May not have the glitter or the glamour of L.A.

May not have the history or the intrigue of Pompeii

But when it comes to making music, and sure enough making news

People who just don’t make sense and people making do

Seems a ball of contradictions, pulling different ways

Between the folks who come and go, and one’s who’ve got to stay

It’s a mass of irony for all the world to see

It’s the nation’s capital, it’s Washington D.C.

Gil Scott-Heron (1 April 1949 – 27 Mei 2011)

Okay, here goes one emotional writing.

Saya sudah kembali ke Jakarta dan masih punya waktu untuk melakukan apa pun. Salah satunya, berkontemplasi pada tulisan saya untuk blog ‘My Year at VOA’. Pada tulisan pertama “Pucuk Dicinta Ulam Tiba”, saya menulis bahwa saya masih terlalu baru untuk menilai Washington, DC. Apakah  DC masih seperti apa yang digambarkan Gil Scott-Heron empat dekade yang lalu? Menurut saya, ya.

DC, adalah kota yang underrated. Di lingkup pertemanan saya, jika saya tanya kota mana yang ingin teman-teman saya singgahi, kebanyakan menjawab New York, London, bahkan Mumbai yang semrawut sekalipun. Apa saja selain ibu kota Amerika membosankan itu, kata mereka. Well, I proved them wrong and you can tell by my previous blog posts. DC has it all. The capital will always feed your hungry mind and wandering soul.

image

My year in DC has been fruitful and of course it’s directly proportional to my year at VOA. VOA memberikan saya kesempatan untuk berkembang secara profesional dan berada di DC untuk satu tahun, jauh dari orang-orang tersayang dan kenyamanan yang lazim membuat saya juga berkembang secara personal. 

You know what they say;  it’s not what you look at that matters, it’s what you see. Ya, bekerja untuk VOA membuat saya melihat banyak hal. Mulai dari yang sangat teknis seperti cara menyunting gambar, cara melakukan sulih suara, cara memproduksi hasil liputan — sampai melihat lebih jauh setiap pengalaman saya. Saya melihat bagaimana perkembangan sosial, politik dan ekonomi dunia dari perspektif yang berbeda, saya melihat bagaimana kemanusiaan dan toleransi terhadap perbedaan memang seharusnya ditempatkan di tempat teratas, dan saya melihat kesenian dari berbagai belahan dunia yang selalu berhasil membuat saya tertegun. Tapi yang paling penting adalah, saya melihat diri saya dan apa yang sebenernya mampu saya lakukan. Ya, sekarang saya bisa melihat dari lebih banyak perspektif.

Kembali ke Indonesia bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi kamu yang seusia saya, yang pasti pikirannya adalah karir, karir, dan karir. Atau mungkin sudah memikirkan karir, pasangan, dan anak? selamat kalau memang begitu. Saya sih masih dalam tahap karir, karir, dan jodoh, haha. Satu dari sekian banyak yang ada di kepala saya saat ini adalah; kesempatan berharga mendapatkan PPIA-VOA Broadcasting Fellowship kemarin seharusnya menghasilkan sesuatu yang berguna dan berkelanjutan. Karena pengalaman bekerja atau belajar ke negara lain pasti membuahkan semangat baru dan itu layaknya bensin. Pikiran kita sebagai mesinnya dan kehendak baik kita untuk melakukan sesuatu adalah kendaraannya. Karena bensin itu mahal, jadi harus disayang dan dimanfaatkan dengan benar. Apalagi harga bensin akan naik sebentar lagi kan? hehe 

Perlu diingat juga, punya pengalaman di luar negeri bukan lagi barang langka. Kita bukan tanpa pesaing, justru pasar tenaga kerja di Indonesia lagi ‘seru-serunya’ karena jumlah usia produktif lagi banyak-banyaknya. But hey, life is like a neverending job, scholarship or whatever interview have you. You have to always compete to excel yourself, and that’s what I’m trying to do now

image

Menulis ini, saya yang sudah beberapa minggu di Jakarta masih mencoba peruntungan, menemui orang-orang yang saya anggap sukses dalam bidangnya. Gunanya bukan sekedar mencari tau apakah ada pekerjaan yang sesuai dengan passion dan idealisme saya tapi juga untuk membuat diri saya relevan lagi dengan industri di Indonesia. Why is it so important for me? Because I’ve been away for a year and time has a way of changing things.  Saya mau pengalaman saya di VOA dapat ikut mengubah sesuatu. Kalau saya tidak dapat melakukan itu, seharusnya bukan saya yang mendapatkan kesempatan fellowship, hehe. Dan sepertinya kalau saya tidak pernah berada di Amerika, mungkin mental saya tidak seperti itu. 

Ketika saya sampai di jakarta, teman-teman kantor lama saya mengadakan semacam homecoming party. Ada satu orang yang tidak saya kenal sebelumnya, menghampiri saya dan bertanya; So how does it feel to be back from America? Do you feel better than other people?. Ya, saya ditembak petanyaan seperti itu. That’s how some people see you when you return from an established country. It was offensive for a split second, hearing that from someone you just met, but it set adrift on good memories from America. I immediately realize that i met such wonderful and powerful human beings there. Dan jawaban saya untuk pertanyaan itu adalah: I feel small. 

Pengalaman setahun kemarin seperti bonus bagi saya. Membuat saya melihat bahwa seharusnya saya bisa lebih giat untuk menjadi lebih baik dan lebih berprestasi. Semua orang sekarang berpikir seperti itu. Jadi jangan sampai ‘kendaraan’-mu ketinggalan. I’m telling you the truth that I feel like I’m too small of a person and I’m not special, i just happen to be a young woman with a whole lotta awesome times — which I’m sure, you too will get it if you believe in yourself.

For that reason, I’m forever grateful to PPIA, Cathay Pacific, VOA, the readers, the listeners, my dear friend Retno Lestari and everyone who crosses my path in America for such humbling experience. Not to mention, my loved ones back home for the immense support. You keep me grounded and made me more well-rounded.  

Love,

mars