Posts Tagged: Inauguration

Text

O beautiful for pilgrims feet,

Whose stem impassioned stress

A thoroughfare for freedom beat

James Taylor – America the Beautiful

Akihirnya saat yang dinanti-nanti datang juga. Inaugurasi presiden Amerika.

Kira-kira dua bulan lalu juru kamera yang biasa syuting Dunia Kita menggerutu karena tidak bisa parkir di basement kantor VOA. Alasannya, karena tempat parkir digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan persiapan inagurasi. Tidak hanya di VOA yang mempersiapkan inagurasi, tapi juga seluruh Washington, DC. Berbagai ruas jalan mulai diatur untuk persiapan parade dan beberapa gedung mulai berhias. Misalnya Newseum (museum berita dan jurnalisme) yang memasang banner raksasa “Newseum celebrates freedom. Newseum welcomes President Obama.”

Saya sempat melihat dari kejauhan prosesi pelantikan presiden. Salah satu yang saya kagumi dari acara formal di Amerika adalah tidak membosankan. Para pejabat negara sering kali mengeluarkan candaan yang cerdas, atau setidaknya ekspresi wajah yang terlihat santai dan senang. Bahkan sebagai pembawa acara Senator Chuck Schumer, ia selalu tersenyum, sesekali tertawa karena ikut merayakan transisi kekuasaan yang damai tersebut. 

Serunya lagi, upacara kenegaraan ini menghadirkan artis seperti Beyonce yang membawakan “Star Spangled Banner” lagu kebangsaan Amerika, lalu Kelly Clarkson  dan James Taylor yang membawakan lagu nasional. Setiap inagurasi presiden Amerika, Ada tradisi pembacaan puisi, dan berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya, kali ini yg membawakan puisi adalah Richard Blanco. Seorang Hispanik, gay, dan imigran pertama yang membacakan puisi pada inagurasi bersejarah itu. Ia pun adalah pembaca puisi inagurasi termuda.  Semua terlihat gembira merayakan terpilihnya kembali presiden Barack Obama. Semua terlihat manusiawi pada hari inagurasi. Presiden Obama pun demikian. 

Saya kagum dengan betapa manusiawinya Presiden Obama. Saat ia diminta masuk kembali ke Capitol Building (tempat dilaksanakannya pelantikan adalah di balkon gedung tersebut) ia terlihat membalikkan badan ke arah puluhan ribu rakyat yang hadir. Kemudian saya ketahui dari televisi, bahwa yang ia katakan adalah, “I’m not going to get to see this again, berhubung memang ini adalah masa jabatan terakhirnya. Saat itu ia terlihat bangga sekaligus terharu. Saya kagum karena, Presiden Obama sangat berwibawa tapi disaat bersamaan, ia bisa spontan selayaknya manusia. I think that’s what makes a president. Dan menurut saya itulah salah satu faktor yang membuatnya terpilih kembali, his presence. Sebagai contoh, dulu ketika terjadi tornado di Georgia dan Alabama, presiden Bush hanya menginspeksi dari udara. Ia naik helikopter. Sedangkan Obama lagsung turun ke lapangan menemui para korban badai Sandy. Dan semua orang yang sehat akal pasti bisa membedakan pelukan presiden atau pejabat publik yang tulus karena ia berempati dengan media atau berempati dengan rakyat.

Sebelum mulai parade, saya mengantre di jalan 10 dan Pennsylvania. Di situ saya memikirkan kata-kata orang yang berdiri disampingh saya. Katanya kepada saya, “Do you think Obama would come out of his car and walk to greet the crowd? I think he would. No question. Because he loves his people and the people love him. You know, there some who hate his guts but most American loves him. We got his back. That’s why we want him to get the second term. Because we know he’s on our side.”

Lalu saya terdiam. Dalam hati saya berpikir, sudah lama Indonesia tidak punya pemimpin yang dihormati dan dicintai rakyatnya. Maksud saya, yang benar-benar dihormati dan dicintai tanpa kepentingan. Padahal, that’s what makes a nation.

Tiba-tiba pikiran saya buyar karena Presiden Obama dan Ibu negara keluar dari mobilnya dan ia melihat ke arah saya (coba temukan Obama pada foto buram di blog ini. Maklum suasana terlalu semarak, jadi tidak fokus mengambil gambar, hehe). Benar kata orang yang berdiri disebelah saya, ia pasti bela-belain keluar mobil lapis bajanya itu demi rakyat yang sudah memilih dan menunggu berjam-jam. Bahkan menunggu bertahun-tahun untuk mengalami perubahan.

Real Democracy is beautiful, huh?

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata 

Text

Saya sangat beruntung sekali bisa menjadi fellow pada tahun 2012-2013 dan bekerja di VOA yang berkantor di Washington, DC. Karena pada tahun inilah Amerika Serikat merayakan pesta demokrasi dengan banyak kegiatan politik yang berbasis di Washington, DC. Salah satunya tentu adalah inaugurasi atau pesta pelantikan presiden.

Saya masih ingat saat menonton pelantikan Barack Obama untuk pertama kalinya pada tahun 2009 di televisi. Layar televisi di rumah saya seolah penuh karena jutaan orang menghadiri inaugurasi. Tidak pernah terbayangkan saya akan hadir pada pesta pelantikan Obama pada masa jabatan yang kedua, di Washington, DC. Maka, tanggal 21 Januari yang lalu adalah salah satu kesempatan besar yang saya tunggu-tunggu.

image

***

Pelantikan presiden berlangsung pada siang hari kemudian diteruskan dengan parade sepanjang jalan Pennsylvania, dari Capitol menuju White House. Tim televisi di VOA sudah melakukan rapat jauh-jauh hari, untuk menentukan siapa akan bertugas di mana.

Sebagian tim bertugas di studio, sebagian dari atap gedung VOA, sebagian di Capitol, yang lain di National Mall, dan sisanya di Freedom Plaza.

Jadwal reportase langsung VOA kepada stasiun televisi di Indonesia, berlangsung sejak tanggal 21 dini hari. Saya kebagian bertugas di Freedom Plaza dan dijadwalkan melakukan reportase langsung mulai pukul 17:30.

Kantor VOA pun telah mengumumkan untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan dan sulitnya akses berjalan di seputar Gedung Capitol dan Gedung Putih karena banyaknya massa. Oleh karena itu kami dihimbau untuk datang ke lokasi yang sudah ditentukan, beberapa jam sebelum waktu siaran.

***

image

Saya datang ke Freedom Plaza, sebuah lapangan di tepi jalan Pennsylvania sekitar pukul 12 siang. Jujur, saya sempat agak menyesal karena tidak memberanikan diri untuk berada di dekat gedung Capitol saat Presiden Obama dilantik dan menyampaikan pidatonya. Saya melewatkan kesempatan untuk berdiri bersama ratusan ribu orang lainnya, untuk menyaksikan inaugasi terakhir Barack Obama. “Well, things happened for a reason,” kata saya dalam hati menghibur diri.

Untuk masuk ke wilayah di Freedom Plaza ternyata harus melewati screening dari petugas polisi. Antrian sangat panjang, karena polisi menggeledah tas orang satu per satu. Untungnya, dengan credential media, saya tidak perlu mengantri panjang. Tinggal mendekati petugas keamanan dan memperlihatkan ID dan mereka akan memeriksa semua barang bawaan.

Di Freedom Plaza, sebuah panggung bersusun yang cukup besar disediakan bagi media peliput inaugurasi. Namun demikian, kami tidak bisa masuk semua ke area media, karena diperlukan id card tambahan. Maklum, VOA adalah organisasi dengan banyak language service. Maka personel yang ingin turun ke lapangan juga multi negara. Berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Kami harus bergantian masuk dengan ID tambahan.

Karena jadwal reportase langsung saya pukul 18:30, maka saya belum diperbolehkan masuk. Saya pun sempat merana dan terlunta-lunta. Sendiri pula.

Mau ke pinggir jalan Pennsylvania, tidak bisa. Sepanjang jalan sudah penuh dengan penonton, yang tingginya hampir dua kali tinggi badan saya. Mana bisa saya melihat ke jalan saat nanti parade dimulai pukul 14:30?

Akhirnya saya hanya mondar mandir di Freedom Plaza, sampai ada seorang petugas yang menegur saya dan bertanya apakah saya mempunyai tiket. Tiket ini adalah tiket bagi warga yang bisa digunakan untuk duduk di beberapa tribun yang disediakan disepanjang jalan Pennsylvania.

No,” jawab saya. Petugas itupun kemudian pergi.

Tidak lama kemudian, petugas itu datang lagi dan berkata, “Do you want to come in and sit on the bleachers?”

Petugas itu menawarkan saya untuk masuk ke tribun penonton di Freedom Plaza, yang letaknya tepat di samping tribun media. Wah, rejeki nomplok. Saya jadi freeloader! Kemudian saya pun duduk di tempat yang bisa dengan bebas melihat ke arah jalanan, tempat Presiden Obama dan rombongan nantinya akan lewat.

Setelah acara di Capitol usai, pengumuman terdengar dari pengeras suara bahwa parade akan dimulai. Parade mulai terlambat sekitar 40 menit dari jadwal.

Parade ini diikuti 8.800 orang dari sekitar 59 kelompok dan organisasi, mulai dari militer, marching band, kelompok cultural, dan kelompok-kelompok multi etnis lainnya yang merupakan simbolis dari keberagaman Amerika.

Rombongan pertama yang membuka parade adalah motor-motor polisi yagn membentuk display segitiga. Kemudian diikuti dengan unit-unit angkatan bersenjata Amerika.

image

Setelah itu menyusul rombongan presiden. Saya turut larut bersama kegembiraan para penonton di sekitar saya. Terutama saat limousine yang dinaiki Obama lewat. Tapi sayangnya, dia tidak keluar mobil saat lewat di depan saya.

Ya, paling tidak saya bisa melihat wajahnya saat ia tersenyum sambil melambaikan tangan.

***

Setelah rombongan kepresidenan lewat, penonton mulai meninggalkan tribun. Saya ikut turun dan menuju tribun media. Saya pun bisa masuk tanpa ID tambahan karena moment yang paling krusial sudah usai.

Di tribun media saya bisa melihat banyak sekali wajah-wajah ternama yang tengah menyampaikan laporannya. Saya pun merasa sangat senang bisa diberi kesempatan untuk berada di sana.

image

Tidak lama, Mbak Ade (Astuti) pun datang. Jadwal laporan langsung Mbak Ade, lebih dulu daripada saya. Kami pun bersiap-siap dengan catatan serta hasil riset kami, untuk di sampaikan kepada pemirsa. 

Setelah berdiri berbeapa lama, saya baru sadar, cuaca yang tadinya hangat akibat sinar matahari, tiba-tiba menjadi dingin karena jam sudah menunjukkan pukul 17:00.

Tubuh saya mulai menggigil dan harus siap sedia melompat-lompat ditempat, untuk tetap menghangatkan diri. 

Mbak Ade selesai. Inilah giliran saya.

Saya bertugas menyampaikan laporan langsung pada 3 stasiun televisi di Indonesia hingga pukul 19:15. Laporan pertama berjalan cukup lancar. Antara satu laporan dengan laporan yang lain berlangsung sekitar 30 menit. Saya pun tetap harus berdiri sambil menahan hawa dingin yang mulai sulit saya tahan.

Kameramen yang bertugas, Rob, membelikan saya teh panas. Kameramen lainnya, Cindy memberi saya penghangat tangan (hand warmers). Semua masih berlangsung baik, hingga menjelang laporan terakhir, ketika angin besar berhembus.

Saya harus bediri di atas kotak kecil karena ukuran tubuh saya yang mini. Untuk itu, saya harus mencoba mempertahankan keseimbangan ketika kaki saya sudah membeku. Maka ketika angin kencang dan dingin bertiup, saya pun kehilangan kesadaran beberapa detik hingga hampir terjatuh. Untung saya tersadar dan berhasil menyeimbangkan diri. Lima menit kemudian, laporan terakhir saya lewati dengan mulut yang setengah terkatup hingga merusak artikulasi alias ngomong belepotan. 

Satu lagi pelajaran berharga saat harus melakukan siaran langsung. Selain persiapan materi dan persiapan mental, maka persiapan kondisi dan situasi cuaca juga tidak kalah penting.

Meskipun ada beberapa kendala, saya sangat menikmati tugas inaugrasi ini. It was really fun and exciting!

Oh, karena saya melewatkan pidato Presiden Obama, maka saya berniat di dalam hati. “Saya akan hadir lagi di sini!”

Lagi-lagi saya bermimpi!

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari