Kisah dua jurnalis muda dari Indonesia, Marsha Ryadi dan Retno Lestari, yang menggali pengalaman sebagai Broadcast Fellow PPIA-VOA di Washington, DC, Amerika Serikat.

Posts Tagged: Broadcast

Text



Dua minggu sudah berlalu. Waktu terasa berlari. Seperti kami yang terpaksa berlari jika pulang malam dan harus berjalan kaki sendiri. NooooJust kidding!

 
Turun-temurun

Tidak terasa kami sudah tinggal di Washington DC selama dua minggu. Saat ini saya dan Marsha masih beradaptasi dengan pekerjaan di VOA. Saya belajar mengedit video dengan Final Cut Pro, belajar mengoperasikan Dalet untuk mengisi suara dan menulis berita, serta mempelajari flow kerja dari program-program VOA yang telah ada. Sementara Marsha, bisa lihat di blognya hehehe.

Sejak awal di Jakarta saya bertemu dengan para staf VOA dan PPIA yang sangat baik hati. Mereka ramah dan amat membantu kami dalam mempersiapkan keberangkatan ke Washington DC.

Setali tiga uang dengan staf VOA di sini. Selama di sini, para staf VOA luar biasa baiknya pada kami. Mereka dengan murah hati mengajarkan dan memberikan kami ilmu yang belum pernah kami dapatkan. Dengan sabar mereka meladeni pertanyaan yang setiap saat saya ajukan karena tidak mengerti, atau karena sedikit telmi. Cuma itu? Tentu tidak. Banyak hal lain yang mereka bagi kepada kami. Pertama, informasi mengenai apartemen yang bagus yang bisa kami tempati. Mereka memberi saran dan membantu mencari tempat tinggal yang nyaman bagi kami, sejak kami datang ke Washington, DC. Tapi, hingga saat ini kami masih bertahan di apartemen kami di daerah Southwest Waterfront, yang dulunya ditempati sesama fellow, Mahatma Putra.

Kedua, barang-barang rumah tangga. Sebagian barang yang ada di apartemen kami adalah warisan dari fellow sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan sebelumnya lagi. Ternyata barang-barang tersebut turun-temurun digunakan para fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship. Contohnya, bed cover yang kami pakai, yang ditinggalkan Putra adalah milik Nurina Savitri. Saat ia mampir ke apartemen kami, ia berkata, “Ah…itu bed cover gue!”

Di apartemen kami ternyata sebagian barang berasal dari fellow dan sebagian lagi berasal dari staf VOA. Jadi memang sudah dari awal adanya program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship, para staf VOA memberi barang-barang bagi para fellow.

Hal itu masih berlangsung hingga saat ini. Mereka akan bertanya, “Masih butuh apa?”, “Gue punya di rumah, nanti gue bawa”. Hasilnya, satu set pisau, sprei, hingga televisi satu per satu berada di apartemen kami.

Apalagi yang dibagi? Makanan. Tiada hari tanpa makanan mampir di meja kami. Makan siang, cemilan, cupcakes, buah, coklat, roti, sampai permen datang silih berganti. Belum lagi jika makan di luar  seperti di restoran, maka makanan yang tidak habis akan dibungkus dan diberikan kepada kami. Alhasil bukan cuma perut kami yang terisi, tapi juga kulkas kami.

Betapa baiknya para staf VOA. Ah, senangnya jadi fellow.

Piknik
Hari Sabtu Minggu lalu, Mbak Patsy (Widakuswara) mengadakan piknik untuk staf VOA dan bagi kami para fellow. Piknik ini diadakan di Wheaton Regional Park, Maryland. Ini adalah piknik pertama saya sejak terakhir kalinya saya lakukan saat SD di Kebun Binatang Ragunan. Sudah lama sekali, ya?

Perlu waktu tiga jam bagi saya dan Marsha untuk mencapai Wheaton Regional Park. Metro yang kami gunakan ternyata cukup lama datang saat akhir pekan. Tak heran kalau ini mengingatkan saya pada kereta Commuter Line tercinta di Jakarta.

Lalu, kami harus nyasar karena supir taksi yang kami tumpangi tidak tahu jalan, meski telah menggenggam sebuah smartphone dengan penunjuk jalannya yang super canggih.

Tapi, begitu sampai di Wheaton Regional Park suasana hati kami langsung berubah. Tamannya luas didominasi rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Di beberapa tempat, tampak rombongan keluarga asik bercengkrama sambil menikmati barbecue. Tawa riang anak-anak pun menghiasi taman bersama-sama dengan kicauan burung. Oh, indahnya.

Setelah berjalan masuk taman, akhirnya kami tiba di tempat piknik kami, shelter F. Di sana sudah menunggu beberapa orang seperti Mbak Patsy, Pak Norman, Cak Supri, Mbak Endah, Mbak Rini, Mas Alam, Dimitrius, Ibu Susan, dan beberapa orang lainnya.

Mereka sudah memanggang sate, daging, dan udang, yang harum dan menggugah selera.Tidak lama, beberapa orang lainnya tiba. Mas Ian, Mbak Ade, Vici, Mba Nadia, dan keluarga mereka. Kami pun menyantap makanan bersama-sama.

Piknik seperti ini memberi kenangan tersendiri bagi kami. Selain pengalamannya, kami juga merasakan bagaimana orang-orang VOA bisa menjadi keluarga bagi kami. Piknik ini semakin memperlihatkan bagaimana keluarga besar VOA sangat terbuka menerima kami. Kami senang bisa menjadi bagian darinya.

Yes, we are family.

Cheers,
Retno

rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

“Itu kan mimpi loe dari dulu, No.” Begitulah komentar seorang sahabat, saat saya memberitahu bahwa saya terpilih sebagai salah satu dari dua orang fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 yang akan berangkat ke Amerika.

Sejak dulu saya punya mimpi untuk bisa tinggal di luar negeri selama satu atau dua tahun. Saya ingin sekali merasakan tinggal di negara orang dan mempelajari berbagai hal seperti budaya, adat istiadat, membuka wawasan serta pola pikir, dan last but not least, memperlancar berbahasa Inggris. Salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan adalah melalui beasiswa.

Perjalanan untuk mendapatkan beasiswa ini sebenarnya cukup panjang. Saya yang tadinya lulusan D3 harus melanjutkan dulu ke S1 dengan usaha yang cukup berat karena tidak adanya biaya. Perlu waktu empat tahun bagi saya untuk bisa masuk ke bangku calon sarjana selepas lulus D3. Berbagai pengorbanan pun harus saya lakukan, termasuk melepaskan pekerjaan saya yang sangat saya cintai.

PPIA-VOA Broadcsting Fellowship

Singkat cerita, saya menyelesaikan kuliah Juli tahun 2011 dan resmi menjadi sarjana pada bulan September. Satu pintu akhirnya terbuka untuk berjuang mencari beasiswa. Sambil mencari kerja saya pun semangat untuk mengejar beasiswa. Lalu tanpa sengaja saya melihat ada peluang beasiswa PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 saat saya mengetikkan kata kunci “beasiswa September 2011.”

Persyaratan fellowship ini adalah lulusan Komunikasi, berusia tidak lebih dari 27 tahun, belum banyak berpengalaman di dunia broadcasting dan jurnalistik. Aha! Saya masuk persyaratan. Maka saya mencoba pelan-pelan mengisi formulir beasiswa. Menghubungi orang-orang yang bisa dituliskan namanya sebagai referensi, dan menyiapkan jawaban untuk esai.

Sebagai referensi, saya tuliskan nama orang-orang dekat yakni yang pernah menjadi atasan saya, serta dosen yang menjadi pembimbing skripsi saya. Senangnya, mereka bersedia. Langkah selanjutnya, esai.

Read More