat pertunjukan atau museum. Karena situs-situslah saya bisa menikmati dunia dari satu tempat yang pasti akan saya rindukan; a place I can almost call home, Washington DC.

Love,

Mars