Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Menakar Sang ‘Berandal’

“Iko… Iko… Iko…”

Teriakan puluhan wartawan disambut kilatan blitz, terus menghujani Iko Uwais. Tatapan mata dan senyum tipisnya menyiratkan kepercayaan diri. Menoleh ke kanan dan ke kiri, aktor-pesilat ini berusaha memuaskan hasrat puluhan wartawan internasional yang telah setia menunggunya, lebih dari dua jam sebelum red carpet dimulai.

image

Iko tampaknya mulai terbiasa dengan sorotan dunia. Tidak sampai sehari sebelumnya, saat baru menginjakkan kaki di Amerika, hal serupa telah terjadi meskipun tanpa kilatan lampu kamera. Lelaki Betawi ini disapa hangat petugas-petugas keamanan dan imigrasi bandara Los Angeles yang terkenal dingin. Mereka mengenalnya sebagai Rama, polisi dan petarung tangan-kosong di film The Raid : Redemption. Iko merinding, tidak menyangka ribuan kilometer dari tanah air, ada yang mengenalnya, bahkan mengingat karyanya.

image

Blitz kamera terus berkedap-kedip terang di mata. Dibalut suit hitamnya yang gagah, sang aktor laga tanpa pikir panjang memenuhi permintaan para pencari berita. Iko memeragakan tendangan dan pukulan silat yang tegas menghentak angin. Pesona tangguh yang selalu digilai pecinta The Raid : Redemption. Teriakan kini berganti tepuk tangan dan siul sanjungan. Untuk pertamakalinya, pencak silat Indonesia mewarnai red carpet Festival Film Sundance. Iko tenang, membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan pewarta.

image

Di luar, lebih dari seribu orang penikmat dan kritikus film yang antri panjang di bawah suhu beku -5 derajat Celcius, mulai memasuki Eccles Theater. Ekspektasi mereka tinggi terhadap kelanjutan kisah Rama, di The Raid 2 : Berandal (selanjutnya akan disebut Berandal). Inilah satu-satunya yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri Iko. Kini dia gugup. Buah jerih payah berbulan-bulan dan tetesan darah tim Berandal akan terbayar dalam dua setengah jam ke depan. Di dalam teater, Iko menghela nafas panjang. Begitu pula ribuan penonton di ruangan itu. Kini jantung mereka sama-sama berdegub kencang. Lampu pun dimatikan.

MELENGGANG DI SUNDANCE

image

Sebagai pecinta film, adalah sebuah kebanggan bagi saya bisa berada di Festival Film Sundance, Utah, salah satu ajang perfilman paling prestisius di dunia.

Festival film inilah yang melahirkan sineas-sineas jenius seperti Quentin Tarantino (Reservoir Dogs, Pulp Fiction) Steven Soderbergh (Sex, Lies, and Videotape, Ocean Eleven) dan Darren Aronofsky (Pi, Black Swan).

Di sini pulalah film-film kecil yang semula tidak diperhitungkan misalnya Saw, Little Miss Sunshine, The Blair Witch Project, Fruitvale Station dan (500) Days of Summer ditayangkan perdana. Sundance membuat film-film tersebut mendapat perhatian dan distribusi internasional, bahkan berujung merajai tangga box office.

image

Meskipun merupakan festival film independen, dalam 30 tahun penyelenggaraannya, Sundance telah banyak berubah. Acara tahunan yang dikepalai Robert Redford ini telah menjadi wadah bagi selebritis papan atas untuk menyalurkan kemampuan akting terbaiknya. Jadi, bukan hal yang janggal jika selama penyelenggaraan Festival Film Sundance 2014 (16-26 Januari), banyak selebriti Hollywood yang lalu lalang di Main Street, Park City, Utah, jantung keramaian Sundance.

image

Seru juga melihat Lindsay lohan, Irrfan Khan (The Amazing Spiderman, life of Pi, Slumdog Millionaire) langsung di depan mata. Lebih seru lagi saat dihadang dan didorong bodyguard Selena Gomez ketika mengambil gambar sang selebriti dikejar-kejar fans-nya yang menggila.

Namun, tak ada yang lebih membanggakan berada di Sundance tahun ini selain melihat dua film Indonesia, The Raid 2 : Berandal dan Killers, dipertontonkan di kancah internasional. Kebanggaan bertambah ketika mengetahui film-film tersebut dipilih dari 12.218 film yang mendaftar dari 37 negara. Prestasi yang luar biasa. Apalagi mengetahuinya disandingkan sejajar dengan mahakarya jenius-jenius film dunia.

MENAKAR ‘BERANDAL’

Dengan semua alasan itu, tidak salah jika Iko dan tim Berandal grogi. Selain menanggung beban berat kesuksesan film pertama, Berandal juga menjadi salah satu film paling ditunggu di Festival Film Sundance 2014. Hinaan atau pujian setinggi langit, akan dimulai di sini.

Namun, kini mereka tidak perlu khawatir lagi. Ketika lampu bioskop kembali dinyalakan, yang pertama kali menyeruak di benak saya sebagai penikmat film adalah kebanggaan, bahwa karya anak bangsa-lah yang ditepuki dan disanjung penonton Amerika.

(Review – Spoiler Alert!)

image

Melanjutkan aksi Rama (Iko Uwais) di The Raid : Redemption, satu-satunya polisi elit yang berhasil selamat dari serbuan maut ke sarang gembong narkotika ini, kini harus kembali mempertaruhkan hidup demi keluarganya. Rama dipaksa bertugas untuk membuka borok korupsi di petinggi kepolisian, dengan menyusup ke sarang penyuap, Bangun (Tio Pakusadewo), seorang gangster di Jakarta. Bermula dengan mendekati calon pewaris tahta Bangun yaitu sang putra, Ucok (Arifin Putra) yang sedang dipenjara, Rama akhirnya menyadari misi barunya ternyata tak segampang yang dikira. Darah kembali berceceran ketika konflik ini berujung persaingan antarkelompok mafia kelas kakap, yang melibatkan pembunuh-pembunuh bayaran yang tak kenal ampun.

Jelas, Berandal adalah film action keras dengan pertarungan yang berkali-kali lipat pula lebih keras. Namun, sang sutradara tampak tidak mau terjebak membuai penonton hanya dengan aksi visual yang membelalakkan mata. Gareth berusaha membangun cerita yang lebih cerdas, dengan kerumitan dan kekayaan karakter khas film-film gangster, yang mengingatkan pada karya Andrew Lau & Alan Mak (Infernal Affairs) serta Martin Campbell (Casino Royale). Ada intrik, nafsu, ambisi dan pengkhianatan, resep sempurna untuk menyentuh penonton, langsung ke akar karakter manusia, hal yang tidak terjadi di film pertama.

image

Setiap kali klimaks hampir tercapai, penulis sekaligus sutradara Berandal, Gareth Evans, terus menghadirkan cabang-cabang cerita dan tokoh baru yang dibumbui kisah latarbelakangnya. Misalnya Mr. Goto (Ken’ichi Endo) mafia asal Jepang yang merupakan mitra bisnis Bangun ; Prakoso (Yayan Ruhian) pembunuh-sadis tangan kanan Bangun ; hingga Bejo (Alex Abbad) gangster yang sedang naik daun tempat Ucok mengalihkan kepercayaan dan mulai mengkhianati ayahnya. Namun, kompleksnya cerita kadang membingungkan dan terasa berpanjang-panjang.

image

Di sisi lain, semua itu bisa dimaklumi. Gareth melakukannya untuk membuat wadah bagi aksi pertarungan, yang merupakan inti film, semakin banyak, beragam di berbagai lokasi, dengan berbagai alasan. Melihat eksekusi action tersebut disajikannya dengan cantik dan nyaris sempurna, segala kekurangan terlupakan.

Dari banyak sekali pertarungan yang menyesakkan dada di Berandal, setidaknya ada empat adegan yang tak akan terlupakan.

Pertama, Perkelahian di lumpur yang melibatkan seratus orang.

Kapan lagi kita melihat Benteng Van Der Wijck di Gombong, Jawa Tengah disulap menjadi penjara tempat Rama bertemu Ucok. Rusuh brutal para tahanan di lapangan berlumpur setelah hujan deras, digarap menjadi adegan kolosal dengan koreografi apik. Bertarung tapi ber-estetik. Brutal bagai adegan fenomenal serangan pasukan Amerika ke Normandy di film Saving Private Ryan.

image

Kagum mengetahui aksi sekitar 5 menit itu disyuting selama 10 hari. Lebih kagum lagi melihat kesungguhan tim produksinya ; tidak kurang dari 14 truk lumpur-buatan diserakkan di halaman benteng. Jika ada yang salah, adegan kembali diulang. Pemain dibersihkan dengan semprotan air pemadam kebakaran. Hasilnya, sangat sepadan dengan usahanya.

Kedua, Pembantaian di kereta oleh anak buah Bejo, “Hammer Girl”.

image

Jika di film pertama karakter Mad-Dog yang mencuri perhatian, di sekuelnya ini pembunuh bayaran cantik-bisu dengan senjata sepasang martil dan berjuluk “Hammer Girl”-lah yang menyita mata.

Saya masih ingat dengan semangat yang membuncah-buncah ketika karakter yang diperankan Julie Estelle tersebut memulai ritual pembantaiannya di dalam gerbong kereta. Penonton Sundance dibuat hening tak bergerak, menunggu langkah demi langkah sang wanita jelita, sebelum akhirnya mematahkan dan menyobek-nyobek tubuh sasarannya, memuncratkan darah ke seluruh penjuru gerbong, dengan wajah tanpa dosa.

image

Kerja pol-polan tim musik (Aria Prayogi, Joseph Trapenese dan Fajar Yuskema) untuk adegan ini patut diacungi jempol tinggi. Gubahan mereka tak kalah dengan musik-musik tegang karya James Newton Howard (Batman Begins, Blood Diamond)dan Hans Zimmer (The Dark Knight, Black Hawk Down). Mereka dilengkapi dengan tim sound yang tak kalah hebat. Suasana benar-benar terbangun seperti akan terjadi pembantaian. Semakin menegaskan bahwa Gareth membuat karyanya dengan detail dan totalitas setinggi langit.

image

Tetapi tidak ada yang patut disanjung lebih tinggi selain Julie Estelle. Selalu menarik saat melihat seorang pembunuh dihadirkan kontras, melalui sosok perempuan cantik berkulit pucat, berwajah bak fashion model lengkap dengan kaca mata hitam dan gaunnya. Julie yang tampil hanya di dua adegan utama, berhasil menghidupkan “Hammer Girl” dengan meyakinkan serta memorable. Di antara dominasi lelaki, Ia menebar pesona seperti pembunuh bayaran hasil rekaan Quentin Tarantino dalam Kill Bill Vol. 1 ; cantik, unik, tapi mematikan.

 Setelah menonton Berandal untuk pertamakalinya di Sundance, Julie mengaku tak mengenal dirinya dalam karakter perempuan jagal yang diperankannya itu.

Ketiga, Adegan kejar-kejaran mobil di jalanan Jakarta.

image

Balap-balapan di jalanan, penembakan, atau tabrak-tabrakan mungkin bukan hal baru di Jakarta. Namun, menghadirkan semua itu dalam sebuah adegan kolosal bak film-film Hollywood, mungkin Berandal-lah yang pertama kali melakukannya. Jalan Kemayoran, SCBD, Sunter dan Kemenpora pun ditutup khusus untuk memenuhi hasrat sang sutradara.

Semua departemen bekerja maksimal. Namun, yang paling membuat saya bertepuk tangan adalah departemen sinematografi dan car-stunts-nya. Tak pernah terbayang di benak, saat kejar-kejaran mobil, ada sebuah sekuen yang luar biasa ; gambar dimulai dari luar mobil yang melaju kencang, lalu masuk ke dalam mobil lewat jendela sopir, kemudian keluar lagi melalui jendela penumpang dan menghadap ke mobil pengejar di belakangnya. Semua dalam satu shot tanpa terputus.

image

Seusai pemutaran, seorang penonton Sundance menanyakan trik apa yang dilakukan dalam mengambil sekuen itu. Awalnya, saya berpikir itu dibantu spesial efek. Namun, jawaban Gareth membuat kami ternganga. Adegan itu ternyata dikerjakan manual ; kamera semula berada di depan mobil pertama, lalu mendekati mobil dan masuk lewat jendela. Kamera disambut operator di dalam mobil yang kemudian membawanya kembali keluar mobil lewat jendela penumpang. Di luar, operator berbeda menyambut kamera dan mengarahkannya ke hadapan mobil yang di belakang. Semua dilakukan saat mobil bergerak. WOW!

Keempat, adegan pertarungan puncak di dapur.

image

Meskipun di sepanjang film, penonton disuguhkan segudang adegan pertarungan, tetapi Gareth memang lihai menyimpan aksi pamungkasnya. Uniknya, adegan tersebut sama sekali tidak melibatkan banyak orang atau kebut-kebutan mobil, melainkan hanya dua orang di dapur ; Rama dan pengawal utama Bejo, seorang pembunuh bayaran tanpa nama dan bersenjata karambit, pisau khas Indonesia yang melengkung bagai kuku macan.

Pertarungan brutal bermula dengan tangan kosong. Setiap sisi ruangan, dinding dan peralatan dapur, dijadikan senjata dalam perkelahian panjang tersebut. Menjelang klimaks, penonton bisa melihat gerakan silat super cepat dan tanpa ampun dari kedua pendekar ini, menyelinap brutal tapi sangat indah bagai tarian mematikan. Dan ketika puncaknya tiba, saat darah tak dapat lagi dibendung, semuanya terasa seperti First Sonata gubahan Rachmaninoff ; menyesakkan dan sangat emosional.

Penonton bisa merasakan, pertarungan yang seakan tanpa ujung itu, telah menguras seluruh energi kedua petarung tangguh. Letih melihatnya. Ingin rasanya berteriak bersama Rama saat dirinya berhasil menusuk-nusuk karambit tajam ke tubuh empunya senjata, si pembunuh berdarah dingin yang diperankan sangat apik oleh pesilat Garut yang telah mendunia, Cecep Arif Rahman.

image

Melihat adegan ini, saya jadi mengerti apa yang disampaikan Yayan dan Iko (keduanya juga berperan sebagai fight-choreographer) beberapa jam sebelum premiere. Koreografi pertarungan Berandal telah selesai, bahkan sebelum ide tentang The Raid : Redemption ada.

Namun, karena skalanya terlalu besar dan membutuhkan banyak dana, Berandal ditunda. Ketika ide The Raid : Redemption muncul, Gareth meminta koreografi pertarungan untuk film yang bersetting di satu gedung tersebut, dibuat tidak boleh lebih keras dan dahsyat dibandingkan Berandal, supaya penonton nantinya tetap terpuaskan. Dan ide itu tampaknya berhasil.

image

Secara keseluruhan, Berandal adalah film action yang jauh lebih megah, gelap, rumit dan bertutur dibandingkan pendahulunya. Cerita yang lebih berisi, didukung akting yang mumpuni dan natural dari para aktor. Terutama saya junjungkan salut untuk permainan singkat Cok Simbara, Deddy Sutomo, Tio Pakusadewo, Pong Hardjatmo, Roy Marten dan banyak aktor senior lainnya. Kepiawaian mereka, membuat nafas kriminal dan busuknya dunia gangster Jakarta di film berbudget lebih dari Rp.50 miliar ini, kental terjaga, meskipun mereka tidak mematahkan satu pun tulang lawannya.

Dari pemain muda, Iko Uwais tampak lebih luwes dan matang di depan kamera. Aksi tangan kosong Iko tak kalah dengan pendahulunya seperti Jackie Chan atau Jet Li, bahkan bintang muda Thailand yang sedang berkibar Tony-Ja (Ong-Bank). Tak salah puluhan wartawan mengincarnya sebelum penayangan perdana. Saya juga angkat topi terhadap Arifin Putra yang mampu menghidupkan karakter Ucok dengan nafsu, ketamakan, kekecewaan dan pengkhianatan yang nyaris sempurna. Namun, penghormatan tertinggi pantas diterima ratusan pendekar yang menjadi pendukung film. Setiap pukulan, teriakan dan erangannya, telah menjadi nyawa abadi Berandal.

FILM INDONESIA?

image

“Di negara kita sendiri, pencak silat dipandang sebelah mata. Lewat film ini, kami tidak bertujuan memperkenalkan pencak silat pada dunia. Dunia sudah mengetahui, mempelajari, bahkan mencintai. Kami justru ingin memperkenalkan silat pada kaum muda Indonesia.”

–Yayan Ruhiyan (aktor dan fight-choreographer Berandal)

Di saat kita berkoar-koar dan bangga terhadap prestasi Berandal, film ini sebenarnya adalah pengingat untuk amnesia pada banyaknya kekayaan negeri yang kerap terlupakan.

Sebelum sampai di Sundance, saya sendiri membawa pertanyaan :

Apa kita wajar menyebutnya film Indonesia, ketika Gareth Evans, otak dari film, ini adalah seorang non-Indonesia, seorang dari Wales, Inggris?

Berhak-kah kita mengklaim sebuah film yang kemudian sukses secara internasional, sebagai “film Indonesia”, padahal sebelumnya kita jarang berbangga terhadap nilai-nilai asli negeri yang berusaha diangkat film tersebut?

Apakah kita hanya mendompleng popularitas belaka?

image

Namun, pemikiran itu gamang ketika melihat seribuan orang antre di udara dingin hanya untuk menonton Berandal, sinema yang mereka sebut sebagai “film Indonesia”.

Pertemuan dengan Gareth, semakin meruntuhkan kegamangan itu. Saya tercenung menyadari bagaimana sang sutradara berusaha keras untuk menampilkan Indonesia di setiap karyanya ; Merantau, The Raid : Redemption dan Berandal. Mulai dengan hal-hal sederhana seperti kisah perantau, penggunaan singlet, shot makan mie instan, hingga Reog Ponorogo yang memang kental nilai budayanya.

Tak hanya itu, sebagian besar kru film besutan Gareth adalah orang Indonesia. Bahkan di bagian teknis penting Berandal seperti di departemen sinematografi, editing dan musik, selalu ada kru Indonesia. Aria Prayogi dan Fajar Yuskema yang dulu hanya mengerjakan musik The Raid : Redemption versi Indonesia, kini ikut mengerjakan versi internasional Berandal. Tampak sekali Gareth tak ingin filmnya kehilangan identitas nusantara.

image

Saya semakin terdiam, apalagi ketika ditanya apakah dirinya akan pindah ke Hollywood setelah kesuksesan Berandal, Gareth hanya menjawab ringan namun penuh makna ;

“No, not really. Indonesia is kind of become my home now.”

Saat Indonesia telah dicintainya, ketika bakat silat Iko Uwais dan Yayan Ruhian telah diperkenalkannya ke panggung dunia, ketika negeri ini telah diharumkannya, pertanyaan apakah Berandal adalah film Indonesia atau bukan, kini tak penting lagi. Terima kasihlah yang patut diutarakan. ()

P.S. Tulisan ini tidak akan ada tanpa kesempatan dan ide-ide brilian dari Alam Burhanan dan wawancara luar biasa Vena Annisa dengan kru Berandal.

*Semua poster dan still film adalah milik Merantau Film

Rafki Hidayat

Twitter : @RafkiHidayat

Email : rhidayat@voanews.com

  1. ctenopore13 reblogged this from myyearatvoa
  2. miyagirlintropicalisland reblogged this from myyearatvoa
  3. pastanzu reblogged this from myyearatvoa and added:
    THIS MOVIE IS SO FREAKIN AWESOMEEE
  4. koukinomnomnom reblogged this from myyearatvoa
  5. harippe reblogged this from myyearatvoa
  6. hisyam-luthfiana reblogged this from myyearatvoa
  7. rkartiikaa reblogged this from myyearatvoa
  8. myyearatvoa posted this