Detak jantung semakin kencang. Pikiran pun melayang. Hidup serasa tak tenang. Ah, sepertinya saya mengenal perasaan ini. Ya, sebuah perasaan kehilangan.

Sebenarnya saya telah mempersiapkan diri. Lagi pula di dunia ini apa yang kita punya? Tidak ada. Pada waktunya, semua akan hilang. Begitu pula rasa senang. Rasa senang akan hidup satu tahun di Washington, DC. Tapi toh tidak dapat dipungkiri, saya dan Marsha merasakan kesedihan meninggalkan orang-orang yang merupakan keluarga kami di Washington DC. Meninggalkan segala kemapanan hidup yang satu tahun ini kami jalani.

Satu tahun pun berlalu. Kami harus menghadapi kenyataan bahwa kami harus kembali ke tempat asal, Indonesia. Marsha telah menceritakan bagiannya. Sekarang giliran saya.

Entah mengapa, selama satu bulan terakhir jelang kepulangan ke Indonesia, saya merasa kosong. Badan saya ada, tetapi pikiran dan jiwa saya hilang entah kemana. Rasa rindu, senang, takut, khawatir, menghinggapi diri saya. Apa yang akan saya lakukan di Indonesia? Bagaimana nanti kehidupan saya di sana? Bagaimana harus kembali menghadapi macetnya ibukota? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk.

Mungkin Anda bertanya. Sebegitu besarkah cinta saya pada Washington, DC? Sebegitu berhargakah kehidupan saya setahun lalu daripada kehidupan puluhan tahun di negara saya sendiri? Dengan jujur saya jawab, iya. Saya mencintai kehidupan saya satu tahun belakangan.

Bukan saya tidak mencintai negara saya. Bukan saya tidak mencintai tempat saya dilahirkan. Bukan saya tidak mencintai Jakarta, kota di mana saya dibesarkan. Saya cinta, tetapi mungkin jika bisa memilih, saya ingin tinggal untuk waktu yang lama di Washington, DC. I can say that this is my city. 

Tapi kenyataan dan takdir berkata lain. Saya memang harus kembali ke Indonesia. Saya harus kembali ke Jakarta. Banyak hal yang harus saya lakukan di tanah kelahiran saya. Ada pelajaran yang harus saya bagikan. Ada keluarga yang wajib saya utamakan. Ada misi yang belum dan harus saya selesaikan. 

Suatu saat nanti, saya akan kembali ke Washington, DC. I didn’t say goodbye. Saya cuma bilang, I’ll see you soon!

Menghargai Perbedaan

Betapa beruntungnya saya dan Marsha bisa mendapat kesempatan menjadi fellow dari program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013. Kami berkesempatan bekerja di Amerika, di lingkungan internasional.

Bukan hanya skill dan kemampuan sebagai seorang broadcaster yang saya dapatkan seperti yang tertuang dalam cerita-cerita kamu sebelumnya. Lebih dari itu, saya mendapat pengalaman hidup yang sangat berharga. Saya belajar menghargai adanya perbedaan. Saya belajar untuk tidak memberi penilaian.

Saya belajar memahami bahwa setiap orang, apalagi setiap manusia yang berbeda negara, berbeda budaya, berbeda agama memiliki pola pikir berbeda. Tinggal bagaimana kita bisa menghadapi perbedaan itu agar tidak menciptakan konflik. Inilah pelajaran terbesar dan terbaik yang saya dapatkan, yaitu mutual understanding terhadap budaya berbeda, yang memang menjadi misi program fellowship ini.

Dengan tinggal selama satu tahun bersama orang-orang dari latar budaya yang berbeda, pikiran saya ikut terbuka. Tidak ada yang berubah dengan diri saya. Saya tetap orang yang sama. Amerika sama sekali tidak merubah saya. Amerika hanya mengubah seberapa jauh dan seberapa luas sudut pandang saya.

Jika dulu saya langsung memberikan penilaian terhadap orang-orang Amerika berdasarkan yang saya lihat di televisi maka sekarang saya akan menjadi sangat malu apabila saya melakukan penilaian tanpa pernah merasakan sendiri menjadi bagian dari orang-orang yang saya nilai tersebut. Karena apa? Karena saya pernah tinggal bersama mereka.

If you ask, “Are you saying that America is that good?” I will say, It is and it is not. Selalu ada kontradiksi dalam berbagai hal. Banyak hal baik di Amerika dan banyak juga hal buruk di Amerika. Tinggal apa yang mau kita ambil dan pelajari. Ketika kita bisa mendapat akses, mengapa tidak kita ambil sesuatu yang positif untuk membangun diri kita sendiri dan masyarakat kita.

Akses ini sangatlah penting bagi saya untuk perkembangan diri saya, dan yang lebih luas lagi, perkembangan masyarakat dunia. Oleh karena itu, keluarlah dari dunia kecil kita. Let’s explore another world. Inilah salah satu cara agar kita bisa menjadi bangsa yang maju.

Untuk pengalaman dan pelajaran hidup ini, saya mengucapkan terimakasih yang tak terkira bagi PPIA, VOA, Cathay Pasific, para penonton setia Voice of America, teman-teman di DC, teman-teman di TV affiliates, teman-teman di Indonesia, keluarga saya, serta pembaca blog ini.

Ketika satu mimpi ini sudah berakhir, maka saya akan bermimpi lagi. Seperti yang selalu saya katakan bahwa saya ini adalah pemimpi. I am a full time dreamer. Hope to see you in my next dream.

Semoga tulisan-tulisan saya dan Marsha di blog ini bisa memberi inspirasi. Dan nantikan kejutan lainnya dari kami.

Apa hayo?

Masih rahasia!

Keep reading this blog, keep following us on twitter, and Facebook. 

 

Love,

Retno Lestari

(lestari.retno@gmail.com, tweet: @retno_lestari)