Kisah ini adalah lanjutan tulisan “O My God! O My God! O My God!” yang telah di-post sebelumnya.

 

Tokyo

Duduk dua setengah jam, tidak saya sadari toko-toko di dalam bandara sudah mulai buka. Lalu-lalang derap langkah cepat khas orang Jepang mulai berseliweran. Inilah saat yang tepat untuk menjalankan salah satu misi utama dalam satu tahun ke depan: “mengabadikan hal-hal menarik”.

Saya mencintai dunia fotografi. Kagum saja melihat bagaimana sepersekian detik kehidupan, direkam sepanjang masa dan bahkan mampu mengubah dunia. Mungkin kalau tidak menjadi reporter televisi, saya sedang mengejar angan menjadi fotografer: melipatgandakan keindahan atau memperdalam luka, seperti yang dilakukan super-fotografer idola: Herb Ritts, Steve McCurry dan Steven Meisel. Namun, yang jelas sekarang saya bukan fotografer, menggunakan kamera saja masih dengan settingan otomatis :D

image

Kalau direnung-renungkan, wajah Bandara Internasional Narita yang merupakan bandara tersibuk kedua di Jepang, sebenarnya ‘biasa saja’. Saya masih lebih mengagumi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar yang penuh kaca dan hiasan motif sulam Mandar di langit-langitnya. Narita jauh lebih sederhana dan terkesan to-the-point: silakan datang, nikmati sejenak, lalu terbanglah. Padahal, bandara yang telah beroperasi sejak tahun 1979 ini, menjadi lokasi transit puluhan maskapai dari berbagai belahan dunia, meskipun kali ini sepi, mungkin karena hari Senin dan masih pagi.

Namun, yang membuat pelabuhan udara ini berbeda adalah bagaimana infrastruktur dan hal-hal sederhana lain, berusaha sebaik mungkin melayani pengguna jasa. Misalnya, colokan listrik yang tersebar rapat di mana-mana, mulai dari restoran hingga di samping kloset toilet. Terkesan, meskipun tidak lagi satu-satunya inovator teknologi dari Asia, standar tinggi telah menjadi keseharian di Jepang.

 image

Ruang tunggu pun didesain beragam rupa, bahkan ada yang bisa untuk tidur-tiduran dan pijat refleksi, sambil menghadap jendela kaca dengan pemandangan landasan pacu.

 image 

Dan yang tidak kalah penting, orang-tua dan orang berkebutuhan khusus mendapat pelayanan layak.

image

Setelah berkeliling sekitar dua jam, badan rasanya sangat penat. Tidak hanya karena menggendong tas punggung yang beratnya hampir sepuluh kilogram, tetapi juga karena semalam, di pesawat dari Jakarta menuju Jepang, saya tidak bisa tidur. Lagi-lagi, setelah makan siang, saya hanya bisa terkapar. Kali ini, saya memilih istirahat di sebuah gate yang benar-benar tidak ada orang. Hanya bangku-bangku panjang yang kosong berjejer. Saya memutuskan untuk berbaring di salah satu bangku, seraya melilit pegangan tas dan gantungan kamera ke tangan. Antisipasi kalau tertidur (walaupun peluangnya sangat kecil), benda-benda itu masih dalam pegangan saya.

Menatap langit-langit, saya tidak henti-hentinya bersyukur. Kadang masih tidak percaya, saya sedang dalam perjalanan menuju Amerika. Tidak percaya, sebulan yang lalu, ini masih mimpi. Tidak percaya, tiga minggu sebelumnya, saya masih berjibaku antara Payakumbuh dan Jakarta. Semuanya tiba-tiba kembali mengawang-awang di hadapan mata.

Payakumbuh - Jakarta

image

Dalam kurang dari 30 hari sebelum keberangkatan, berbagai persiapan dilakukan. Mulai dari pembuatan visa dan segala hal yang berhubungan dengan administrasi, sampai Konferensi Pers di @America Pacific Place. Saya juga sempatkan pulang kampung ke Payakumbuh, minta restu orangtua dan melepas kangen dengan saudara, karena sudah lebih dari 7 bulan tidak bersua dan tidak akan bertemu lagi setahun ke depan.

Kadang menyedihkan menjadi perantau, pulang hanya dua kali atau sekali setahun, melihat Ibu dan Papa yang semangatnya masih sangat menyala di telepon, tetapi ketika bertemu, fisiknya telah berubah, menua. Hal yang sama ketika melihat dua adik saya yang dari tahun ketahun tidak bisa lagi saya perlakukan seperti ‘adik kecil’ ketika terakhir kali bertemu mereka. Kadang ada perasaan bersalah tidak ada bersama mereka ketika melalui berbagai peristiwa pahit dan manis 7 tahun terakhir. Namun, saya selalu ingatkan diri, semua yang saya usahakan, pertama-tama hanyalah untuk mereka.

image

Kembali ke Jakarta, saya dihadapkan pada tantangan terberat sebelum berangkat, yaitu packing. Berhubung kost di Jakarta tidak saya perpanjang, selain packing, saya juga harus membereskan seluruh barang untuk dipaketkan dan dipulangkan ke Payakumbuh, dihibahkan, atau dibuang. Jadilah, dua hari sebelum berangkat, kamar kost masih seperti gudang.

image

Ini akan menjadi kali kedua saya ke Amerika. Sebelumnya saya pernah memperoleh beasiswa belajar di University of South Carolina selama dua bulan. Walau begitu, ini adalah pertama kalinya saya terbang lebih dari 16.000 kilometer, sendiri, tanpa orang yang dikenal.

Berbeda dengan fellow-fellow sebelumnya yang selalu diterima berdua bahkan bertiga (Fauziah Erwin a.k.a mba Uci dan Hanggapuri Anindita; Juanita Wiraatmaja dan Esther Samboh; Nurina Savitri dan Febriamy Hutapea; Kartika Octaviana, Dewi Astuti, dan Mahatma Putra; Retno Lestari dan Marsha Suryawinata), karena kebijakan pemotongan anggaran oleh DPR Amerika, tahun ini VOA hanya bisa mendatangkan satu orang fellow. Jadilah, sepanjang perjalanan dari Jakarta -Jepang dan Jepang-Amerika, saya berencana untuk nyinyir, bertanya kepada siapapun di bandara dan di dalam pesawat, supaya tidak tersesat.

image

Di pesawat, saya bersyukur diberi tempat duduk di kelas Economy Plus dan di kursi aisle. Tambah lengkap, karena kursi di sebelah saya kosong. Tampaknya penerbangan ini akan menjadi perjalanan sempurna; terbang pukul 10 malam lalu tidur pulas, berbaring di dua kursi.

Namun, semua itu hanya harapan. Dalam tujuh jam perjalanan menuju Jepang, melintasi langit Filipina dan Samudera Pasifik, tidak sedetik pun mata terpicing. Degup jantung yang hampir sebulan ini telah tenang, kembali berdebar kencang. Saya hanya bisa memejamkan mata, menyunggingkan senyum berusaha menikmatinya, berusaha menikmati ketidaknikmatan.

Detik demi detik berlalu, terbiasa pun tidak. Beberapa saat sebelum mendarat di Narita, saya membuka buka. Di luar gerimis, jendela pesawat basah penuh bulir air dan jantung tampaknya belum lelah berlari.

Kembali ke Tokyo

Berbaring serampangan, ternyata bisa membuat saya tertidur, meskipun hanya 10 -15 menit. Lelah masih terasa meskipun jauh berkurang. Bu Indah, yang saat ini telah pindah mengajar di Detroit, Michigan, lewat BBM menyarankan saya untuk mandi di “Shower & Day Rooms”, supaya lebih rileks karena penerbangan selanjutnya ke Amerika akan lebih melelahkan, 13 jam tanpa henti. Walau awalnya tidak percaya, ternyata ‘layanan mandi’ itu memang ada.

image

Harus membayar 1000 Yen atau sekitar 10 Dollar untuk bisa mandi setengah jam. Setiap penambahan 15 menit, akan dikenakan biaya tambahan 500 Yen. Awalnya saya berencana ke sana hanya untuk foto-foto, tetapi rugi juga kalau tidak mencoba, apalagi bisa foto interiornya.

image

Kamar mandinya mirip deretan Warung Telepon, tetapi tanpa kaca tembus pandang tentunya. Perlengkapan mandi misalnya handuk, sabun, shampo, sikat gigi, odol dan hair-dryer tersedia lengkap. Namun, untuk bergerak memang agak susah karena ukuran ruangannya hanya sekitar 1x2 meter, separuh untuk ruang cermin dan lemari kecil, sementara separuh lain untuk ruang mandi lengkap dengan shower.

Waktu setengah jam saya nyaris habis karena foto-foto. Maklum, harus nungging-nungging atau naik ke kursi, saking sempitnya.

image

 

Washington D.C

Tidak ada hal yang begitu spesial dalam penerbangan 13 jam dari Narita, Jepang, ke Dulles, Virginia, Bandara Internasional di lingkungan D.C. Duduk ratusan menit di pesawat mengingatkan saya pada fakta yang sudah lama beresonansi di benak: Amerika, Negara yang saya tuju adalah negeri mimpi. Negeri tempat orang dari berbagai benua, berteduh mencari kebebasan, peluang hidup, kekayaan, pengalaman atau hanya untuk berwisata dan menemui kekasih. Meskipun ekonominya masih belum benar-benar pulih dan walaupun jutaan imigran telah sambut-menyambut berdatangan sejak imigrasi besar-besaran dari Eropa pada abad ke-17 silam, hingga saat ini, arusnya ternyata masih deras, setidaknya terlihat seperti itu. Kanan-kiri saya, tidak tahu apakah mereka imigran baru, hanya singgah, atau generasi ke-sekian di Amerika, berasal dari warna, bahasa, dan budaya yang berbeda. Amerika masih punya pesonanya tidak tahu entah apa.

image

Ketika kaki kembali menginjak tanah Amerika, ada rasa hangat menyergap. Perasaan serupa yang dirasa seorang anak kecil saat kembali ke wahana hiburan kesukaannya. Namun, kali ini sedikit berbeda, ada yang hilang ; panas semangat tidak lagi semeletup 3 tahun lalu. Mungkin karena usia saya bertambah, atau mungkin karena saya sudah punya rekaman bayangan apa yang akan saya lihat. 

Rekaman bayangan yang mengingatkan saya tentang suatu janji di suatu hari bulan Desember 2009, ketika pesawat akan meninggalkan bandara Chicago O’Hare, kembali ke Jakarta. “Rafki, cukup dua bulan kamu di Amerika. Rasa penasaran sudah terbayarkan. Musim gugur dan dingin bersalju sudah dialami. Meskipun hanya satu hari penuh, kamu sudah berpetualang tanpa tidur di New York City. Tidak perlu lagi kembali. Berpetualanglah ke tempat lain. Lihatlah Eropa. Lihatlah Afrika.” Namun, tidak sampai 5 tahun setelahnya, saya ternyata kembali menghirup udaranya. Amerika ternyata belum selesai. Dan tentu Tuhan punya maksud memberi saya kesempatan kembali ke sini.

Rafki Hidayat
rhidayat@voanews.com                     
@RafkiHidayat

  1. myyearatvoa posted this