image

Sudah tiga tahun berturut-turut saya tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan teman-teman dekat di kampung. Tahun-tahun yang mewakili lamanya saya berprofesi sebagai reporter berita televisi. Awalnya terasa berat, apalagi mendengar kumandang Takbir tetapi tidak ada orang tua di dekat saya.

Bersedia bekerja di televisi, berarti menandatangani kontrak untuk mengorbankan seluruh waktu dan tenaga, dan punya kewajiban ‘siap sedia bekerja’ bahkan di hari libur.

Di hari-hari besar, termasuk Lebaran, meskipun kebanyakan karyawan cuti bersama, para reporter terus bekerja, kerap kali lebih keras. Mengapa? Karena stasiun televisi berita tidak pernah menghentikan siarannya. Iklan antri untuk ditayangkan, program siaran semakin gencar, misalnya yang melaporkan arus mudik-balik ke kampung halaman. Saya selalu kebagian tugas ini.

image

Masih jelas terbayang dalam ingatan saya, di tahun pertama menjadi reporter (2011), saya berlari-lari di Kapal Roro Pelabuhan Merak, Banten bersama seorang kameraman, sambil berteriak-teriak kepada Nahkoda kapal, meminta tolong agar kapalnya jangan berlayar dulu.

Ketika itu saya asyik mewawancarai pemudik yang memilih pulang kampung di hari pertama Lebaran, lupa bahwa kapal siap berlayar dan semua pagar-jembatan ke pelabuhan sudah ditutup. “Pak, tolong Pak, saya mau laporan Pak, dipecat saya nanti Pak.” Nahkoda kapal hanya bisa tersenyum kecut, kembali menyandarkan kapal dan membuka pagar. Tahun kedua berjalan serupa.

Dan di sinilah saya sekarang, di tahun ketiga menjadi reporter. Di Amerika, kondisinya ternyata tidak jauh berbeda. Yang pertama, saya tidak mungkin pulang kampung hanya untuk berlebaran. Kedua, saya tetap bekerja karena Idul Fitri bukan tanggal merah di sini.

image

Hal yang cukup mengagetkan saya adalah di Amerika, ternyata hanya Natal satu-satunya hari besar keagamaan yang diliburkan. Itu pun hanya satu hari. Hari besar keagamaan umat Kristiani lainnya, yang di Indonesia diliburkan, seperti Paskah, bahkan tidak menjadi hari libur di Amerika. Salah satu alasannya karena antara pemerintahan dan keagamaan di Amerika dipisahkan. Negara tidak ikut campur urusan agama warga negaranya. Di KTP, agama bahkan tidak ditulis.

Di satu sisi, saya sangat suka dengan sistem ini, menjadikan agama sebagai kepentingan pribadi individu. Tapi di sisi lain, saya kurang setuju karena tanggal merahnya jadi sedikit, hehehe. Jadi, kita sebenarnya sudah sangat beruntung punya libur yang banyak dan bahkan cuti panjang Lebaran bersama. Tapi bagi saya apalah arti tanggal merah, karena bekerja sebagai reporter membuat semua tanggal menjadi hitam.

Di hari pertama Lebaran, jurnalis-jurnalis VOA sibuknya bukan main. Pukul 5 atau 6 pagi, kami sudah bangun untuk persiapan bekerja, karena hampir seluruh program yang ditayangkan di televisi afiliasi di Indonesia dan internet menyiapkan edisi khusus Lebaran.

image

Lihat saja mbak Nadia Madjid dan mbak Ariadne Budianto, jurnalis VOA yang menggawangi acara Warung VOA dan Dunia Kita. Dengan roll rambut terpasang, mereka harus menyetir, berdandan, mengkoordinasi liputan, bahkan melakukan laporan langsung persiapan Lebaran di Amerika kepada Radio Suara Surabaya, dari dalam mobil menuju tempat Sholat Idul Fitri, yang juga menjadi lokasi utama syuting kami, di negara bagian Maryland, sekitar satu jam dari DC.

image

Berbicara tentang multitasking, hampir menjadi keharusan seorang jurnalis VOA memiliki kemampuan beragam. Bukan karena ego masing-masing, tetapi karena keadaanlah yang membuat seperti itu. Anggota tim kami sangat terbatas.

Alhasil, meskipun dibantu oleh tim ENG (juru kamera pusat VOA), tetap saja tidak cukup untuk mengerjakan empat program news-feature yang diproduksi VOA, khusus untuk hari nan fitri. Mbak Nadia, mbak Patsy, cak Supri, mbak Anne dan saya saling bahu-membahu menggunakan kamera dan membantu mengambil gambar satu sama lain untuk program masing-masing.

Aktivitas kami ini lumayan menguras energi, karena kami bermain dengan momen. Kami harus sigap, berpacu dengan waktu. Jika momen keramaian, bermaaf-maafan, berbagi kasih dan sholat terlewat, hilanglah sudah gambar bagus. Untuk melaksanakan tugas menyajikan berita informatif, menarik dan mencerahkan bagi penonton di Indonesia, rencana Sholat Idul Fitri-pun terpaksa kami korbankan.

image

Selesai syuting bukan berarti tugas selesai. Kami harus segera mengedit dan mengirimnya ke Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia di kampung halaman dapat segera ikut merasakan momen awal Lebaran di Amerika. Apalagi mengingat waktu di Washington DC lebih lambat 12-13 jam dibandingkan waktu di Indonesia.

Mempersiapkan editing bukan perkara gampang, setidaknya bagi saya yang masih baru dengan software editing dan format-format khusus VOA. Di Lebaran pertama di Amerika ini, untuk menyelesaikan program ‘Dunia Kita’ edisi khusus Lebaran, saya baru selesai bekerja pukul 23:30, untuk kembali dilanjutkan paginya. Tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan mbak Nadia Madjid yang harus menyelesaikan program Warung VOA sampai jam 03:00 subuh dan disambung lagi paginya.

Saya sebenarnya iri melihat teman-teman saya di Indonesia, bisa memasang foto kebersamaan dengan keluarga, atau foto-foto reuni dengan teman SMP dan SMA di Facebook atau profile picture BBM mereka. Betapa bahagianya menjadi mereka. Hangat bersama orang-orang terkasih. Saya menginginkan hal serupa dan kadang merasakan ini tidak adil.

Namun, saya bersyukur perasaan itu tidak bertahan lama, ketika teringat apa yang saya temui saat liputan. Saya sudah cukup beruntung, bahkan sangat beruntung. Saya memiliki pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Soal tidak bertemu keluarga, masih banyak yang lebih menyedihkan dibandingkan saya. Kondisi saya ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan perasaan seorang bapak yang telah belasan tahun belum bisa pulang ke Indonesia atau seorang ibu-ibu yang tangisnya berderai …mengungkapkan kerinduannya yang telah 25 tahun tidak bersua dengan anaknya di hari nan fitri, saat diwawancara tim VOA.

Di hari lebaran, saya sempatkan Skype dengan keluarga di kampung halaman. Teknologi ini menurut saya sangat membantu di saat-saat seperti ini. Bahagia sekali rasanya dapat mendengar suara dan melihat ekspresi wajah Ibu dan Papa di rumah. Saya memang tidak bisa menyentuh mereka, namun mengetahui bahwa mereka sehat dan bahagia saat anaknya berada ribuan kilometer jauhnya melintas benua, itu saja sudah lebih dari cukup. Karena bagi saya, hal yang terperih adalah di saat melihat orangtua kita menangis, dan tidak ada hal yang dapat membuat kita lebih bahagia dibandingkan saat menyaksikan senyum merekah di wajah mereka yang kita kasihi.

Selamat Idul Fitri Ibu dan Papa. Selamat Idul Fitri semua.

image

Rafki Hidayat
rhidayat@voanews.com
@RafkiHidayat

  1. myyearatvoa posted this