Kisah dua jurnalis muda dari Indonesia, Marsha Ryadi dan Retno Lestari, yang menggali pengalaman sebagai Broadcast Fellow PPIA-VOA di Washington, DC, Amerika Serikat.

Posts Tagged: Marsha Ryadi

Text

And the stars we plucked from New York skies

We placed them all in front of us and laughed

What a trip

The Raveonettes - New York Was Great

 

Seperti janji saya melanjutkan cerita seminggu di New York, setelah tiga hari pontang-panting meliput berbagai acara, kali ini saatnya empat hari jalan-jalan. Saya memutuskan untuk memperpanjang waktu saya di NY sekalian reuni dengan dua orang sahabat saya. Kami berteman sejak SD, tapi jarang sekali berada di satu benua. Kebetulan kami bertiga sama-sama sedang berada di NY, kenapa tidak melakukan kegiatan a la New Yorker?


 

Global Citizen Festival

Senang sekali ketika saya ditugaskan meliput di NY. Pasalnya, satu bulan sebelumnya saya dapat tiket gratis konser amal di Central Park, yaitu Global Citizen Festival. Festival ini memang dibuat bertepatan dengan Sidang Umum PBB, supaya menarik perhatian dan dukungan para pemimpin dunia yang sedang berkumpul di NY. Mengapa? karena festival ini bertujuan menggalang dana untuk mengakhiri pemiskinan. How lucky I am. My first concert in New York City is at Central Park and it’s for a good cause. Hari itu saya bergabung dengan 60.000 orang lainnya menyaksikan Band of Horses, The Black Keys, Foo Fighters dan musisi legendaris, Neil Young. Mereka adalah nama-nama yang tertulis di poster. Tapi ternyata, ada surprise guest yaitu John Legend yang membawakan lagu ‘Imagine’ milik John Lennon. Bayangkan 60.000 orang nyanyi bersama. Merinding!

 

Tidak hanya penampilan musik, tapi juga pidato ajakan untuk mengakhiri pemiskinan dari berbagai tokoh. Siapa yang sangka saya akhirnya melihat dan mendengarkan Muhammad Yunus dan Prof. Jeffrey Sachs secara langsung (bagi yang tidak kenal kedua nama itu, silakan google). Ternyata leaderstruck yang saya alami ketika tiga hari pertama liputan masih berlanjut.

 

Central Park

Sebelum menghadiri Global Citizen Festival, saya sempat berjalan-jalan di Central Park. Taman yang luasnya 843 hektar ini menyimpan banyak tempat menarik selain dua tempat yang saya datangi; yaitu Strawberry Fields dan patung Alice in Wonderland. Strawberry Fields diresmikan tahun 1985 atas inisiatif Wali Kota New York saat itu,dan istri Lennon, Yoko Ono. Lokasinya terletak di Central Park West, di seberang apartemen Dakota, tempat Lennon tinggal selama beberapa tahun sebelum ia ditembak di tempat yang sama. Sampai sekarang, masih banyak pengunjung yang datang untuk sekedar meleakkan karangan bunga dan memorabilia lainnya. Senang sekali akhirnya kesampaian datang kesana dan ke tempat di mana patung Alice in Wonderland didirikan. Tempat kedua itu saya datangi karena Alice in Wonderland adalah film Disney favorit saya.

 

Meet Packing District

Hari-hari terakhir di NY saya habiskan dengan jalan jalan ke Meet Packing District. Daerah ini bukan tempat pemotongan hewan ternak, tetapi merupakan salah satu tempat paling ‘hip’ di NY. Karena banyak restoran berkonsep urban, dan pasar kaget yang isinya produk fashion karya desainer lokal dan The High Line, yaitu rel kereta tua yang diubah menjadi taman linear  yang sangat indah. Tadinya, pemerintah kota NY mau menggusur jalur kereta yang sudah tidak berfungsi itu, tapi seorang arsitek lanskap dan beberapa seniman ingin mengubah rel itu menjadi ruang publik, dan Walikota NY menyetujuinya. Andai saja pemkot Jakarta seprogresif NY, pasti lebih banyak area tua yang direstorasi dan dialih fungsikan menjadi tempat yang bisa diberdayakan oleh masyarakat. As a Jakartan, I remain hopeful. Karena sepertinya Gubernur Jakarta yang baru lebih meladeni masyarakat dan lebih progresif daripada yang lalu. Semoga saja.

 

A New York Thing to Do

Tidak mungkin linglung tidak tau mau melakukan apa di NY. Selalu saja ada yang bisa dilakukan. Contohnya, setiap Jumat sore, kita bisa gratis masuk ke Museum of Modern Art. Akhirnya kesampaian juga ke museum ini dan lihat berbagai masterpiece, mulai dari karya Salvador Dali dan Frida Kahlo sampai Andy Warhol dan Jackson Pollock.

Di NY juga banyak sekali studio televisi yang menayangkan acara-acara populer. Untuk masuk dan menjadi bagian dari penonton, biasanya gratis, asal mendaftarkan diri secara online. Jadi, tidak lewat makelar dan  ketika kamu menjadi penonton, tenang saja, kamu tidak perlu joget mengikuti aba-aba dan koreografi yang seragam seperti acara hiburan di Indonesia. Ketika di NY, saya beruntung dapat tiket untuk menjadi bagian dari acara produksi CBS, yaitu Anderson Live. Sengaja saya memilih program ini, karena host acaranya adalah Anderson Cooper, pembawa berita CNN. Pengalaman yang menarik! apalagi ketika pulang dapat goodie bag berisi kamus bahasa Inggris terbaru dan voucher spa. Ketika saya menjadi penonton, co-host acara adalah Sara Ramirez, pemeran Dr. Callie Torez di serial Grey’s Anatomy dan bintang tamunya adalah Cynthia Nixon yang pernah berperan sebagai Miranda Hobbes dalam salah satu serial yang ‘sangat New York’ menurut saya; yaitu  Sex and the City.

Bicara soal Sex and the City, saya dan kedua sahabat yang saya sebut diawal sempat mengikuti serial ini, jadi kami menyempatkan diri ke Bleecker street, tempat di mana Magnolia Bakery berada. Toko kue ini terkenal karena pernah masuk di Sex and the City, ceritanya adalah toko kue favorit Miranda Hobbes dan Carrie Bradshaw. Dan ternyata setelah saya coba banana pudding dan butter pecan cheese cake-nya, tidak heran Magnolia Bakery selalu ramai dikunjungi.

 

Brooklyn

Ceritanya, saya ingin datang ke Downtown Brooklyn Art Festival. Tapi sampai lokasi, acara sudah selesai dan saya hanya sempat makan pizza paling besar dan paling murah yang pernah saya makan. Kira-kira lebarnya dua jengkal dan panjangnya tiga jengkal, tapi harganya hanya 1 dolar.

 

Saya telat sampai di acara, karena terlalu senang melintasi salah satu jembatan paling indah di dunia; yaitu Brooklyn Brige yang menghubung Manhattan dengan Brooklyn. Jembatan ini panjang sekali dan bisa dilewati pejalan kaki. Saya sengaja tidak cepat- cepat ke Brooklyn naik subway, karena ingin menikmati suasana matahari terbenam di jembatan itu. You don’t see that kind of view every day. It was breathtaking.

 

Yes, NY was breathtaking. karena saya selalu terengah-engah jalan kaki jarak jauh dan naik-turun tangga kereta bawah tanah. hehe. NY tidak cukup ditelusuri dalam seminggu. Untung jarak DC-NY tidak jauh, hanya tiga setengah jam perjalanan dengan bus dan biasanya harga tiket bus ke NY hanya berkisar 15-30 dolar. Bahkan kalau beruntung, ada yang hanya 1 dolar.

 

Salah satu kunci supaya beruntung, adalah mau mencoba. Jadi sekalian di tulisan ini saya mau mengingatkan, sudah isi dan kirim formulir PPIA-VOA broadcasting fellowship belum?

 

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata 


PS: Blog ini ditulis sebelum Super Badai Sandy yang melanda Kota New York dan pesisir pantai New Jersey.

Text

New York City, Manhattan Island

Follow, follow the leader

If it makes you feel like you want to dance

The Velvet Underground - Follow the Leader

Hey, what do you know? I can finally listen to my all-time favorite, one of New York’s finest bands, IN New York!”. Itu yang terpekik di kepala saya ketika saya tiba di perhentian bus antar kota Penn Station di New York City. Ya, New York (NYC) yang dulu hanya saya lihat lewat film Home Alone 2. Sebelum salah satu TV swasta nasional terlalu rajin memutar film itu setiap musim libur sekolah, saya harus berkali-kali ke tempat rental laser disc. Memakai patokan laser disc, berarti sudah hampir dua dekade saya berangan ingin berada di NY.

Mungkin ini yang namanya the power of mind; ketika alam bawah sadarmu selalu memikirkan suatu hal, niscaya kamu akan mencapai hal itu. Atau mungkin the power to convince; karena untuk ke NY saya harus meyakinkan Kepala VOA Indonesian Service agar saya diperbolehkan meliput rangkaian kegiatan Presiden SBY dan United Nations General Assembly atau Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di NY. Saya ditugaskan meliput “power”.

Power” dapat diartikan daya, kekuatan, kekuasaan, kekayaan atau negara besar. Suatu kata yang menurut pengalaman saya di NY, sudah dapat disandingkan dengan kata “Indonesia” Mengapa? Karena…

Hari pertama: We occupied Wall Street! Hari itu bendera Merah Putih dikibarkan di gedung New York Stock Exchange di distrik keuangan NY atau Wall Street. Hari itu untuk pertama kalinya diadakan “Indonesia Investment Day.” Indonesia kini sudah menjadi negara yang dipandang dengan kedua mata dalam bidang ekonomi. Di tengah ekonomi dunia yang lesu, pertumbuhan ekonomi Indonesia nomor satu di Asia Tenggara dan nomor dua di Asia setelah Cina dan melampaui India. Bisa saja saya memberikan beberapa statistik lagi di tulisan ini, dan beberapa hal yang sifatnya mikro ekonomi yang tidak diangkat para pemimpin Indonesia di forum yang berfungsi sebagai panggung promosi itu. Tapi kali ini, biarlah kita sekali-sekali jadi orang Indonesia yang optimis dan tidak sinis. Presiden SBY saja di forum investor itu dengan optimis dan penuh percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris, menyampaikan pencapaian-pencapaian ekonomi Indonesia. Ya, memang menggunakan teleprompter, tapi tetap saja saya menyaksikan sisi langsung beliau yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Hari pertama ditutup dengan Gala Dinner malam penganugerahaan. Malam itu Presiden SBY menerima penghargaan bidang lingkungan hidup; “Valuing Nature Award atas Coral Triangle Initiative” yang dipimpinnya dan bidang ekonomi; “21st Century Economic Achievement Award.” Lalu muncul pernyataan instan: Hebat ya, Indonesia! dan kemudian, pertanyaan instan: apakah benar konservasi laut dan pesisir sudah sebaik itu dan tidak kompromi dengan perusahaan pengelola sumber daya alam yang nakal? apa kah benar akses terhadap perdagangan yang adil sudah diterima orang-orang di, misalnya, NTT?. Eh, harusnya saya tidak melempar pertanyaan itu, karena kali ini peraturannya dilarang sinis. Hehe. Biar bagaimanapun, ini merupakan pencapaian yang diakui komunitas internasional.

Hari Kedua: Sidang Umum PBB. Pasti di antara kamu yang sedang membaca ada yang pingin bilang: “Terus? Gue harus bilang “WOW” gitu?” Ya, tidak harus sih, biarlah saya yang mengucap “WOW” itu. Karena ini pengalaman yang memang “WOW” bagi saya. Bayangkan, bertemu banyak sekali kepala negara, teman-teman baru dari kantor-kantor media di seluruh dunia yang berbagi ruang kerja di markas besar PBB, bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Liberia yang juga pemenang Nobel Peace Prize Ellen Johnson Sirleaf, kesempatan mewawancarai berbagai tokoh dunia dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Bergegas kesana kemari dengan sepatu hak tinggi dan  pakaian formal, mencatat segala sesuatu yang penting dan menodongkan perekam ke siapa pun yang penting. Hari itu saya berpikir: How could it be any better than this? Ternyata bisa. Yaitu ketika saya berendam air panas di hotel setelah 18 jam bekerja.

Hari Ketiga: World Leadership Forum. Akhirnya saya datang ke forum ini! Forum ini adalah acara tahunan Foreign Policy Association dan memang sudah tiga tahun terakhir saya ingin hadir.  Beruntung akhirnya kesampaian. Sebenarnya acaranya sehari penuh, namun karena tugas saya memang untuk ‘mengintili’ presiden, saya hanya hadir di sesi diskusi “How the Emerging Powers Will Reshape the Global Politic”. Presiden SBY berbicara satu panel dengan George Soros; pendiri Open Society Foundation (dan nama yang secara otomatis saya asosiasikan dengan krisis ekonomi Asia Tenggara 1997), Lakhdar Brahimi; Utusan Khusus PBB untuk Suriah dan Kishore Mahbubani; Dekan Kebijakan Publik pada  Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore dan mantan petinggi Dewan Keamanan PBB. Hari ketiga di NY ditutup dengan wawancara one-on-one dengan Menteri favorit saya, Gita Wirjawan. Ada istilah bahasa Inggris; starstruck. Yaitu ketika kamu bertemu idola dan benar-benar kagum akan status selebritas orang itu. Kalau saya, terkena leaderstruck!

Hands down. Tiga hari pertama di NY sangat berkesan. Tapi pengalaman berkesan di NY tidak berhenti pada tiga hari pertama. Saya masih menyimpan cerita tiga hari terakhir yang bisa kamu simak di blog ini. I’ll keep you posted. Until then!

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata  

Text

“The coldest winter I ever spent was a summer in San Francisco,’” demikian Mark Twain pernah berkata. Mark Twain, penulis The Adventures of Tom Sawyer and Adventures of Huckelberry Finn awalnya adalah seorang jurnalis dan dia pernah tinggal di San Francisco (SF), California untuk bekerja pada surat kabar lokal sekitar tahun 1860-an.

Ketika saya membuat rencana jalan-jalan ke SF untuk datang ke sebuah festival musik, layaknya orang yang akan bepergian ke tempat yang belum pernah didatangi, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai kota itu. Kata-kata Mark Twain itu lah yang membuat saya berasumsi bahwa SF adalah kota yang unik. Bayangkan saja, ketika kota-kota lain di Amerika bersuhu sekitar 35-40 derajat Celcius pada musim panas, di SF malah berkisar antara 15-22 derajat Celcius. Lalu ketika saya mencari tahu lagi soal SF, saya menemukan kata-kata Oscar Wilde — yang juga seorang penulis seperti ini; “It is an odd thing, but everyone who disappears is said to be seen at San Francisco. It must be a delightful city, and possess all the attractions of the next world.”

Banyak hal yang saya sudah dengar sebelumnya tentang SF. Tahun 1945, kesepakatan pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai tanda berakhirnya perang dunia kedua, dilakukan di sana. Markas Besarnya pun tadinya di SF sebelum pindah ke New York. Saya juga dengar beberapa teman bilang tata kota dan pemandangannya indah, apalagi jembatan Golden Gate dan penjara Alcatraz. Tapi yang membuat saya penasaran adalah sebuah jalan bernama Haight dan Ashbury, yang akhirnya sering disebut sebagai Haight-Ashbury.

Ketika saya ke Haight-Ashbury, sepanjang jalan banyak sekali toko buku, toko pakaian bekas, restoran dan kafe yang eklektik. Kalau orang ke sana tanpa mengetahui ‘romantisme’ area tersebut pada tahun 1960-an, pasti hanya akan mengira bahwa area tersebut sama saja seperti tempat lain di SF yang ‘nyeni’ dan dipenuhi turis. Tapi sebenarnya tempat itu lebih menyimpan sejarah.

Kalau SF dikenal sebagai pusat awal gerakan liberalisme di Amerika, nah Haight-Ashburry adalah pusatnya pusat itu. Kamu pasti tahu istilah hippie, kan? Di sinilah tempat kaum hippie terlahir. Maknanya bukan hanya sekedar bercelana bell bottom atau berbaju bordiran bunga-bunga dan mendengarkan musik Janis Joplin (Joplin pernah tinggal di Haight-Ashbury) tapi lebih seperti aktualisasi diri generasi muda saat itu dalam menentang komersialisasi yang berkembang usai perang dunia kedua.

Summer of Love terjadi pada musim panas tahun 1967 di Haight-Ashbury, ratusan ribu orang datang dari segala penjuru Amerika dan Eropa untuk hidup secara komunal dan saling berbagi. Dulu ada toko kebutuhan dasar yang membagi barang secara cuma-cuma dan ada juga klinik pengobatan gratis (yang masih beroperasi sampai sekarang). Generasi yang berkumpul di area dekat Golden Gate Park itu menolak untuk menerima komersialisasi yang melanda Amerika dan belahan bumi lain dan memilih untuk hidup apa adanya dan berbagi (apa yang mereka katakan sebagai) cinta.

Beberapa media saat itu memberi hippie label kontrakultur, ada juga yang memegahkan Summer of Love sebagai sesuatu yang politis dan sebuah bentuk revolusi. Memang gaya hidup seperti para hippie di Haight-Ashbury menjamur dan orang-orang pada era itu aktif dalam segala macam demonstrasi; misalnya protes perang Vietnam dan protes menuntut hak sipil perempuan serta kulit hitam. Maka dari itu aktivitas mereka dihubungkan dengan revolusi. Ulasan media saat itu membuat Haight-Ashbury semakin ramai ditempati orang-orang yang ‘lari dari kenyataan’ dan menyebabkan berbagai macam masalah sosial di SF sehingga hippie hanya menjadi utopia kultural.

Ketika berjalan-jalan di Haight-Ashbury sebelum saya ke festival musik itu, saya tidak berhenti membayangkan dinamika hidup di tahun 60-an di SF. Mungkin diantara kamu ada yang seperti saya, ketika datang ke sebuah kota yang sama sekali baru, kadang bisa langsung merasa tidak cocok atau justru langsung bisa membayangkan hidup tahunan di kota itu. SF masuk kategori yang kedua bagi saya. Kalau kamu ke Amerika, sempatkan diri ke SF. Dan seperti lirik dari salah satu band era 60-an; The Mamas & the Papas, jangan lupa:


“If you are going to San Francisco

Be sure to wear some flowers in your hair

If you are going to San Francisco

You are gonna meet some gentle people there”

Love,

Mars

Text

And when you trust your television 

What you get is what you got

John Mayer - Waiting On the World to Change

Akhirnya sudah bulan ketiga saya tinggal di Washington, DC. Mulai punya rutinitas dan mulai banyak merencanakan ini-itu. Menyenangkan, memang. Tapi satu hal yang saya lakukan ketika sudah mulai menjalani rutinitas yang hampir sama setiap hari adalah: revisit atau meninjau kembali yang dahulu. Sebenarnya sederhana. Saya hanya mengingat kembali apa tujuan saya ke sini, dan apa saja yang sudah saya serap, supaya kembali bersemangat.

Saya ingat waktu wawancara fellowship ini, saya bilang, saya baru mendaftar tahun ini karena tahun ini adalah tahun pemilu presiden di Amerika dan saya ingin menjadi bagian (atau menyaksikan secara langsung) sejarah itu. Karena saya fellow, ada kalanya saya belajar, tidak hanya bekerja. Seperti minggu pertama saya di VOA, Mbak Patsy Widakuswara memberikan ringkasan mengenai politik Amerika kepada saya dan Retno mengenai perbedaan antara partai Demokrat dan Partai Republik Amerika. Dan saya ingat Mbak Patsy bilang ke kami, “Politik Amerika itu gampang diukur, tidak seperti politik Indonesia.”

Kenapa gampang diukur? Karena nilai-nilai yang diyakini masih partai jelas. Misalnya, Demokrat itu liberal, sedangkan Republik konservatif. Tapi liberal disini, bukan yang seperti saya pahami. dulu pengertian saya, yang namanya liberal pasti segalanya “bebas.” Walaupun mayoritas simpatisan Partai Demokrat mendukung hak aborsi bagi perempuan dan perkawinan sesama jenis, tapi Partai Demokrat mendukung peran pemerintah yang lebih besar di masyarakat. Sementara Partai Republik, sebaliknya.

Secara umum, Partai Republik lebih tertarik mengatur hal-hal pribadi dan tidak terlalu ikut campur urusan bisnis dan ekonomi. Kubu Demokrat umumnya lebih tidak tertarik mengurusi hal-hal pribadi, melainkan lebih kepada isu-isu kesejahteraan masyarakat dan hak-hak sipil. Kubu Demokrat mendukung pemotongan pajak bagi mereka yang miskin, dan meningkatkan pajak orang kaya, sementara Republik ingin menurunkan pajak pada setiap orang, bukan hanya bagi orang yang tidak mampu.

Nah, yang sekarang paling sering diangkat di kancah panggung politik Amerika adalah isu perekonomian. Terutama karena pemilu presiden mulai semarak, antara kandidat dari partai Demokrat; yaitu Barack Obama dan kandidat partai Republik Mitt Romney saling serang dalam urusan ekonomi. Tentu saja, karena ekonomi Amerika sedang menurun, antara lainnya juga disebabkan oleh krisis utang Zona Eropa. Padahal Eropa adalah  konsumen terbesar produk-produk buatan Amerika. Kalau begini ceritanya, otomatis penganguran di Amerika semakin banyak. Angka pengangguran saat ini adalah 8,2 persen, dan ini lah yang dijadikan target serangan kampanye Romney.

Sebelum terlalu serius, saya kembalikan ke pengalaman pribadi. Jadi, selama satu bulan terakhir saya takjub dengan iklan-iklan kampanye kedua partai.  ‘Serangan terbuka’ ini saya lihat di TV sehari-hari dan banyak di YouTube. Silakan kamu lihat contohnya dua video berikut:

Hebatnya, semua iklan seperti itu ada bagian “I’m Barack Obama and I approve this message,” atau “I’m Mitt Romney and I approve this message”. Kalau di Indonesia, cenderung sulit mencari tahu agenda kampanye atau visi dan misi seorang kandidat presiden, wakil rakyat atau apa pun, kecuali kita memang niat mencari tahu.

Yang saya lihat di Jakarta, biasanya hanya poster berisikan kumis, peci dan slogan. Walaupun saya lumayan heran lihat iklan kampanye di Amerika, tapi menurut saya yang awam ini, itu adalah bentuk kedewasaan politik. Karena perdebatan dilakukan di ranah publik dan kalaupun data-data yang dikemukakan itu salah, pasti langsung ditampik atau dijelaskan oleh perwakilan partai, biasanya tim sukses atau juru bicara atau kelompok non-partai pendukung masing-masing kandidat, melalui televisi atau media lainnya. Intinya, semua berdasarkan data. Jadi, jelas bagi para pemilih mereka mau pilih siapa. 

Mencari fakta tentang seorang kandidat mudah sekali disini karena yang diperdebatkan itu jelas. Orang-orang bisa mencari tahu karena ada keterbukaan informasi, jadi orang-orang lebih kritis dan yakin dengan pilihannya masing-masing.  Jadi mungkin itu lah yang dimaksud, “mudah diukur.” Media di sini pun tidak mendramatisasi isu. Memang kadang-kadang pengulasannya lama, tapi yang mereka lakukan adalah mencari tahu sampai keakarnya, latar belakang masalahnya. 

Mungkin pandangan seperti itu yang harus saya refleksikan; menelaah sebuah berita lebih dalam dan tidak menelan mentah-mentah apa yang disuguhkan.

Iklan kampanye Obama dan Romney yang saya lihat setiap hari itu membuat saya semakin tidak sabar menunggu November. Kira-kira siapa yang menjadi presiden Amerika selanjutnya, ya?

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata  

Text

But everything that I hold dear

Is close enough to touch

(Elvis Presley – “Home Is Where the Heart Is”)


KRI Dewa Rutji saat merapat di Pelabuhan Baltimore

Sampai bulan kedua di sini, saya masih tidak yakin, apa itu homesick. Katanya, homesick itu perasaan depresi atau melankolis kala berada jauh dari rumah dan keluarga. Melankolis, sih, memang “sudah dari sananya.” Tapi tidak sampai depresi. Karena di sini, banyak yang mengingatkan saya pada Indonesia.


Dalam tiga  minggu ini saya hadir ke tiga acara yang merepresentasikan Indonesia. Yang pertama, saya pergi ke kediaman Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Bapak Dino Patti Djalal. Hari itu diadakan Pasar Minang. Di sini, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Ternyata jumlah kami cukup banyak disini. Selain menikmati penampilan tari daerah oleh anak-anak  dan dangdut ibu-ibu, saya sukses membawa pulang batagor, cabe ijo a la Padang dan rempeyek.

 

Acara yang kedua, saya dan teman-teman VOA datang meliput kegiatan pemutaran film ’40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy’ http://www.40yearsofsilence.com/ di West End Cinema – sebuah teater kecil yang banyak menayangkan film independen.  Film ini adalah kontra-naratif dari peristiwa G30S/PKI yang dibuat oleh Robert Lemelson, seorang antropolog pada UCLA. Merinding rasanya mengetahui sisi lain dari peristiwa itu melalui sebuah riset tahunan yang didokumentasikan secara apik. Dan seperti biasa, merinding yang seperti itu selalu saya alami kalau ada orang dari negara lain yang lebih mengetahui tentang Indonesia daripada kita.

 

Pada akhir minggu, lagi-lagi saya datang ke acara yang membuat saya merasa dekat dengan rumah.  Bersama teman-teman VOA, saya datang ke pelabuhan Baltimore di Maryland. Letaknya kira-kira satu setengah jam ke utara Washington DC. Di teluk itu, kapal kebanggaan Indonesia; Dewa Rutji, berlabuh sebagai bagian dari Star Spangled Sailabration. Di atas kapal, ada banyak kegiatan khas Indonesia; seperti tari Bali, pertunjukan angklung dan poco-poco berasama para kadet Angkatan Laut RI. Tidak hanya orang Indonesia yang berpartisipasi, orang bule pun mengikuti keseruannya. Yang paling berkesan, saya bertemu Ibu Sri Mulyani disana, yang kebetulan menemani anaknya mengisi acara di atas Dewa Rutji.

Warung Pandawa, Philadelphia


Mau tau apa yang paling mencengangkan bagi saya dan Retno? Beberapa minggu yang lalu kami diajak ke kota Philadelphia di negara bagian Pennsylvania. Disana ada restoran Indonesia  Jawa Timuran yang masakannya lezat sekali. Selain itu ada warung Pandawa, di mana segala macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman ada di sana. Mulai dari minyak rambut Tancho sampai jajanan pasar pun ada. Saya sampai terharu bisa makan kue lumpur dan kue cucur.


Kalau tahun depan adalah kesempatanmu jadi fellow VOA, pesan saya, jangan terlalu khawatir dengan perut Indonesiamu ataupun khawatir dengan the so-called pengaruh budaya barat. Take it easy, ‘cause home is where the heart is.

 

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Text

Langit Washington, DC

Orang Amerika individualitis. Itulah bayangan saya dan Retno sebelum datang ke Amerika. Tapi, pada kenyataannya, kami menemukan banyak sekali kegiatan kelompok dan komunitas.

Apa pun yang kamu minati, pasti kamu bisa menemukan kelompok dengan minat yang sama. Dari awal kepindahan saya kesini, saya suka mencari kegiatan yang bermanfaat dan seringkali, kegiatan yang ditawarkan itu gratis!

Seperti apa saja acara gratis di sini? Beberapa yang saya datangi baru-baru ini adalah konser Memorial Day di pelataran Gedung DPR AS alias Capitol Hill, dan acara pemutaran film “The Lady,” yang menceritakan kisah Aung San Suu Kyi. Saya pengagum Suu Kyi jadi senang sekali ada kegiatan ini. Selain pemutarannya diadakan di sebuah teater yang sangat apik di Navy War Memorial ada acara diskusinya pula mengenai keberlanjutan demokratisasi di Burma.

Pembicaranya adalah seorang dari Foreign Policy Initiative dan seorang jurnalis dari VOA, bernama Win Min. Ternyata kolega saya dari Siaran Bahasa Burma. Ia adalah mantan aktivis saat junta militer di Burma berkuasa dan seorang lulusan Harvard. Saya jadi berpikir, sepertinya VOA menyimpan banyak sekali orang-orang yang menarik.

Mendapatkan “ilmu” gratis yang sesuai dengan minatmu juga sangat mudah. Bergabung saja dengan sebanyak-banyaknya mailing list organisasi. Selain mengirimkan newsletter, mereka juga mengirim undangan kegiatan.  Sejauh ini, saya sudah langganan menerima informasi dari toko buku Politics & Prose; di mana sering diadakan peluncuran buku dan diskusi. VolunteerMatch untuk kegiatan sukarela bidang apapun, World Affairs DC untuk kegiatan yang berhubungan dengan kebijakan dan hubungan internasional, dan Meetup di mana kamu bisa bergabung dengan komunitas apapun dan bertemu dengan teman-teman baru dan belajar sesuatu yang baru. Misalkan kamu penggemar bahasa dan kebudayaan, kamu bisa menemukan komunitas, dari bahasa Spanyol sampai bahasa Islenska (bahasa di Eslandia). Tidak sebatas komunitas bahasa, ada juga ribuan komunitas lain yang ajaib.

Sementara banyak pertanyaan di kepala kita berdua, saya dan Retno terus mencari jawabannya sambil tetap melakukan sesuatu yang seru. Sesuatu yang kami akan segera coba adalah kelas olah raga Yala dan yoga gratis di tepi sungai. Menarik, kan?

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Text

How does it feel?
To be on your own
With no direction home
Like a complete unknown
Like a rolling stone?


 (“Like a Rolling Stone” - Bob Dylan)

Saya (kiri) dan rekan sesama fellow, Eno, di depan kantor pusat VOA

Seminggu kemarin saya mulai sulit menemukan waktu untuk menulis di blog ini. Pekerjaan di kantor dan di apartment sedang banyak dalam waktu yang bersamaan. Terima kasih kepada Bob Dylan, yang banyak menulis lirik tentang kelas pekerja, saya mendapat inspirasi menulis blog. Selain karena ia berulang tahun ke-71; bulan ini, tahun lalu saya sedang menonton konsernya. Waktu setahun memang cepat bergulir, dan sering kali, keberadaan kita selanjutnya tidak terduga. Sampai sekarang saja saya masih suka merasa aneh, “Kok, bisa sih sampai kerja di sini?’

Kali ini saya akan bercerita soal pekerjaan saya di VOA karena saya yakin, ada calon fellow yang penasaran. Sulit memang mendapatkan informasi itu, meskipun, pada dasarnya kamu pasti tahu kerjaan jurnalis sehari-hari. Saya pun, baru mendapatkan informasi lebih lengkapnya setelah bertanya-tanya ke fellow sebelumnya, tidak hanya via Facebook dan email, tetapi juga ketemu langsung.

Kuncinya, harus banyak tanya. Kenapa? Karena Amerika itu jaraknya setengah bola dunia dari Indonesia. Kalau kamu tidak menemukan banyak informasi, tidak banyak tanya dan sebenarnya tidak yakin, tidak mungkin naik travel Rp 45.000 semacam Jakarta-Bandung PP untuk pulang kampung, kan?

Di minggu keempat ini, saya masih berfokus dengan pekerjaan di lingkup radio, karena background saya yang memang dari radio. Untuk lingkup TV, mungkin kamu bisa baca blog teman saya, Retno. Tetapi nantinya saya akan dikaryakan juga oleh tim TV. Minggu depan saya akan mulai belajar.

Di VOA banyak sekali sumber berita yang bisa digunakan dan dijadikan perbandingan. It’s a good place to be if you are a news junkie. Ketika  berita sudah dipilih, tugas saya untuk menterjemahkan, merekam suara, mengedit audio, mengirim paket laporan dan siaran langsung ke lebih dari 200 afiliasi radio di Indonesia. Topik-topik yang biasa saya garap: bisnis dan ekonomi, politik, serta sains. Semua dikerjakan sendiri. 

Meja kerja saya (Marsha) di VOATiap orang di VOA memang punya tanggung jawab topik masing-masing dan pengerjaan dari awal sampai akhir untuk tiap berita harus diselesaikan sendiri. Jam kerja memang cukup panjang, karena untuk berita radio, saya harus menyesuaikan dengan jam siaran di Indonesia yang berbeda 11 jam. Tapi, tidak jadi masalah, karena itu semua terbayar dengan wawasan teknis, dan wawasan dunia yang bertambah.

Supaya ada sedikit gambaran, inilah berita-berita yang saya susun kemarin sebelum siaran dari studio VOA:

Sains mengenai pemetaan sumber air di Afrika Utara oleh peneliti Inggris;

Politik kelompok-kelompok luar pada pemilihan presiden Amerika 2012;

Saham di Amerika, Eropa, dan Asia, nilai tukar mata uang dan beberapa harga komoditas;

Kondisi politik dan ekonomi Eropa, khususnya di Yunani;

Perkembangan saham Facebook pasca-IPO; dan


Kisah perempuan yang bekerja di tambang minyak

Begitulah hari ini. Saya akan cerita lebih banyak lagi tentang kerjaan saya lain kali karena sekarang sudah pukul 10 pagi waktu DC. Saatnya saya mulai memantau apa yang terjadi di dunia. Have a good day and take it easy, okay!

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Text

It’s been a long, a long time coming
But I know a change gone come

Sam Cooke (22 Januari 1931 – 11 Desember 1964)

Ini adalah minggu ketiga saya bekerja untuk VOA dan tinggal di Washington, DC. Adakah yang berubah? Kecuali diri saya, semuanya berubah. Change has come.

Dari dulu saya selalu membayangkan betapa nyamannya kalau bisa tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor, pulang-pergi jalan kaki, di perjalanan menuju kantor bisa melewati taman yang bersih, udaranya tanpa polusi, semua orang sopan di jalan.

Semua menunggu gilirannya lewat dan tidak ada yang bersiul mencoba mengganggu. Lalu, sepulangnya dari kantor, saya masih punya waktu untuk olah raga, memasak dan membaca buku sebelum akhirnya tertidur pulas tanpa harus merencanakan untuk bangun beberapa jam lebih awal agar tidak telat sampai ke kantor.

Sekarang, semuanya itu menjadi keseharian saya. Selain nyaman, hidup juga lebih efisien:

Jalan kaki dari apartemen ke kantor: 15 menit

Jalan kaki dari apartemen ke toserba: lima menit

Jalan kaki dari apartemen ke stasiun Metro: lima menit

Mencuci pakaian di ruang laundry apartemen: 35 menit. Mengeringkan: 45 menit

Tidak ada lagi antrean TransJakarta yang tidak bisa diprediksi durasinya, tidak ada lagi malas masak karena minimarket dekat rumah tidak menjual sayuran segar, dan tidak ada lagi “acara” melongok ke atas untuk memastikan apakah matahari akan muncul untuk mengeringkan pakaian saya.

Tetapi, teman-teman saya di sini juga (masih) bisa dihitung.

Tantangan terbesar ketika awal tinggal di Amerika adalah banyak sekali urusan administrasi yang harus dilakukan sendiri. Mulai urusan imigrasi, pekerjaan, tempat tinggal sampai nantinya, urusan membayar pajak. Rasanya seperti memulai kehidupan yang benar-benar baru. Beruntung, teman-teman yang bekerja di VOA Indonesian Service sangat membantu saya dalam beradaptasi. Misalnya, mereka rela menunggu berjam-jam di bandara untuk menjemput saya (ingat kan, cerita saya soal perjalanan ke DC yang dramatis?). Mereka juga mau menemani saya membuka rekening bank yang banyak persyaratannya. Di luar jam kantor, mereka suka mengajak saya ke tempat-tempat hiburan. Dari tempat-tempat itu lah saya bertemu teman-teman baru.

Orang-orang yang saya temui di jalan mau pun di tempat-tempat yang saya kunjungi, sopan dan ramah. Saya mau cerita soal keramahan. Orang-orang di sini tidak sungkan untuk tersenyum dan sekedar mengucapkan, “How’s it going?” atau “Hey, how are you?” padahal tidak saling kenal, kemudian lewat begitu saja dengan mengucapkan “Have a good day!” atau “You take care of yourself, okay!” Bahkan, salah seorang satpam gedung VOA yang berkulit hitam dan berbadan besar, selalu menyapa saya dengan ucapan, “Selamat pagi, sampai jumpa lagi!” Walaupun hanya kata-kata itu yang dia tahu, tapi setidaknya dia berusaha untuk membuat saya senang ketika memulai hari. Little things count a great deal.

Sekarang saya mau cerita soal kesopanan. Kamis minggu lalu saya berkesempatan untuk datang ke sebuah konser. Tidak bisa dipungkiri, salah satu keuntungan tinggal di luar negeri bagi pencinta konser seperti saya adalah; banyak konser dan tiket murah, hehe. Konser ini diadakan di 9:30 Club dia daerah U Street. Saya pergi ke sana sendiri usai siaran dan ini pengalaman pertama saya nonton band di Amerika. Sebenarnya ketika pertunjukan, saya langsung rindu teman-teman saya di Jakarta dan crowd yang biasa saya temukan. Mereka seru, banyak berinteraksi dengan sesama dan tidak malu untuk nyanyi bersama. Disini, penonton konser cenderung diam dan asik sendiri. Itu nilai minusnya menurut saya. Tapi nilai plusnya adalah: tidak ada yang memotong antrean masuk atau memaksakan diri untuk menerobos sampai ke depan barikade. Tidak ada orang yang mengambil tempat orang lain. Semua sopan dan tertib.

Saya juga berkesempatan melongok pergaulan anak muda di Washington, DC. Seusai piknik VOA (lihat tulisan blog Retno, “We Are Family”). Sebuah malam, saya dan teman-teman pergi ke sebuah bar di daerah Adams Morgan. Menurut saya, orang-orang Amerika itu tidak sepandai orang Indonesia dalam berbasa-basi. Silakan menilai pendapat saya barusan dari kacamata positif atau negative. Hehe. Bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba ada yang mengajak berkenalan. Saya mengalami itu. Ada pria yang menghampiri dan memulai percakapan.

Dia: “Excuse me, I couldn’t help but notice you. Are you here with someone?

Karena saya tidak mau mengambil resiko, saya tanggapi dengan lekas

Saya: “I’m afraid I am. Sorry

Dia: “Oh sorry, my bad.

Kemudian pria random itu pergi. Orang-orang di sini memang pintar mengutarakan apa yang mereka mau dengan ringkas dan tidak berbelit-belit. Dan mereka bisa menerima penolakan dan perbedaan ekspektasi atau perbedaan pendapat dengan baik. Percakapan saya di atas adalah contoh sederhananya.

Sebelum akhir pekan lalu berakhir, saya  menyempatkan diri untuk ke daerah Dupont Circle. Disini lah saya merasa saya mulai menikmati tinggal di DC. Sebabnya, saya menemukan toko buku yang koleksi literaturnya sangat lengkap. Di Kramerbooks dan Afterwords, saya menemukan buku yang sudah bertahun-tahun saya cari. Senangnya bukan kepalang. Hari itu saya tambah senang karena ada acara Dance Circle di taman. Disitu, dari balita, kakek-nenek sampai transgender menari bersama dan disitu saya merasa nyaman. Akhirnya saya  tinggal di sebuah kota di mana energinya sangat positif dan orang-orangnya sangat menikmati hidup.

Well, that’s it for now. Sepertinya saya sudah kepalang menulis blog pertama dan kedua saya dengan diawali lirik lagu dan sepertinya akan terus begitu. Selain memudahkan saya untuk menulis, saya berharap ini juga bisa memudahkan kamu untuk ikut merasakan “My Year at VOA.” -

Love,
Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata   

Marsha Ryadi dan Retno Lestari, dua penerima PPIA-VOA Broadcasting Fellowship tahun ini.

Marsha Ryadi dan Retno Lestari, dua penerima PPIA-VOA Broadcasting Fellowship tahun ini.