Masih pukul 7 pagi waktu Jepang. Tersisa sembilan jam sebelum penerbangan ke Washington, D.C. dari Tokyo.

Saya hanya bisa duduk terhenyak di Gate 51, salah satu gate paling dekat dengan pintu keluar pesawat bagi penumpang transit. Gak tahu mau ke mana, karena lokasi gate untuk penerbangan UA 804 ke Amerika Serikat, masih belum diumumkan.

Belum tahu mau ngapain, karena bandara masih sepi dan toko-toko sebagian besar tutup. Jadilah, akhirnya saya ngemper dulu, kebiasaan resmi wartawan. Sementara ada waktu, saya bisa ngetik, untuk berbagi cerita.

image

Mengejar Mimpi Berkarir di Televisi

Masih membayang jelas, apa yang ada di benak saya 10 tahun lalu, ketika menonton acara favorit, ‘Dunia Kita’ di Metro TV, program dari VOA Washington DC, yang menyajikan tayangan sosial-budaya unik dari Amerika. Pasti bahagia sekali bisa bekerja dan jalan-jalan di negara besar itu, mengalami berbagai hal baru yang membuka mata, sambil meliput berbagai peristiwa. 

Buat saya, keinginan itu rasanya terlalu tinggi, karena saya lahir, tumbuh dan bersekolah di sebuah kota kecil bernama Payakumbuh, di Provinsi Sumatera Barat. Di bayangan saya ketika itu, sulit bagi kami, anak daerah, untuk berkarir di kota besar seperti Jakarta, apalagi bekerja di Amerika. Namun, mimpi saya itu tetap saya tanam dalam-dalam.

Mimpi saya itu menghadapi rintangan baru, tatkala satu dan lain hal membuat saya berkuliah di jurusan Matematika di Institut Teknologi Bandung. Tentu saya bersyukur bisa berkuliah di universitas sebagus ITB. Tetapi di lain pihak, saya berpikir akan semakin sulit bagi seorang lulusan matematika berkarir di bidang kewartawanan.

Seminggu sebelum hari kuliah pertama, lagi-lagi saya tekadkan di hati, meskipun tidak suka dengan jurusan yang akan dihadapi setiap hari dalam empat tahun, saya akan kuliah sebaik yang saya bisa, lalu tetap mengejar karir di televisi. Saat itu, keinginan bekerja di VOA seakan sudah menjadi mimpi yang terpojokkan dan diendapkan di sudut pikiran. Mimpi yang rasa-rasanya hanya mampu menggayut sebagai mimpi.

Tak disangka, segala pemikiran itu salah. Tuhan berkehendak lain. Sebulan sebelum wisuda, saya mengikuti tes menjadi reporter Metro TV. Senang sekali karena lowongan ini terbuka untuk segala jurusan. Tahap demi tahap, mulai dari tes kamera di salah satu mall di Bandung, sampai wawancara panel dengan redaksi Metro TV di Jakarta, perlahan-lahan saya lalui.

Seminggu sebelum wisuda, saya diterima sebagai reporter stasiun televisi swasta berlambang kepala elang itu. Saya sempat tercenung, karena tanpa disadari, dua mimpi telah mewujud nyata: memulai hidup baru di ibukota dan bekerja di televisi.

Tuhan memang Maha Dahsyat.

image

Mengenal Program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship

Sejak pertama kali pindah ke Jakarta, saya kembali mencari peluang lebih besar lagi untuk meningkatkan kemampuan. Katanya, manusia akan ‘mati’ kalau berhenti belajar.

Ketika sedang bertugas selama satu mingu ke Sulawesi Selatan pertengahan 2011 lalu, saya bertemu Kepala Biro Metro TV Makassar, Fauziah Erwin, yang akrab dipanggil Mbak Uci. Orangnya terbuka dan senang berbagi. Pembicaraan asyik kami, semakin seru ketika Mbak Uci menceritakan pengalamannya mendapat fellowship untuk bekerja selama satu tahun di VOA Washington DC, digaji lagi. Berbagai negara bagian telah dikunjunginya ketika liputan untuk VOA. Saya ngiler, jantung berdegub kencang.

Kembali ke Jakarta, saya buru-buru browsing tentang fellowship tersebut. Nafas hampir berhenti saat tahu pendaftaran PPIA-VOA Broadcasting Fellowship untuk tahun 2012-2013, akan ditutup dalam seminggu. Ada empat esai yang harus dijawab. Saya tahu, saya tidak akan siap. Saya tidak mau memaksa diri dan terburu-buru tetapi tidak total.

Akhirnya dengan berat hati, niat untuk mendaftar diurungkan, dan berharap bisa ikut serta tahun berikutnya, karena saya masih masuk kualifikasi jurnalis muda dengan pengalaman kurang dari tiga tahun. Supaya terus ingat, di dinding kamar, saya tempel ‘VOA’ bersama sejumlah target lain, supaya bisa dipandangi terus setiap hari, mulai dari bangun hingga tidur kembali.

image

Mengisi Aplikasi PPIA-VOA Broadcasting Fellowship

Perlu waktu sebulan penuh untuk menyelesaikan aplikasi. Saya sangat bersyukur dikelilingi guru dan teman yang luar biasa baik dan membantu. Mulai dari dosen saya, Bu Indah dan suaminya Pak Haryono, yang dengan sabar memberi masukan dan kritik tajam tentang esai (saya remuk redam saking ‘tajam’-nya kritikan), sampai para pemberi rekomendasi, yaitu Bang Edward AR.

Bang Edward cameraman sejati nan rendah hati yang jejak pengalamannya terukir di lubang-lubang peluru GAM di Aceh, di panasnya wedus gembel Gunung Merapi, dan di antara ledakan-ledakan bom di Libya.

Dan satu lagi, Mas Budiyono, Kepala Desk Polhukam Metro TV, yang telah  memberi kesempatan berharga, mulai dari kepercayaannya kepada saya untuk menjadi wartawan DPR di tahun pertama saya di Metro TV, dan wartawan Istana Kepresidenan di tahun kedua. Terimakasih tanpa akhir untuk mereka. Jadilah, akhir November, aplikasi saya kirim.

Masa-masa Penantian 

Saya sempat membaca tulisan fellow sebelumnya, Retno Lestari, di blog ini. Retno mengatakan,  saking lamanya penantian, dia sampai lupa sudah mengirimkan aplikasi fellowship. Saya tidak. Setiap hari, saya selalu ingat sudah mendaftar, dan deg-degan, berharap ada panggilan telepon dari nomor tidak dikenal.

Penungguan panjang itu tampaknya memang harus saya hentikan, ketika saya membaca ulang perlahan-lahan website fellowship PPIA-VOA. Di sana tertulis, setiap tahunnya, setelah melalui sejumlah tahapan, fellow baru akan terpilih pada akhir Januari. Padahal saat itu, sudah minggu pertama Februari 2013 dan saya belum melalui satu tahapan pun.

Mungkin fellowship ini tidak Tuhan berikan untuk saya. Saya ikhlaskan dan lupakan. Hidup kemudian berjalan lebih ringan, tanpa ada lagi penantian.

Telepon dari Nomor Tak Dikenal

Pada Selasa, 19 Februari siang, hidup yang sudah sangat santai itu, tiba-tiba berubah penuh gejolak.

Saat itu saya sedang liputan pemeriksaan Menteri Keuangan Agus Martowardojo (sekarang sudah mantan) oleh KPK, di gedung lembaga anti rasuah itu, di Kuningan, Jakarta. Setelah laporan langsung untuk Headline News pukul 12:00, ada telpon dari +62213000xxxx. Saya kira dari kantor untuk koordinasi laporan berikutnya.

Ternyata, “Halo Rafki, ini Alina dari VOA.”

“Oh my God!”

Saya bereaksi otomatis, langsung tersadar, dan tanpa kontrol meloncat-loncat kegirangan. Saat itu, saya tidak peduli lagi dengan wartawan-wartawan yang sedang ngemper di tangga KPK melihat tingkah aneh saya.

Dengan tenang Mbak Alina mengatakan kalau saya masuk 20 besar calon fellow dan akan diwawancara dalam Bahasa Inggris oleh tiga orang, yaitu pak Frans dari VOA, serta Bu Barbara dan Bu Atiek dari PPIA. Karena saya paling susah mengingat nama dan saat itu sedang panik sekali, tanpa sadar saya tulis nama mereka di bagian paha celana kantor yang sedang saya pakai, supaya tidak lupa.

“Rafki siap?,” tanya Mbak Alina, yang segera saya jawab tanpa pikir panjang, “Siap Mbak!,” padahal saat itu baterai HP saya tinggal satu bar.

Supaya agak sepi, saya jalan ke parkiran KPK yang letaknya persis di depan Rutan Salemba cabang KPK dan jongkok di antara mobil-mobil.

“Hi Rafki, I’m Barbara.”

“Oh my God, I’ve been waiting for this for months, oh my God!, ” saya mulai tambah tidak terkendali.

Sesi wawancara sekitar 10 menit itu berlangsung dengan sebagian besar kata yang terlontar dari mulut saya dimulai dengan “Oh my God”.

Proses Wawancara VOA-PPIA Broadcasting Fellowship

Pertanyaan berfokus mengenai mengapa saya memilih bekerja sebagai reporter. Saya sangsi mereka bisa mendengar jawaban dengan jelas, karena selain saya bicara sambil teriak-teriak tak terkontrol, baterai hp yang nyaris habis, memaksa saya berkomunikasi sambil jalan di tengah ributnya jalan HR Rasuna Said yang padat, menuju mobil SNG (Satellite News Gathering) Metro TV, untuk nge-charge hp.

Saya tidak ingat lagi apa jawaban saya, yang paling saya ingat adalah perkataan bu Barbara, “We will choose 10 finalists to be interviewed in VOA’s office in Jakarta. We will let you know if you are chosen.” Jantung saya berdegup kencang, “Thank you very much for your phone call,” kalimat itu saya ulang berkali-kali.

Jumat-nya, saya mendapat email dari mba Alina, yang membuat jantung hampir meloncat. “Congratulations!, We are glad to infrom you, that you are one of the successful candidates for joining our final interview.”

Saya dapat jadwal di hari kedua, yaitu hari Rabu. Entah mengapa, ketakutan tiba-tiba menghantui. Ini mimpi besar yang tiba-tiba hadir di depan mata dan tinggal selangkah lagi diwujudkan. Saya takut tidak bisa memberikan yang terbaik. Saya takut tidak siap. Saya takut tiba-tiba sakit sebelum wawancara. Saya takut tiba-tiba melakukan kebodohan. Saya takut blank dan tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.Dan yang paling saya takutkan, saya takut tidak bisa tidur sebelum hari-H.

Saya masih ingat, di malam sebelum Seminar Tugas Akhir ITB, saya tidak tidur sedetikpun dan itu benar-benar mengganggu performa. Saya takut semua hal yang tidak terduga itu mendepak saya dari mimpi itu.

Empat hari menjelang Rabu, setiap langkah rasanya berat. Jantung berdegub tidak karuan. Keringat dingin kerap mengucur tiba-tiba.

Hal rasional yang bisa saya lakukan untuk mengurangi stress itu adalah menelpon orang-tua, berdoa, dan rajin browsing tentang VOA, menonton acara-acara VOA, dan mencari tahu informasi serta latar belakang delapan nama yang akan mewawancara saya. Setidaknya saya tahu, siapa yang akan mewawancara saya.

 

Hari berganti, Rabu semakin dekat, tetapi kesiapan mental tidak bertambah baik jika tidak mau disebut lebih buruk. Setiap ingat akan wawancara, perut saya mules.

Alhasil, saya telpon Mbak Uci untuk curhat, meminta sarannya dan menanyakan apakah reaksi saya ini masih normal. “Udah, lu nyante aja, gampang kok. Jangan keluarin pecicilan lu aja.” Mbak Uci pun kemudian memberi tips-tips wawancara, sangat membantu. Komunikasi telpon itu berlangsung hampir setengah jam, dengan saya yang sebagian besar hanya bisa melenguh karena letih kebanyakan pikiran.

Untungnya, sehari sebelum wawancara, saya lumayan sibuk meliput kediaman Anas Urbaningrum yang saat itu baru tiga hari ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman di lapangan benar-benar membuat rileks.

Inilah yang saya suka dari pekerjaan sebagai reporter televisi. Setiap hari terjun ke lapangan, ke berbagai lokasi yang tidak terduga, menjadi orang pertama yang mengetahui berbagai hal penting, dan tentunya membuat stress terlupakan. 

 

image

Tidak seperti yang saya duga, di hari-H, saya tidak begitu stres. Tapi tidak dipungkiri, grogi tetap menumpuk setinggi langit. Setidaknya dalam satu jam, saya lima kali bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air kecil dan mencuci muka. Jam hampir menunjukkan pukul 8 pagi. Sebentar lagi nama saya akan dipanggil untuk wawancara.

Dalam pikiran-pikiran yang menyambar seperti kilat, ada keyakinan-keyakinan yang menenangkan.

“Rafki, yang bisa kamu lakukan hanya memberi yang terbaik yang kamu bisa. Jika pun hasilnya buruk ketika wawancara, berarti itu yang terbaik yang bisa kamu lakukan.

Jika kamu tidak berhasil meraih mimpi ini, yakinlah, berarti Tuhan punya rencana dan hadiah yang lebih besar lagi untukmu. Jadi, berusahalah dan lepaskanlah.”

 

“Rafki…”, Suara Mbak Alina menyadarkan saya.

Saya berjalan masuk menuju sebuah ruangan, yang ternyata adalah ruangan pak Frans, di salah satu pojok kantor VOA.

Pintu dibuka. Ada Pak Frans, Bu Barbara, dan Bu Attie di dalamnya, duduk menyambut, mereka mempersilahkan saya duduk. Ruangannya lebih kecil dibandingkan apa yang ada di bayangan saya. Suasananya sangat akrab, pak Frans duduk di belakang saya, di mejanya sendiri. Bu Barbara duduk sekitar 30 sentimeter di samping kiri saya. Di sebelahnya duduk bu Atiek.

Kami menghadap sebuah laptop di tengah meja yang jaraknya hanya tiga jengkal dari saya. Saat itu, beban mental sepertinya telah hanyut karena telah menumpuk di hari-hari sebelumnya. Yang tersisa adalah degub-degub keras di jantung, yang rasanya bisa membuat saya berlari kencang.

Tiba-tiba dari layar laptop, orang-orang yang telah berkali-kali saya browsing dalam kurang dari satu minggu terakhir: Mas Helmi, Mbak Patsy, Mbak Nadia, Mbak Irna, dan Mr. Goodman, menyapa nyaring nyaris serentak.

“Hai Rafkiii…”

Suara itu seakan menggaung kencang. Nafas saya tercekat, dan jantung rsanya memompa berkali lipat lebih cepat.

Saya terkesiap sambil menjawab, “Hai…!”

Ruangan kecil itu perlahan-lahan terasa meluas dan lebih terang. Saya hanya bisa tersenyum dan tiba-tiba semuanya berubah.

Hampir satu jam kemudian, saya perlahan-lahan terbangun dari mimpi. Saya hanya bisa terkesima mensyukuri rahmat Tuhan, mimpi itu kini menjadi nyata. Oh My God!

 

Rafki Hidayat,

rhidayat@voanews.com

@RafkiHidayat

  1. tenidwi reblogged this from myyearatvoa
  2. keumaladedelala reblogged this from myyearatvoa and added:
    One of Journalist story. Inspiring!
  3. nidyanasrun reblogged this from myyearatvoa
  4. myyearatvoa posted this