Posts Tagged: Retno Lestari

Text

Masih pukul 7 pagi waktu Jepang. Tersisa sembilan jam sebelum penerbangan ke Washington, D.C. dari Tokyo.

Saya hanya bisa duduk terhenyak di Gate 51, salah satu gate paling dekat dengan pintu keluar pesawat bagi penumpang transit. Gak tahu mau ke mana, karena lokasi gate untuk penerbangan UA 804 ke Amerika Serikat, masih belum diumumkan.

Belum tahu mau ngapain, karena bandara masih sepi dan toko-toko sebagian besar tutup. Jadilah, akhirnya saya ngemper dulu, kebiasaan resmi wartawan. Sementara ada waktu, saya bisa ngetik, untuk berbagi cerita.

image

Mengejar Mimpi Berkarir di Televisi

Masih membayang jelas, apa yang ada di benak saya 10 tahun lalu, ketika menonton acara favorit, ‘Dunia Kita’ di Metro TV, program dari VOA Washington DC, yang menyajikan tayangan sosial-budaya unik dari Amerika. Pasti bahagia sekali bisa bekerja dan jalan-jalan di negara besar itu, mengalami berbagai hal baru yang membuka mata, sambil meliput berbagai peristiwa. 

Buat saya, keinginan itu rasanya terlalu tinggi, karena saya lahir, tumbuh dan bersekolah di sebuah kota kecil bernama Payakumbuh, di Provinsi Sumatera Barat. Di bayangan saya ketika itu, sulit bagi kami, anak daerah, untuk berkarir di kota besar seperti Jakarta, apalagi bekerja di Amerika. Namun, mimpi saya itu tetap saya tanam dalam-dalam.

Mimpi saya itu menghadapi rintangan baru, tatkala satu dan lain hal membuat saya berkuliah di jurusan Matematika di Institut Teknologi Bandung. Tentu saya bersyukur bisa berkuliah di universitas sebagus ITB. Tetapi di lain pihak, saya berpikir akan semakin sulit bagi seorang lulusan matematika berkarir di bidang kewartawanan.

Seminggu sebelum hari kuliah pertama, lagi-lagi saya tekadkan di hati, meskipun tidak suka dengan jurusan yang akan dihadapi setiap hari dalam empat tahun, saya akan kuliah sebaik yang saya bisa, lalu tetap mengejar karir di televisi. Saat itu, keinginan bekerja di VOA seakan sudah menjadi mimpi yang terpojokkan dan diendapkan di sudut pikiran. Mimpi yang rasa-rasanya hanya mampu menggayut sebagai mimpi.

Tak disangka, segala pemikiran itu salah. Tuhan berkehendak lain. Sebulan sebelum wisuda, saya mengikuti tes menjadi reporter Metro TV. Senang sekali karena lowongan ini terbuka untuk segala jurusan. Tahap demi tahap, mulai dari tes kamera di salah satu mall di Bandung, sampai wawancara panel dengan redaksi Metro TV di Jakarta, perlahan-lahan saya lalui.

Seminggu sebelum wisuda, saya diterima sebagai reporter stasiun televisi swasta berlambang kepala elang itu. Saya sempat tercenung, karena tanpa disadari, dua mimpi telah mewujud nyata: memulai hidup baru di ibukota dan bekerja di televisi.

Tuhan memang Maha Dahsyat.

image

Mengenal Program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship

Sejak pertama kali pindah ke Jakarta, saya kembali mencari peluang lebih besar lagi untuk meningkatkan kemampuan. Katanya, manusia akan ‘mati’ kalau berhenti belajar.

Ketika sedang bertugas selama satu mingu ke Sulawesi Selatan pertengahan 2011 lalu, saya bertemu Kepala Biro Metro TV Makassar, Fauziah Erwin, yang akrab dipanggil Mbak Uci. Orangnya terbuka dan senang berbagi. Pembicaraan asyik kami, semakin seru ketika Mbak Uci menceritakan pengalamannya mendapat fellowship untuk bekerja selama satu tahun di VOA Washington DC, digaji lagi. Berbagai negara bagian telah dikunjunginya ketika liputan untuk VOA. Saya ngiler, jantung berdegub kencang.

Kembali ke Jakarta, saya buru-buru browsing tentang fellowship tersebut. Nafas hampir berhenti saat tahu pendaftaran PPIA-VOA Broadcasting Fellowship untuk tahun 2012-2013, akan ditutup dalam seminggu. Ada empat esai yang harus dijawab. Saya tahu, saya tidak akan siap. Saya tidak mau memaksa diri dan terburu-buru tetapi tidak total.

Akhirnya dengan berat hati, niat untuk mendaftar diurungkan, dan berharap bisa ikut serta tahun berikutnya, karena saya masih masuk kualifikasi jurnalis muda dengan pengalaman kurang dari tiga tahun. Supaya terus ingat, di dinding kamar, saya tempel ‘VOA’ bersama sejumlah target lain, supaya bisa dipandangi terus setiap hari, mulai dari bangun hingga tidur kembali.

image

Mengisi Aplikasi PPIA-VOA Broadcasting Fellowship

Perlu waktu sebulan penuh untuk menyelesaikan aplikasi. Saya sangat bersyukur dikelilingi guru dan teman yang luar biasa baik dan membantu. Mulai dari dosen saya, Bu Indah dan suaminya Pak Haryono, yang dengan sabar memberi masukan dan kritik tajam tentang esai (saya remuk redam saking ‘tajam’-nya kritikan), sampai para pemberi rekomendasi, yaitu Bang Edward AR.

Bang Edward cameraman sejati nan rendah hati yang jejak pengalamannya terukir di lubang-lubang peluru GAM di Aceh, di panasnya wedus gembel Gunung Merapi, dan di antara ledakan-ledakan bom di Libya.

Dan satu lagi, Mas Budiyono, Kepala Desk Polhukam Metro TV, yang telah  memberi kesempatan berharga, mulai dari kepercayaannya kepada saya untuk menjadi wartawan DPR di tahun pertama saya di Metro TV, dan wartawan Istana Kepresidenan di tahun kedua. Terimakasih tanpa akhir untuk mereka. Jadilah, akhir November, aplikasi saya kirim.

Masa-masa Penantian 

Saya sempat membaca tulisan fellow sebelumnya, Retno Lestari, di blog ini. Retno mengatakan,  saking lamanya penantian, dia sampai lupa sudah mengirimkan aplikasi fellowship. Saya tidak. Setiap hari, saya selalu ingat sudah mendaftar, dan deg-degan, berharap ada panggilan telepon dari nomor tidak dikenal.

Penungguan panjang itu tampaknya memang harus saya hentikan, ketika saya membaca ulang perlahan-lahan website fellowship PPIA-VOA. Di sana tertulis, setiap tahunnya, setelah melalui sejumlah tahapan, fellow baru akan terpilih pada akhir Januari. Padahal saat itu, sudah minggu pertama Februari 2013 dan saya belum melalui satu tahapan pun.

Mungkin fellowship ini tidak Tuhan berikan untuk saya. Saya ikhlaskan dan lupakan. Hidup kemudian berjalan lebih ringan, tanpa ada lagi penantian.

Telepon dari Nomor Tak Dikenal

Pada Selasa, 19 Februari siang, hidup yang sudah sangat santai itu, tiba-tiba berubah penuh gejolak.

Saat itu saya sedang liputan pemeriksaan Menteri Keuangan Agus Martowardojo (sekarang sudah mantan) oleh KPK, di gedung lembaga anti rasuah itu, di Kuningan, Jakarta. Setelah laporan langsung untuk Headline News pukul 12:00, ada telpon dari +62213000xxxx. Saya kira dari kantor untuk koordinasi laporan berikutnya.

Ternyata, “Halo Rafki, ini Alina dari VOA.”

“Oh my God!”

Saya bereaksi otomatis, langsung tersadar, dan tanpa kontrol meloncat-loncat kegirangan. Saat itu, saya tidak peduli lagi dengan wartawan-wartawan yang sedang ngemper di tangga KPK melihat tingkah aneh saya.

Dengan tenang Mbak Alina mengatakan kalau saya masuk 20 besar calon fellow dan akan diwawancara dalam Bahasa Inggris oleh tiga orang, yaitu pak Frans dari VOA, serta Bu Barbara dan Bu Atiek dari PPIA. Karena saya paling susah mengingat nama dan saat itu sedang panik sekali, tanpa sadar saya tulis nama mereka di bagian paha celana kantor yang sedang saya pakai, supaya tidak lupa.

“Rafki siap?,” tanya Mbak Alina, yang segera saya jawab tanpa pikir panjang, “Siap Mbak!,” padahal saat itu baterai HP saya tinggal satu bar.

Supaya agak sepi, saya jalan ke parkiran KPK yang letaknya persis di depan Rutan Salemba cabang KPK dan jongkok di antara mobil-mobil.

“Hi Rafki, I’m Barbara.”

“Oh my God, I’ve been waiting for this for months, oh my God!, ” saya mulai tambah tidak terkendali.

Sesi wawancara sekitar 10 menit itu berlangsung dengan sebagian besar kata yang terlontar dari mulut saya dimulai dengan “Oh my God”.

Proses Wawancara VOA-PPIA Broadcasting Fellowship

Pertanyaan berfokus mengenai mengapa saya memilih bekerja sebagai reporter. Saya sangsi mereka bisa mendengar jawaban dengan jelas, karena selain saya bicara sambil teriak-teriak tak terkontrol, baterai hp yang nyaris habis, memaksa saya berkomunikasi sambil jalan di tengah ributnya jalan HR Rasuna Said yang padat, menuju mobil SNG (Satellite News Gathering) Metro TV, untuk nge-charge hp.

Saya tidak ingat lagi apa jawaban saya, yang paling saya ingat adalah perkataan bu Barbara, “We will choose 10 finalists to be interviewed in VOA’s office in Jakarta. We will let you know if you are chosen.” Jantung saya berdegup kencang, “Thank you very much for your phone call,” kalimat itu saya ulang berkali-kali.

Jumat-nya, saya mendapat email dari mba Alina, yang membuat jantung hampir meloncat. “Congratulations!, We are glad to infrom you, that you are one of the successful candidates for joining our final interview.”

Saya dapat jadwal di hari kedua, yaitu hari Rabu. Entah mengapa, ketakutan tiba-tiba menghantui. Ini mimpi besar yang tiba-tiba hadir di depan mata dan tinggal selangkah lagi diwujudkan. Saya takut tidak bisa memberikan yang terbaik. Saya takut tidak siap. Saya takut tiba-tiba sakit sebelum wawancara. Saya takut tiba-tiba melakukan kebodohan. Saya takut blank dan tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.Dan yang paling saya takutkan, saya takut tidak bisa tidur sebelum hari-H.

Saya masih ingat, di malam sebelum Seminar Tugas Akhir ITB, saya tidak tidur sedetikpun dan itu benar-benar mengganggu performa. Saya takut semua hal yang tidak terduga itu mendepak saya dari mimpi itu.

Empat hari menjelang Rabu, setiap langkah rasanya berat. Jantung berdegub tidak karuan. Keringat dingin kerap mengucur tiba-tiba.

Hal rasional yang bisa saya lakukan untuk mengurangi stress itu adalah menelpon orang-tua, berdoa, dan rajin browsing tentang VOA, menonton acara-acara VOA, dan mencari tahu informasi serta latar belakang delapan nama yang akan mewawancara saya. Setidaknya saya tahu, siapa yang akan mewawancara saya.

 

Hari berganti, Rabu semakin dekat, tetapi kesiapan mental tidak bertambah baik jika tidak mau disebut lebih buruk. Setiap ingat akan wawancara, perut saya mules.

Alhasil, saya telpon Mbak Uci untuk curhat, meminta sarannya dan menanyakan apakah reaksi saya ini masih normal. “Udah, lu nyante aja, gampang kok. Jangan keluarin pecicilan lu aja.” Mbak Uci pun kemudian memberi tips-tips wawancara, sangat membantu. Komunikasi telpon itu berlangsung hampir setengah jam, dengan saya yang sebagian besar hanya bisa melenguh karena letih kebanyakan pikiran.

Untungnya, sehari sebelum wawancara, saya lumayan sibuk meliput kediaman Anas Urbaningrum yang saat itu baru tiga hari ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman di lapangan benar-benar membuat rileks.

Inilah yang saya suka dari pekerjaan sebagai reporter televisi. Setiap hari terjun ke lapangan, ke berbagai lokasi yang tidak terduga, menjadi orang pertama yang mengetahui berbagai hal penting, dan tentunya membuat stress terlupakan. 

 

image

Tidak seperti yang saya duga, di hari-H, saya tidak begitu stres. Tapi tidak dipungkiri, grogi tetap menumpuk setinggi langit. Setidaknya dalam satu jam, saya lima kali bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air kecil dan mencuci muka. Jam hampir menunjukkan pukul 8 pagi. Sebentar lagi nama saya akan dipanggil untuk wawancara.

Dalam pikiran-pikiran yang menyambar seperti kilat, ada keyakinan-keyakinan yang menenangkan.

“Rafki, yang bisa kamu lakukan hanya memberi yang terbaik yang kamu bisa. Jika pun hasilnya buruk ketika wawancara, berarti itu yang terbaik yang bisa kamu lakukan.

Jika kamu tidak berhasil meraih mimpi ini, yakinlah, berarti Tuhan punya rencana dan hadiah yang lebih besar lagi untukmu. Jadi, berusahalah dan lepaskanlah.”

 

“Rafki…”, Suara Mbak Alina menyadarkan saya.

Saya berjalan masuk menuju sebuah ruangan, yang ternyata adalah ruangan pak Frans, di salah satu pojok kantor VOA.

Pintu dibuka. Ada Pak Frans, Bu Barbara, dan Bu Attie di dalamnya, duduk menyambut, mereka mempersilahkan saya duduk. Ruangannya lebih kecil dibandingkan apa yang ada di bayangan saya. Suasananya sangat akrab, pak Frans duduk di belakang saya, di mejanya sendiri. Bu Barbara duduk sekitar 30 sentimeter di samping kiri saya. Di sebelahnya duduk bu Atiek.

Kami menghadap sebuah laptop di tengah meja yang jaraknya hanya tiga jengkal dari saya. Saat itu, beban mental sepertinya telah hanyut karena telah menumpuk di hari-hari sebelumnya. Yang tersisa adalah degub-degub keras di jantung, yang rasanya bisa membuat saya berlari kencang.

Tiba-tiba dari layar laptop, orang-orang yang telah berkali-kali saya browsing dalam kurang dari satu minggu terakhir: Mas Helmi, Mbak Patsy, Mbak Nadia, Mbak Irna, dan Mr. Goodman, menyapa nyaring nyaris serentak.

“Hai Rafkiii…”

Suara itu seakan menggaung kencang. Nafas saya tercekat, dan jantung rsanya memompa berkali lipat lebih cepat.

Saya terkesiap sambil menjawab, “Hai…!”

Ruangan kecil itu perlahan-lahan terasa meluas dan lebih terang. Saya hanya bisa tersenyum dan tiba-tiba semuanya berubah.

Hampir satu jam kemudian, saya perlahan-lahan terbangun dari mimpi. Saya hanya bisa terkesima mensyukuri rahmat Tuhan, mimpi itu kini menjadi nyata. Oh My God!

 

Rafki Hidayat,

rhidayat@voanews.com

@RafkiHidayat

Text

Detak jantung semakin kencang. Pikiran pun melayang. Hidup serasa tak tenang. Ah, sepertinya saya mengenal perasaan ini. Ya, sebuah perasaan kehilangan.

Sebenarnya saya telah mempersiapkan diri. Lagi pula di dunia ini apa yang kita punya? Tidak ada. Pada waktunya, semua akan hilang. Begitu pula rasa senang. Rasa senang akan hidup satu tahun di Washington, DC. Tapi toh tidak dapat dipungkiri, saya dan Marsha merasakan kesedihan meninggalkan orang-orang yang merupakan keluarga kami di Washington DC. Meninggalkan segala kemapanan hidup yang satu tahun ini kami jalani.

Satu tahun pun berlalu. Kami harus menghadapi kenyataan bahwa kami harus kembali ke tempat asal, Indonesia. Marsha telah menceritakan bagiannya. Sekarang giliran saya.

Entah mengapa, selama satu bulan terakhir jelang kepulangan ke Indonesia, saya merasa kosong. Badan saya ada, tetapi pikiran dan jiwa saya hilang entah kemana. Rasa rindu, senang, takut, khawatir, menghinggapi diri saya. Apa yang akan saya lakukan di Indonesia? Bagaimana nanti kehidupan saya di sana? Bagaimana harus kembali menghadapi macetnya ibukota? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk.

Mungkin Anda bertanya. Sebegitu besarkah cinta saya pada Washington, DC? Sebegitu berhargakah kehidupan saya setahun lalu daripada kehidupan puluhan tahun di negara saya sendiri? Dengan jujur saya jawab, iya. Saya mencintai kehidupan saya satu tahun belakangan.

Bukan saya tidak mencintai negara saya. Bukan saya tidak mencintai tempat saya dilahirkan. Bukan saya tidak mencintai Jakarta, kota di mana saya dibesarkan. Saya cinta, tetapi mungkin jika bisa memilih, saya ingin tinggal untuk waktu yang lama di Washington, DC. I can say that this is my city. 

Tapi kenyataan dan takdir berkata lain. Saya memang harus kembali ke Indonesia. Saya harus kembali ke Jakarta. Banyak hal yang harus saya lakukan di tanah kelahiran saya. Ada pelajaran yang harus saya bagikan. Ada keluarga yang wajib saya utamakan. Ada misi yang belum dan harus saya selesaikan. 

Suatu saat nanti, saya akan kembali ke Washington, DC. I didn’t say goodbye. Saya cuma bilang, I’ll see you soon!

Menghargai Perbedaan

Betapa beruntungnya saya dan Marsha bisa mendapat kesempatan menjadi fellow dari program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013. Kami berkesempatan bekerja di Amerika, di lingkungan internasional.

Bukan hanya skill dan kemampuan sebagai seorang broadcaster yang saya dapatkan seperti yang tertuang dalam cerita-cerita kamu sebelumnya. Lebih dari itu, saya mendapat pengalaman hidup yang sangat berharga. Saya belajar menghargai adanya perbedaan. Saya belajar untuk tidak memberi penilaian.

Saya belajar memahami bahwa setiap orang, apalagi setiap manusia yang berbeda negara, berbeda budaya, berbeda agama memiliki pola pikir berbeda. Tinggal bagaimana kita bisa menghadapi perbedaan itu agar tidak menciptakan konflik. Inilah pelajaran terbesar dan terbaik yang saya dapatkan, yaitu mutual understanding terhadap budaya berbeda, yang memang menjadi misi program fellowship ini.

Dengan tinggal selama satu tahun bersama orang-orang dari latar budaya yang berbeda, pikiran saya ikut terbuka. Tidak ada yang berubah dengan diri saya. Saya tetap orang yang sama. Amerika sama sekali tidak merubah saya. Amerika hanya mengubah seberapa jauh dan seberapa luas sudut pandang saya.

Jika dulu saya langsung memberikan penilaian terhadap orang-orang Amerika berdasarkan yang saya lihat di televisi maka sekarang saya akan menjadi sangat malu apabila saya melakukan penilaian tanpa pernah merasakan sendiri menjadi bagian dari orang-orang yang saya nilai tersebut. Karena apa? Karena saya pernah tinggal bersama mereka.

If you ask, “Are you saying that America is that good?” I will say, It is and it is not. Selalu ada kontradiksi dalam berbagai hal. Banyak hal baik di Amerika dan banyak juga hal buruk di Amerika. Tinggal apa yang mau kita ambil dan pelajari. Ketika kita bisa mendapat akses, mengapa tidak kita ambil sesuatu yang positif untuk membangun diri kita sendiri dan masyarakat kita.

Akses ini sangatlah penting bagi saya untuk perkembangan diri saya, dan yang lebih luas lagi, perkembangan masyarakat dunia. Oleh karena itu, keluarlah dari dunia kecil kita. Let’s explore another world. Inilah salah satu cara agar kita bisa menjadi bangsa yang maju.

Untuk pengalaman dan pelajaran hidup ini, saya mengucapkan terimakasih yang tak terkira bagi PPIA, VOA, Cathay Pasific, para penonton setia Voice of America, teman-teman di DC, teman-teman di TV affiliates, teman-teman di Indonesia, keluarga saya, serta pembaca blog ini.

Ketika satu mimpi ini sudah berakhir, maka saya akan bermimpi lagi. Seperti yang selalu saya katakan bahwa saya ini adalah pemimpi. I am a full time dreamer. Hope to see you in my next dream.

Semoga tulisan-tulisan saya dan Marsha di blog ini bisa memberi inspirasi. Dan nantikan kejutan lainnya dari kami.

Apa hayo?

Masih rahasia!

Keep reading this blog, keep following us on twitter, and Facebook. 

 

Love,

Retno Lestari

(lestari.retno@gmail.com, tweet: @retno_lestari)

Text

image

“Three, two, one…Happy New Year!”

Begitulah teriakan saya dan Marsha, bersama lebih dari satu juta orang lainnya yang berkumpul di Time Square, New York City, untuk menyaksikan ball drop sebagai penanda pergantian tahun 2012 menuju 2013.

Menyaksikan ball drop di Times Square adalah cara klasik untuk merayakan tahun baru yang didambakan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Termasuk saya dan Marsha tentunya.

 

Mengapa Ball Drop?

Perayaan tahun baru di Times Square memang sudah diadakan sejak tahun 1904. Namun ball drop pertama, baru terjadi pada tahun 1907. Ball drop ini dibuat untuk menggantikan pesta kembang api yang saat itu dilarang di New York City. Kemudian tradisi ball drop terus berlangsung tiap tahunnya hingga saat ini.

Pada awalnya, bola yang dijatuhkan dari puncak Times Square terbuat dari kayu dan besi. Namun kini, bola yang dijatuhkan terbuat dari kristal yang beratnya lebih dari 5000 kg dan diameternya mencapai 3,6 meter.

Nah, tidak heran kalau festival ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia dan selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan orang setiap tahunnya.

image

Antri Sejak Jam 12 Siang

Saya dan Marsha sudah membulatkan tekad sejak awal hijrah ke Amerika, untuk merayakan tahun baru di Times Square, New York. Kami ingin tahun baru kami di Amerika akan selalu kami kenang dan akan menjadi pengalaman once in a life time.

Lho, nggak mau lagi?” Kalau ditanya begitu, saya dan Marsha akan menjawab dengan kompak, “Nggak!”

Tidak mudah memang masuk ke Times Square untuk menyaksikan drop ball. Bagaimana tidak, jutaan orang berlomba untuk bisa berada di sana dan mendapatkan tempat berdiri yang paling enak. Tidak salah kalau orang bilang posisi menentukan prestasi.  Karena posisi yang enak akan dengan jelas melihat jatuhnya bola di Times Square dan juga menyaksikan para pengisi acara di tiga panggung yang disediakan panitia.

Untuk itu, maka orang-orang akan datang berjam-jam sebelumnya. Bagaimana dengan saya dan Marsha? Kami cukup datang dan mengantri sejak jam 12 siang saja!

Kami pergi ke Times Square bersama seorang teman asal Spanyol bernama Carlos. Begitu sampai di area Times Square, Carlos bertanya kepada polisi di manakah kami harus berdiri untuk bisa masuk ke tempat-tempat yang telah ditentukan dan sudah dipagari besi.

Kami pun masuk dari persilangan jalan 46th Street dan 7th Avenue. Inilah enaknya jalan di New York, menggunakan sistem angka yang berurutan sehingga mudah untuk dicari.

Kami harus mengantri untuk melewati petugas polisi yang akan mempersilakan kami masuk ke dekat panggung, setelah melakukan pemeriksaan pada setiap orang. Tentu, orang-orang di depan dan di belakang kami sudah ribuan. Aksi dorong-mendorong mewarnai usaha kami masuk ke dalam area yang saya sebut “safe zone.” Yang artinya, area dimana kami aman dan tidak akan diusir seperti yang terjadi di tahun sebelumnya pada Vici Vadeline dan fellow VOA tahun sebelumnya Kartika Octaviana. 

“Untung pengalaman naik kereta Jabodetabek,” ujar saya pada Marsha yang sibuk menahan diri di tengah himpitan laki-laki berbaju wanita.

Setelah sekitar 45 menit mengantri dan dorong-mendorong, kami pun berhasil masuk ke dalam zona aman di dekat panggung dan bisa dengan jelas melihat Times Square.

 

We Made Friends!

image

Kami langsung bertemu dengan rombongan enam perempuan muda “gila” asal North Carolina, dua laki-laki cupu nan lucu dari New Hampshire, suami istri beserta anak perempuannya yang gaul asal San Diego, dan empat orang lainnya yang kalau tidak salah berasal dari Inggris.

Sejak awal berdiri, kami sudah berkenalan, bercanda, bernyanyi, berfoto-foto, menari, hingga membuat seisi Times Square bernyanyi untuk Carlos.

Everyone, this is my friend Carlos. He’s all the way coming from Spain to celebrate his birthday today. So let’s sing happy birthday for him,” teriak gadis lucu bernama Summer dengan kencang.

Saat itu sekitar pukul 3 sore, Times Square bernyanyi “Happy birthday” untuk Carlos.

Kemudian, jam demi jam terus berlalu. Setiap countdown kami lewati sambil menghitung sisa jam menuju ke waktu tengah malam. Untuk menghilangkan jenuh, kami pun menari-nari mengikuti alunan lagu yang diputar dan terdengar lewat pengeras-pengeras suara raksasa. Mulai dari lagu top 40, lagu-lagu hits tahun 2012, hingga lagu Fun Factory. 

Hayo, siapa yang tahu Fun Factory? Yang tunjuk tangan berarti ketahuan umurnya. Haha.

Saya pun menjadi satu dari sedikit orang yang bersenandung, “Let’s have a celebration by the sea. And get together in peace and harmony. A celebration come and have some fun. Singing oh oh ooh oh, oh oh oh ooh oh..”

image

Kami Pakai Pampers!

Suhu udara di New York saat itu adalah 38 Fahrenheit atau sekitar 3 derajat celcius. Bagi kami suhu ini memang dingin, tetapi tidak sedingin yang kami perkirakan. Plus, kami berada bersama banyak orang sehingga kami merasa jauh lebih hangat.

Lelah? Tentu saja. Kami kan berdiri terus. Lapar? Pasti. Tapi kami sudah menyediakan protein bar. Snack yang mudah dibawa ketimbang harus berbekal makanan berat seperti sandwich atau makanan lainnya.

Minuman pun cukup satu botol saja. Karena yang paling kami takuti bukanlah berdiri berjam-jam, melainkan kalau kami kebelet ke belakang. Jadi, kami tidak mau banyak minum.

Nah, gara-gara Timse Square ini saya dan Marsha untuk pertamakalinya sejak puluhan tahun lalu kembali mengenakan pampers. Untungnya, kami sama sekali tidak ada keinginan untuk ke belakang. Kalau tidak? Hahahaha, saya enggan membayangkannya.

image 

Psy Wave! 

Menurut saya di Amerika yang terjadi bukan Korean Wave, tetapi Psy wave! Semua orang tahu Gangnam Style dan bisa berjoget kuda ala Psy.

Tentu saja Psy didaulat menjadi pengisi acara. Wah, betapa senangnya saya dan Marsha bisa menyaksikan langsung Psy bernanyi dengan goyangan Gangnam Style-nya. Apalagi Psy tampil bersama MC Hammer. Lagu Gangnam Style pun di remix dengan alunan beat MC Hammer.

 

Satu kata, “Awesome!”

Sejak jam 6 sore, panggung memang mulai diisi penampilan rehearsal para pengisi acara. Mulai dari Psy, Train, Carly Rae Jepsen, hingga Taylor Swift. Baru setelah melewati jam 9 malam, para pengisi acara ini tampil sesungguhnya dan disiarkan live oleh stasiun televisi.

image

Penampilan mereka membuat waktu seolah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, kami terus bernyanyi dan melompat-lompat hingga menjelang waktu jam 12 malam.

Ketika jam menunjukkan waktu pukul 11.59, kami pun sudah menyiapkan kamera untuk merekam ball drop sambil berteriak dengan gembira, “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2,1, Happy New Year!

Dua belas jam berdiri kami lalui hanya untuk satu detik menuju tahun baru 2013!

Tahun baru yang sangat melelahkan, namun sangat berkesan dan akan selalu kami kenang.

Selamat tahun baru!

image 

 

Cheers,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari  

 

Text



Warna merah adalah warna “it” saya. Maksudnya? Maksudnya, warna merah adalah warna yang menurut saya membuat saya terlihat lebih menarik (self-proclaimed) tetapi tidak menjadi warna favorit saya. Sepatu saya mayoritas berwarna merah. Lipstik yang saya punya mayoritas berwarna merah. Dan akhir-akhir ini Anda tahu saya terobsesi dengan apa? Dengan daun-daun pepohonan yang berwarna merah.

Perubahan warna merah pada daun ini merupakan penanda masuknya musim gugur. Ini adalah fenomena alam, yang tidak bisa saya temukan di Indonesia. Perubahan warna daun ini disebut foliage. Mengapa bisa berubah? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan warna daun pada musim gugur yaitu pigmen daun, panjangnya malam hari, dan cuaca. Namun pengaruh cuaca, curah hujan, suplai makanan tidak sebesar pengaruh panjangnya malam terhadap perubahan warna tersebut. Saat siang hari lebih pendek, dan malam hari lebih panjang serta lebih dingin, proses bio kimia pada daun dimulai. 

Pigmen

Ada beberapa jenis pigmen yang mempengaruhi warna daun. Pertama, klorfil, yang memberi warna dasar hijau. Klorofil seperti yang kita pelajari semenjak sekolah dasar, sangat penting bagi proses fotosintesis. Kedua, karotin, yang memproduksi warna kuning, oranye, dan coklat seperti halnya pada tanaman jagung, wortel, dan pisang. Antosianin, yang memberikan warna merah seperti pada cranberriy, apel, anggur merah, bluberry, cherry, strrawberry, serta plum. 

Klorifil dan karotin terdapat dalam sel daun saat musim tumbuh. Sedangkan antosianin diproduksi saat musim gugur, yang menyebabkan perubahan warna daun menjadi terang. Saat malam hari menjadi lebih pendek, produksi klorofil menurun dan kemudian berhenti karena pigmen ini akhirnya mati. Selanjutnya, karotin dan antosianin akan berproses dan menghasilkan perubahan warna daun menjadi kuning, orannye, coklat, dan merah. 

Apakah semua daun akan berubah menjadi warna tertentu? Awalnya saya pikir demikian. Tetapi ternyata setiap spesies tumbuhan mempunyai karakteristik warna tersendiri. Beberapa jenis pohon, daunnya berubah warna menjadi merah kemudian menjadi coklat. Beberapa lainnya menjadi kuning, oranye atau warna emas sebelum menjadi warna coklat. Setelah berwarna coklat, tentu daun-daun ini akan gugur.

Mengapa gugur?

Karena pendeknya siang hari dan penurunan intensitas sinar matahari di musim gugur, daun mulai melakukan proses pengguguran. Pembulih vena yang membawa cairan keluar dan masuk di daun menutup. Penutupan pembuluh ini membuat gula dalam daun terperangkap dan mendorong produksi antosianin. Saat proses ini selesai, daun akhirnya gugur. 

Begitulah penjelasan mengapa daun-daun ini menjadi sangat cantik saat musim gugur. 

Shenandoah

Begitu sampai di Washington, orang-orang sudah memberi tahu saya dan Marsha, apa-apa saja yang layak di saksikan di sekitaran Washington, DC. Salah satunya adalah melihat fenomena foliage ini di lembah yang bernama Shenandoah, di negara bagian Virginia. 

Musim gugur pun akhirnya tiba. Saya sudah merengek kepada teman-teman di kantor untuk dibawa ke Shenandoah. Kemudian, karena obsesi saya akan warna daun merah, Cak Supri dan Mba Rinni dari VOA bersedia mengantarkan saya dan Marsha ke Shenandoah.

Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pintu masuk Shenandoah, dari Washington, DC. Kami pun mampir ke pemberhentian untuk membeli sarapan dan beberapa makanan. 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan selama 15 menit dan berhenti di tempat pemberhentian pertama. Di sini kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang merupakan anggota band dangdut Cak Supri dan Mbak Rinni. Mereka berencana untuk membuat video klip di sana.

Saya dan Marsha juga bertemu dengan beberapa teman dari VOA, dari service Vietnam, Kamboja, dan Burma. Namun kami tidak pergi bersama-sama karena mereka sudah lebih dulu sampai di Shenandoah.

Setelah semua orang Indonesia berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan menuju spot paling bagus di Shenandoah untuk melihat warna-warni dauh yakni di Skyland. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sana. 

Di sepanjang perjalanan, saya sudah disuguhi warna daun yang mayoritas berwarna kuning dan sesekali diselingi warna orannye serta merah. Saya curiga bahwa kami datang saat belum peak warnanya. Warna merah yang saya cari, masih jarang terlihat. Saya agak kecewa saat melihat pepohonan di kanan kiri saya tidak berwarna merah seperti di foto-foto websitenya.

"Tidak semua daun berubah warna merah," katak Cak Supri. Dia memang benar, tapi kecurigaan saya bahwa kami datang terlalu cepat ke Shenandoah juga benar. Namun saya masih menaruh harapan, di Skyline, warna daun-daunnya akan berbeda.

Memang, semakin kami menuju ke atas ke arah Skyland, warna dauh semakin memerah. Kami pun akhirnya berhenti di sebuah tempat dan menghabiskan waktu sambil berfoto-foto di sana. Rasa kecewa saya karena lebih banyak melihat daun berwarna kuning pun lumayan terobati dengan hasil foto-foto yang memperlihatkan indahnya warna di musim gugur. 

Sampai saya menulis tulisan ini, saya masih berteriak dan berdecak kagum saat melihat pohon yang daunnya berwarna merah semua. Ah, indahnya warna dunia!

Cheers,

Retno Lestari

rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

Teman-teman, maaf saya sudah lama tidak menulis. Tapi, seperti yang pernah saya janjikan, ini adalah kelanjutan kisah “petualangan” saya di San Francisco.

Kamar Kotor

Di hari terakhir bertugas di San Francisco, mbak Ntes (Nia Iman-Santoso) pun mengantar saya sekitar pukul 9.00 malam sebelum ke bandara, menuju hostel yang telah saya booking sebelumnya. Letaknya di antara Eddie Street dan Ellis Street. Saya harus tinggal semalam di hostel sambil menunggu Marsha yang baru datang keesokan harinya bersama teman kami Edi. 

Saya memesan satu kamar hostel yang akan dihuni dengan tiga orang lainnya, seharga 25 dolar. Saya melihat review hostel ini cukup bagus di Yelp!, sambil berharap hostel ini bersih dan penghuni yang lainnya di kamar itu adalah orang-orang yang baik. 

Namun saya tidak bisa menutupi rasa takut berlebihan yang mendera diri saya saat tiba di depan hostel. Jantung terasa berdetak kencang. Keringat dingin mulai berkucuran di tangan. Pikiran pun melayang ke mana-mana. Menakutkan!

Dengan langkah super ragu, saya membuka pintu dan menghampiri meja resepsionis. Ruangan depan hostel ini terlihat tua dan sedikit berbau. Sepertinya perasaan saya tak salah. Hostel ini tidak sebagus ulasannya. 

Namun, saya tidak punya pilihan lain kecuali langsung membayar. Tidak lama kemudian mereka memberikan kunci sambil berkata, “Your room is 502. You can take your sheet in 10 minutes.” Lho, jadi saya harus membereskan tempat tidur saya sendiri? 

"Ya iyalah, hostel 25 dolar di San Francisco. Menurut, loe?” Kata saya dalam hati.

Deg, rasa khawatir saya makin menjadi-jadi. Maklum, saya punya phobia dengan kamar yang lembab dan kotor. Sementara saat itu saya tidak membawa sprei atau sarung bantal, yang biasanya saya bawa jika saya sedang bepergian.

Saya pun menunggu lift cukup lama. Lift ini sangat tua, lembab, dan tampak tidak pernah dibersihkan. “Mati, gue,” gumam saya dalam hati. Wajah saya sepertinya berubah pucat pasi. Tidak lama, sampailah saya di kamar 502 dan saya hampir tidak bisa membuka pintunya. Begitu pintu akhirnya terbuka, saya langsung panas dingin. 

Kamar yang saya tempati ukurannya sangat kecil. Hanya ada sedikit ruang di antara dua tempat tidur tingkat ukurang single. Sprei berantakan. Lantai pun penuh dengan pakaian, sampah, dan tas-tas penghuni lainnya. Penghuninya sendiri tidak kelihatan batang hidungnya. Kamar mandinya pun tidak bersih. Kacanya terbuka sekitar 5 cm yang membuat cuaca dingin San Francisco terasa masuk ke dalamnya. Saya langsung ingin melarikan diri saat itu juga dari sana. “Tolooooong!”

Pertemuan Couch Surfing

Untungnya, saya sudah punya rencana untuk datang ke Couch Surfing meetup di Royal Cafe yang jaraknya hanya 15 menit jalan kaki dari hostel saya. Ini akan menjadi pengalaman Couch Surfing pertama saya. Sebelum ke San Francisco saya memutuskan membuat profil di Couch Sufing karena berharap dapat menemukan tuan rumah (host) yang bersedia menampung saya satu hari. 

Saya memang gagal mendapat host, tapi aya tetap berniat datang ke pertemuan tersebut. Namun demikian, saya sempat ragu karena saya tidak pernah dengan sengaja datang ke sebuah tempat yang isinya adalah orang asing bagi saya tanpa tujuan yang jelas. Sendiri pula. Tetapi, rasa takut saya akan kamar hostel mampu mengalahkan rasa takut saya untuk bertemu orang-orang baru dan asing sendirian.

Jadilah saya berjalan sekitar pukul 9:30 malam menuju Cafe tersebut di tengah suhu yang sangat dingin bagi saya. Dalam perjalanan, saya tidak memikirkan bahaya apapun. Memang banyak sekali tuna wisma di sekitar jalanan yang saya lewati, tapi saya tidak terlalu memperdulikannya. 

Lima belas menit kemudian, sampailah saya di Cafe Royale. Saya pun membuka pintu dengan ragu. Begitu membuka pintu, empat orang pria dan dua orang wanita langsung menengok ke arah saya. Saya pun tersenyum sambil bertanya apa benar ini tempat pertemuan Couch Surfing. Begitu mereka bilang iya, saya langsung memperkenalkan diri. 

Awalnya saya merasa canggung. Tapi Nick, seorang lokal San Francisco keturunan Yunani berkata bahwa dia belajar gamelan. Sementara seorang lokal yang lain tetapi keturunan China bernama Pat berkata akan ke Indonesia tahun depan. Wah, saya langsung merasa nyaman di kelompok itu. Kami pun mengobrol asik, dan sudah malas untuk mendatangi kelompok-kelompok lainnya. 

Dua perempuan asal Ohio dan San Francisco hanya sebentar bersama kelompok kami. Tinggalah saya, Nick, Pat, Sam, dan seorang lagi asal Peru. Saya langsung nyambung mengobrol dengan Nick karena selain bermain gamelan, dia suka menulis dan dia sangat senang bertemu dengan saya karena saya bekerja sebagai jurnalis. Saya juga nyambung mengobrol dengan Pat karena dia tertarik dengan media, politik, serta fotografi. 

Retno dan Sam

Sementara Sam berasal dari Swiss dan nomaden. Dia sudah satu bulan tinggal di San Francisco dan pernah keliling ke berpuluh-puluh negara. Sam adalah orang yang sangat humoris dan paling gila di antara yang lainnya. Namun saya baru mengobrol lama dengan Sam, setelah Pat dan Nick pergi pulang malam itu. 

Nick dan Pat harus pulang pukul 11 malam karena bekerja keesokan harinya. Kami pun sempat bertukar nomor telepon karena mungkin bisa bertemu di hari-hari berikutnya. Setelah mereka pergi, barulah saya mengobrol dengan Sam.

Sam punya selera humor yang aneh. Saya selalu tertawa karena dia selalu menyelipkan kata-kata lucu saat bercerita. Dia bisa berbahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, dan sedikit Arab. 

Sam bertanya, dari mana saya berasal dan dari pulau apa. Saya jawab saya dari pula Jawa. “I am from Java.” Kemudian dia langsung berkata, “Wow, I should learn the languange from Java.”

Yes, you should!” Jawab saya. 

Tapi kemudian dia berkata, “I want to speak JavaScript.” 

Gubrak! Saya pun tertawa sambil geleng-geleng kepala. Inilah gaya bercanda ala Sam. Ternyata Sam dan satu orang asal Peru baru saja membicarakan mengenai bahasa pemograman karena si Peru bekerja sebagai programmer. Dan menurut Sam, JavaScript adalah satu-satunya bahasa yang tidak dia kenal. Saya tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Si Peru karena kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Makanya saya juga lupa namanya.

Tenderloin

Kami pun akhirnya membentuk kelompok baru bersama satu orang Irlandia dan satu orang asal Taiwan yang sudah terlalu mabuk untuk bercerita. Si Irlandia bertanya, “Where do you stay?”

S***t Hostel.” Dan mereka langsung berkata, “Why did you choose that hostel?” 

Because Yelp! says this is a good hostel,” jawab saya.

No, it’s not,” kata mereka. “Did you come here alone?” tanya Sam.

Yes,” jawab saya. Kata Sam, “Are you crazy? Do you know where are you staying at?

Between Ellis Street and Eddie Street,” kata saya.

Do you know what kind of area that is? It’s Tenderloin. Do you know Tenderloin?" lanjut Sam.

Tenderloin bukan daging saudara-saudara. Bukan pula makanan enak. Tenderloin adalah sebuah area di San Francisco.

Saya pun langsung menjawab, “Yes, I know. They said Tenderloin is the most dangerous area in San Francisco. But I don’t know that the hostel is in Tenderloin,” jawab saya dengan wajah memelas. 

Sam pun dengan baik hati mengantarkan saya kembali ke hostel. Saya tetap merasa takut dan tidak bisa menyembunyikannya dari wajah saya. 

Are you scared?" Tanya Sam. Lha, pakai tanya. Saya bilang, ini pertama kalinya saya tinggal di hostel. Sam pun bertanya, empat hari sebelumnya saya tinggal di mana. Saya bilang, "Intercontinental."

What? You’re so spoiled. You’ve never been to the hostel and you stayed at Intercontinental!”

Ya, iyalah, wong saya kerja. Kan, kantor yang bayar. Jadi setiap kali ke luar kota atau ke luar negeri, saya akan dapat hotel yang bagus atau lumayan bagus. Tidak ada pilihan saya kecuali menikmatinya, ya, kan?

You’re a princess!” Dia langsung melabeli saya sebagai seorang putri. Tidak apalah, yang penting saya selamat sampai di hostel. 

Jack Kerouac Street

Begitu kembali ke kamar, penghuni yang lain sudah ada. Empat orang asal Irlandia. Tiga perempuan, dan satu laki-laki penghuni gelap yang merupakan pacar salah satu di antaranya.  Untungnya mereka baik dan juga merasa menyesal tinggal di hostel tersebut. Sampah yang ada di sudut kamar kami ternyata bukan milik mereka, tetapi dari penghuni sebelumnya. 

Hi! Jorok sekali hostel ini. Seperti yang sudah saya duga, saya tidak bisa tidur di sana. Saya keluar pagi hari, mencari sarapan, dan kemudian mendatangi toko bunga untuk menitipkan tas saya, sebelum saya bertemu dengan Marsha dan juga menunggu Libby (teman asal Indonesia, saudara Edi sekaligus tuan rumah yang apartemennya akan saya tinggali) pulang kerja.

Saya akhirnya bertemu dengan Marsha. Penerbangan Marsha ternyata lebih dulu dari Edi. Kami berjanjian untuk bertemu di toko bunga, menitip tas, kemudian berjalan-jalan ke jalan menyusuri Chinatown, menuju jalan Jack Kerouac. 

Jack Kerouac adalah seorang novelis dan penulis puisi ternama asal San Francisco. Jalan ini sebenarnya adalah 12th Street. Namun pada tahun 1988 namanya diubah menjadi Jack Kerouac untuk mengenang penulis puisi ini serta karya-karyanya. 

Sore harinya, setelah mengambil tas dari toko bunga, saya dan Marsha bertemu dengan Edi di apartemen sepupu Edi. Kemudian kami pergi ke apartemen orang Indonesia lainnya. Inilah pertemuan terakhir saya dengan Marsha, sebelum bertemu di  hari terakhir kami di San Francisco.

Beat Museum, San Francisco
 

Jalan dengan Orang Asing

Selesai berbuka puasa bersama, tas saya pun di bawa oleh Libby ke apartemennya. Sementara saya ada janji bertemu dengan Pat. Saya pun menemaninya makan malam di sebuah restoran Korea yang 99 persen hidangannya adalah pork. Satu persenya adalah sup vegetarian. Ya sudahlah, daripada tidak ada. Saya pun memesan semangkuk Tom Yam yang isinya seledri, tauge, dan jamur. Rasanya? Kalau untuk saya, sup tanpa daging itu tidak ada rasanya. 

Kami pun mengobrol dari A sampai Z. Dia mempunyai dua gelar master dan bekerja sebagai manajer marketing sebuah perusahaan ponsel ternama. Kakaknya tinggal di Washington, DC dan akan pindah ke Singapura tahun depan. Oleh karena itu, dia memutuskan akan pergi ke Indonesia tahun depan. 

Kami pun membahas tempat-tempat wisata menarik di Indonesia. Setelah selesai mengobrol, dia membawa saya berjalan ke Japan Town. Oh, ada juga ternyata. Kami pun berpisah dan sayangnya dia tidak bisa menemani saya jalan-jalan tiga hari ke depan karena dia akan pergi berkemah bersama keluarganya. 

Nah, cerita saya masih berlanjut ke sebuah tempat yang menurut saya adalah gabungan dari keindahan fenomena alam dan kecerdasan otak manusia. The Golden Gate bridge!

Cheers,

Retno Lestari

rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

San Francisco. Saya mulai tahu nama sebuah kota di California, Amerika Serikat, ini saat menonton film Catatan Si Boy di awal tahun 90-an. Dalam hati saya berkata, “Keren ya orang Indonesia kayak Si Boy ada di San Francisco dan Los Angeles, Amerika.”

Saat itu saya tidak terlalu mengerti tentang Amerika, kecuali apa yang saya baca dalam buku geografi. Kemudian film Catatan Si Boy selalu diputar ulang di televisi hingga saya beranjak dewasa. Saya pun berkhayal, “Andai suatu saat nanti bisa ke sana.”

Kini 20 tahun kemudian khayalan saya pun menjadi kenyataan.

“Mas Boy, saya ke San Francisco!”


Kerja Sambil Liburan

San Francisco adalah kota yang memang ingin saya datangi sejak awal tinggal di Amerika. Dari literatur yang saya baca, kota ini sangat indah dan landscape berbukit-bukit menghadap San Francisco Bay di pesisir Samudra Pasifik.

Saya pun merencanakan pergi ke San Francisco jauh-jauh hari bersama Marsha. Marsha menentukan tanggal karena dia ingin menonton festival musik Outside Lands. Setelah sebulan menjelang tanggal yang telah kami tentukan, saya mulai meminta izin kepada para produser dan atasan di VOA. Mereka pun mendukung rencana saya. Kemudian tiba-tiba Mba Ntes, seorang produser di VOA bertanya apakah saya mau pergi ke San Francisco. Ah, lagi-lagi pucuk di cinta ulam pun tiba. Pas! Pas! Pas! Tanggalnya sangat pas dengan yang telah saya rencanakan.

Setelah semua persiapan selesai, saya pun berangkat pada tanggal yang ditentukan dari Ronald Reagan Washington National Airport di Washington, DC. Penerbangan dari DC menuju San Francisco memakan waktu kurang lebih 7 jam, karena saya memilih transit yang harganya jauh lebih murah dibandingkan penerbangan langsung. Saat itu tiket termurah yang berhasil saya dapatkan adalah 340 dolar. Mahal memang, tapi tidak mengapa.

Sayangnya saya tidak bisa langsung menikmati kota San Francisco karena saya dan Mbak Ntes sudah harus meliput. Hari kedua pun demikian. Baru hari ketiga, saya bisa melihat beberapa tempat menarik di kota yang luas tanahnya hanya 121 kilometer persegi.

Pier 39

Kami berkunjung ke Pier 39. Sebuah teluk di mana terdapat banyak sekali kawanan singa laut yang berkumpul di atas dok. Singa laut ini datang tidak lama setelah gempa bumi di San Francisco pada tahun 1989. Awalnya jumlah singa laut yang datang tidak banyak. Namun tahun demi tahun singa laut yang datang ke Pier 39 mencapai ribuan.

Singa laut ini biasanya banyak berdatangan pada musim dingin. Nah, saat saya datang kemarin jumlahnya tidak banyak. Karena menurut para peneliti, saat musim panas singa laut bermigrasi ke utara untuk pembiakan.

Mengapa mereka bisa di pelabuhan ini? Menurut ahli biologi laut, singa laut memilih berkumpul di Pier 39 karena banyaknya makanan di wilayah ini. Selain itu para predator biasanya tidak akan mencari makan di wilayah teluk. Para singa laut pun merasa aman.

Ada yang lucu saat saya memperhatikan perilaku para singa laut, selain suara mereka yang saling bersahutan. Mereka yang berwarna lebih gelap, lebih banyak beraktivitas dari pada yang berwarna lebih terang kecoklatan. Singa laut berwarna gelap sering berduel dan mencoba mendorong lawannya jatuh ke air. Sementara singa laut berwarna terang lebih banyak tertidur di dok, seperti sedang menikmati hangatnya sinar matahari.

Saat ada seorang relawan, saya pun bertanya mengapa perilaku mereka demikian. relawan itu pun menjawab bahwa begitulah singa laut jantan. Mereka akan berkelahi untuk menunjukkan daerah kekuasaannya.

“Ahhhh, boys!” Kata saya sambil tertawa, yang dibalas oleh si relawan pria dengan nada sedikit membela, “But, they’re not really fighting. You know what I mean? It’s just a joke.”

Lalu singa-singa yang tidur? Merekalah sang betina. Hmmm, mereka tahu saja cari paling menyenangkan menikmati hangatnya sinar matahari. Good girls


Lombard Street

Salah satu tempat yang menarik turis di San Francisco adalah Lombard Street. Lombard Street sebenarnya jalan yang cukup panjang. Namun di salah satu bagiannya di antara Hyde Street dan Leavenworth Street terdapat jalan curam yang mempunyai delapan belokan. Dari foto, salah satu bagian Lombard Street ini memang tampak indah karena di tengah-tengahnya ditanami berbagai tanaman bunga yang berwarna-warni.

Tapi ya, begitulah. Tidak ada kesan khusus buat saya. “Apikan irung petrok neng Menoreh,” kata bapak saya dalam bahasa Jawa yang artinya, lebih bagus jalanan berliku seperti hidung Petruk di kampungnya, bukit Menoreh.

Yang berkesan justru kelakuan para turis. Mereka sampai rela mengeluarkan kepalanya dari jendela dan mengeluarkan kamera saat mobilnya turun melalui jalan ini. Bahkan, ada turis yang meminta foto dengan tukang sapu yang sedang bekerja di salah satu rumah. Saya dan Mbak Ntes saling bertatap mata keheranan.

END.

Lho, ceritanya kok tanggung? Iya, karena memang masih akan ada lanjutan ceritanya di mana saya akan jalan-jalan keliling San Francisco sendiri dan kemudian ditemani orang-orang asing yang baru saya temui. Sementara Marsha asik menikmati konser.


Cheers,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com 
@retno_lestari 

Text

Kaleng, kayu, sodet, panci, dan penggorengan telah disiapkan sejak malam hari. Bukan untuk memasak, tetapi  untuk membuat suara gaduh guna membangunkan warga di hari pertama sahur dan hari-hari berikutnya. Maklum, di awal puasa biasanya bedug belum selesai dibuat. Gantinya, peralatan dapur hingga tiang listrik jadi sasaran untuk dipukul. Inilah kegiatan setiap tahun pada bulan Ramadan, di wilayah tempat tinggal saya di Bogor, Jawa Barat.

Saat itu saya seringkali mengumpat, karena jam belum menunjukkan pukul 2 pagi mereka sudah membangunkan kami untuk sahur. Padahal, saya dan keluarga biasa tidur larut malam karena baru pulang dari kerja atau sedang mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Foto: ReutersNamun kini di Amerika, tidak ada yang membangunkan saya lagi di kala sahur. Hanya alarm ponsel yang setia menemani. Tidak ada suara kegaduhan pagi dini hari, kecuali suara musik hip hop di akhir pekan, dari permukiman warga yang jaraknya hanya 10 meter dari apartemen kami. Sekarang saya merindukan suara gaduh itu yang disertai dengan teriakan, “Sahur…sahur.” 

Di Indonesia, suasana berpuasa sangat terasa sekali karena memang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Setiap kaki melangkah, pasti bertemu dengan orang-orang yang sedang menahan nafsu akan haus, lapar, serta emosi. Tempat makan yang terbuka lantas menutupi diri dengan selembar kain agar tidak mengganggu orang-orang yang berpuasa. Suara-suara orang mengaji sangat manis terdengar di telinga bak lantunan nyanyian berirama dan berharmonisasi. Iklan-iklan di TV pun bertemakan Ramadan. Selain itu, menu-menu khas bulan puasa seperti kolak, es buah, es blewah, hampir tiap hari dihidangkan baik di meja makan, maupun di meja para pedagang.

Sementara di sini? Tidak ada panggilan sahur, tidak ada suara adzan, orang-orang pun mayoritas tidak berpuasa. Selain itu, bulan puasa yang jatuh di musim panas membuat waktu puasa menjadi panjang, sekitar 17 jam. Tantangannya bertambah besar dengan suhu panas yang jauh lebih panas di banding di Jakarta.

Ketika harus bekerja di luar kantor di bawah terik matahari, maka tubuh akan langsung mengalami dehidrasi. Saya sempat tidak bisa bekerja dengan baik karena pusing dan lemas akibat tidak mendapat asupan makanan dan minuman, padahal cuaca sangat panas.

Akhirnya pertanyaannya bukan lagi, “Bolong berapa puasanya?” Tetapi berganti menjadi, “Sukses puasanya berapa hari?”

Begitulah pengalaman puasa pertama saya di luar negeri. Bulan puasa ini membuat saya rindu berkumpul bersama keluarga di rumah.

Bulan puasa memang sedikit lagi usai. Nikmatilah puasa di tanah air, karena setelah merasakan berpuasa di negeri orang, maka saya menyadari bahwa Indonesia adalah tempat paling indah untuk berpuasa.

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari

Text

Yang dekat, seringkali tidak terlihat.

Mungkin inilah yang menggambarkan apa yang Marsha dan saya temukan di sekitar tempat tinggal kami, di Southwest Waterfront. Southwest Waterfront dulunya dikenal sebagai daerah yang rawan kejahatan. Namun dalam beberapa tahun belakangan, daerah ini telah direhabilitasi dan menjadi tempat yang layak dan relatif aman untuk dihuni.  

Di awal kedatangan kami, banyak orang yang khawatir dengan daerah tempat kami tinggal. Kami pun sempat cemas dengan kabar tersebut. Namun lambat laun kami mulai terbiasa dan hingga saat ini kami cukup merasa nyaman tinggal di daerah yang hanya 20 menit berjalan dari kantor VOA.

Setelah kurang lebih tiga bulan, kami baru memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sepanjang jalan antara apartemen kami dengan kantor VOA. Ada beberapa papan yang berisi tulisan serta foto-foto mengenai sejarah Southwest Waterfront.

Southwest Waterfront ternyata merupakan kawasan penting di Washington, DC. Dulunya, Southwest Waterfront dihuni oleh penduduk asli Amerika dan dijadikan daerah pertanian serta industri karena adanya akses sungai Potomac. Kemudian mulai pertengahan abad ke 19, Southwest menjadi wilayah komunitas yang beragam, termasuk pemerintah federal.

Namun, setelah perang sipil tahun 1861-1865, kawasan Southwest Waterfront menjadi tempat tinggal bagi warga miskin di Washington. Kawasan ini dibagi menjadi dua. Di bagian barat dihuni imigran asal Skotlandia, Irlandia, Jerman, dan Eropa timur. Sementara di bagian timur, dihuni komunitas kulit hitam.

Pada era 1950-an, Southwest Waterfront dianggap sebagai area bermasalah oleh pemerintah distrik dan federal, karena padatnya permukiman dan perumahan yang kondisinya di bawah standar. Setelah itu, sebuah rencana besar untuk merehabilitasi Southwest ditetapkan.

Salah satunya adalah proses pembaruan menjadi wilayah urban dengan membangun superblok dan juga jalan bebas hambatan, yang akhirnya menjadikan Southwest Waterfront menjadi tempat tinggal kami yang sekarang. Pembangunan pun masih terus berjalan.  

Arena Stage

Salah satu tempat yang sangat menarik di Southwest Waterfront adalah Arena Stage, sebuah teater yang seringkali menampilkan pertunjukan baik klasik maupun modern. Arena Stage belum lama direnovasi, sehingga bangunannya tampak modern dan sangat indah.  

Saya dan salah satu intern di VOA, Desideria Cempaka, tidak melewatkan kesempatan saat diberi dua tiket menonton oleh Ian Umar, salah seorang penyiar VOA.  Pertunjukan yang kami tonton saat itu berjudul “The Normal Heart.”The Normal Heart yang merupakan drama dari otobiografi Larry Krammer ini pernah dipentaskan di Broadway. The Normal Heart bercerita tentang awal munculnya penyakit HIV/AIDS pada kurun waktu 1981-1984 di New York City yang dilihat dari sudut pandang seorang tokoh aktivis kelompok advokasi HIV bernama Ned Weeks.Cerita The Normal Heart sangat menyentuh, hingga para penonton yang memenuhi salah satu ruangan di Arena Stage bernama Kreeger Theater, tidak bisa menahan air matanya. Begitupula dengan Desy dan saya. Standing ovation pun mengakhiri pengalaman saya dan Desy menonton untuk pertama kalinya di Arena Stage. Sayang Marsha tidak bisa ikut serta, karena dia menonton konser salah satu band favoritnya.  Masih banyak lagi, tempat-tempat menarik yang akan kami jelajahi di sekitar Southwest Waterfront, dan juga di Washington DC.  

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

New York, concrete jungle where dreams are made of.

There’s nothin’ you can’t do.

These streets will make you feel brand new.

Big lights will inspire you.

(“Empire State of Mind” - Alicia Keys & Jay-Z)

 

Lirik lagu itu terngiang-ngiang di telinga saat saya tahu akan ke Amerika. Begitu membuai asa, membangkitkan angan-angan akan satu cita, memijakkan kaki di kota ternama dunia.

Halah, bahasanya. Tetapi memang begitu rasanya saat mendengar lagu Alicia Keys dan Jay-Z itu Mimpi apa coba saya bisa mengunjungi kota yang tadinya hanya mampu saya lihat lewat layar kaca? Apalagi New York akan menjadi kota pertama di Amerika yang saya dan Marsha akan injak, karena pesawat kami saat itu adalah Cathay Pasific tujuan Jakarta-New York.

We were so excited!

Sampai, penerbangan dramatis (lihat cerita Marsha) membuyarkan keindahan mimpi saya. Pengalaman pertama saya dan Marsha di New York adalah pengalaman asam dan pahit. Kami kedinginan, kelaparan, dan harus bermalam tanpa bisa beristirahat karena tidak mendapat kamar hotel. Ditambah kelelahan karena harus menarik dan mengangkat koper hampir 50 kilo naik turun Air Train, yang menghubungkan satu terminal dengan terminal lainnya di bandara JFK.

 “New York,” teriak Alicia Keys penuh harapan dan teriakan kami penuh kemalangan.  


New York Part 2

Akhirnya, kesempatan untuk mengunjungi New York datang lagi saat co-host saya dalam acara “Dunia Kita,” Vici Vadeline harus mendatangi sebuah graduate session di New York University (NYU). Kami mencocokkan jadwal kerja kami dan meminta izin satu hari. Dari awal Vici sudah berkata, “Bakalan hujan terus seharian di DC sama NY.”

Selasa pukul 05.00 pagi, saya pun sudah bersiap dijemput Vici sambil memandangi hujan dari dalam apartemen. Vici memutuskan ke New York dengan menyetir mobil sendiri yang akan ditempuh selama kurang lebih empat jam.

Dan, here we go, drama sudah dimulai begitu akan berangkat dari apartemen saya. GPS di mobil Vici tiba-tiba mati dan tidak bisa dinyalakan. Padahal tanpa GPS, kami akan sangat kesulitan untuk menuju ke New York. Akan sangat repot jika harus menggunakan GPS yang ada di smartphone. Vici bahkan sudah berencana untuk membeli GPS baru di jalan.

Namun kami memutuskan menunda perjalanan kami untuk mencari tahu ada apa dengan GPS Vici. Untungnya, kami menemukan solusinya di Google. Kami coba pencat-pencet tombol yang ada berdasarkan petunjuk yang kami temukan. Dan, voila, GPS kembali menyala.

“New York,” teriak saya dan Vici.

 

Berhutang pada Tol

Perjalanan kami lewati dengan cukup lancar tanpa hambatan. Hingga….kami kehabisan uang tunai! Drama pun kembali dimulai.

Saya hanya membawa 20 dolar uang tunai, sementara Vici hanya membawa beberapa lembar uang satu dolar dan sedikit uang koin.

Tol dari Washington DC ke New York City ternyata cukup mahal. Kami tidak memperhitungkan berapa biaya tol yang dibutuhkan untuk sampai ke NYC. Vici tidak mempunyai kartu langganan EazyPass sehingga setiap membayar di pintu tol harus menggunakan uang tunai. Di pintu tol terakhir, uang kami hanya tinggal delapan dolar.

“Cukup lah, Ci, masa iya lebih dari sembilan dolar,” kata saya waktu itu sambil mengumpulkan koin-koin berserakan di tas. Begitu sampai di pintu tol, Vici menyerahkan kartu dan petugas berkata, “Thirteen……dollars.”   

Saya sampai tidak bisa mendengar akhir kata thirteen, karena shock melihat uang di tangan saya tinggal delapan dolar. Saya dan Vici pun panik mencari sisa-sisa uang di tas dan di dompet, sampai akhirnya pasrah karena hanya beberapa sen yang ada.

Ma’am, I don’t have anymore cash. Can I use debit or credit card?” Tanya Vici sambil memasang tampang memelas.

“No,” tukas sang petugas.

Dang! Senyum kecut penuh harap menghiasi wajah sendu kami. Vici kemudian bertanya apa yang harus dia lakukan untuk membayar, karena di belakang kami banyak mobil yang mengantri dan mulai tak sabar mengklakson kami.

Lalu si petugas menulis di atas sebuah kertas sambil meminta SIM milik Vici. Ternyata itu adalah sebuah surat utang. Hahahaha. Ya, kami berhutang pada tol! Kami tertawa terbahak-bahak karena akhirnya kami bisa keluar tol sambil membawa sebuah kertas tagihan, yang bisa dibayar dalam waktu lima hari atau kami bayar saat kami kembali melewati pintu tol dari New York nanti. Phew!

 

China Town dan Little Italy

Kami menarik napas sangat lega saat kami memasuki terowongan Lincoln, pertanda akhirnya keluar dari tol. Saya pun langsung mengeluarkan Lexi, si kamera Lumix kesayangan saya.

Saya dan Vici tersenyum begitu senangnya karena NYU jaraknya tidak terlalu jauh karena terletak di Brooklyn. Kami melewati Williamsburg Bridge, lalu kami mulai menjumpai kemacetan yang memang akrab di NYC. 

Sekitar 10 menit berlalu, saya melihat orang-orang ramai berlalu-lalang di jalan. Gedung-gedung di kanan kiri bangunannya tidak teratur. Semrawut. Berantakan. Papan tulisan nama banyak menggunakan bilingual alias dua bahasa. Bahasa Inggris dan aksara Cina, yang mengingatkan saya pada Glodok, Jakarta.

Tidak salah memang karena kami berada di Chinatown. Hehehe.

Tidak lama kemudian, warna tulisan yang didominasi merah dan kuning itu berubah menjadi warna hijau, putih, dan merah. Menu-menu Chinese food yang tadi terlihat dari dalam mobil kini berubah menjadi ristorante, pasta, spaghetti, lasagna, canoli dan lain-lainnya.

Ah, buon giorno, Little Italy! Kami melewati Little Italy, sebuah kawasan di Manhattan di mana banyak berdomisili imigran asal Italia.

Karena saat itu hampir jam makan siang, maka saat melewati Chinatown dan Little Italy, yang terbaca mata kami adalah nama-nama makanan. Slurp!


GPS Bingung

Kami pun akhirnya sampai di NYU. Namun kami harus memutar untuk mencari parkir yang memang sangat sulit di dapat di NYC.

Dan…drama kembali dimulai.

Jika tadi saya dan Vici silih berganti berbicara tanpa henti, maka kini giliran GPS yang banyak bicara mencari perhatian karena kebingungan.

“Recalculating.”

“Turn right to bla…bla…bla…”

Kemudian, “Recalculating.”

Dan, “Recalculating.”

“Arrrrrghhhhh,” teriak Vici, karena GPS selalu terlambat memberi tahu kami saat harus berbelok sehingga kami beberapa kali berada di jalur yang salah sehingga terpaksa terbuang ke arah lain.

Dan, “Recalculating.”

Cukup sulit untuk kembali menemukan jalan ke NYU yang tadi sudah kami lewati. Jika GPS saja bingung, Vici juga bingung, apalagi saya yang belum sampai dua bulan tinggal di Amerika. 

Kami akhirnya terbuang, dan kali ini harus melewati Brooklyn Bridge. Vici geram, tapi saya justru senang.

Saya bisa melewati jembatan terkenal. Maklum, saya adalah turis. Jadi, pemandangan seperti ini sangat berarti untuk saya.

“Maaf ya, Ci. Gue foto-foto dulu.”

Setelah memutar-balik, kami akhirnya kembali melewati Chinatown dan Little Italy. Vici akhirnya memutuskan parkir di Hotel Marriot tepat di seberang NYU dengan tarif 23 dolar plus tips bagi petugasnya. Karena ternyata aturan parkirnya harus menggunakan jasa valet.

Jadi kalau dihitung, tol satu kali perjalanan Washington DC-New York 37 dolar. Parkir 23 dolar. Tips 5 dolar. Total 65 dolar. Mahal!

 

Toh, oh, Tol

Sampai di NYU, Vici masuk ke graduate session. Sementara saya memutuskan duduk di Starbucks sambil menunggu Vici dan bertemu dengan Ika, teman yang dulu menempati apartemen yang saya dan Marsha tinggali saat ini.

Selesai di NYU, kami mengarah ke apartemen Ika di daerah Queens, sambil mampir makan siang mencicipi restoran padang Upi Jaya, yang jaraknya hanya dua blok dari apartemen Ika.

Ternyata apartemen di New York tidak sebesar di DC. Harga sewanya pun jauh lebih mahal. Saya langsung merasa bersyukur dengan apartemen tempat sekarang saya tinggal.

Dari Queens, kami menuju ke Manhattan untuk bertemu seorang teman Vici yang pernah tinggal juga di DC.

Dan, GPS-nya kembali ngaco. GPS membuat kami kembali masuk ke tol. Bayar lagi, deh.

Kali ini kami sudah mempunyai uang tunai. Tapi…kami salah masuk jalur. Kami masuk jalur di tempat khusus bagi pengendara dengan EazyPass. Palang pintu tidak bisa diterobos. Mau mundur, mobil-mobil sudah ada di belakang. Mau melapor, tetapi karena pintu itu otomatis terbuka dengan EazyPass, maka tidak ada petugas yang menjaga.

“Tin…tin…tin,” klakson mobil di belakang menambah kepanikan kami. Ika keluar dari dalam mobil, dan berteriak pada petugas yang berada agak jauh dari jalur kami.

Can you help us, Sir? We are from Washington DC, and we don’t know this is for EazyPass only,” ujar Ika memanfaatkan plat mobil Vici yang Washington DC. Nice try, Ika.

Beruntung si petugas langsung keluar, meminta uang tunai lima dolar dan membukakan pintu. Kami pun keluar dari masalah. Phew!

Sambil menunggu teman Vici pulang kerja, kami berputar-putar untuk mencari parkir. Ternyata mencari parkir di Manhattan begitu sulitnya. Kami hanya mendapat parkir satu jam. Kami parkir tidak jauh dari Union Square. Kami memutuskan nekat berjalan-jalan menembus rintik-rintik hujan untuk melihat sekitar Union Square sambil sedikit berfoto-foto.

Begitulah pengalaman kedua saya ke New York. Pengalaman yang lagi-lagi belum seindah bayangan saya, tetapi tetap seru dan menyenangkan.

Seperti kata-kata ibu Barbara dari PPIA yang selalu saya ingat, “This is the part of the adventure.”

Dan seperti Alicia Keys bilang, “The streets are mean!” Tapi, “If I can make it here, I can make it anywhere.”


Cheers,

Retno
@retno_lestari
rlestari@voanews.com

Text

Bersama kru ENG

Saat ini di VOA saya mempunyai tugas untuk mengerjakan beberapa program di VOA, salah satunya adalah “Dunia Kita.” Proses produksi di VOA secara umum sama dengan televisi lainnya. Akan tetapi ada beberapa perbedaan dalam sistem produksinya. Nah, sekarang saya akan menceritakan proses produksi program VOA “Dunia Kita” yang ditayangkan di MetroTV.

Menentukan Materi Berita

Sebelum membuat sebuah rundown atau susunan materi dalam program “Dunia Kita,” para produser Dunia Kita terlebih dahulu menyiapkan materi berita apa saja yang akan ditayangkan. Materi ini dipilih sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Misalnya tema minggu ini tentang transportasi, maka semua cerita yang dipilih adalah yang berhubungan dengan transportasi.

Dari mana cerita “Dunia Kita” berasal? Cerita yang ada di Dunia Kita berasal dari dua sumber. Sumber pertama adalah dari redaksi pusat VOA, atau yang kita sebut “Central News.” Paket liputan mereka semua adalah dalam bahasa Inggris. 

Para produser di VOA Indonesian Service lalu mengadaptasi berita ini ke dalam bahasa Indonesia dan mengisi suara. Di VOA, proses mengadaptasi dari news source ini disebut versioning. Sementara proses pengisian suara disebut voicing (dikenal juga dengan istilah voice dubbing, voice over atau VO).

Lalu sumber kedua berasal dari liputan kita sendiri yang di sini disebut dengan istilah origination. Sebelum meliput tentu kita harus memikirkan ide, melakukan riset, dan membuat rencana peliputan, lalu datang ke lokasi untuk meliput.

Peliputan

Tidak seperti televisi di Indonesia, bekerja di VOA menuntut kita untuk bisa melakukan semuanya sendiri. Mulai mencari berita, reporting, mengambil gambar, menulis berita, mengisi suara, mengedit sampai membawakan acara sendiri yang di sini disebut dengan istilah standup.

Untuk melakukan liputan ada tiga pilihan mengambil gambar. Pertama, mengambil gambar sendiri. Kedua, dibantu rekan-rekan dari Indonesian Service. Atau, ketiga, menggunakan tenaga camera person VOA yang disebut dengan ENG (Electronic News Gathering).

Selama satu bulan di VOA, saya baru beberapa kali meliput dan belum mengambil gambar sendiri. Saya masih harus berlatih menjadi seorang camera person, karena saat bekerja di Indonesia saya jarang mengambil gambar sendiri. 

Di Indonesia, saya sebagai reporter meliput bersama seorang camera person. Oleh karena itu, saat ini kadang-kadang saya masih dibantu oleh teman-teman dari Indonesian Service. Nah, yang paling sering adalah meliput dengan para camera person ENG. 

Setelah meliput, kita menulis skrip atau naskah berita, mengisi suara, lalu mengeditnya sendiri.

Standup Host

Standup adalah istilah untuk membawakan sebuah acara atau presenting. Mayoritas produksi standup pembawa acara “Dunia Kita” menggunakan kamera ENG. Namun, jika ada halangan maka akan dibantu oleh orang-orang dari Indonesian Service. 

Standup akan dilakukan setelah lima materi berita ditentukan produser dan terkumpul. Setelah itu, kami menentukan jadwal standup dan mencari lokasi. Setelah mendapatkan lokasi yang diinginkan, langkah selanjutnya adalah meminta izin. Jika izin didapat, standup akan berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan, tapi kalau  izin belum juga keluar, maka bisa ditunda di lain hari atau mencari lokasi lain.

Mengedit

Setelah standup maka langkah berikutnya memilih standup yang terbaik dan memotong bagian yang tidak terpakai (logging), menambahkan insert gambar (di sini dikenal dengan B-roll), menghitung durasi, serta mengubah format audio-video standup

Jika durasi paket materi terlalu panjang, maka paket akan dipotong oleh para produser Dunia Kita dengan menggunakan Final Cut Pro. sekalian menambahkan subtitle atau teks terjemahan.

Lima materi berita dan host standup yang bersih kemudian akan dimasukan ke dalam server yang bisa diakses oleh siapapun dan di komputer manapun. Nanti materi berita dan standup digabungkan dalam sebuah editing non-linear dengan menggunakan Avid Video Editing oleh editor khusus dari VOA. 

Editor ini selain menggabungkan paket berita dengan standup host juga memasukkan bumper, logo, character generator (CG), dan credit title (teks di akhir acara berupa judul, nama orang, dan lain-lain). 

Setelah selesai semua proses ini, maka paket program Dunia Kita akan diunggah ke sebuah sistem yang bisa diunduh oleh klien kami, Metro TV.

Ternyata tidak sederhana, ya, prosesnya. Makanya, kamu harus menonton hasilnya, dong :) Klik di sini untuk menonton Dunia Kita di website VOA.

Until next time,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari