Saya sangat beruntung sekali bisa menjadi fellow pada tahun 2012-2013 dan bekerja di VOA yang berkantor di Washington, DC. Karena pada tahun inilah Amerika Serikat merayakan pesta demokrasi dengan banyak kegiatan politik yang berbasis di Washington, DC. Salah satunya tentu adalah inaugurasi atau pesta pelantikan presiden.
Saya masih ingat saat menonton pelantikan Barack Obama untuk pertama kalinya pada tahun 2009 di televisi. Layar televisi di rumah saya seolah penuh karena jutaan orang menghadiri inaugurasi. Tidak pernah terbayangkan saya akan hadir pada pesta pelantikan Obama pada masa jabatan yang kedua, di Washington, DC. Maka, tanggal 21 Januari yang lalu adalah salah satu kesempatan besar yang saya tunggu-tunggu.

***
Pelantikan presiden berlangsung pada siang hari kemudian diteruskan dengan parade sepanjang jalan Pennsylvania, dari Capitol menuju White House. Tim televisi di VOA sudah melakukan rapat jauh-jauh hari, untuk menentukan siapa akan bertugas di mana.
Sebagian tim bertugas di studio, sebagian dari atap gedung VOA, sebagian di Capitol, yang lain di National Mall, dan sisanya di Freedom Plaza.
Jadwal reportase langsung VOA kepada stasiun televisi di Indonesia, berlangsung sejak tanggal 21 dini hari. Saya kebagian bertugas di Freedom Plaza dan dijadwalkan melakukan reportase langsung mulai pukul 17:30.
Kantor VOA pun telah mengumumkan untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan dan sulitnya akses berjalan di seputar Gedung Capitol dan Gedung Putih karena banyaknya massa. Oleh karena itu kami dihimbau untuk datang ke lokasi yang sudah ditentukan, beberapa jam sebelum waktu siaran.
***

Saya datang ke Freedom Plaza, sebuah lapangan di tepi jalan Pennsylvania sekitar pukul 12 siang. Jujur, saya sempat agak menyesal karena tidak memberanikan diri untuk berada di dekat gedung Capitol saat Presiden Obama dilantik dan menyampaikan pidatonya. Saya melewatkan kesempatan untuk berdiri bersama ratusan ribu orang lainnya, untuk menyaksikan inaugasi terakhir Barack Obama. “Well, things happened for a reason,” kata saya dalam hati menghibur diri.
Untuk masuk ke wilayah di Freedom Plaza ternyata harus melewati screening dari petugas polisi. Antrian sangat panjang, karena polisi menggeledah tas orang satu per satu. Untungnya, dengan credential media, saya tidak perlu mengantri panjang. Tinggal mendekati petugas keamanan dan memperlihatkan ID dan mereka akan memeriksa semua barang bawaan.
Di Freedom Plaza, sebuah panggung bersusun yang cukup besar disediakan bagi media peliput inaugurasi. Namun demikian, kami tidak bisa masuk semua ke area media, karena diperlukan id card tambahan. Maklum, VOA adalah organisasi dengan banyak language service. Maka personel yang ingin turun ke lapangan juga multi negara. Berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Kami harus bergantian masuk dengan ID tambahan.
Karena jadwal reportase langsung saya pukul 18:30, maka saya belum diperbolehkan masuk. Saya pun sempat merana dan terlunta-lunta. Sendiri pula.

Mau ke pinggir jalan Pennsylvania, tidak bisa. Sepanjang jalan sudah penuh dengan penonton, yang tingginya hampir dua kali tinggi badan saya. Mana bisa saya melihat ke jalan saat nanti parade dimulai pukul 14:30?
Akhirnya saya hanya mondar mandir di Freedom Plaza, sampai ada seorang petugas yang menegur saya dan bertanya apakah saya mempunyai tiket. Tiket ini adalah tiket bagi warga yang bisa digunakan untuk duduk di beberapa tribun yang disediakan disepanjang jalan Pennsylvania.
“No,” jawab saya. Petugas itupun kemudian pergi.
Tidak lama kemudian, petugas itu datang lagi dan berkata, “Do you want to come in and sit on the bleachers?”
Petugas itu menawarkan saya untuk masuk ke tribun penonton di Freedom Plaza, yang letaknya tepat di samping tribun media. Wah, rejeki nomplok. Saya jadi freeloader! Kemudian saya pun duduk di tempat yang bisa dengan bebas melihat ke arah jalanan, tempat Presiden Obama dan rombongan nantinya akan lewat.
Setelah acara di Capitol usai, pengumuman terdengar dari pengeras suara bahwa parade akan dimulai. Parade mulai terlambat sekitar 40 menit dari jadwal.
Parade ini diikuti 8.800 orang dari sekitar 59 kelompok dan organisasi, mulai dari militer, marching band, kelompok cultural, dan kelompok-kelompok multi etnis lainnya yang merupakan simbolis dari keberagaman Amerika.
Rombongan pertama yang membuka parade adalah motor-motor polisi yagn membentuk display segitiga. Kemudian diikuti dengan unit-unit angkatan bersenjata Amerika.

Setelah itu menyusul rombongan presiden. Saya turut larut bersama kegembiraan para penonton di sekitar saya. Terutama saat limousine yang dinaiki Obama lewat. Tapi sayangnya, dia tidak keluar mobil saat lewat di depan saya.
Ya, paling tidak saya bisa melihat wajahnya saat ia tersenyum sambil melambaikan tangan.
***
Setelah rombongan kepresidenan lewat, penonton mulai meninggalkan tribun. Saya ikut turun dan menuju tribun media. Saya pun bisa masuk tanpa ID tambahan karena moment yang paling krusial sudah usai.
Di tribun media saya bisa melihat banyak sekali wajah-wajah ternama yang tengah menyampaikan laporannya. Saya pun merasa sangat senang bisa diberi kesempatan untuk berada di sana.

Tidak lama, Mbak Ade (Astuti) pun datang. Jadwal laporan langsung Mbak Ade, lebih dulu daripada saya. Kami pun bersiap-siap dengan catatan serta hasil riset kami, untuk di sampaikan kepada pemirsa.
Setelah berdiri berbeapa lama, saya baru sadar, cuaca yang tadinya hangat akibat sinar matahari, tiba-tiba menjadi dingin karena jam sudah menunjukkan pukul 17:00.
Tubuh saya mulai menggigil dan harus siap sedia melompat-lompat ditempat, untuk tetap menghangatkan diri.
Mbak Ade selesai. Inilah giliran saya.
Saya bertugas menyampaikan laporan langsung pada 3 stasiun televisi di Indonesia hingga pukul 19:15. Laporan pertama berjalan cukup lancar. Antara satu laporan dengan laporan yang lain berlangsung sekitar 30 menit. Saya pun tetap harus berdiri sambil menahan hawa dingin yang mulai sulit saya tahan.
Kameramen yang bertugas, Rob, membelikan saya teh panas. Kameramen lainnya, Cindy memberi saya penghangat tangan (hand warmers). Semua masih berlangsung baik, hingga menjelang laporan terakhir, ketika angin besar berhembus.
Saya harus bediri di atas kotak kecil karena ukuran tubuh saya yang mini. Untuk itu, saya harus mencoba mempertahankan keseimbangan ketika kaki saya sudah membeku. Maka ketika angin kencang dan dingin bertiup, saya pun kehilangan kesadaran beberapa detik hingga hampir terjatuh. Untung saya tersadar dan berhasil menyeimbangkan diri. Lima menit kemudian, laporan terakhir saya lewati dengan mulut yang setengah terkatup hingga merusak artikulasi alias ngomong belepotan.
Satu lagi pelajaran berharga saat harus melakukan siaran langsung. Selain persiapan materi dan persiapan mental, maka persiapan kondisi dan situasi cuaca juga tidak kalah penting.
Meskipun ada beberapa kendala, saya sangat menikmati tugas inaugrasi ini. It was really fun and exciting!
Oh, karena saya melewatkan pidato Presiden Obama, maka saya berniat di dalam hati. “Saya akan hadir lagi di sini!”
Lagi-lagi saya bermimpi!
Cheers,
Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari
Namun kini di Amerika, tidak ada yang membangunkan saya lagi di kala sahur. Hanya alarm ponsel yang setia menemani. Tidak ada suara kegaduhan pagi dini hari, kecuali suara musik hip hop di akhir pekan, dari permukiman warga yang jaraknya hanya 10 meter dari apartemen kami. Sekarang saya merindukan suara gaduh itu yang disertai dengan teriakan, “Sahur…sahur.”
Yang dekat, seringkali tidak terlihat.
Southwest Waterfront ternyata merupakan kawasan penting di Washington, DC. Dulunya, Southwest Waterfront dihuni oleh penduduk asli Amerika dan dijadikan daerah pertanian serta industri karena adanya akses sungai Potomac. Kemudian mulai pertengahan abad ke 19, Southwest menjadi wilayah komunitas yang beragam, termasuk pemerintah federal.




Mendapatkan “ilmu” gratis yang sesuai dengan minatmu juga sangat mudah. Bergabung saja dengan sebanyak-banyaknya mailing list organisasi. Selain mengirimkan newsletter, mereka juga mengirim undangan kegiatan. Sejauh ini, saya sudah langganan menerima informasi dari toko buku Politics & Prose; di mana sering diadakan peluncuran buku dan diskusi. VolunteerMatch untuk kegiatan sukarela bidang apapun, World Affairs DC untuk kegiatan yang berhubungan dengan kebijakan dan hubungan internasional, dan Meetup di mana kamu bisa bergabung dengan komunitas apapun dan bertemu dengan teman-teman baru dan belajar sesuatu yang baru. Misalkan kamu penggemar bahasa dan kebudayaan, kamu bisa menemukan komunitas, dari bahasa Spanyol sampai bahasa Islenska (bahasa di Eslandia). Tidak sebatas komunitas bahasa, ada juga ribuan komunitas lain yang ajaib.
Tiap orang di VOA memang punya tanggung jawab topik masing-masing dan pengerjaan dari awal sampai akhir untuk tiap berita harus diselesaikan sendiri. Jam kerja memang cukup panjang, karena untuk berita radio, saya harus menyesuaikan dengan jam siaran di Indonesia yang berbeda 11 jam. Tapi, tidak jadi masalah, karena itu semua terbayar dengan wawasan teknis, dan wawasan dunia yang bertambah.
Kantor VOA ada di gedung Federal Wilbur J. Cohen. Untuk masuk ke sini setiap orang akan diperiksa dengan ketat, kecuali bagi mereka yang telah mempunyai ID tetap. Lalu bagaimana dengan saya dan Marsha? ID kami adalah ID sementara, yang berlaku hingga satu tahun. Karena status ID ini, maka setiap hari kami harus masuk gedung dan meletakkan barang-barang kami di sebuah alat dengan monitor pendeteksi, persis seperti di bandara. Barang-barang elektronik seperti kabel, charger, ponsel, baterai, dan lain-lain, harus di keluarkan dari tas dan diletakkan di tempat terpisah yang telah disediakan. Kemudian tas serta jaket yang kami kenakan juga harus di lepas dan di masukkan ke alat detektor tersebut.
Kok, lama? Terkadang banyak orang yang mengantri di depan kami. Dan mereka harus bolak balik membongkar tas mereka untuk mengeluarkan barang-barang elektronik di dalamnya.
Kantor Indonesian Service ada di lantai dua. Saya berkali-kali salah belok setelah keluar dari lift. Harusnya ke kiri, saya malah ke kanan. Suatu hari saya bertemu seorang karyawan dari Service lain, dan kami asyik mengobrol. Setelah itu, saya kebingungan mencari ruangan Indonesian Service. Dia berkata, “Hey, you are from Indonesia. Your office is right there. This is Azerbaijan.” Ternyata harusnya saya ke sayap kanan. Mudah-mudahan dia tidak berpikir macam-macam. Hehehe.
Sulit Sinyal
Ada apa saja di ruangan Indonesian Service? Tentu seperti kantor pada umumnya. Terdiri dari cubicle, masing-masing dengan PC dan beberapa lainnya dengan komputer Mac. Setiap meja mempunyai headphone sendiri. Karena semua pekerjaan Audio/Video kami lakukan dari meja, sehingga kami harus menjaga audio agar tidak mengganggu rekan-rekan yang lain.
Meja siapa yang paling banyak alat kecantikannya? Kalau dari yang saya lihat, ya, Mbak Patsy. Yup, mau cari makeup apa saja sepertinya ada di mejanya. Awal saya datang ke VOA, saya pinjam punya Mbak Patsy (Thank you, Mbak).

Sebelum akhir pekan lalu berakhir, saya menyempatkan diri untuk ke daerah Dupont Circle. Disini lah saya merasa saya mulai menikmati tinggal di DC. Sebabnya, saya menemukan toko buku yang koleksi literaturnya sangat lengkap. Di Kramerbooks dan Afterwords, saya menemukan buku yang sudah bertahun-tahun saya cari. Senangnya bukan kepalang. Hari itu saya tambah senang karena ada acara Dance Circle di taman. Disitu, dari balita, kakek-nenek sampai transgender menari bersama dan disitu saya merasa nyaman. Akhirnya saya tinggal di sebuah kota di mana energinya sangat positif dan orang-orangnya sangat menikmati hidup.