Hidup di Amerika dan bekerja di VOA, begitu banyak yang terjadi. Berjuta kisah diujung telunjuk ingin sekali ditulis, namun waktu terus berpacu dan saya kalah. Semoga foto-foto dalam blog saya kali ini, bisa mewakili apa yang saya lihat dan rasakan dari berbagai kota dan negara bagian di Amerika, menebusnya dari balik lensa.

WASHINGTON, D.C .

Pertama kali tahu akan ke Washington DC, saya mengharapkan sebuah metropolis yang sempurna dengan kenyamanan tingkat tinggi karena inilah jantung ibukota Amerika. Namun, ternyata tak segalanya indah.

image

Panas-Basah-Basah. The Fourth of July atau hari kemerdekaan Amerika, selalu dinanti. Konser besar di Capitol Hill dengan bintang tamu Barry Mannilow menjadi daya tarik yang berhasil menyeret ribuan orang untuk berkumpul dan duduk di deretan tangga gedung wakil rakyat. Padahal suhu mencapai 40 derajat Celcius.

image

Tak Pandang Bulu. Sesekali saya begah dengan budaya keteraturan di Amerika yang kadang terasa berlebihan. Pengguna segway pun bahkan harus berhenti, ketika lampu merah menyala.

image

Ke Perut Bumi. Perjalanan terasa panjang ketika masuk ke stasiun Metro (kereta api bawah tanah) di Washington DC. Terutama stasiun Dupont Circle, yang ketinggian eskalatornya mencapai hampir 60 meter.

image

Busway ala DC. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika, pujianlah yang tergumam karena transportasinya yang lengkap, nyaman dan tepat waktu. Namun, perasaan itu hanya bertahan seminggu. Ketika Metro kerap telat dan perbaikan jalur yang menganggu hampir setiap minggu, pujian itupun tak lagi terucap. Melihat ratusan orang menunggu tanpa kepastian, tak jauh berbeda dengan pemandangan halte TransJakarta.

image

Inikah yang Dicari? Kathy (kanan) dan Jeannele, baru tiba dari Mississippi untuk menikmati The Mall, kawasan wisata tempat Capitol Hill dan museum-museum gratis berada. Tapi menyusuri National Mall ternyata tidak segampang dan sesingkat yang mereka kira. Carousel dekat Museum Smithsonian menjadi tempat melepas penat.

image

Sesak Gemilangsari. Banyak yang mengira selalu membahagiakan jadi reporter televisi. Pahit selalu ada di setiap manis dan begitu juga sebaliknya. Misalnya yang dialami reporter PopNews VOA Ribka Gemilangsari, yang harus bersabar gagal mewawancarai Channing Tatum di premier film ‘White House Down’ di Georgetown karena posisinya telah terlebih dahulu diambil Central News VOA.

NEW YORK

Bersama beberapa teman, saya pernah berkelana ke New York karena kami berpikir, belum sampai di Amerika kalau tidak pernah ke New York. Kami hanya menghirup udara New York selama satu hari, tapi sehari itu akan membekas di kenangan selamanya.image

Ibukota Dunia. New York City adalah ibukota dunia. Jangan terkejut jika mendengar 800 bahasa berbeda di kota ini.

image

The Yellow Cab. Coba cari taxi yang lebih ikonik di seluruh dunia selain taxi kuning-nya New York City. Saya yakin tak mudah mencarinya. Melihat mereka tak sengaja berjejer menunggu lampu hijau di bawah reranting musim gugur, membuat hati meleleh.

 image

Autumn in Central Park. Hampir semua orang yang saya temui menyebut musim gugur sebagai musim favorit mereka. Terutama ketika melihat daun-daun menguning, memerah dan berguguran, merasakan udaranya yang sejuk dan langit hangat cerah. Sempurna sekali jika itu semua dirasakan dari salah satu taman paling terkenal di dunia.

image

image

Niagara. Tak ada cara yang lebih tepat mengagumi kemegahan Air Terjun Niagara, selain melihatnya dari bawah. Melihat betapa dahsyatnya deru air dan betapa kecilnya kita sebagai manusia. 

VIRGINIA

Virginia adalah rumah. Tempat melarikan diri dari letihnya Washington DC. Virginia adalah Bandung di tengah lelah dan membosankannya Jakarta.

 image

Sepeda Pantai. Pantai tidak hanya untuk dinikmati lautnya. Tetapi juga suasananya, apalagi dengan bersepeda.

 image

Dingin… Tidak… Dingin…? Di Indonesia, hampir semua pantai udaranya terasa panas. Tetapi di Amerika, ketika musim semi pantai sangat sejuk, bahkan dingin dengan suhu udara sekitar 15 derajat Celcius. Tak hanya saya yang merasakan dinginnya, dua anak perempuan yang sedang berwisata di Virginia Beach, berusaha keras mengumpulkan nyali untuk menyentuh air.

 image

Hampir Berakhir. Pantai menjadi idola di musim panas. Kursi-kursi pantai di Virginia Beach telah siap untuk digunakan beberapa minggu sebelum kehadirannya,.

image

image

Manassas Air Show, Manassas, Virginia

MARYLAND

Memori pertama saya tentang negara bagian ini, khususnya Kota Baltimore adalah serial di The X-Files. Beberapa kasus yang diinvestigasi Mulder dan Scully terjadi di sini. Dengan kekerontangannya, kemisteriusan kota ini mengundang penasaran saya. Namun, ternyata bukan kering lah yang mencuri hati di sini.

image

Pikat Pelabuhan. Tak banyak yang disisakan Baltimore saat ekonomi perlahan-lahan memburuk. Kota ini seakan mati. Banyak gedung yang ditinggalkan. Sepi ketika mengunjunginya di akhir pekan. Namun, di balik semua itu Inner Harbor diam-diam memompakan denyut kehidupan bagi Baltimore, menjadikannya jantung yang menyemangati seluruh isi kota.

 image

Tatkala Langit Bersabda. Setiap hari feri melayani penumpang menyebrang dari National Harbor, Maryland menuju ke kota tua nan eksotis, Alexandria, Virginia. Tapi sore itu pemandangannya berbeda. Awan tebal dan secercah liang tempat cahaya matahari menyeruak, membuat langit seakan sedang berfirman.

PITTSBURGH, PENNSYLVANIA

Liputan sambil jalan-jalan adalah hal yang selalu ditunggu selama di VOA. Terimakasih untuk mba Nia ‘Ntes’ Iman-Santoso dan temannya Nurhaya ‘Aya’ Muchtar yang membawa saya melihat salah satu skyline paling mencengangkan di dunia.

image

The Skyline. Saya tak bisa berhenti berdecak mengagumi langit Pittsburgh dan gedung-gedungnya yang perkasa, dibumbui puluhan jembatan-jembatan besi yang mengelilinya. Menatapnya membuat saya teringat sebuah film. Ya, kota inilah yang menjadi setting film Batman, ‘The Dark Knight’. Pittsburgh adalah Gotham City.

image

Kombinasi Eksotis. Mendengar dan melihat Pittsburgh, sekilas kota ini terlihat kasar. Namun, tak dipungkiri, kekasaran itu membuat keindahannya berbeda. Gedung pencakar langit, disambut sungai, jembatan, dan rumah-rumah di kaki bukit. Di mana lagi bisa menemukan itu di satu tempat?

image

Gemerlap Kota. Dari Mount Washington, skyline Pittsburgh di malam hari bagai percikan kembang api yang menyilaukan mata tapi menggoda.

CHICAGO, ILLINOIS

Pertama kali saya melihat Chicago, hanya dari bandara, ketika kota ini diselimuti salju. Entah mengapa saya tidak begitu tertarik untuk berkunjung lagi. Saya bersyukur perasaan itu tidak lama, karena untuk kedua kalinya di Amerika, setelah NY, saya tercengang menatap arsitektur modern yang membelalakkan mata.

image

Chicago O’Hare Therapeutic Airport. Bandara adalah kesan pertama terhadap sebuah kota. Penghubung antar terminal di bandara Chicago ini adalah kesan yang tidak akan mudah dilupakan. Berjalan di bawah lampu, yang mengular bergerak dengan musik lembut, bagai dunia mimpi futuristik. Lelah dan penat hilang sejenak.

 image

Sulur Pucuk Kota. Di puncak John Hancock Center, salah satu pencakar langit tertinggi di Amerika, seperti inilah wajah Chicago dari ketinggian 300 meter.

 image

image

Si Tua & Si Muda. Tahun 1871 kota ini luluh-lantak hangus terbakar, hanya sedikit bangunan tua yang berhasil bertahan, salah satunya adalah Chicago Water Tower (bawah depan). Bencana ini tak lama melukai Chicago, dalam satu abad kemudian, puluhan gedung pencakar langit tumbuh sambung menyambung dari permukaan bumi, menjadikannya salah satu pusat ekonomi terpenting di Amerika.

image

Awan Kacang. Inilah kecerdasan yang muncul dari kesederhanaan. Cloud Gate ‘hanya’-lah sebuah seni instalasi luar ruangan, yang mengandalkan pencerminan. Terbuat dari baja, karya yang juga dikenal dengan sebutan the bean karena rupanya yang seperti kacang ini, membuktikan bahwa kesederhanaan dan fatamorgana visual bisa menjadi magnet wisata yang kuat. Cloud Gate telah menjadi tujuan wisata terfavorit kedua di Chicago.

 image

Holyluya. Didirikan tahun 1874, rupa ‘Holy Name Chatedral’ ini sesuci namanya.

image

Hold Me Tight. Latihan Salsa di dalam pekarangan The Art Institue of Chicago hanya diizinkan sampai pukul 4 sore. Waktu para peserta kelas ini pun habis. Semangat membuat mereka melanjutkan latihan di luar pagar.

Selama masih bisa, saya akan terus merekam apa yang terhampar di hadapan mata. Namun, saya tahu kamera hanyalah perwakilan mata. Satu frame untuk sebuah peristiwa. Satu frame untuk secercah alam dan kota yang indahnya jauh melebihi sudut mata. Memang, kadang selembar foto bisa sangat memikat hati, tapi melihat seluruh peristiwa itu langsung, bergerak bersamanya, menghirup udaranya, mendengar derap dan bunyinya, berkali-kali jauh lebih indah. Semoga kamu juga bisa merasakannya.

 

Rafki Hidayat

rhidayat@voanews.com

twitter : @RafkiHidayat

  1. noviahyppy reblogged this from myyearatvoa
  2. naon-waelah reblogged this from myyearatvoa
  3. myyearatvoa posted this