Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Amerika: Bhinneka Tunggal Ika

“I can’t believe it! I can’t believe it!”

Seorang bocah perempuan dari India berteriak-teriak sambil meloncat.Wajahnya bersemu merah saking girangnya.Teriakannya terus melengking tak berhenti. Saya terdiam menatapnya.

Ayah dan ibunya berusaha menenangkan, memegang bahu si gadis cilik. Di samping kami, ada puluhan bahkan mungkin seratusan orang berkerubung, tetapi tak ada satu pun yang memedulikan si gadis kecil. Mereka sibuk sendiri, menggumamkan bahasa-bahasa yang sangat asing di telinga, sambil terus berganti berdiri menempel di pagar.

Entah mengapa saya teringat demo-demo di depan Gedung DPR Senayan. Namun, di sini berbeda, massanya selalu tersenyum dan bahkan bergaya.Teriakan si bocah tiba-tiba semakin kencang, membangunkan saya dari lamunan. Ternyata dia telah berhasil mendapatkan apa yang dia dan mungkin semua orang di pinggir jalan ini inginkan, beberapa kali kilatan blitz.

“I’m in front of White House! I’m in front of White House!”

image

Ya, orang-orang dari berbagai bangsa, sedang asyik berfoto di depan salah satu bangunan paling terkenal di dunia, Gedung Putih. Pesona kantor Obama ini, telah mengalahkan teriknya matahari yang saat itu membuat suhu mencapai 95 derajat Fahrenheit, atau sekitar 35 derajat Celcius.

Energi manusia-manusia di sini luar biasa.Tak peduli keringat terus menetes, orang dari berbagai rentang usia, terus mondar-mandir mencari posisi yang tepat. Meskipun saat itu sedang sendiri, saya merasa hangat di sana, berbagi tawa sambil menawarkan diri membantu memotret mereka yang ingin berfoto bersama pasangan, foto satu keluarga, atau yang kesusahan memotret diri sendiri.

Di dalam hati, saya bertanya-tanya, apakah mereka sesemangat ini berfoto di depan kantor Presiden mereka sendiri? Atau jangan-jangan malah belum pernah.

Ketertarikan mereka, tentu tidak bisa dipungkiri karena daya tarik Amerika, yang pesonanya sudah mengental, mungkin sejak mereka kanak-kanak, melalui berbagai produk budaya. Namun, mengapa bangsa yang bahkan bukan bagian dari peradaban kuno ini bisa menjadi begitu besar? Dicintai bahkan oleh orang yang baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di lahan yang disebut tanah kebebasan ini?

Tentu sangat banyak alasannya. Namun, yang gamblang terlihat adalah bagaimana orang-orang Amerika sangat menghargai sejarahnya dan bangga pada jati diri bangsanya, yang secara timbal-balik membuat negara ini terus maju dan menjadi magnet.

Mengapa demikian? Dengan mencintai sejarah bangsa, masyarakat paham bahwa kebebasan dan kemajuan yang mereka peroleh saat ini, diusahakan orang-orang luar biasa, dengan cara yang tidak gampang. There’s no such thing as a free lunch.

Perjuangan pendahulu patut dihargai. Penghargaan atas perjuangan, membuat mereka menerapkan nilai-nilai murni yang diwariskan para tetua bangsanya.Tanpa disadari, konsisten menerapkan hal positif, membuat sebuah bangsa terus maju. Di Amerika, kecintaan pada sejarah, bisa dijaga, salah satunya karena pemerintah menyediakan banyak sarana untuk mengenangnya.

Misalnya, di jantung kota Washington DC, tak jauh dari Gedung Putih, berdiri monumen-monumen penting yang tak dinyana, dibangun sepenuh hati: Lincoln Memorial, bangunan serupa Parthenon Yunani, dengan patung pualam Abraham Lincoln seberat tidak kurang dari 170 ton, duduk megah menatap siapapun yang mengunjungi. Presiden ke-16 Amerika tersebut dijunjung tinggi karena perjuangannya menentang perbudakan kaum kulit hitam.

image

Masih di kawasan The National Mall, menjulang Washington Monument, obelisk untuk mengenang bapak pendiri bangsa sekaligus Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington. Meskipun awalnya dihina karena rupanya yang dinilai kurang artistik, tugu setinggi 169 meter (lebih tinggi 37 meter dibandingkan Monas di Jakarta) kini telah menjadi ikon Ibukota Amerika.

image

Beberapa meter dari Washington Monument, di pinggir waduk Tidal Basin, keanggunan Jefferson Memorial tidak dapat ditolak. Menggunakan gaya Pantheon Romawi, bangunan dengan tiang-tiang dan kubah di bagian belakangnya, hadir kokoh, sekokoh perjuangan Thomas Jefferson, seorang penulis, pelukis, pemain biola, perancang Declaration of Independence, sekaligus presiden ke-tiga Amerika. Apa yang saya lihat dengan mata, senada apa yang diraba dengan kulit. Setiap sisi Jefferson Memorial dibangun dengan pualam, yang bila diiringi keangkuhan, pendirinya, John Russell Pope, bisa saja berkoar bahwa karya seni buatannya tersebut, tidak akan bisa runtuh.

image

Namun, ini bukan berarti semua orang di Amerika baik dan mengagung-agungkan sejarah mereka. Banyak juga yang tidak peduli. Namun, respek untuk pendahulu tersebut telah menjadi karakter umum yang merasuk dalam keseharian. Misalnya, ketika naik Metro (kereta rel listrik, yang menghubungkan Washington D.C. dengan Negara Bagian Virginia dan Maryland), hampir setiap hari saya melihat keluarga-keluarga Amerika atau rombongan siswa SD dan SMP dari berbagai negara bagian, berbondong-bondong datang ke Washington D.C, untuk wisata sejarah ; ke museum-museum yang tersedia gratis atau melihat kawasan The National Mall.

Tatkala Metro melintas sungai Potomac yang memisahkan Virginia dan DC, Bapak-bapak, sibuk menunjuk Lincoln Memorial, Washington Monumen, atau Jefferson Memorial yang kuncup-kuncupnya tampak jelas dari sungai. Mereka asyik berkisah tentang sejarah bangsa kepada anak mereka, yang dengan mata biru berbinar-pupil membesar, sangat antusias dan sibuk bertanya.

Para remaja yang berdiri menggelantung di tengah Metro, menunduk menatap ke luar jendela, ribut, saling pamer pengetahuan mereka tentang bangunan-bangunan itu. Ada kebanggaan dari mereka pada negaranya.

image

Jika kita kembali ke negeri sendiri, kecintaan terhadap sejarah, jauh-jauh hari sebenarnya telah dikumandangkan Bapak Bangsa, Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Sebuah kalimat yang digaungkan untuk menyulut kebanggaan sebagai orang Indonesia. Sebuah pernyataan yang mungkin tidak dapat dihitung lagi, berkali-kali masuk ke telinga. Namun, ironisnya, harapan Soekarno sepertinya belum mewujud nyata di negeri yang diperjuangkannya dengan susah payah.

Lebih dari 60 tahun setelah merdeka, kita masih asyik menggumulkan urusan pribadi seperti suku dan agama sebagai hal yang dijadikan urusan bersama. Kita menjadikan hal yang tak mampu dirubah - mengalir di darah (suku) dan sebuah keyakinan spiritual yang interpretasinya bisa berbeda-sebuah kepercayaan antara ciptaan dengan Tuhannya-sebuah hal yang sangat pribadi (agama) sebagai identitas diri. Kita lupa, dua hal tersebut bisa menjadi racun yang berbahaya bagi sebuah Negara, yang terbukti telah menjadi akar berbagai konflik di tanah air.

Kita lupa, para pendahulu membentuk Indonesia, adalah untuk menyatukan nusantara yang terdiri dari berbagai kerajaan, suku, dan agama. Karena unsur-unsur itulah yang kerap digunakan penjajah untuk memecah belah kita.

Mengapa setelah merdeka, kita sendiri yang menggunakannya sebagai senjata untuk melawan kawan sendiri? Apakah kita terlalu larut dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu? Semboyan yang mungkin malah lebih menyadarkan bahwa kita berbeda, bukan menyadarkan bahwa kita satu?

Bukankah kita dulu tak pandang buluh, bersatu, bangga dengan merah putih ke-Indonesia-an kita, ketika bersama-sama mengangkat bambu runcing, membidikkan senjata rampasan, mengusir penjajah dari negeri ini? Bukankah pula emosi kita bergejolak meneriakkan “Indonesia”, saling rangkul mengibarkan merah putih belasan meter ketika mendukung Timnas bertanding di Final Piala AFF 2010 menghadapi Malaysia? Kemana kebanggaan itu kini?

Kita seakan kehilangan arah, mengapung di awang-awang, mungkin karena bangsa ini tidak punya lagi tujuan bersama. Perlukah lagi kita dijajah supaya mau bersatu dan bangga sebagai Indonesia?

image

Kita tidak perlu membangun monumen atau patung, seperti di Amerika, untuk mengenang sejarah. Kita masih terlalu ‘muda’ untuk menghargai dan memaknainya. Kita hanya perlu beretrospeksi, kembali membaca dan mengenang, bagaimana sejarah pernah membesarkan bangsa ini. Belajar bahwa pahlawan-pahlawan kita tidak kalah luar biasa, tidak kalah berjibaku memerdekakan Indonesia.

Perjuangan mereka tidak layak disia-siakan. Mereka harusnya dibanggakan. Apa salahnya terus melanjutkan nilai-nilai yang telah ditanamkan para Pahlawan?

Setidaknya, ini bisa menjadi obat bagi mereka di alam sana, meredakan kekecewaan melihat negeri yang dulu mereka perjuangan dengan darah dan nyawa, kembali terjerembab tak jelas ke mana tujuannya. Sebuah obat, yang mungkin beberapa tahun ke depan, membuat bocah-bocah dari berbagai belahan dunia meloncat girang berteriak melengkingkan hal yang rasanya kini tak mungkin terjadi,

I’m in front of Istana Merdeka! I’m in front of Istana Merdeka!” ()

P.S. Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang teman-teman VOA dengan Wakil Presiden Indonesia ke-enam, Try Sutrisno yang sedang berkunjung ke Washington D.C. beberapa waktu lalu.

image

Rafki Hidayat
rhidayat@voanews.com
@RafkiHidayat