Kisah dua jurnalis muda dari Indonesia, Marsha Ryadi dan Retno Lestari, yang menggali pengalaman sebagai Broadcast Fellow PPIA-VOA di Washington, DC, Amerika Serikat.

Posts Tagged: VOA

Text

image

Tidak terasa sudah setengah tahun saya dan Marsha menjadi fellow dari program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship. Dalam kurun waktu enam bulan banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan. 

Bagi saya, pengalaman paling berharga hingga saat ini adalah diberi kesempatan untuk turut membantu VOA Indonesia, dalam menyiarkan proses pemilihan presiden ke stasiun-stasiun televisi di Indonesia. 

Proses dari serangkaian ritual pemilihan pemimpin negara Paman Sam antara lain adalah Konvensi Nasional Partai Republik dan Partai Demokrat serta debat calon presiden. Konvensi ini lebih bersifat seremonial namun tetap menarik diikuti karena biasanya akan muncul pidato-pidato yang menarik baik dari presiden maupun tokoh-tokoh pendukungnya. Sementara debat presiden akan memperlihatkan secara langsung visi dan misi apa yang dimiliki oleh masing-masing kandidat yang ditawarkan kepada masyarakat.

Konvensi masing-masing partai kurang lebih berlangsung selama 3 hari. Sementara debat capres berlangsung 3 kali dan debat cawapres 1 kali. Berhari-hari pula tim VOA Indonesia sibuk mempersiapan diri untuk siaran langsung ke beberapa stasiun televisi. Persiapan ini mulai dari riset, mengumpulkan materi, hingga persiapan teknis yang melibatkan tidak hanya VOA Indonesia tetapi juga orang-orang di divisi-divisi lain.

Dengan lebih dari 40 language service (istilah bagi masing-masing bagian negara yang ada di VOA), maka pengaturan jadwal siaran, satelit, penggunaan studio, man power, bukanlah hal yang mudah. Belum lagi siaran langsung dilakukan tidak hanya ke satu stasiun televisi, tetapi ke banyak stasiun televisi dalam waktu yang sangat mepet.

Persiapan adalah kunci dari kelancaran jalannya siaran langsung. Persiapan materi tentu melibatkan riset, meliput, menerjemahkan, menulis naskah, menyiapkan paket berita, dan menyiapkan footage untuk insert gambar. Sementara persiapan dan eksekusi teknis, wah, saya bisa menulis beberapa halaman untuk menjelaskan secara detail. 

Di sini saya melihat bagaimana luarbiasanya kemampuan tim televisi di servis Indonesia. Bahkan orang-orang “bule” di VOA mengakui bahwa tim televisi servis Indonesia adalah yang terbaik di antara language service lainnya. “You guys know exactly what you’re doing!” Kata beberapa camera person dan program director.  

Siaran Langsung di Studio

image

Siaran langsung konvensi partai Republik dan Demokrat adalah debut pertama saya di studio VOA. Sebelum di VOA saya memang bukan hanya reporter di lapangan tetapi juga sering berada di studio untuk membantu atau mengawasi siaran. 

Saya sangat suka berada di dalam studio karena ketegangan yang saya rasakan akan menjadi sebuah kepuasan yang membuat ketagihan, jika siaran berjalan dengan lancar atau melebihi ekspektasi. Apalagi jika saat siaran langsung ada berbagai kendala, dan berhasil melewatinya. Wah, rasanya luar biasa.

Di Indonesia saya sering berada di studio, saat harus melakukan siaran dengan beberapa reporter yang melakukan reportase langsung (live report). Tetapi di VOA, siaran bukan hanya dilakukan dengan reporter yang melaporkan secara langsung (live), tetapi juga harus menghubungkannya juga secara langsung dengan televisi-televisi di Indonesia. Ini menjadi tantangan baru bagi saya. Tim televisi servis Indonesia tentunya sudah terbiasa. Namun saya sangat excited untuk melihat dan membantu jalannya siaran langsung yang kami sebut live hits. Apalagi kru studio VOA adalah orang-orang bule yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Sehingga kami menggunakan dwi bahasa. Nah lo, terbayang kan bagaimana ribetnya? 

Tugas saya saat itu adalah menelepon televisi-televisi di Indonesia untuk menanyakan dua nomor telepon yang akan digunakan untuk berkoordinasi dan menghubungkan audio presenter di Indonesia dengan reporter/presenter VOA. Tugas ini gampang-gampang sulit. Gampang karena tinggal menelpon dan meminta dua nomor. Satu nomor tidak boleh diganggu-gugat dan harus disambungkan oleh audio man di Indonesia dari presenter ke presenter. Instruksi, tentu dari produser atau siapapun yang bertanggung jawab di Indonesia. Sulit, karena terkadang bertemu dengan orang-orang yang belum terbiasa dengan siaran antar benua dan bahkan tidak terbiasa dengan siaran langsung.

Bagaimana jika produser atau orang yang bertugas tidak memiliki pengetahuan tentang ini? Tentunya kendala teknis karena human error. Nah, saat inilah saya melihat betapa pentingnya bagi pekerja di televisi terutama yang berada dalam tim produksi untuk memahami dan menguasai berbagai aspek teknis di studio. 

Setelah konvensi, proses berikutnya adalah debat calon presiden. Saat debat calon presiden, tugas saya berbeda. Jika sebelumnya saya bertugas di studio, kali ini saya berada di newsroom. Saya harus memperhatikan jalannya debat dan poin-poin apa yang menarik. Kemudian saya menunggu video debat tersebut ada di dalam sebuah aplikasi bernama Dalet, yang merupakan sistem bagi sebuah siaran televisi. Berdasarkan poin-poin menarik tersebut, saya harus memotong-motong gambarnya untuk dijadikan insert video pada saat nanti tim di lapangan melaporkan secara langsung.

Mbak Patsy, Mbak Ade, Mas Helmi, Mas Nova adalah tim di lapangan yang melaporkan langsung. Sementara Mbak Nadia, Mbak Ane, Mbak Nia, Cak Supri, Mas Alam, Mbak Yuni, dan saya adalah goal keeper yang bergantian berada di studio atau di newsroom.

Pengalaman di studio dengan tingkat keribetan yang amat tinggi ini membuat kemampuan saya meningkat pesat jika nanti kembali ke Indonesia. Pengalaman yang sangat berharga bukan? Sekarang saya bisa berkata, “Multitasking? No problemo!”

Salam,

Retno Lestari
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

And when you trust your television 

What you get is what you got

John Mayer - Waiting On the World to Change

Akhirnya sudah bulan ketiga saya tinggal di Washington, DC. Mulai punya rutinitas dan mulai banyak merencanakan ini-itu. Menyenangkan, memang. Tapi satu hal yang saya lakukan ketika sudah mulai menjalani rutinitas yang hampir sama setiap hari adalah: revisit atau meninjau kembali yang dahulu. Sebenarnya sederhana. Saya hanya mengingat kembali apa tujuan saya ke sini, dan apa saja yang sudah saya serap, supaya kembali bersemangat.

Saya ingat waktu wawancara fellowship ini, saya bilang, saya baru mendaftar tahun ini karena tahun ini adalah tahun pemilu presiden di Amerika dan saya ingin menjadi bagian (atau menyaksikan secara langsung) sejarah itu. Karena saya fellow, ada kalanya saya belajar, tidak hanya bekerja. Seperti minggu pertama saya di VOA, Mbak Patsy Widakuswara memberikan ringkasan mengenai politik Amerika kepada saya dan Retno mengenai perbedaan antara partai Demokrat dan Partai Republik Amerika. Dan saya ingat Mbak Patsy bilang ke kami, “Politik Amerika itu gampang diukur, tidak seperti politik Indonesia.”

Kenapa gampang diukur? Karena nilai-nilai yang diyakini masih partai jelas. Misalnya, Demokrat itu liberal, sedangkan Republik konservatif. Tapi liberal disini, bukan yang seperti saya pahami. dulu pengertian saya, yang namanya liberal pasti segalanya “bebas.” Walaupun mayoritas simpatisan Partai Demokrat mendukung hak aborsi bagi perempuan dan perkawinan sesama jenis, tapi Partai Demokrat mendukung peran pemerintah yang lebih besar di masyarakat. Sementara Partai Republik, sebaliknya.

Secara umum, Partai Republik lebih tertarik mengatur hal-hal pribadi dan tidak terlalu ikut campur urusan bisnis dan ekonomi. Kubu Demokrat umumnya lebih tidak tertarik mengurusi hal-hal pribadi, melainkan lebih kepada isu-isu kesejahteraan masyarakat dan hak-hak sipil. Kubu Demokrat mendukung pemotongan pajak bagi mereka yang miskin, dan meningkatkan pajak orang kaya, sementara Republik ingin menurunkan pajak pada setiap orang, bukan hanya bagi orang yang tidak mampu.

Nah, yang sekarang paling sering diangkat di kancah panggung politik Amerika adalah isu perekonomian. Terutama karena pemilu presiden mulai semarak, antara kandidat dari partai Demokrat; yaitu Barack Obama dan kandidat partai Republik Mitt Romney saling serang dalam urusan ekonomi. Tentu saja, karena ekonomi Amerika sedang menurun, antara lainnya juga disebabkan oleh krisis utang Zona Eropa. Padahal Eropa adalah  konsumen terbesar produk-produk buatan Amerika. Kalau begini ceritanya, otomatis penganguran di Amerika semakin banyak. Angka pengangguran saat ini adalah 8,2 persen, dan ini lah yang dijadikan target serangan kampanye Romney.

Sebelum terlalu serius, saya kembalikan ke pengalaman pribadi. Jadi, selama satu bulan terakhir saya takjub dengan iklan-iklan kampanye kedua partai.  ‘Serangan terbuka’ ini saya lihat di TV sehari-hari dan banyak di YouTube. Silakan kamu lihat contohnya dua video berikut:

Hebatnya, semua iklan seperti itu ada bagian “I’m Barack Obama and I approve this message,” atau “I’m Mitt Romney and I approve this message”. Kalau di Indonesia, cenderung sulit mencari tahu agenda kampanye atau visi dan misi seorang kandidat presiden, wakil rakyat atau apa pun, kecuali kita memang niat mencari tahu.

Yang saya lihat di Jakarta, biasanya hanya poster berisikan kumis, peci dan slogan. Walaupun saya lumayan heran lihat iklan kampanye di Amerika, tapi menurut saya yang awam ini, itu adalah bentuk kedewasaan politik. Karena perdebatan dilakukan di ranah publik dan kalaupun data-data yang dikemukakan itu salah, pasti langsung ditampik atau dijelaskan oleh perwakilan partai, biasanya tim sukses atau juru bicara atau kelompok non-partai pendukung masing-masing kandidat, melalui televisi atau media lainnya. Intinya, semua berdasarkan data. Jadi, jelas bagi para pemilih mereka mau pilih siapa. 

Mencari fakta tentang seorang kandidat mudah sekali disini karena yang diperdebatkan itu jelas. Orang-orang bisa mencari tahu karena ada keterbukaan informasi, jadi orang-orang lebih kritis dan yakin dengan pilihannya masing-masing.  Jadi mungkin itu lah yang dimaksud, “mudah diukur.” Media di sini pun tidak mendramatisasi isu. Memang kadang-kadang pengulasannya lama, tapi yang mereka lakukan adalah mencari tahu sampai keakarnya, latar belakang masalahnya. 

Mungkin pandangan seperti itu yang harus saya refleksikan; menelaah sebuah berita lebih dalam dan tidak menelan mentah-mentah apa yang disuguhkan.

Iklan kampanye Obama dan Romney yang saya lihat setiap hari itu membuat saya semakin tidak sabar menunggu November. Kira-kira siapa yang menjadi presiden Amerika selanjutnya, ya?

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata  

Text

Bersama kru ENG

Saat ini di VOA saya mempunyai tugas untuk mengerjakan beberapa program di VOA, salah satunya adalah “Dunia Kita.” Proses produksi di VOA secara umum sama dengan televisi lainnya. Akan tetapi ada beberapa perbedaan dalam sistem produksinya. Nah, sekarang saya akan menceritakan proses produksi program VOA “Dunia Kita” yang ditayangkan di MetroTV.

Menentukan Materi Berita

Sebelum membuat sebuah rundown atau susunan materi dalam program “Dunia Kita,” para produser Dunia Kita terlebih dahulu menyiapkan materi berita apa saja yang akan ditayangkan. Materi ini dipilih sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Misalnya tema minggu ini tentang transportasi, maka semua cerita yang dipilih adalah yang berhubungan dengan transportasi.

Dari mana cerita “Dunia Kita” berasal? Cerita yang ada di Dunia Kita berasal dari dua sumber. Sumber pertama adalah dari redaksi pusat VOA, atau yang kita sebut “Central News.” Paket liputan mereka semua adalah dalam bahasa Inggris. 

Para produser di VOA Indonesian Service lalu mengadaptasi berita ini ke dalam bahasa Indonesia dan mengisi suara. Di VOA, proses mengadaptasi dari news source ini disebut versioning. Sementara proses pengisian suara disebut voicing (dikenal juga dengan istilah voice dubbing, voice over atau VO).

Lalu sumber kedua berasal dari liputan kita sendiri yang di sini disebut dengan istilah origination. Sebelum meliput tentu kita harus memikirkan ide, melakukan riset, dan membuat rencana peliputan, lalu datang ke lokasi untuk meliput.

Peliputan

Tidak seperti televisi di Indonesia, bekerja di VOA menuntut kita untuk bisa melakukan semuanya sendiri. Mulai mencari berita, reporting, mengambil gambar, menulis berita, mengisi suara, mengedit sampai membawakan acara sendiri yang di sini disebut dengan istilah standup.

Untuk melakukan liputan ada tiga pilihan mengambil gambar. Pertama, mengambil gambar sendiri. Kedua, dibantu rekan-rekan dari Indonesian Service. Atau, ketiga, menggunakan tenaga camera person VOA yang disebut dengan ENG (Electronic News Gathering).

Selama satu bulan di VOA, saya baru beberapa kali meliput dan belum mengambil gambar sendiri. Saya masih harus berlatih menjadi seorang camera person, karena saat bekerja di Indonesia saya jarang mengambil gambar sendiri. 

Di Indonesia, saya sebagai reporter meliput bersama seorang camera person. Oleh karena itu, saat ini kadang-kadang saya masih dibantu oleh teman-teman dari Indonesian Service. Nah, yang paling sering adalah meliput dengan para camera person ENG. 

Setelah meliput, kita menulis skrip atau naskah berita, mengisi suara, lalu mengeditnya sendiri.

Standup Host

Standup adalah istilah untuk membawakan sebuah acara atau presenting. Mayoritas produksi standup pembawa acara “Dunia Kita” menggunakan kamera ENG. Namun, jika ada halangan maka akan dibantu oleh orang-orang dari Indonesian Service. 

Standup akan dilakukan setelah lima materi berita ditentukan produser dan terkumpul. Setelah itu, kami menentukan jadwal standup dan mencari lokasi. Setelah mendapatkan lokasi yang diinginkan, langkah selanjutnya adalah meminta izin. Jika izin didapat, standup akan berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan, tapi kalau  izin belum juga keluar, maka bisa ditunda di lain hari atau mencari lokasi lain.

Mengedit

Setelah standup maka langkah berikutnya memilih standup yang terbaik dan memotong bagian yang tidak terpakai (logging), menambahkan insert gambar (di sini dikenal dengan B-roll), menghitung durasi, serta mengubah format audio-video standup

Jika durasi paket materi terlalu panjang, maka paket akan dipotong oleh para produser Dunia Kita dengan menggunakan Final Cut Pro. sekalian menambahkan subtitle atau teks terjemahan.

Lima materi berita dan host standup yang bersih kemudian akan dimasukan ke dalam server yang bisa diakses oleh siapapun dan di komputer manapun. Nanti materi berita dan standup digabungkan dalam sebuah editing non-linear dengan menggunakan Avid Video Editing oleh editor khusus dari VOA. 

Editor ini selain menggabungkan paket berita dengan standup host juga memasukkan bumper, logo, character generator (CG), dan credit title (teks di akhir acara berupa judul, nama orang, dan lain-lain). 

Setelah selesai semua proses ini, maka paket program Dunia Kita akan diunggah ke sebuah sistem yang bisa diunduh oleh klien kami, Metro TV.

Ternyata tidak sederhana, ya, prosesnya. Makanya, kamu harus menonton hasilnya, dong :) Klik di sini untuk menonton Dunia Kita di website VOA.

Until next time,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari

Text

Langit Washington, DC

Orang Amerika individualitis. Itulah bayangan saya dan Retno sebelum datang ke Amerika. Tapi, pada kenyataannya, kami menemukan banyak sekali kegiatan kelompok dan komunitas.

Apa pun yang kamu minati, pasti kamu bisa menemukan kelompok dengan minat yang sama. Dari awal kepindahan saya kesini, saya suka mencari kegiatan yang bermanfaat dan seringkali, kegiatan yang ditawarkan itu gratis!

Seperti apa saja acara gratis di sini? Beberapa yang saya datangi baru-baru ini adalah konser Memorial Day di pelataran Gedung DPR AS alias Capitol Hill, dan acara pemutaran film “The Lady,” yang menceritakan kisah Aung San Suu Kyi. Saya pengagum Suu Kyi jadi senang sekali ada kegiatan ini. Selain pemutarannya diadakan di sebuah teater yang sangat apik di Navy War Memorial ada acara diskusinya pula mengenai keberlanjutan demokratisasi di Burma.

Pembicaranya adalah seorang dari Foreign Policy Initiative dan seorang jurnalis dari VOA, bernama Win Min. Ternyata kolega saya dari Siaran Bahasa Burma. Ia adalah mantan aktivis saat junta militer di Burma berkuasa dan seorang lulusan Harvard. Saya jadi berpikir, sepertinya VOA menyimpan banyak sekali orang-orang yang menarik.

Mendapatkan “ilmu” gratis yang sesuai dengan minatmu juga sangat mudah. Bergabung saja dengan sebanyak-banyaknya mailing list organisasi. Selain mengirimkan newsletter, mereka juga mengirim undangan kegiatan.  Sejauh ini, saya sudah langganan menerima informasi dari toko buku Politics & Prose; di mana sering diadakan peluncuran buku dan diskusi. VolunteerMatch untuk kegiatan sukarela bidang apapun, World Affairs DC untuk kegiatan yang berhubungan dengan kebijakan dan hubungan internasional, dan Meetup di mana kamu bisa bergabung dengan komunitas apapun dan bertemu dengan teman-teman baru dan belajar sesuatu yang baru. Misalkan kamu penggemar bahasa dan kebudayaan, kamu bisa menemukan komunitas, dari bahasa Spanyol sampai bahasa Islenska (bahasa di Eslandia). Tidak sebatas komunitas bahasa, ada juga ribuan komunitas lain yang ajaib.

Sementara banyak pertanyaan di kepala kita berdua, saya dan Retno terus mencari jawabannya sambil tetap melakukan sesuatu yang seru. Sesuatu yang kami akan segera coba adalah kelas olah raga Yala dan yoga gratis di tepi sungai. Menarik, kan?

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Text

Retno dan Marsha, culture shock tidak di Amerika? Itu pertanyaan yang sering kami dapat. Jawabannya adalah, tidak. Kecuali untuk satu hal. Apa itu? Gegar budaya itu kami temui saat harus mengurus paperwork alias dokumen.

Amerika Serikat adalah negara yang sangat tertib administrasi. Saat akan masuk dan tinggal di Amerika Serikat, mereka akan meminta kita untuk mengisi serangkaian dokumen dan memeriksa dokumen diri yang kita miliki. Mendapatkan visa Amerika baru sebuah langkah awal. Langkah berikutnya masih sangat panjang. Terlebih karena kami akan bekerja untuk lembaga berada di bawah pemerintahan Federal. 

Visa Amerika Serikat

Banyak orang bilang kalau mendapatkan visa ke Amerika Serikat itu susah-susah gampang. Beruntung, kami para fellow VOA menggunakan Visa J-I atau Cultural Exchange Visa dan mendapatkan undangan dari VOA.Antrian visa di depan Kedubes AS, Jakarta (foto: AP).

Kami harus mempersiapkan paspor dan foto ukuran paspor berlatar belakang warna putih. Kami mendengar bahwa foto bisa menimbulkan masalah jika tidak sesuai persyaratan dari Kedubes Amerika Serikat. Oleh karena itu, kami mencari aman dengan mendatangi tempat foto yang sudah direkomendasikan di Sabang, Jakarta Pusat. 

Setelah itu kami harus mengisi formulir DS-160 yang merupakan aplikasi visa non-imigran. Kami juga harus memberikan DS-2019 yang dikeluarkan oleh lembaga sponsor, dalam hal ini adalah VOA. Tidak lupa kami harus menunjukkan bukti pembayaran visa sebesar 140 dolar yang telah dibayarkan terlebih dulu ke bank yang ditunjuk. Masalah pembayaran ini sudah ditangani oleh VOA. Untuk tahu selengkapnya tentang Visa jenis J-1, bisa melihat ke website J-1 Visa.

Nah, untuk mengisi DS-160 maka kita harus mempersiapkan data diri kita yang lengkap. Selain biodata, kami juga perlu mempersiapkan informasi tentang pendidikan kita, pekerjaan, referensi orang yang bisa dihubungi. Kalau perlu, buatlah seperti CV untuk melamar pekerjaan yang sangat lengkap. Semua tanggal dan tahun jangan terlewat. Setelah itu, CV bisa dicetak. Ini untuk membantu kita agar tidak bolak-balik harus melihat banyak kertas. 

DS-2019

Selain paspor, formulir DS-2019 yang dikeluarkan lembaga sponsor ini sangat penting sekali. Karena bukan hanya digunakan untuk melamar visa, tetapi juga akan ditanya saat kita sampai di biro imigrasi bandara Amerika Serikat. Saya sempat kebingungan ketika  petugas imigrasi di bandara JFK, New York menanyakan tentang form DS-2019.

Saya tidak tahu apa bentuknya, karena tidak terlalu memperhatikan dan tidak tahu akan ditanyakan di bandara. Alhasil, saya sempat panik membuka semua dokumen yang saya bawa. Saya buka, saya cari, dan tidak ada. Petugas imigrasi sampai membantu saya mengobrak-abrik tas dokumen saya. Dan ternyata, form DS-2019 saya masih tertempel di paspor, dan belum saya lepaskan dari paspor saya setelah dikembalikan oleh Kedubes Amerika. Sementara Marsha, sudah melenggang dengan koper-kopernya. Phew!

Marsha sesaat setelah mendarat di bandara JFK, New York.

Asuransi Kesehatan

Untuk ke Amerika kita harus mempunyai asuransi kesehatan. Kami dibuatkan asuransi kesehatan oleh Ibu Barbara dari PPIA melalui website HTH Worldwide. Asuransi kesehatan ini berlaku setengah tahun dengan biaya $700. Memang mahal, tapi akan sangat bermanfaat jika sakit di Amerika Serikat, karena biaya kesehatan di sini berkali lipat lebih mahal apabila tidak mempunyai asuransi.

Dokumen Ratusan Lembar

Sesampainya di Washington DC, kami diharuskan melapor ke bagian Human Resources. Di sini, kami menyerahkan paspor serta form DS-2019 yang telah diberi cap di bandara, dan kami diberi formulir DS-2019 baru yang berlaku hingga satu tahun.

Kemudian kami diharuskan mengisi dokumen yang jumlahnya ratusan lembar. Dokumen ini diisi lewat komputer dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama, karena kami tidak mempersiapkan informasi data yang dibutuhkan. Kedua, ketika mengisi dan ingin kami hapus dengan backspace, dokumen ini akan kembali kosong. Sehingga di halaman berapapun kami mengisi, maka kami harus kembali mengisi dari awal. Saya melakukan kesalahan satu kali, sementara Marsha berkali-kali.

Lalu dokumen itu diisi apa? Data riwayat hidup kami yang sangat lengkap. Sampai berapa kali kita pindah tempat tinggal pun harus diisi dengan alamat lengkapnya, serta kontak orang yang mengetahui kita pernah tinggal di sana. Kontak ini tidak boleh dari keluarga. Bayangkan kalau kita pindah berkali-kali. Dan, bayangkan kalau kita tidak tahu alamat orang yang mengetahui kita pernah tinggal di sana.

Begitu pula dengan riwayat kerja. Kami harus memberikan nama serta alamat yang kita tuliskan namanya sebagai referensi. Jadi, jika ingin bekerja atau mendapat kesempatan dengan Visa J-1 seperti kami, tidak ada salahnya menyiapkan semuanya sebelum datang ke Amerika.

Untuk apa data ini? Data ini untuk dimasukkan ke dalam sistem database di Amerika. Sounds scary

Data ini nantinya juga akan diperlukan saat kita membuat Social Security Number (SSN). 

Kartu Social Security Number

Social Security Number

SSN adalah 9 digit nomor untuk penduduk tetap atau penduduk yang tinggal dan bekerja sementara di Amerika Serikat. SSN digunakan untuk tujuan pengecekan social security seseorang. SSN juga digunakan untuk banyak keperluan lainnya, seperti pajak, pembuatan rekening bank, dan lain-lain sebagainya.

Lalu apa syarat membuat SSN? Syaratnya, kita harus menunggu hingga 10 hari sejak kita mengisi ratusan lembar dokumen yang telah kami sebutkan. Mengapa? Karena setelah 10 hari barulah data-data kita terhubung dengan sistem-sistem data base, yang kami sendiri juga tidak mengerti. Kemudian paspor, DS-2019, dan surat keterangan dari kantor yang menyebutkan bahwa kita membutuhkan SSN. Kita juga harus sudah mengisi dokumen aplikasi SSN yang tersedia di website SSN dan kemudian mencetaknya, serta dibawa saat menuju kantor SSN. 

Kami perlu menunggu kurang lebih 1-2 minggu untuk mendapatkan kartu SSN yang dikirimkan melalui pos. 

Perjanjian Kontrak Tempat Tinggal

Sewa apartemen ternyata juga tidak kalah pentingnya. Surat perjanjian kontrak tempat tinggal ini harus kita isi segera dan ditandatangai landlord atau manajemen apartemen. Semua surat-menyurat dan urusan administratif akan menggunakan alamat tempat tinggal kita. Mudahkah mengisi surat perjanjian itu? Untuk orang seperti kami yang baru datang ke Amerika, tentu tidak mudah. Banyak poin-poin yang tidak kami mengerti. Sehingga kami harus bolak-balik bertanya kepada manajemen apartemen kami.

Jadi, apabila kita tinggal berpindah-pindah di Amerika, bisa dibayangkan bagaimana pusingnya kita memperbaharui semua administrasi dengan alamat yang baru dan mengisi semuanya lagi satu per satu. Sejauh ini saya menyimpulkan, moving around is a bad idea.

Tanpa perjanjian kontrak tempat tinggal (leasing agreement), kita tidak bisa membuat rekening bank yang akan digunakan untuk mentransfer gaji kita. 

Rekening Bank

Untuk membuat rekening bank di sini maka kami harus menyerahkan paspor, leasing agreement, SSN, dan ID Card kantor. Kami membuka rekening di bank pemerintah, SDFCU. Karena selain letaknya hanya bersebrangan dengan kantor, kami juga bekerja di kantor pemerintah, dan ATM SDFCU di VOA hanya lima meter jaraknya dari ruangan Indonesian Service. 

Kami hanya perlu menuliskan beberapa data dan tanda tangan lewat sebuah mesin elektronik. Sisanya dilakukan semua oleh petugas bank. Dan, kita tidak diwajibkan harus menyetorkan sejumlah uang seperti di Indonesia. 

Rekening bank di sini sedikit berbeda dengan di Indonesia. Ada dua jenis rekening yang akan kita miliki. Checking account dan savings account. Jika kita akan sering menarik uang untuk keperluan belanja dan yang lain, maka kita bisa minta uang kita dimasukkan ke dalam checking account. Namun jika kita ingin menabung, kita bisa memindahkan sebagian uang kita ke savings account. Di rekening saving account ada batasan jumlah penarikan dalam kurun waktu tertentu. 

Begitulah. Ternyata pindah ke Amerika itu cukup repot juga. Tapi, semua pengalaman ini, termasuk pengalaman berurusan dengan birokrasi ala Amerika, pasti ada manfaatnya!

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Text

How does it feel?
To be on your own
With no direction home
Like a complete unknown
Like a rolling stone?


 (“Like a Rolling Stone” - Bob Dylan)

Saya (kiri) dan rekan sesama fellow, Eno, di depan kantor pusat VOA

Seminggu kemarin saya mulai sulit menemukan waktu untuk menulis di blog ini. Pekerjaan di kantor dan di apartment sedang banyak dalam waktu yang bersamaan. Terima kasih kepada Bob Dylan, yang banyak menulis lirik tentang kelas pekerja, saya mendapat inspirasi menulis blog. Selain karena ia berulang tahun ke-71; bulan ini, tahun lalu saya sedang menonton konsernya. Waktu setahun memang cepat bergulir, dan sering kali, keberadaan kita selanjutnya tidak terduga. Sampai sekarang saja saya masih suka merasa aneh, “Kok, bisa sih sampai kerja di sini?’

Kali ini saya akan bercerita soal pekerjaan saya di VOA karena saya yakin, ada calon fellow yang penasaran. Sulit memang mendapatkan informasi itu, meskipun, pada dasarnya kamu pasti tahu kerjaan jurnalis sehari-hari. Saya pun, baru mendapatkan informasi lebih lengkapnya setelah bertanya-tanya ke fellow sebelumnya, tidak hanya via Facebook dan email, tetapi juga ketemu langsung.

Kuncinya, harus banyak tanya. Kenapa? Karena Amerika itu jaraknya setengah bola dunia dari Indonesia. Kalau kamu tidak menemukan banyak informasi, tidak banyak tanya dan sebenarnya tidak yakin, tidak mungkin naik travel Rp 45.000 semacam Jakarta-Bandung PP untuk pulang kampung, kan?

Di minggu keempat ini, saya masih berfokus dengan pekerjaan di lingkup radio, karena background saya yang memang dari radio. Untuk lingkup TV, mungkin kamu bisa baca blog teman saya, Retno. Tetapi nantinya saya akan dikaryakan juga oleh tim TV. Minggu depan saya akan mulai belajar.

Di VOA banyak sekali sumber berita yang bisa digunakan dan dijadikan perbandingan. It’s a good place to be if you are a news junkie. Ketika  berita sudah dipilih, tugas saya untuk menterjemahkan, merekam suara, mengedit audio, mengirim paket laporan dan siaran langsung ke lebih dari 200 afiliasi radio di Indonesia. Topik-topik yang biasa saya garap: bisnis dan ekonomi, politik, serta sains. Semua dikerjakan sendiri. 

Meja kerja saya (Marsha) di VOATiap orang di VOA memang punya tanggung jawab topik masing-masing dan pengerjaan dari awal sampai akhir untuk tiap berita harus diselesaikan sendiri. Jam kerja memang cukup panjang, karena untuk berita radio, saya harus menyesuaikan dengan jam siaran di Indonesia yang berbeda 11 jam. Tapi, tidak jadi masalah, karena itu semua terbayar dengan wawasan teknis, dan wawasan dunia yang bertambah.

Supaya ada sedikit gambaran, inilah berita-berita yang saya susun kemarin sebelum siaran dari studio VOA:

Sains mengenai pemetaan sumber air di Afrika Utara oleh peneliti Inggris;

Politik kelompok-kelompok luar pada pemilihan presiden Amerika 2012;

Saham di Amerika, Eropa, dan Asia, nilai tukar mata uang dan beberapa harga komoditas;

Kondisi politik dan ekonomi Eropa, khususnya di Yunani;

Perkembangan saham Facebook pasca-IPO; dan


Kisah perempuan yang bekerja di tambang minyak

Begitulah hari ini. Saya akan cerita lebih banyak lagi tentang kerjaan saya lain kali karena sekarang sudah pukul 10 pagi waktu DC. Saatnya saya mulai memantau apa yang terjadi di dunia. Have a good day and take it easy, okay!

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Text

It’s been a long, a long time coming
But I know a change gone come

Sam Cooke (22 Januari 1931 – 11 Desember 1964)

Ini adalah minggu ketiga saya bekerja untuk VOA dan tinggal di Washington, DC. Adakah yang berubah? Kecuali diri saya, semuanya berubah. Change has come.

Dari dulu saya selalu membayangkan betapa nyamannya kalau bisa tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor, pulang-pergi jalan kaki, di perjalanan menuju kantor bisa melewati taman yang bersih, udaranya tanpa polusi, semua orang sopan di jalan.

Semua menunggu gilirannya lewat dan tidak ada yang bersiul mencoba mengganggu. Lalu, sepulangnya dari kantor, saya masih punya waktu untuk olah raga, memasak dan membaca buku sebelum akhirnya tertidur pulas tanpa harus merencanakan untuk bangun beberapa jam lebih awal agar tidak telat sampai ke kantor.

Sekarang, semuanya itu menjadi keseharian saya. Selain nyaman, hidup juga lebih efisien:

Jalan kaki dari apartemen ke kantor: 15 menit

Jalan kaki dari apartemen ke toserba: lima menit

Jalan kaki dari apartemen ke stasiun Metro: lima menit

Mencuci pakaian di ruang laundry apartemen: 35 menit. Mengeringkan: 45 menit

Tidak ada lagi antrean TransJakarta yang tidak bisa diprediksi durasinya, tidak ada lagi malas masak karena minimarket dekat rumah tidak menjual sayuran segar, dan tidak ada lagi “acara” melongok ke atas untuk memastikan apakah matahari akan muncul untuk mengeringkan pakaian saya.

Tetapi, teman-teman saya di sini juga (masih) bisa dihitung.

Tantangan terbesar ketika awal tinggal di Amerika adalah banyak sekali urusan administrasi yang harus dilakukan sendiri. Mulai urusan imigrasi, pekerjaan, tempat tinggal sampai nantinya, urusan membayar pajak. Rasanya seperti memulai kehidupan yang benar-benar baru. Beruntung, teman-teman yang bekerja di VOA Indonesian Service sangat membantu saya dalam beradaptasi. Misalnya, mereka rela menunggu berjam-jam di bandara untuk menjemput saya (ingat kan, cerita saya soal perjalanan ke DC yang dramatis?). Mereka juga mau menemani saya membuka rekening bank yang banyak persyaratannya. Di luar jam kantor, mereka suka mengajak saya ke tempat-tempat hiburan. Dari tempat-tempat itu lah saya bertemu teman-teman baru.

Orang-orang yang saya temui di jalan mau pun di tempat-tempat yang saya kunjungi, sopan dan ramah. Saya mau cerita soal keramahan. Orang-orang di sini tidak sungkan untuk tersenyum dan sekedar mengucapkan, “How’s it going?” atau “Hey, how are you?” padahal tidak saling kenal, kemudian lewat begitu saja dengan mengucapkan “Have a good day!” atau “You take care of yourself, okay!” Bahkan, salah seorang satpam gedung VOA yang berkulit hitam dan berbadan besar, selalu menyapa saya dengan ucapan, “Selamat pagi, sampai jumpa lagi!” Walaupun hanya kata-kata itu yang dia tahu, tapi setidaknya dia berusaha untuk membuat saya senang ketika memulai hari. Little things count a great deal.

Sekarang saya mau cerita soal kesopanan. Kamis minggu lalu saya berkesempatan untuk datang ke sebuah konser. Tidak bisa dipungkiri, salah satu keuntungan tinggal di luar negeri bagi pencinta konser seperti saya adalah; banyak konser dan tiket murah, hehe. Konser ini diadakan di 9:30 Club dia daerah U Street. Saya pergi ke sana sendiri usai siaran dan ini pengalaman pertama saya nonton band di Amerika. Sebenarnya ketika pertunjukan, saya langsung rindu teman-teman saya di Jakarta dan crowd yang biasa saya temukan. Mereka seru, banyak berinteraksi dengan sesama dan tidak malu untuk nyanyi bersama. Disini, penonton konser cenderung diam dan asik sendiri. Itu nilai minusnya menurut saya. Tapi nilai plusnya adalah: tidak ada yang memotong antrean masuk atau memaksakan diri untuk menerobos sampai ke depan barikade. Tidak ada orang yang mengambil tempat orang lain. Semua sopan dan tertib.

Saya juga berkesempatan melongok pergaulan anak muda di Washington, DC. Seusai piknik VOA (lihat tulisan blog Retno, “We Are Family”). Sebuah malam, saya dan teman-teman pergi ke sebuah bar di daerah Adams Morgan. Menurut saya, orang-orang Amerika itu tidak sepandai orang Indonesia dalam berbasa-basi. Silakan menilai pendapat saya barusan dari kacamata positif atau negative. Hehe. Bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba ada yang mengajak berkenalan. Saya mengalami itu. Ada pria yang menghampiri dan memulai percakapan.

Dia: “Excuse me, I couldn’t help but notice you. Are you here with someone?

Karena saya tidak mau mengambil resiko, saya tanggapi dengan lekas

Saya: “I’m afraid I am. Sorry

Dia: “Oh sorry, my bad.

Kemudian pria random itu pergi. Orang-orang di sini memang pintar mengutarakan apa yang mereka mau dengan ringkas dan tidak berbelit-belit. Dan mereka bisa menerima penolakan dan perbedaan ekspektasi atau perbedaan pendapat dengan baik. Percakapan saya di atas adalah contoh sederhananya.

Sebelum akhir pekan lalu berakhir, saya  menyempatkan diri untuk ke daerah Dupont Circle. Disini lah saya merasa saya mulai menikmati tinggal di DC. Sebabnya, saya menemukan toko buku yang koleksi literaturnya sangat lengkap. Di Kramerbooks dan Afterwords, saya menemukan buku yang sudah bertahun-tahun saya cari. Senangnya bukan kepalang. Hari itu saya tambah senang karena ada acara Dance Circle di taman. Disitu, dari balita, kakek-nenek sampai transgender menari bersama dan disitu saya merasa nyaman. Akhirnya saya  tinggal di sebuah kota di mana energinya sangat positif dan orang-orangnya sangat menikmati hidup.

Well, that’s it for now. Sepertinya saya sudah kepalang menulis blog pertama dan kedua saya dengan diawali lirik lagu dan sepertinya akan terus begitu. Selain memudahkan saya untuk menulis, saya berharap ini juga bisa memudahkan kamu untuk ikut merasakan “My Year at VOA.” -

Love,
Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata   

Text



Dua minggu sudah berlalu. Waktu terasa berlari. Seperti kami yang terpaksa berlari jika pulang malam dan harus berjalan kaki sendiri. NooooJust kidding!

 
Turun-temurun

Tidak terasa kami sudah tinggal di Washington DC selama dua minggu. Saat ini saya dan Marsha masih beradaptasi dengan pekerjaan di VOA. Saya belajar mengedit video dengan Final Cut Pro, belajar mengoperasikan Dalet untuk mengisi suara dan menulis berita, serta mempelajari flow kerja dari program-program VOA yang telah ada. Sementara Marsha, bisa lihat di blognya hehehe.

Sejak awal di Jakarta saya bertemu dengan para staf VOA dan PPIA yang sangat baik hati. Mereka ramah dan amat membantu kami dalam mempersiapkan keberangkatan ke Washington DC.

Setali tiga uang dengan staf VOA di sini. Selama di sini, para staf VOA luar biasa baiknya pada kami. Mereka dengan murah hati mengajarkan dan memberikan kami ilmu yang belum pernah kami dapatkan. Dengan sabar mereka meladeni pertanyaan yang setiap saat saya ajukan karena tidak mengerti, atau karena sedikit telmi. Cuma itu? Tentu tidak. Banyak hal lain yang mereka bagi kepada kami. Pertama, informasi mengenai apartemen yang bagus yang bisa kami tempati. Mereka memberi saran dan membantu mencari tempat tinggal yang nyaman bagi kami, sejak kami datang ke Washington, DC. Tapi, hingga saat ini kami masih bertahan di apartemen kami di daerah Southwest Waterfront, yang dulunya ditempati sesama fellow, Mahatma Putra.

Kedua, barang-barang rumah tangga. Sebagian barang yang ada di apartemen kami adalah warisan dari fellow sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan sebelumnya lagi. Ternyata barang-barang tersebut turun-temurun digunakan para fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship. Contohnya, bed cover yang kami pakai, yang ditinggalkan Putra adalah milik Nurina Savitri. Saat ia mampir ke apartemen kami, ia berkata, “Ah…itu bed cover gue!”

Di apartemen kami ternyata sebagian barang berasal dari fellow dan sebagian lagi berasal dari staf VOA. Jadi memang sudah dari awal adanya program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship, para staf VOA memberi barang-barang bagi para fellow.

Hal itu masih berlangsung hingga saat ini. Mereka akan bertanya, “Masih butuh apa?”, “Gue punya di rumah, nanti gue bawa”. Hasilnya, satu set pisau, sprei, hingga televisi satu per satu berada di apartemen kami.

Apalagi yang dibagi? Makanan. Tiada hari tanpa makanan mampir di meja kami. Makan siang, cemilan, cupcakes, buah, coklat, roti, sampai permen datang silih berganti. Belum lagi jika makan di luar  seperti di restoran, maka makanan yang tidak habis akan dibungkus dan diberikan kepada kami. Alhasil bukan cuma perut kami yang terisi, tapi juga kulkas kami.

Betapa baiknya para staf VOA. Ah, senangnya jadi fellow.

Piknik
Hari Sabtu Minggu lalu, Mbak Patsy (Widakuswara) mengadakan piknik untuk staf VOA dan bagi kami para fellow. Piknik ini diadakan di Wheaton Regional Park, Maryland. Ini adalah piknik pertama saya sejak terakhir kalinya saya lakukan saat SD di Kebun Binatang Ragunan. Sudah lama sekali, ya?

Perlu waktu tiga jam bagi saya dan Marsha untuk mencapai Wheaton Regional Park. Metro yang kami gunakan ternyata cukup lama datang saat akhir pekan. Tak heran kalau ini mengingatkan saya pada kereta Commuter Line tercinta di Jakarta.

Lalu, kami harus nyasar karena supir taksi yang kami tumpangi tidak tahu jalan, meski telah menggenggam sebuah smartphone dengan penunjuk jalannya yang super canggih.

Tapi, begitu sampai di Wheaton Regional Park suasana hati kami langsung berubah. Tamannya luas didominasi rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Di beberapa tempat, tampak rombongan keluarga asik bercengkrama sambil menikmati barbecue. Tawa riang anak-anak pun menghiasi taman bersama-sama dengan kicauan burung. Oh, indahnya.

Setelah berjalan masuk taman, akhirnya kami tiba di tempat piknik kami, shelter F. Di sana sudah menunggu beberapa orang seperti Mbak Patsy, Pak Norman, Cak Supri, Mbak Endah, Mbak Rini, Mas Alam, Dimitrius, Ibu Susan, dan beberapa orang lainnya.

Mereka sudah memanggang sate, daging, dan udang, yang harum dan menggugah selera.Tidak lama, beberapa orang lainnya tiba. Mas Ian, Mbak Ade, Vici, Mba Nadia, dan keluarga mereka. Kami pun menyantap makanan bersama-sama.

Piknik seperti ini memberi kenangan tersendiri bagi kami. Selain pengalamannya, kami juga merasakan bagaimana orang-orang VOA bisa menjadi keluarga bagi kami. Piknik ini semakin memperlihatkan bagaimana keluarga besar VOA sangat terbuka menerima kami. Kami senang bisa menjadi bagian darinya.

Yes, we are family.

Cheers,
Retno

rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Marsha Ryadi dan Retno Lestari, dua penerima PPIA-VOA Broadcasting Fellowship tahun ini.

Marsha Ryadi dan Retno Lestari, dua penerima PPIA-VOA Broadcasting Fellowship tahun ini.