Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Lautan Mimpi di Cape Cod

image

"A man may stand there and put all America behind him." -Henry David Thoreau

Henry David Thoreau, pujangga abad ke-19 yang telah menginspirasi pemikiran Tolstoy dan Gandhi, memuji keindahan Cape Cod. Pujian Thoreau inilah yang akhirnya membawa saya dan Aryo ke semenanjung di tepi Atlantik,  berkendara satu setengah jam dari Boston menuju ke selatan.

image

Kalau dilihat dari udara, Cape Cod terlihat bagai lengan yang sedang dikepalkan, dengan kota-kota kecil yang terkenal akan keindahan pantainya.

Malam itu kami menginap di salah satu hotel di bagian trisep Cape Cod, di sebuah kota kecil bernama Hyannis, tempat anak-anak keluarga Kennedy dibesarkan.

Presiden John F. Kennedy sendiri pernah menjadikan rumah keluarganya di sini sebagai markas pemenangan Pemilu Presiden tahun 1960. Setelah terpilih, salah satu Presiden Amerika paling karismatik dan fotojenik itu menjadikan Hyannis sebagai rumah musim panasnya, sebagai Summer White House.

image

Saya ingin sesegera mungkin menikmati kenyataan itu, namun gelapnya langit dan letih telah menenggelamkan ambisi kami hari itu.

KE UJUNG SEMENANJUNG

Pukul 9 pagi, kami bergegas ke tujuan pertama, Race Point Beach, Provincetown, di bagian paling ujung, di kepalan tangan Cape Cod.

Hari itu benar-benar sempurna. Langit bersih tanpa awan bagai membentang lebih tinggi berkali-kali lipat. Matahari terik, namun suhu hanya 10 derajat Celcius. Sangat sempurna.

Ketika mendekati pantai, saya hampir tidak percaya apa yang tersaji di hadapan mata. Mungkin sekilas hanya lapangan kosong dengan sebuah rumah bercat putih mencolok menyendiri. Namun, suasana ketika itu membuatnya terasa tidak nyata. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Semua warna terasa pekat. Biru pekat. Putih pekat. Saya merasa kami bagai dua bocah yang tersedot ke dunia mimpi dan disajikan sebuah petualangan.

image

Kami berlari ke pantai. Ada keraguan di hati karena tidak ada bau laut. Tak terdengar debur ombak. Hanya butir-butir pasir kering yang berderai ketika dipijak. Ilalang-ilalang laut bergemerisik, tidak hanya berbunyi, tetapi berkerlap-kerlip memantulkan cahaya matahari. Di pinggir laut, mereka terbentang sejauh mata memandang. Saya tak mampu berkata-kata.

Menyusuri setapak, ilalang berganti hamparan pasir maha luas. Saya hanya bisa tertawa, ternganga dan berlari-lari kecil. Yang terbayangkan saat itu hanyalah, di setiap langkah apakah saya akan terbangun dari mimpi? Tapi itu tidak pernah terjadi.

image

RAHIM AMERIKA

Selain keindahannya, tidak ada yang lebih mengagumkan dari Race Point Beach selain kebersihannya. Tidak ada satu pun sampah terlihat. Kadang ada perasaan bersalah memijak pasir, meninggalkan bekas telapak kaki, menghilangkan kehalusannya.

image

Meskipun menjadi salah satu tempat favorit di musim panas, Race Point bagai masih perawan. Tak ada yang berjualan di pinggir pantai, tak ada bangunan-bangunan tinggi berjejer, tak ada komersialisasi, bahkan tak ada hotel dalam radius dua kilometer.

Dengan ketenangan airnya dan keheningannya, mungkin tidak banyak yang menyangka, di pantai inilah koloni dari Inggris, para Pilgrim berlabuh, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Amerika pada awal abad ke-17.

image

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka ketika sampai di Provincetown, hampir empat ratus tahun lalu. Mereka mungkin berlayar ribuan kilometer melintas samudera hanya untuk mencari kebebasan beragama. Tapi saya tahu, ketika sampai di sini, di pantai ini, letih terombang-ambing di lautan yang mereka rasakan berbulan-bulan, terbayarkan.

image

Jika mereka melihat yang sama dengan apa yang saya lihat saat ini, mereka mungkin merasa perjalanan panjang itu memang diberkati yang Kuasa. Mereka disambut pantai, disambut daratan yang bagai nirwana. Surga tempat mereka melahirkan anak-anaknya, para tetua Amerika.

RUMAH PENYELAMAT

image

Satu-satunya bangunan yang ada di pinggir pantai ini adalah The Life Saving Station.  Pertama kali melihatnya, gedung ini seperti rumah seorang kaya penyendiri yang memiliki sebuah pantai pribadi. Namun, faktanya lebih mengagumkan daripada itu. Sejak tahun 1897, rumah ini adalah stasiun penyelamatan bagi korban-korban kapal karam di sekitar Race Point Beach.

image

Ada kisah menarik. Gedung yang diarsiteki George R. Tolman ini awalnya  berada di Nauset Beach, Chatham, di bagian siku Cape Cod. Namun, karena abrasi laut terus menerus, memaksa pemerintah pada tahun 1977 memindahkan bangunan ini ke tempatnya sekarang.

image

Di belakang The Life Saving Station, terhampar bukit-bukit pasir, menambah kesan surreal yang amat layak dibingkai bak lukisan.

image

BERBURU MERCUSUAR HINGGA KE PORTLAND

 image

Ketika matahari menerangi pucuk kepala, kami meninggalkan Race Point menuju ke destinasi berikutnya, Portland, di Negara Bagian Maine, tempat mercusuar paling sering difoto di Amerika Utara, Portland Head Light berdiri megah.

image

Portland terletak di bagian utara Boston. Dari Provincetown, Cape Cod, kami harus berkendara sekitar 3 jam. Dalam mobil, kami tergelak, takjub sendiri karena seluruh rencana sejauh ini berjalan lancar. Dalam satu setengah hari, kami mendatangi semua tempat yang ditargetkan. Tinggal satu tujuan lagi dan sempurnalah perjalanan ini.

Sebagai pemanasan, kami singgah dulu ke mercusuar Chatham Light di bagian siku Cape Cod.

Lebih dari separuh persitiwa tenggelamnya kapal di Samudera Atlantik hingga Teluk Meksiko terjadi di sekitar Cape Cod. Peran mercusuar sebagai penanda daratan, pantai penuh karang dan pembantu navigasi, amatlah vital di wilayah ini.

image

Chatham Light adalah bagian dari sistem penyelamatan itu. Mengagumkan mengetahui mercusuar ini dibangun atas inisiasi Thomas Jefferson, founding father-nya Amerika.

Meskipun saat ini satelit dan navigasi canggih telah dimiliki kapal-kapal, mercusuar Chatham tetap dipertahankan. Sebuah lentera penerang modern bahkan dipasang tahun 1969. Semua, tak lain dan tak bukan hanya untuk mengingatkan keunikan dan pentingnya peran mercusuar ini dalam sejarah maritim Cape Cod.

 image

Saya kaget melihat waktu telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Masih perlu berkendara selama dua jam hingga sampai ke Portland. Tatkala musim gugur, waktu terang memendek. Sekitar pukul lima sore, matahari telah terbenam. Apa indahnya melihat mercusuar ketika segalanya gelap? Kami pasti hanya akan melihat cahaya yang dipancarkan lenteranya saja.

Aryo langsung memacu mobil. Boston terlintasi. Kami terus bergerak ke utara melewati negara bagian New Hampshire, sebelum sampai di Maine.

image

Musim gugur membuat alam benar-benar menawan. Apalagi kami berkemudi di salah satu tempat paling Indah untuk melihat daun-daun berubah warna, yaitu di New England, kawasan pemukiman pertama imigran Inggris di timur laut Amerika, yang melingkupi Negara Bagian Maine, New Hampshire, Massachusetts, Vermont, Rhode Island dan Connecticut.

image

Memasuki Maine, jalanan sempat macet beberapa kali. Ufuk barat mulai menelan sang mentari. Gelap datang. Jalan terus mengecil dan kami memasuki kawasan pemukinan warga di pinggir hutan. Sangat gelap. Tidak ada lampu jalan. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu mobil sewaan kami. GPS memperlihatkan, dalam tiga menit kami akan sampai.

GAGAL

“Destination is on your left.”

Suara siri terdengar sangat kencang di tengah kesunyian itu. Saya agak was-was. Di sekeliling kami gelap gulita. Aryo sedang memutar setir ke kiri, berbelok masuk, ketika badan saya tiba-tiba terdorong ke depan dan terhempas lagi ke kursi mobil. Rem digenjot dadakan.

“Ada pagar,” sahut Aryo agak terengah.

Saya hanya terdiam dan ternganga. Jalan ke Portland Head Light ditutup.

Perlu beberapa saat bagi kami untuk mengambil keputusan. Saya sendiri kesal dan bertanya-tanya, mengapa tempat wisata di tempat terbuka  dan seterkenal itu sudah ditutup sebelum jam 6 sore?

“Yo, kita cari jalan masuk dari tempat lain, kita balik lagi aja, coba terus jalan ke atas.”

Mobil kami mundurkan ke jalan besar, terus menyusuri dan mencari apakah ada gerbang lain ke Head Light. Belokan pertama ditutupi pagar. Belokan kedua bukan pagar, tetapi palang yang panjang membentang. Belokan ketiga, tidak ada pagar dan palang, tetapi di kanan-kirinya terdapat papan bertuliskan “Private Property.” Kemungkinan besar itu adalah kediaman penduduk. Belokan-belokan selanjutnya membuat kami putus asa. Semuanya dipagari.

Meskipun nyaris tidak ada lagi kemungkinan melihat mercusuar paling terkenal di Amerika itu, kami kembali ke gerbang utama, berharap menemukan petunjuk yang bisa membawa kami ke gerbang yang masih terbuka. Namun, harapan itu hampa belaka. Melihat tulisan di salah satu dinding pagar, saya tersadar, kami sudah pasti tidak akan melihat Head Light hari itu.

“Open Daily 10:00 AM – Sunset.”

Kami benar-benar telat, matahari telah terbenam lebih dari setengah jam yang lalu.

MERCUSUAR TERAKHIR

Dengan berat hati, kami meninggalkan gerbang Portland Head Light tanpa mendapatkan apa-apa. Hanya hampa. Meskipun tidak mau berpikir bahwa tiga jam perjalanan terbuang sia-sia, tetapi itu terus menggaung di kepala.

Mobil kemudian kami arahkan ke pusat Kota Portland. Sepi. Memang menjadi kebiasaan di Amerika, pada hari Minggu, sebagian besar toko dan pusat ekonomi tutup lebih awal, bahkan sebelum pukul enam petang. Namun, di kiri-kanan kami ada beberapa restoran seafood yang masih buka. Portland memang terkenal akan hasil lautnya yang kaya. Berharap mengobati kekecewaan, kami singgah dan santap malam di salah satu restoran itu.

image

Masih penasaran, setelah makan malam saya iseng bertanya kepada pelayan restoran, apakah ada mercusuar lain di dekat kota yang masih bisa didatangi hingga malam. Pertanyaan kami dibalas si pelayan dengan sebuah brosur berisi peta lokasi-lokasi mercusuar di Portland. Hanya satu yang terbuka untuk umum 24 jam, Spring Point Ledge Lighthouse. Letaknya hanya lima belas menit dari restoran seafood itu.

Saya dan Aryo bergegas naik ke mobil karena pukul sebelas malam, mobil harus dikembalikan ke car-rental di Boston. Aryo sangat bersemangat. Jalanan Portland yang sepi diterjangnya dengan mulus. Kurang dari lima belas menit kemudian, kami sampai. Tidak ada palang. Tidak ada pagar. Kami bahkan bisa memarkirkan mobil di dermaga.

Udara dingin menusuk. Bau laut menyeruak. Tidak ada siapa-siapa selain kami. Lagi-lagi segalanya gelap gulita. Cahaya putih berkali-kali menerabas mata kami. Spring Point Ledge Lighthouse, berdiri tidak lebih dari 100 meter di depan mata. Hanya cahaya dari lenteranya saja yang tampak. Selebihnya gelap.

Saya dan Aryo terus mendekati sumber cahaya. Kami melangkah perlahan diterangi cahaya lampu handphone. Rumput tebal berganti onggokan-onggokan batu yang memanjang sejauh 50 meter ke arah laut, menuju mercusuar.

Tidak tahu apa yang ada di pikiran, mungkin hanya ambisi, kami terus berjalan di atas batu-batu itu mendekati mercusuar. Di sekeliling kami gulita. Langkah hanya diterangi temaram sumber cahaya di genggaman tangan. Semakin jauh, saya mulai merasa bodoh. Tak akan ada yang bisa dilihat. Hanya cahaya mercusuar yang tampak hilang-timbul. Saya menghentikan langkah. Aryo telah terlebih dahulu melakukannya.

 “Kayaknya percuma deh Ki,” sahutnya.

image

Saya pasrah, berjalan kembali ke arah rumput. Angin laut semakin kencang. Kami telah dikalahkan malam. Tidak ada lagi yang bisa kami perbuat selain merelakan keinginan kami untuk melihat mercusuar. Saya coba ingatkan diri. Menyadarkan diri bahwa yang dilihat dalam kurang dari 48 jam terakhir ini, sudah lebih dari cukup. Mungkin mercusuar-mercusuar itu memang disimpan untuk kunjungan selanjutnya ke negara ini.

Kami terus berjalan kembali ke mobil, berkendara ke selatan menuju Boston, untuk terbang pulang ke DC esok subuh-nya. Malam itu suara radio yang memenuhi mobil. Kami letih. Fisik dan emosional. Letih yang saya syukuri karena kami telah mengeluarkan segala daya upaya untuk melihat Boston, Cape Cod, dan Portland. Melintasi tiga Negara Bagian dan melihat sebanyak mungkin dalam dua hari. Hanya dua hari, yang akan kami kenang selamanya. ()

Rafki Hidayat

rhidayat@voanews.com

Twitter : @RafkiHidayat