
“Three, two, one…Happy New Year!”
Begitulah teriakan saya dan Marsha, bersama lebih dari satu juta orang lainnya yang berkumpul di Time Square, New York City, untuk menyaksikan ball drop sebagai penanda pergantian tahun 2012 menuju 2013.
Menyaksikan ball drop di Times Square adalah cara klasik untuk merayakan tahun baru yang didambakan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Termasuk saya dan Marsha tentunya.
Mengapa Ball Drop?
Perayaan tahun baru di Times Square memang sudah diadakan sejak tahun 1904. Namun ball drop pertama, baru terjadi pada tahun 1907. Ball drop ini dibuat untuk menggantikan pesta kembang api yang saat itu dilarang di New York City. Kemudian tradisi ball drop terus berlangsung tiap tahunnya hingga saat ini.
Pada awalnya, bola yang dijatuhkan dari puncak Times Square terbuat dari kayu dan besi. Namun kini, bola yang dijatuhkan terbuat dari kristal yang beratnya lebih dari 5000 kg dan diameternya mencapai 3,6 meter.
Nah, tidak heran kalau festival ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia dan selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan orang setiap tahunnya.

Antri Sejak Jam 12 Siang
Saya dan Marsha sudah membulatkan tekad sejak awal hijrah ke Amerika, untuk merayakan tahun baru di Times Square, New York. Kami ingin tahun baru kami di Amerika akan selalu kami kenang dan akan menjadi pengalaman once in a life time.
“Lho, nggak mau lagi?” Kalau ditanya begitu, saya dan Marsha akan menjawab dengan kompak, “Nggak!”
Tidak mudah memang masuk ke Times Square untuk menyaksikan drop ball. Bagaimana tidak, jutaan orang berlomba untuk bisa berada di sana dan mendapatkan tempat berdiri yang paling enak. Tidak salah kalau orang bilang posisi menentukan prestasi. Karena posisi yang enak akan dengan jelas melihat jatuhnya bola di Times Square dan juga menyaksikan para pengisi acara di tiga panggung yang disediakan panitia.
Untuk itu, maka orang-orang akan datang berjam-jam sebelumnya. Bagaimana dengan saya dan Marsha? Kami cukup datang dan mengantri sejak jam 12 siang saja!
Kami pergi ke Times Square bersama seorang teman asal Spanyol bernama Carlos. Begitu sampai di area Times Square, Carlos bertanya kepada polisi di manakah kami harus berdiri untuk bisa masuk ke tempat-tempat yang telah ditentukan dan sudah dipagari besi.
Kami pun masuk dari persilangan jalan 46th Street dan 7th Avenue. Inilah enaknya jalan di New York, menggunakan sistem angka yang berurutan sehingga mudah untuk dicari.
Kami harus mengantri untuk melewati petugas polisi yang akan mempersilakan kami masuk ke dekat panggung, setelah melakukan pemeriksaan pada setiap orang. Tentu, orang-orang di depan dan di belakang kami sudah ribuan. Aksi dorong-mendorong mewarnai usaha kami masuk ke dalam area yang saya sebut “safe zone.” Yang artinya, area dimana kami aman dan tidak akan diusir seperti yang terjadi di tahun sebelumnya pada Vici Vadeline dan fellow VOA tahun sebelumnya Kartika Octaviana.
“Untung pengalaman naik kereta Jabodetabek,” ujar saya pada Marsha yang sibuk menahan diri di tengah himpitan laki-laki berbaju wanita.
Setelah sekitar 45 menit mengantri dan dorong-mendorong, kami pun berhasil masuk ke dalam zona aman di dekat panggung dan bisa dengan jelas melihat Times Square.
We Made Friends!

Kami langsung bertemu dengan rombongan enam perempuan muda “gila” asal North Carolina, dua laki-laki cupu nan lucu dari New Hampshire, suami istri beserta anak perempuannya yang gaul asal San Diego, dan empat orang lainnya yang kalau tidak salah berasal dari Inggris.
Sejak awal berdiri, kami sudah berkenalan, bercanda, bernyanyi, berfoto-foto, menari, hingga membuat seisi Times Square bernyanyi untuk Carlos.
“Everyone, this is my friend Carlos. He’s all the way coming from Spain to celebrate his birthday today. So let’s sing happy birthday for him,” teriak gadis lucu bernama Summer dengan kencang.
Saat itu sekitar pukul 3 sore, Times Square bernyanyi “Happy birthday” untuk Carlos.
Kemudian, jam demi jam terus berlalu. Setiap countdown kami lewati sambil menghitung sisa jam menuju ke waktu tengah malam. Untuk menghilangkan jenuh, kami pun menari-nari mengikuti alunan lagu yang diputar dan terdengar lewat pengeras-pengeras suara raksasa. Mulai dari lagu top 40, lagu-lagu hits tahun 2012, hingga lagu Fun Factory.
Hayo, siapa yang tahu Fun Factory? Yang tunjuk tangan berarti ketahuan umurnya. Haha.
Saya pun menjadi satu dari sedikit orang yang bersenandung, “Let’s have a celebration by the sea. And get together in peace and harmony. A celebration come and have some fun. Singing oh oh ooh oh, oh oh oh ooh oh..”

Kami Pakai Pampers!
Suhu udara di New York saat itu adalah 38 Fahrenheit atau sekitar 3 derajat celcius. Bagi kami suhu ini memang dingin, tetapi tidak sedingin yang kami perkirakan. Plus, kami berada bersama banyak orang sehingga kami merasa jauh lebih hangat.
Lelah? Tentu saja. Kami kan berdiri terus. Lapar? Pasti. Tapi kami sudah menyediakan protein bar. Snack yang mudah dibawa ketimbang harus berbekal makanan berat seperti sandwich atau makanan lainnya.
Minuman pun cukup satu botol saja. Karena yang paling kami takuti bukanlah berdiri berjam-jam, melainkan kalau kami kebelet ke belakang. Jadi, kami tidak mau banyak minum.
Nah, gara-gara Timse Square ini saya dan Marsha untuk pertamakalinya sejak puluhan tahun lalu kembali mengenakan pampers. Untungnya, kami sama sekali tidak ada keinginan untuk ke belakang. Kalau tidak? Hahahaha, saya enggan membayangkannya.
Psy Wave!
Menurut saya di Amerika yang terjadi bukan Korean Wave, tetapi Psy wave! Semua orang tahu Gangnam Style dan bisa berjoget kuda ala Psy.
Tentu saja Psy didaulat menjadi pengisi acara. Wah, betapa senangnya saya dan Marsha bisa menyaksikan langsung Psy bernanyi dengan goyangan Gangnam Style-nya. Apalagi Psy tampil bersama MC Hammer. Lagu Gangnam Style pun di remix dengan alunan beat MC Hammer.
Satu kata, “Awesome!”
Sejak jam 6 sore, panggung memang mulai diisi penampilan rehearsal para pengisi acara. Mulai dari Psy, Train, Carly Rae Jepsen, hingga Taylor Swift. Baru setelah melewati jam 9 malam, para pengisi acara ini tampil sesungguhnya dan disiarkan live oleh stasiun televisi.

Penampilan mereka membuat waktu seolah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, kami terus bernyanyi dan melompat-lompat hingga menjelang waktu jam 12 malam.
Ketika jam menunjukkan waktu pukul 11.59, kami pun sudah menyiapkan kamera untuk merekam ball drop sambil berteriak dengan gembira, “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2,1, Happy New Year!
Dua belas jam berdiri kami lalui hanya untuk satu detik menuju tahun baru 2013!
Tahun baru yang sangat melelahkan, namun sangat berkesan dan akan selalu kami kenang.
Selamat tahun baru!
Cheers,
Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari














Namun kini di Amerika, tidak ada yang membangunkan saya lagi di kala sahur. Hanya alarm ponsel yang setia menemani. Tidak ada suara kegaduhan pagi dini hari, kecuali suara musik hip hop di akhir pekan, dari permukiman warga yang jaraknya hanya 10 meter dari apartemen kami. Sekarang saya merindukan suara gaduh itu yang disertai dengan teriakan, “Sahur…sahur.”
Yang dekat, seringkali tidak terlihat.
Southwest Waterfront ternyata merupakan kawasan penting di Washington, DC. Dulunya, Southwest Waterfront dihuni oleh penduduk asli Amerika dan dijadikan daerah pertanian serta industri karena adanya akses sungai Potomac. Kemudian mulai pertengahan abad ke 19, Southwest menjadi wilayah komunitas yang beragam, termasuk pemerintah federal.








Kantor VOA ada di gedung Federal Wilbur J. Cohen. Untuk masuk ke sini setiap orang akan diperiksa dengan ketat, kecuali bagi mereka yang telah mempunyai ID tetap. Lalu bagaimana dengan saya dan Marsha? ID kami adalah ID sementara, yang berlaku hingga satu tahun. Karena status ID ini, maka setiap hari kami harus masuk gedung dan meletakkan barang-barang kami di sebuah alat dengan monitor pendeteksi, persis seperti di bandara. Barang-barang elektronik seperti kabel, charger, ponsel, baterai, dan lain-lain, harus di keluarkan dari tas dan diletakkan di tempat terpisah yang telah disediakan. Kemudian tas serta jaket yang kami kenakan juga harus di lepas dan di masukkan ke alat detektor tersebut.
Kok, lama? Terkadang banyak orang yang mengantri di depan kami. Dan mereka harus bolak balik membongkar tas mereka untuk mengeluarkan barang-barang elektronik di dalamnya.
Kantor Indonesian Service ada di lantai dua. Saya berkali-kali salah belok setelah keluar dari lift. Harusnya ke kiri, saya malah ke kanan. Suatu hari saya bertemu seorang karyawan dari Service lain, dan kami asyik mengobrol. Setelah itu, saya kebingungan mencari ruangan Indonesian Service. Dia berkata, “Hey, you are from Indonesia. Your office is right there. This is Azerbaijan.” Ternyata harusnya saya ke sayap kanan. Mudah-mudahan dia tidak berpikir macam-macam. Hehehe.
Sulit Sinyal
Ada apa saja di ruangan Indonesian Service? Tentu seperti kantor pada umumnya. Terdiri dari cubicle, masing-masing dengan PC dan beberapa lainnya dengan komputer Mac. Setiap meja mempunyai headphone sendiri. Karena semua pekerjaan Audio/Video kami lakukan dari meja, sehingga kami harus menjaga audio agar tidak mengganggu rekan-rekan yang lain.
Meja siapa yang paling banyak alat kecantikannya? Kalau dari yang saya lihat, ya, Mbak Patsy. Yup, mau cari makeup apa saja sepertinya ada di mejanya. Awal saya datang ke VOA, saya pinjam punya Mbak Patsy (Thank you, Mbak).