Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Massachusetts: Dari Boston Hingga ke Semenanjung Atlantik

Musim gugur ini saya sempat jalan-jalan ke Massachusetts, negara bagian tempat sejarah Amerika dirangkai selama beratus-ratus tahun, surga bagi orang-orang berotak ‘paling encer’ di dunia,  rumah asal-muasal keluarga Kennedy, salah satu dinasti politik paling berpengaruh di Amerika, dan tempat bom menghentak Amerika… bulan April lalu.

MEMORI 11 TAHUN LALU

image

Suhu tidak lebih dari 5 derajat Celcius ketika kaki saya dan Aryo, seorang teman dari Maryland, memijak jalanan bata di jantung Kota Boston, ibukota Massachusetts.

Dengan uap mengepul dari mulut tanpa henti dan tangan yang terpaksa harus disembunyikan di kantong jaket supaya tetap hangat, memori 11 tahun lalu, ingatan pertama saya tentang kota Boston, kembali hadir.

Guru sejarah kelas 1 SMP berkisah tentang Boston Tea Party, protes warga Boston terhadap pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1773, yang memaksa mereka membeli teh dari Inggris dan membayar pajak. Kebijakan ini dinilai merugikan petani lokal. Murka, warga Boston pun menyamar menjadi orang Indian, menyelundup ke kapal-kapal Inggris dan membuang berpeti-peti teh Inggris ke Boston Harbor.

image

Peristiwa itu ternyata berujung klimaks dengan revolusi dan bahkan kemerdekaan Amerika. Bu Guru berkali-kali berujar, banyak guratan sejarah penting Amerika itu mengambil tempat di Boston. Tidak nyata rasanya, sekarang saya sedang melangkah di tengah bekas guratan sejarah itu.

MENELUSURI JEJAK KEBEBASAN

Bagaikan tahu dengan kebutuhan menikmati sejarah, Boston hadir dengan Freedom Trail, sebuah jalur bata merah sepanjang 4 kilometer yang menuntun pengunjung ke 17 lokasi sejarah penting Amerika.

image

Salah satunya adalah Boston Common, taman umum tertua di Amerika. Setahun sebelum kemerdekaan Amerika pada tahun 1776, ribuan tentara Inggris kerap berkemah di sini. Dengan senapan di tangan, mereka mencegah berbagai perlawanan warga Boston untuk memperjuangkan kemerdekaan Amerika.

Indah sekali melihat langit biru musim gugur dengan matahari pekatnya, menyinari dedaunan kuning yang tumbuh di taman ini. Saya tidak tahu apakah banyak yang berubah di Boston Common. Namun, ada satu hal menarik, yang saya yakin berbeda dengan 200 tahun lalu. Jika dulu tentara Inggris yang berkemah, sekarang para tunawisma-lah yang menjadikan taman ini tempat tidur raksasa mereka.

image

Mencengangkan mengetahui ada 7.000 tunawisma yang hidup di Boston. Mereka tak ubahnya manusia-manusia jalanan Ibukota. Jumlah mereka sekitar satu persen dari populasi warga Boston.

image

Sebenarnya rumah singgah telah disediakan. Namun, hanya sekitar 12 persen yang bersedia tinggal di sana. Alasannya, banyak kisah buruk. Mulai dari pencurian barang oleh sesama tunawisma, pengedar narkoba dengan jebakan-jebakannya, dan banyaknya kutu kasur pembawa penyakit.

YANG TUA SELALU DIJAGA

Perjalanan di Freedom Trail, sempat berhenti lama di Old State House. Saya terkesima melihat bangunan kuno ini masih kokoh berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya.

Pada rumah bata berusia hampir 300 tahun inilah, para pendobrak-pendobrak muda Massachusetts memperdebatkan pajak, peraturan kolonial Inggris yang mengekang, serta menyusun strategi revolusi untuk meraih kemerdekaan.

image

Saat itu ada belasan orang Amerika di samping saya dan Aryo. Saya yakin di pikiran kami berbeda. Di saat mereka bersemangat mencari tahu sejarah negaranya, saya bertanya-tanya apakah masih banyak bangunan kuno-bersejarah di tanah air yang dibiarkan berdiri, tumbuh berkembang bersama kemajuan di sekelilingnya? Saya yakin Anda lebih tahu jawabannya.

Kekaguman ini bukan tanpa cela. Kami sempat bingung mencari Old Corner Bookstore, salah satu situs di Freedom Trail tempat karya-karya penanda zaman Charles Dickens, Nathaniel Hawthorne dan Mark Twain diproduksi. GPS berkali-kali mengarahkan kami ke restoran Meksiko, Chipotle. Tak yakin, kami memutar arah, namun tetap berakhir di tempat yang sama. Bertanya kanan-kiri, ternyata memang gedung Old Corner Bookstore sekarang digunakan oleh Chipotle. Namun, penggunaan ini disepakati tidak boleh merusak bentuk asli gedung.

image

Langkah siang itu akhirnya membawa kami ke Boston Harbor, pengkristalan ingatan puncak peristiwa Boston Tea Party, lebih dari 2 abad yang lalu. Wujudnya ternyata jauh lebih Indah dari yang saya bayangkan. Kapal-kapal layar berpadu berkibar-kibar, seakan terus memberikan semangat kepada warganya menolak setiap ketidakadilan. Semangat yang seakan merayakan kebebasan yang telah diusahakan nenek moyang mereka, beratus-ratus tahun lalu.

image

MENCIUM KAKI HARVARD

image

Boston adalah Yogya-nya Amerika, terkenal dengan sebutannya sebagai kota pendidikan. Terang saja, salah satu universitas terbaik di dunia, Harvard University, ada di sini.

Dulu saya sempat mempunyai cita-cita kuliah jurusan Hubungan Internasional di Jakarta, lalu lanjut S2-nya di Harvard. Keren sekali kedengarannya meskipun tahu sulitnya minta ampun untuk masuk Harvard. Namun, rasa penasaran mengunjungi mantan kampus idaman ini tidak pernah hilang. Hidup sering tidak terduga, saya hanya bisa berharap dan berupaya.

Harvard sebenarnya berada di Cambridge, sebuah kota di utara Boston. Mencapainya, saya dan Aryo menggunakan T, kereta api listrik mirip Metro-nya Washington DC.

image

Menghirup udara segar, saya keluar dari stasiun dengan awan-awan yang memenuhi langit. Muda-mudi lalu-lalang dengan pakaian hangat mereka. Dari gaya dan tas yang digendongnya, ketahuan mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang sedang menyegarkan otak di Harvard Square.

image

Harvard Square adalah tempat gaulnya anak-anak Harvard. Penuh outlet, pub dan restoran. Siang itu kelabu. Berkeliling diiringi semilir angin dingin, saya merasa sedang berada di sebuah kota kecil di Inggris ; jalanan kecil dengan bangunan-bangunan tuanya. Tidak salah, karena nama Cambridge sendiri diambil untuk menghormati Universitas Cambridge di Inggris, tempat banyak penduduk-awal kota ini berasal.

image

Gerbang kampus Harvard berada di salah satu sisi Harvard Square. Gedung-gedung berdiri rapat bewarna merah bata mengelilingi daun-daun menguning yang mulai berguguran di Harvard Yard, lapangan yang merupakan salah satu bagian tertua Harvard.

image

Tidak terbayangkan di sini pernah melangkah dan menuntut ilmu tokoh-tokoh penting dunia: delapan Presiden Amerika termasuk George W. Bush dan Barack Obama, Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, aktivis lingkungan hidup Al Gore, penulis Michael Crichton, aktor Tommy Lee Jones dan ratusan pemenang penghargaan Nobel.

Aneh juga rasanya membayangkan mereka hanyalah manusia biasa yang bersekolah, menggendong tas, bercanda dengan teman-temannya dan kedinginan menatap daun-daun berguguran. Apakah ketika itu mereka tahu, bertahun-tahun kemudian, setiap kata, tindakan atau keputusan mereka akan berpengaruh bagi dunia?

image

Lamunan saya buyar saat melihat kerumunan turis yang berjalan mendekati sebuah patung dan berfoto bergantian di taman itu. Patung itu berwujud lelaki berjubah wisuda yang sedang duduk dan memegang buku di tangan. Uniknya, setiap orang berusaha memegang telapak kaki kirinya. Pastinya tak terhitung jumlah orang yang melakukan itu, terlihat dari warna kakinya yang telah memudar keemasan.

Turis di sebelah saya memberi tahu, itu adalah patung John Harvard, salah satu pendiri universitas tertua di Amerika itu. Memegang kakinya bisa membawa keberuntungan. Tak ada salahnya mencoba, tetapi saya tidak mau hanya memegangnya:-).

image

MIT : KAMPUS TEKNIK ARSITEKTUR CIAMIK

Tak berhenti sampai di Harvard, napak tilas kampus ternama di Cambridge, berlanjut ke universitas yang selalu digaung-gaungkan oleh dosen-dosen saya di ITB dulu, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Awan-awan hitam yang tadi menaungi, mulai menyingkir membiarkan langit biru pekat bergantung di atas kepala. Suasana bumi terkesan lebih bahagia ketika kami menumpang bus dari Harvard ke MIT. Hanya 20 menit. Lebih bahagia lagi ketika kami sampai dan melihat sulur-sulur arsitektur menakjubkan dari salah satu kampus teknik terbaik di dunia ini.

image

Mula-mula saya terkesima dengan Kresge Auditorium. Berdiri sejak tahun 1955 dan pernah menjadi ikon arsitektur pertengahan abad ke-19, auditorium ini adalah tempat pelaksanaan acara formal, konser dan bahkan pernikahan mahasiswa-mahasiswa MIT. Di mata saya, wujudnya tak ubah kerang yang sedang mengintip, memperlihat isi-isi perutnya.

image

Simmons Hall. Mungkin ini adalah asrama-mahasiswa paling unik di seluruh dunia. Bentuknya bagai lego. Tapi jangan salah, gedung bernilai Rp900 miliar dan rumah bagi sekitar 400 mahasiswa MIT ini pernah disebut sebagai “the most beautiful piece of architecture” di Boston, tahun 2004 silam.

image

Mencari gedung ketiga bukan hal gampang. Kami sempat tersesat meskipun GPS dan suara siri terus menuntun. Namun, siapa yang kesal saat tersesat, jika yang dilihat adalah para tentara yang sedang melakukan penelitian tentang misil, gemerisik ilalang di tengah kampus, dan laboratorium dengan pemandangan yang dramatis.

image

image

Dan sampailah kami di gedung ketiga. Ray and Maria Stata Center. Inilah arsitektur yang paling saya kagumi di MIT. Rupanya merefleksikan pemikiran dan kerja keras. Patahan-patahannya bagai meneriakkan kebahagiaan sebuah temuan. Wajar jika jurusan Ilmu Komputer dan laboratorium Artificial Intelligence MIT bermarkas di sini.

 image

KE KAMPUNG KENNEDY

Udara menjadi sangat dingin. Pukul 5 sore, matahari perlahan-lahan terbenam setelah kami mengunjungi lokasi bom Boston yang telah pulih dan melihat lelaki-lelaki paruh baya bermarathon, menuju garis finish Boston Marathon yang selalu terpajang di jalan.

image

Letih rasa kaki berjalan seharian. Namun, itulah inti travelling. Melihat langsung segalanya, merasakan segala hal, mematri memori sebanyak mungkin.

Langit sudah hitam ketika kami menerjang jalanan kota, yang saat itu penuh uap bekas tersiram hujan dengan mobil sewaan kami. Sepanjang jalan, saya dan Aryo sibuk menceritakan pengalaman yang lumayan banyak seharian tadi.

Dari Boston, kami berencana nyetir satu setengah jam dan menginap di Hyannis, Cape Cod, , kota tempat kediaman keluarga Kennedy. Sang mantan Presiden fenomenal, John F. Kennedy, pernah tinggal dan menghirup keindahan Amerika di setiap musim panas kota ini.

Rasanya saya tidak sabar menunggu hari esok yang akan membawa saya  ke salah satu semenanjung paling indah di Massachusetts yang berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik.

 

image

Bersambung ke “Lautan Mimpi di Cape Cod”

Rafki Hidayat

Email : rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat