Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Hollywood is Not So Hollywood

Airport menjadi tempat favorit paparazzi untuk mengabadikan selebritis yang baru saja turun pesawat. Tidak heran selebritis berusaha tampil se-fashionable mungkin, meski bagi saya, hal ini sangat tidak masuk akal.

Pertama, karena semakin banyak layer pakaian dan asesoris yang dikenakan, maka akan makin repot saat harus melewati pemeriksaan custom bandara. Kedua, naik pesawat itu cukup melelahkan. Biasanya saya akan tertidur, dan bangun dengan wajah “bantal.” Malas sekali rasanya untuk memasang make up di wajah saya. Tapi, yah, namanya selebritis.

Nah, bandara yang sering saya lihat di caption foto celeb airport fashion adalah bandaranya kota Los Angeles yang bernama LAX.

Saya cukup penasaran seperti apa LAX itu dan bagaimana rasanya berjalan keluar bandara LAX bak selebritis. Ternyata LAX hanya bandara biasa dan sama sekali tidak mewah. Bahkan ruangan-ruangannya remang-remang yang membuat mata minus saya sulit membaca papan-papan petunjuknya. Hahaha…saya benar-benar termakan media.

Tol ke Tol
Mau kemanakah saya dari LAX? Tentu ke kota Los Angeles. Anyway, keingintahuan saya terhadap kota Los Angeles (seperti yang pernah saya tulis mengenai kota San Francisco) berawal dari film Catatan Si Boy. Saat saya kecil dulu, saya ternganga dengan betapa kerennya Si Boy dan para wanitanya yang tinggal di LA.

Lagi-lagi, khayalan untuk bisa ke LA kembali menjadi kenyataan. Namun apakah kenyataannya seperti yang saya bayangkan? Itu lain soal.

Saya tidak mempunyai banyak waktu di LA. Tentu karena saya harus bekerja dengan jadwal yang cukup padat. Waktu berjalan-jalan hanya selipan dan berkat kebaikan hati seorang Maria-Iman Santoso.

Saya memang tidak bisa keliling kota Los Angeles. Namun dari tempat satu ke tempat lainnya yang saya datangi, semua aksesnya melewati highway. Di sini semua orang menggunakan mobil pribadi. Transportasi umum sepertinya sulit diandalkan. Oleh sebab itu, pemandangan paling banyak yang saya saksikan di LA adalah jalan tol!

image


Hollywood

Saat saya datang, Hollywood sedang mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan Academy Awards. Nah kebetulan saya ingin melihat tempat yang ditutupi red carpet yang tersohor itu. Lagi-lagi saya terkejut, bukan karena keindahannya, tapi justru karena apa yang saya liat berbeda 180 derajat.

image


Jalan Hollywood ini relatif kotor. Baunya juga tidak sedap. Banyak sekali tuna wisma di tepi jalan. Nah bagaimana dengan Dolby Theather gedung yang dijadikan tempat penyelenggaraan Oscar? Ternyata juga tidak semewah yang tampak di televisi. Gedung yang dulunya bernama Kodak Theather ini, ya, biasa saja.

image


Tapi tentu saya tetap senang bisa mampir ke Hollywood dan berfoto dengan bintang-bintang di Hollywood Walk of Fame. Hollywood is not so “Hollywood.”

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari