image

Awal Perjalanan

Tidak ada cara yang lebih tepat memulai kisah perjalanan empat hari saya ke bagian barat Amerika, selain pertemanan dengan Ryan.

Di hari-hari menjelang akhir musim semi yang lalu, saya mulai berpikir betapa beruntungnya fellow-fellow sebelumnya yang selalu diundang ke Amerika berdua atau bertiga. Mereka bisa memulai segalanya bersama. Setidaknya, seburuk apapun yang terjadi, mereka saling memiliki satu sama lain.

Di tengah kegundahan itu, VOA menerima seorang intern (anak magang) baru. Ryan hadir di VOA sekitar dua minggu setelah kedatangan saya di Washington DC. Dua minggu yang terasa seperti dua bulan, buat saya. Bukan karena saya tidak mensyukuri nikmat Tuhan mengabulkan segala mimpi, tetapi karena saya belum memiliki teman.

Perlahan-lahan, konsep yang sudah lama saya tanamkan, bahwa saya bisa hidup tanpa teman, kembali runtuh. Saya hanya manusia biasa yang butuh membagi kebahagiaan dan kesedihan.

Biasanya saya terlalu malas untuk memulai percakapan dengan orang baru, jika tidak benar-benar niat. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Saya dalam status “Darurat Butuh Teman”. Tidak hanya memantik percakapan, Ryan bahkan saya ajak makan siang. Sebuah prestasi!

image

Dalam kurang dari 15 menit, saya tahu bahwa kami sama-sama penggemar berat film. Bedanya, Ryan mengoleksi ratusan blu-ray original, sementara saya mengoleksi sekoper DVD bajakan. Kami sama-sama penggemar Coldplay dan Bon Iver. Kami sama-sama ingin masuk jurusan Hubungan Internasional dan ditolak.

Ryan memutuskan mengejar mimpi dengan kuliah pertelevisian ke Amerika, sementara saya terjebak dengan rumus-rumus dan teorema di jurusan Matematika. Tapi, yang paling penting, kami hobi jalan-jalan dan sangat ingin berpetualang ke bagian barat Amerika.

"Lo tertarik ke Vegas gak?," tanya Ryan, “Kita harus rencanakan!," balas saya.

Dalam kurang dari satu jam perkenalan dengan teman baru ini, sebuah rencana jalan-jalan ke Sin City, kota dosa, Las Vegas tercipta. Kami memilih untuk pergi di awal Juli.

The Dinamic Duo

Satu setengah bulan sebelum keberangkatan kami ke Vegas, Ryan telah menjadi seorang sahabat untuk saya. Tak terkira bantuan yang diberikannya. Di kantor, dia menjadwal berbagai liputan ringan dan mengerjakan hal yang paling malas saya lakukan saat liputan di Amerika; menghubungi lokasi  liputan untuk izin.

Tidak seperti di Indonesia yang tinggal datang dan bisa langsung liputan karena banyak orang yang senang direkam kamera atau masuk televisi, di Amerika, semuanya serba diatur dan sebagian besar lokasi harus didahului izin. Lebih sulit lagi, tidak semua orang berkenan diambil gambarnya. Close-up wajah anak-anak bahkan dilarang, kecuali orang-tuanya mengizinkan.

Bersama-sama kami membuat liputan sekreatif mungkin. Karena kami relatif baru sebagai wartawan, berbagai ide angle dan stand-up (penjelasan reporter di hadapan kamera) bermunculan dengan mudah. Misalnya stand-up sambil bertarung menggunakan pedang melawan bajak laut untuk paket tentang Festival Bajak Laut di DC, berpura-pura menjadi kiper sepak bola untuk paket tentang alat pendeteksi gol, atau membuat ulang adegan fenomenal latihan Rocky Balboa dari film “Rocky” (1976) berlari menaiki tangga Philadelphia Museum of Art, saat membuat paket tentang jalan-jalan ke Philadelphia.

Saya sebenarnya salut dengan teman saya ini karena dia bisa tahan liputan dengan saya. Di Indonesia, banyak rekan kerja saya yang bilang, saya bukan orang yang asyik untuk menjadi rekan liputan. Saya terlalu banyak permintaan gambar. Saya tidak nyantai. Untuk sebuah stand-up berdurasi 20 detik, saya bisa take berulang-ulang belasan kali karena kerap salah atau tidak puas-puas.

Saya sering iseng bertanya apakah dia tertekan bekerja dengan saya. Pertanyaan retoris yang selalu berakhir dengan selorohan. Jawabannya mungkin ‘Iya’, tapi apa boleh buat, Ryan tidak punya pilihan, hahaha.

image

Dari Vegas Hingga Monument Valley

Waktu berlalu, rencana ke Las Vegas, negara bagian Nevada terus berkembang. Saya berpikir, sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Nevada, tetapi tidak mengunjungi Negara Bagian Arizona dan Utah, yang bersebelahan dengan Nevada di bagian timur. Apalagi, ada keajaiban alam Grand Canyon dan ikon Amerika, Monument Valley di dua negara bagian itu. Ryan setuju.

Rencana ini bahkan berkembang menjadi ambisi untuk liputan. Saya teringat janji ketika Konfrensi Pers Penerima Fellowship PPIA-VOA, beberapa hari sebelum saya berangkat ke Amerika. Saya mengatakan sangat ingin berkunjung ke Monument Valley, serta membuat liputan tentangnya.

Saya sebenarnya tidak enak dengan Ryan, melibatkannya dalam ambisi pribadi saya. Tapi seperti biasa, dia tidak menolak, dan saya benar-benar memegang pernyataannya itu, meskipun saya tetap berjanji, “Yang paling penting, jalan-jalan kita ‘gak terganggu Bro. Kita harus menikmati. Itu yang utama.” Dia mengiyakan, tetapi dalam hati saya tahu, perjalanan tersebut pasti akan terganggu.

Segala perencanaan berjalan lancar. Saya juga sudah membuat Itinerary. Jalan-jalan tersebut akan berlangsung selama empat hari (Sabtu-Selasa). Hari pertama, dari Las Vegas kami langsung menuju ke Grand Canyon melewati Hoover Dam. Hari Kedua, kami lanjut ke Monument Valley. Hari ketiga, dari Monument Valley kembali ke Las Vegas, dan hari keempat, menghabiskan waktu di Las Vegas. Malamnya kembali ke DC.

Kami mendapat tiket pesawat yang lumayan murah, $267 pulang pergi dari Bandara Baltimore, negara bagian Maryland.

Tak Semudah Itu

Untuk bepergian dari Las Vegas menuju Grand Canyon dan Monument Valley, kami perlu menyewa mobil. Dari awal kami sudah tahu itu, karena sewa mobil di Amerika jauh lebih menguntungkan daripada ikut tur yang harganya bisa mencapai ratusan dolar. Tergantung perusahaan penyewa dan Negara Bagiannya, sewa mobil bisa hanya 25 dolar perhari. Dan itu biasanya sudah mobil bagus.

image

Masalahnya, untuk menyewa mobil perlu kartu kredit dengan nama yang sama dengan pemilik SIM. Rencananya Ryan yang akan mengemudi karena dia yang punya SIM. Tetapi Ryan tidak punya kartu kredit. Di Amerika, kartu kredit nyaris menjadi keharusan, apalagi untuk sewa-menyewa seperti ini. Rekam jejak pembayaran si peminjam, telah tercatat lengkap di kartu kreditnya.

Dua minggu sebelum keberangkatan, kami sibuk mencari jalan keluar untuk solusi ini. Solusi yang hampir menyelesaikan masalah ini adalah beberapa perusahaan rental mobil ternyata memperbolehkan pembayaran lewat kartu debit. Saya punya kartu debit. Tetapi tetap, aturannya, nama pemegang SIM harus sama dengan nama pemilik kartu debit. Masalah malah semakin runyam, karena rasanya tanggung sekali.

Karena penasaran, kami datangi Budget, salah satu perusahaan rental mobil terkenal di Amerika, untuk menanyakan apakah memang tidak bisa SIM dan debit dengan nama yang berbeda. Toh kami jalan-jalannya bersama. Saya berharap, dengan bertanya langsung, bisa mendapat jawaban bagus dan memuaskan. Tapi, belum selesai kami bertanya, penjaga counter tersebut langsung memotong, “No, you can’t.”

Hitung Mundur Hari-H

Empat hari sebelum pergi, kami belum mendapatkan solusi. Jika kami tidak dapat menyewa mobil, apa yang akan kami lakukan di Las Vegas dengan uang pas-pasan selama empat hari di kota casino itu? Pasti membosankan.

Saya pun mulai mencari tur ke Grand Canyon. Yang paling murah ternyata tidak murah sama sekali, sekitar 80 dolar. Bus tur ke Monument Valley bahkan hampir tidak ada. Kalaupun ada, tur dimulai dari Kota Phoenix, Arizona dan tidak melewati Grand Canyon. Bagaimana cara kami ke Phoenix? Oh, mumet memikirkannya.

Jalan terang seakan melambai-lambai di depan mata, ketika Ryan menemukan ada perusahaan penyewaan mobil di Las Vegas yang bersedia menerima pembayaran dengan uang tunai. Namun, kesannya mencurigakan karena kami harus memberikan deposit $500 di luar biaya sewa, yang akan dikembalikan setelah mobil kembali.

Masalahnya, kami tidak punya uang sebanyak itu untuk di-depositkan. Selain itu, review perusahaan tersebut buruk sekali. Bahkan ada yang bercerita, ketika mobil kembali, uang penyewa mobil ternyata tidak dikembalikan. Di sekeliling kantor banyak anjing buas yang dikandang, yang siap dilepaskan kalau si penyewa macam-macam. Ah, membaca itu saja nyali sudah ciut…

 image

Di saat saya letih berkeluh kesah, ternyata Ryan melakukan hal yang lebih cerdas. Dia membuat kartu debit sendiri, di hari-hari terakhir. Wow! Itulah beda kualitas kami, hahahaha.

Tetapi bukan berarti masalah selesai. Dua hari sebelum berangkat, Ryan membawa kartu debit barunya dengan wajah datar. “Tadi gue tanya Budget di Union Station, katanya gak boleh juga,” kata Ryan sambil memperlihatkan kartu debit barunya, yang ternyata belum tercantum namanya, karena dibuat secara kilat.

Ya Tuhan. Ya sudah, saya pasrah luntang-lantung empat hari di Las Vegas.

Delusi dan Optimisme

Di hari terakhir sebelum keberangkatan kami ke Vegas, keyakinan kami tiba-tiba muncul kembali. “Bisa lah, Bro. Lo kan punya kartu debit. Nanti kita di sana pura-pura nggak tahu aja! Jadi lo kasih lihat SIM sama kartu debit lo, plus surat Bank yang menyatakan kartu debit itu memang punya lo. Selesai!,”

Mendengar ocehan saya, Ryan tampaknya terprovokasi.

Kamipun mencoba menelpon Payless, perusahaan rental mobil murah, yang sepertinya sedang berusaha menarik pelanggan sebanyak mungkin untuk mencari tahu. Mungkin saja mereka mau berkompromi.

"Halo, I’m from Washington DC. We plan to go to Vegas this weekend…," saya ceritakan kendala kami dan tanyakan apakah dia bersedia menerima kartu debit tanpa nama milik Ryan.

Penerima telepon dengan suara berirama khas African-American menjawab, “Okay, just come in. If we can swipe it, you’re good,” jelasnya.

"YES! Okay, thank you, Bye bye!"

Saya dan Ryan sangat girang, meskipun dalam hati, kami tahu ini janggal. Tapi ya sudahlah…, kami sudah letih berpikir negatif. Kami butuh ketenangan sebelum perjalanan.

Jumat pagi, saya dan Ryan tiba di kantor dengan tas ransel dan  kamera DSLR kami masing-masing. Yang milik saya untuk foto-foto, sementara milik Ryan untuk merekam video dan wawancara. Rekaman audio wawancara dan untuk stand-up akan diambil menggunakan alat terpisah. Bentuknya seperti kotak berukuran sekitar 25x15x5 sentimeter dan lumayan berat. Tapi kami sudah terlalu bersemangat. Beratnya tas punggung kami tidak lagi jadi kendala.

Semangat kami meluap-luap. Saya tidak sabar lagi menyambut pengalaman yang menanti. Pengalaman yang akan dimulai kurang dari 12 jam. “Yuhuuuu, tunggu kami Vegas!”

image

Bersambung ke ‘A Journey to the West : Las Vegas (Part 2)’

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat

  1. myyearatvoa posted this