Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

Inaugurasi, Perhelatan Akbar 4 Tahun Sekali

Saya sangat beruntung sekali bisa menjadi fellow pada tahun 2012-2013 dan bekerja di VOA yang berkantor di Washington, DC. Karena pada tahun inilah Amerika Serikat merayakan pesta demokrasi dengan banyak kegiatan politik yang berbasis di Washington, DC. Salah satunya tentu adalah inaugurasi atau pesta pelantikan presiden.

Saya masih ingat saat menonton pelantikan Barack Obama untuk pertama kalinya pada tahun 2009 di televisi. Layar televisi di rumah saya seolah penuh karena jutaan orang menghadiri inaugurasi. Tidak pernah terbayangkan saya akan hadir pada pesta pelantikan Obama pada masa jabatan yang kedua, di Washington, DC. Maka, tanggal 21 Januari yang lalu adalah salah satu kesempatan besar yang saya tunggu-tunggu.

image

***

Pelantikan presiden berlangsung pada siang hari kemudian diteruskan dengan parade sepanjang jalan Pennsylvania, dari Capitol menuju White House. Tim televisi di VOA sudah melakukan rapat jauh-jauh hari, untuk menentukan siapa akan bertugas di mana.

Sebagian tim bertugas di studio, sebagian dari atap gedung VOA, sebagian di Capitol, yang lain di National Mall, dan sisanya di Freedom Plaza.

Jadwal reportase langsung VOA kepada stasiun televisi di Indonesia, berlangsung sejak tanggal 21 dini hari. Saya kebagian bertugas di Freedom Plaza dan dijadwalkan melakukan reportase langsung mulai pukul 17:30.

Kantor VOA pun telah mengumumkan untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan dan sulitnya akses berjalan di seputar Gedung Capitol dan Gedung Putih karena banyaknya massa. Oleh karena itu kami dihimbau untuk datang ke lokasi yang sudah ditentukan, beberapa jam sebelum waktu siaran.

***

image

Saya datang ke Freedom Plaza, sebuah lapangan di tepi jalan Pennsylvania sekitar pukul 12 siang. Jujur, saya sempat agak menyesal karena tidak memberanikan diri untuk berada di dekat gedung Capitol saat Presiden Obama dilantik dan menyampaikan pidatonya. Saya melewatkan kesempatan untuk berdiri bersama ratusan ribu orang lainnya, untuk menyaksikan inaugasi terakhir Barack Obama. “Well, things happened for a reason,” kata saya dalam hati menghibur diri.

Untuk masuk ke wilayah di Freedom Plaza ternyata harus melewati screening dari petugas polisi. Antrian sangat panjang, karena polisi menggeledah tas orang satu per satu. Untungnya, dengan credential media, saya tidak perlu mengantri panjang. Tinggal mendekati petugas keamanan dan memperlihatkan ID dan mereka akan memeriksa semua barang bawaan.

Di Freedom Plaza, sebuah panggung bersusun yang cukup besar disediakan bagi media peliput inaugurasi. Namun demikian, kami tidak bisa masuk semua ke area media, karena diperlukan id card tambahan. Maklum, VOA adalah organisasi dengan banyak language service. Maka personel yang ingin turun ke lapangan juga multi negara. Berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Kami harus bergantian masuk dengan ID tambahan.

Karena jadwal reportase langsung saya pukul 18:30, maka saya belum diperbolehkan masuk. Saya pun sempat merana dan terlunta-lunta. Sendiri pula.

Mau ke pinggir jalan Pennsylvania, tidak bisa. Sepanjang jalan sudah penuh dengan penonton, yang tingginya hampir dua kali tinggi badan saya. Mana bisa saya melihat ke jalan saat nanti parade dimulai pukul 14:30?

Akhirnya saya hanya mondar mandir di Freedom Plaza, sampai ada seorang petugas yang menegur saya dan bertanya apakah saya mempunyai tiket. Tiket ini adalah tiket bagi warga yang bisa digunakan untuk duduk di beberapa tribun yang disediakan disepanjang jalan Pennsylvania.

No,” jawab saya. Petugas itupun kemudian pergi.

Tidak lama kemudian, petugas itu datang lagi dan berkata, “Do you want to come in and sit on the bleachers?”

Petugas itu menawarkan saya untuk masuk ke tribun penonton di Freedom Plaza, yang letaknya tepat di samping tribun media. Wah, rejeki nomplok. Saya jadi freeloader! Kemudian saya pun duduk di tempat yang bisa dengan bebas melihat ke arah jalanan, tempat Presiden Obama dan rombongan nantinya akan lewat.

Setelah acara di Capitol usai, pengumuman terdengar dari pengeras suara bahwa parade akan dimulai. Parade mulai terlambat sekitar 40 menit dari jadwal.

Parade ini diikuti 8.800 orang dari sekitar 59 kelompok dan organisasi, mulai dari militer, marching band, kelompok cultural, dan kelompok-kelompok multi etnis lainnya yang merupakan simbolis dari keberagaman Amerika.

Rombongan pertama yang membuka parade adalah motor-motor polisi yagn membentuk display segitiga. Kemudian diikuti dengan unit-unit angkatan bersenjata Amerika.

image

Setelah itu menyusul rombongan presiden. Saya turut larut bersama kegembiraan para penonton di sekitar saya. Terutama saat limousine yang dinaiki Obama lewat. Tapi sayangnya, dia tidak keluar mobil saat lewat di depan saya.

Ya, paling tidak saya bisa melihat wajahnya saat ia tersenyum sambil melambaikan tangan.

***

Setelah rombongan kepresidenan lewat, penonton mulai meninggalkan tribun. Saya ikut turun dan menuju tribun media. Saya pun bisa masuk tanpa ID tambahan karena moment yang paling krusial sudah usai.

Di tribun media saya bisa melihat banyak sekali wajah-wajah ternama yang tengah menyampaikan laporannya. Saya pun merasa sangat senang bisa diberi kesempatan untuk berada di sana.

image

Tidak lama, Mbak Ade (Astuti) pun datang. Jadwal laporan langsung Mbak Ade, lebih dulu daripada saya. Kami pun bersiap-siap dengan catatan serta hasil riset kami, untuk di sampaikan kepada pemirsa. 

Setelah berdiri berbeapa lama, saya baru sadar, cuaca yang tadinya hangat akibat sinar matahari, tiba-tiba menjadi dingin karena jam sudah menunjukkan pukul 17:00.

Tubuh saya mulai menggigil dan harus siap sedia melompat-lompat ditempat, untuk tetap menghangatkan diri. 

Mbak Ade selesai. Inilah giliran saya.

Saya bertugas menyampaikan laporan langsung pada 3 stasiun televisi di Indonesia hingga pukul 19:15. Laporan pertama berjalan cukup lancar. Antara satu laporan dengan laporan yang lain berlangsung sekitar 30 menit. Saya pun tetap harus berdiri sambil menahan hawa dingin yang mulai sulit saya tahan.

Kameramen yang bertugas, Rob, membelikan saya teh panas. Kameramen lainnya, Cindy memberi saya penghangat tangan (hand warmers). Semua masih berlangsung baik, hingga menjelang laporan terakhir, ketika angin besar berhembus.

Saya harus bediri di atas kotak kecil karena ukuran tubuh saya yang mini. Untuk itu, saya harus mencoba mempertahankan keseimbangan ketika kaki saya sudah membeku. Maka ketika angin kencang dan dingin bertiup, saya pun kehilangan kesadaran beberapa detik hingga hampir terjatuh. Untung saya tersadar dan berhasil menyeimbangkan diri. Lima menit kemudian, laporan terakhir saya lewati dengan mulut yang setengah terkatup hingga merusak artikulasi alias ngomong belepotan. 

Satu lagi pelajaran berharga saat harus melakukan siaran langsung. Selain persiapan materi dan persiapan mental, maka persiapan kondisi dan situasi cuaca juga tidak kalah penting.

Meskipun ada beberapa kendala, saya sangat menikmati tugas inaugrasi ini. It was really fun and exciting!

Oh, karena saya melewatkan pidato Presiden Obama, maka saya berniat di dalam hati. “Saya akan hadir lagi di sini!”

Lagi-lagi saya bermimpi!

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Puasa Lebih Indah di Negeri Sendiri

Kaleng, kayu, sodet, panci, dan penggorengan telah disiapkan sejak malam hari. Bukan untuk memasak, tetapi  untuk membuat suara gaduh guna membangunkan warga di hari pertama sahur dan hari-hari berikutnya. Maklum, di awal puasa biasanya bedug belum selesai dibuat. Gantinya, peralatan dapur hingga tiang listrik jadi sasaran untuk dipukul. Inilah kegiatan setiap tahun pada bulan Ramadan, di wilayah tempat tinggal saya di Bogor, Jawa Barat.

Saat itu saya seringkali mengumpat, karena jam belum menunjukkan pukul 2 pagi mereka sudah membangunkan kami untuk sahur. Padahal, saya dan keluarga biasa tidur larut malam karena baru pulang dari kerja atau sedang mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Foto: ReutersNamun kini di Amerika, tidak ada yang membangunkan saya lagi di kala sahur. Hanya alarm ponsel yang setia menemani. Tidak ada suara kegaduhan pagi dini hari, kecuali suara musik hip hop di akhir pekan, dari permukiman warga yang jaraknya hanya 10 meter dari apartemen kami. Sekarang saya merindukan suara gaduh itu yang disertai dengan teriakan, “Sahur…sahur.” 

Di Indonesia, suasana berpuasa sangat terasa sekali karena memang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Setiap kaki melangkah, pasti bertemu dengan orang-orang yang sedang menahan nafsu akan haus, lapar, serta emosi. Tempat makan yang terbuka lantas menutupi diri dengan selembar kain agar tidak mengganggu orang-orang yang berpuasa. Suara-suara orang mengaji sangat manis terdengar di telinga bak lantunan nyanyian berirama dan berharmonisasi. Iklan-iklan di TV pun bertemakan Ramadan. Selain itu, menu-menu khas bulan puasa seperti kolak, es buah, es blewah, hampir tiap hari dihidangkan baik di meja makan, maupun di meja para pedagang.

Sementara di sini? Tidak ada panggilan sahur, tidak ada suara adzan, orang-orang pun mayoritas tidak berpuasa. Selain itu, bulan puasa yang jatuh di musim panas membuat waktu puasa menjadi panjang, sekitar 17 jam. Tantangannya bertambah besar dengan suhu panas yang jauh lebih panas di banding di Jakarta.

Ketika harus bekerja di luar kantor di bawah terik matahari, maka tubuh akan langsung mengalami dehidrasi. Saya sempat tidak bisa bekerja dengan baik karena pusing dan lemas akibat tidak mendapat asupan makanan dan minuman, padahal cuaca sangat panas.

Akhirnya pertanyaannya bukan lagi, “Bolong berapa puasanya?” Tetapi berganti menjadi, “Sukses puasanya berapa hari?”

Begitulah pengalaman puasa pertama saya di luar negeri. Bulan puasa ini membuat saya rindu berkumpul bersama keluarga di rumah.

Bulan puasa memang sedikit lagi usai. Nikmatilah puasa di tanah air, karena setelah merasakan berpuasa di negeri orang, maka saya menyadari bahwa Indonesia adalah tempat paling indah untuk berpuasa.

Salam,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari

Southwest Waterfront, Kawasan Apartemen Kami yang Bersejarah

Yang dekat, seringkali tidak terlihat.

Mungkin inilah yang menggambarkan apa yang Marsha dan saya temukan di sekitar tempat tinggal kami, di Southwest Waterfront. Southwest Waterfront dulunya dikenal sebagai daerah yang rawan kejahatan. Namun dalam beberapa tahun belakangan, daerah ini telah direhabilitasi dan menjadi tempat yang layak dan relatif aman untuk dihuni.  

Di awal kedatangan kami, banyak orang yang khawatir dengan daerah tempat kami tinggal. Kami pun sempat cemas dengan kabar tersebut. Namun lambat laun kami mulai terbiasa dan hingga saat ini kami cukup merasa nyaman tinggal di daerah yang hanya 20 menit berjalan dari kantor VOA.

Setelah kurang lebih tiga bulan, kami baru memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sepanjang jalan antara apartemen kami dengan kantor VOA. Ada beberapa papan yang berisi tulisan serta foto-foto mengenai sejarah Southwest Waterfront.

Southwest Waterfront ternyata merupakan kawasan penting di Washington, DC. Dulunya, Southwest Waterfront dihuni oleh penduduk asli Amerika dan dijadikan daerah pertanian serta industri karena adanya akses sungai Potomac. Kemudian mulai pertengahan abad ke 19, Southwest menjadi wilayah komunitas yang beragam, termasuk pemerintah federal.

Namun, setelah perang sipil tahun 1861-1865, kawasan Southwest Waterfront menjadi tempat tinggal bagi warga miskin di Washington. Kawasan ini dibagi menjadi dua. Di bagian barat dihuni imigran asal Skotlandia, Irlandia, Jerman, dan Eropa timur. Sementara di bagian timur, dihuni komunitas kulit hitam.

Pada era 1950-an, Southwest Waterfront dianggap sebagai area bermasalah oleh pemerintah distrik dan federal, karena padatnya permukiman dan perumahan yang kondisinya di bawah standar. Setelah itu, sebuah rencana besar untuk merehabilitasi Southwest ditetapkan.

Salah satunya adalah proses pembaruan menjadi wilayah urban dengan membangun superblok dan juga jalan bebas hambatan, yang akhirnya menjadikan Southwest Waterfront menjadi tempat tinggal kami yang sekarang. Pembangunan pun masih terus berjalan.  

Arena Stage

Salah satu tempat yang sangat menarik di Southwest Waterfront adalah Arena Stage, sebuah teater yang seringkali menampilkan pertunjukan baik klasik maupun modern. Arena Stage belum lama direnovasi, sehingga bangunannya tampak modern dan sangat indah.  

Saya dan salah satu intern di VOA, Desideria Cempaka, tidak melewatkan kesempatan saat diberi dua tiket menonton oleh Ian Umar, salah seorang penyiar VOA.  Pertunjukan yang kami tonton saat itu berjudul “The Normal Heart.”The Normal Heart yang merupakan drama dari otobiografi Larry Krammer ini pernah dipentaskan di Broadway. The Normal Heart bercerita tentang awal munculnya penyakit HIV/AIDS pada kurun waktu 1981-1984 di New York City yang dilihat dari sudut pandang seorang tokoh aktivis kelompok advokasi HIV bernama Ned Weeks.Cerita The Normal Heart sangat menyentuh, hingga para penonton yang memenuhi salah satu ruangan di Arena Stage bernama Kreeger Theater, tidak bisa menahan air matanya. Begitupula dengan Desy dan saya. Standing ovation pun mengakhiri pengalaman saya dan Desy menonton untuk pertama kalinya di Arena Stage. Sayang Marsha tidak bisa ikut serta, karena dia menonton konser salah satu band favoritnya.  Masih banyak lagi, tempat-tempat menarik yang akan kami jelajahi di sekitar Southwest Waterfront, dan juga di Washington DC.  

Cheers,

Retno
rlestari@voanews.com
@retno_lestari 

Home Is Where The Heart Is

But everything that I hold dear

Is close enough to touch

(Elvis Presley – “Home Is Where the Heart Is”)


KRI Dewa Rutji saat merapat di Pelabuhan Baltimore

Sampai bulan kedua di sini, saya masih tidak yakin, apa itu homesick. Katanya, homesick itu perasaan depresi atau melankolis kala berada jauh dari rumah dan keluarga. Melankolis, sih, memang “sudah dari sananya.” Tapi tidak sampai depresi. Karena di sini, banyak yang mengingatkan saya pada Indonesia.


Dalam tiga  minggu ini saya hadir ke tiga acara yang merepresentasikan Indonesia. Yang pertama, saya pergi ke kediaman Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Bapak Dino Patti Djalal. Hari itu diadakan Pasar Minang. Di sini, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya. Ternyata jumlah kami cukup banyak disini. Selain menikmati penampilan tari daerah oleh anak-anak  dan dangdut ibu-ibu, saya sukses membawa pulang batagor, cabe ijo a la Padang dan rempeyek.

 

Acara yang kedua, saya dan teman-teman VOA datang meliput kegiatan pemutaran film ’40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy’ http://www.40yearsofsilence.com/ di West End Cinema – sebuah teater kecil yang banyak menayangkan film independen.  Film ini adalah kontra-naratif dari peristiwa G30S/PKI yang dibuat oleh Robert Lemelson, seorang antropolog pada UCLA. Merinding rasanya mengetahui sisi lain dari peristiwa itu melalui sebuah riset tahunan yang didokumentasikan secara apik. Dan seperti biasa, merinding yang seperti itu selalu saya alami kalau ada orang dari negara lain yang lebih mengetahui tentang Indonesia daripada kita.

 

Pada akhir minggu, lagi-lagi saya datang ke acara yang membuat saya merasa dekat dengan rumah.  Bersama teman-teman VOA, saya datang ke pelabuhan Baltimore di Maryland. Letaknya kira-kira satu setengah jam ke utara Washington DC. Di teluk itu, kapal kebanggaan Indonesia; Dewa Rutji, berlabuh sebagai bagian dari Star Spangled Sailabration. Di atas kapal, ada banyak kegiatan khas Indonesia; seperti tari Bali, pertunjukan angklung dan poco-poco berasama para kadet Angkatan Laut RI. Tidak hanya orang Indonesia yang berpartisipasi, orang bule pun mengikuti keseruannya. Yang paling berkesan, saya bertemu Ibu Sri Mulyani disana, yang kebetulan menemani anaknya mengisi acara di atas Dewa Rutji.

Warung Pandawa, Philadelphia


Mau tau apa yang paling mencengangkan bagi saya dan Retno? Beberapa minggu yang lalu kami diajak ke kota Philadelphia di negara bagian Pennsylvania. Disana ada restoran Indonesia  Jawa Timuran yang masakannya lezat sekali. Selain itu ada warung Pandawa, di mana segala macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman ada di sana. Mulai dari minyak rambut Tancho sampai jajanan pasar pun ada. Saya sampai terharu bisa makan kue lumpur dan kue cucur.


Kalau tahun depan adalah kesempatanmu jadi fellow VOA, pesan saya, jangan terlalu khawatir dengan perut Indonesiamu ataupun khawatir dengan the so-called pengaruh budaya barat. Take it easy, ‘cause home is where the heart is.

 

Love,

Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Hari Baru, Aktivitas Baru

Langit Washington, DC

Orang Amerika individualitis. Itulah bayangan saya dan Retno sebelum datang ke Amerika. Tapi, pada kenyataannya, kami menemukan banyak sekali kegiatan kelompok dan komunitas.

Apa pun yang kamu minati, pasti kamu bisa menemukan kelompok dengan minat yang sama. Dari awal kepindahan saya kesini, saya suka mencari kegiatan yang bermanfaat dan seringkali, kegiatan yang ditawarkan itu gratis!

Seperti apa saja acara gratis di sini? Beberapa yang saya datangi baru-baru ini adalah konser Memorial Day di pelataran Gedung DPR AS alias Capitol Hill, dan acara pemutaran film “The Lady,” yang menceritakan kisah Aung San Suu Kyi. Saya pengagum Suu Kyi jadi senang sekali ada kegiatan ini. Selain pemutarannya diadakan di sebuah teater yang sangat apik di Navy War Memorial ada acara diskusinya pula mengenai keberlanjutan demokratisasi di Burma.

Pembicaranya adalah seorang dari Foreign Policy Initiative dan seorang jurnalis dari VOA, bernama Win Min. Ternyata kolega saya dari Siaran Bahasa Burma. Ia adalah mantan aktivis saat junta militer di Burma berkuasa dan seorang lulusan Harvard. Saya jadi berpikir, sepertinya VOA menyimpan banyak sekali orang-orang yang menarik.

Mendapatkan “ilmu” gratis yang sesuai dengan minatmu juga sangat mudah. Bergabung saja dengan sebanyak-banyaknya mailing list organisasi. Selain mengirimkan newsletter, mereka juga mengirim undangan kegiatan.  Sejauh ini, saya sudah langganan menerima informasi dari toko buku Politics & Prose; di mana sering diadakan peluncuran buku dan diskusi. VolunteerMatch untuk kegiatan sukarela bidang apapun, World Affairs DC untuk kegiatan yang berhubungan dengan kebijakan dan hubungan internasional, dan Meetup di mana kamu bisa bergabung dengan komunitas apapun dan bertemu dengan teman-teman baru dan belajar sesuatu yang baru. Misalkan kamu penggemar bahasa dan kebudayaan, kamu bisa menemukan komunitas, dari bahasa Spanyol sampai bahasa Islenska (bahasa di Eslandia). Tidak sebatas komunitas bahasa, ada juga ribuan komunitas lain yang ajaib.

Sementara banyak pertanyaan di kepala kita berdua, saya dan Retno terus mencari jawabannya sambil tetap melakukan sesuatu yang seru. Sesuatu yang kami akan segera coba adalah kelas olah raga Yala dan yoga gratis di tepi sungai. Menarik, kan?

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Like A Rolling Stone

How does it feel?
To be on your own
With no direction home
Like a complete unknown
Like a rolling stone?


 (“Like a Rolling Stone” - Bob Dylan)

Saya (kiri) dan rekan sesama fellow, Eno, di depan kantor pusat VOA

Seminggu kemarin saya mulai sulit menemukan waktu untuk menulis di blog ini. Pekerjaan di kantor dan di apartment sedang banyak dalam waktu yang bersamaan. Terima kasih kepada Bob Dylan, yang banyak menulis lirik tentang kelas pekerja, saya mendapat inspirasi menulis blog. Selain karena ia berulang tahun ke-71; bulan ini, tahun lalu saya sedang menonton konsernya. Waktu setahun memang cepat bergulir, dan sering kali, keberadaan kita selanjutnya tidak terduga. Sampai sekarang saja saya masih suka merasa aneh, “Kok, bisa sih sampai kerja di sini?’

Kali ini saya akan bercerita soal pekerjaan saya di VOA karena saya yakin, ada calon fellow yang penasaran. Sulit memang mendapatkan informasi itu, meskipun, pada dasarnya kamu pasti tahu kerjaan jurnalis sehari-hari. Saya pun, baru mendapatkan informasi lebih lengkapnya setelah bertanya-tanya ke fellow sebelumnya, tidak hanya via Facebook dan email, tetapi juga ketemu langsung.

Kuncinya, harus banyak tanya. Kenapa? Karena Amerika itu jaraknya setengah bola dunia dari Indonesia. Kalau kamu tidak menemukan banyak informasi, tidak banyak tanya dan sebenarnya tidak yakin, tidak mungkin naik travel Rp 45.000 semacam Jakarta-Bandung PP untuk pulang kampung, kan?

Di minggu keempat ini, saya masih berfokus dengan pekerjaan di lingkup radio, karena background saya yang memang dari radio. Untuk lingkup TV, mungkin kamu bisa baca blog teman saya, Retno. Tetapi nantinya saya akan dikaryakan juga oleh tim TV. Minggu depan saya akan mulai belajar.

Di VOA banyak sekali sumber berita yang bisa digunakan dan dijadikan perbandingan. It’s a good place to be if you are a news junkie. Ketika  berita sudah dipilih, tugas saya untuk menterjemahkan, merekam suara, mengedit audio, mengirim paket laporan dan siaran langsung ke lebih dari 200 afiliasi radio di Indonesia. Topik-topik yang biasa saya garap: bisnis dan ekonomi, politik, serta sains. Semua dikerjakan sendiri. 

Meja kerja saya (Marsha) di VOATiap orang di VOA memang punya tanggung jawab topik masing-masing dan pengerjaan dari awal sampai akhir untuk tiap berita harus diselesaikan sendiri. Jam kerja memang cukup panjang, karena untuk berita radio, saya harus menyesuaikan dengan jam siaran di Indonesia yang berbeda 11 jam. Tapi, tidak jadi masalah, karena itu semua terbayar dengan wawasan teknis, dan wawasan dunia yang bertambah.

Supaya ada sedikit gambaran, inilah berita-berita yang saya susun kemarin sebelum siaran dari studio VOA:

Sains mengenai pemetaan sumber air di Afrika Utara oleh peneliti Inggris;

Politik kelompok-kelompok luar pada pemilihan presiden Amerika 2012;

Saham di Amerika, Eropa, dan Asia, nilai tukar mata uang dan beberapa harga komoditas;

Kondisi politik dan ekonomi Eropa, khususnya di Yunani;

Perkembangan saham Facebook pasca-IPO; dan


Kisah perempuan yang bekerja di tambang minyak

Begitulah hari ini. Saya akan cerita lebih banyak lagi tentang kerjaan saya lain kali karena sekarang sudah pukul 10 pagi waktu DC. Saatnya saya mulai memantau apa yang terjadi di dunia. Have a good day and take it easy, okay!

Love,
Mars

sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata

Fun Facts about VOA’s Office: Part 1

Sudah hampir sebulan saya dan Marsha bekerja di VOA. Banyak hal unik, menarik, menyenangkan, serta lucu yang kami temukan di kantor VOA. Bukan saja orang-orangnya, tetapi juga tempatnya.

Pengamanan Ketat

Kantor VOA ada di gedung Federal Wilbur J. Cohen. Untuk masuk ke sini setiap orang akan diperiksa dengan ketat, kecuali bagi mereka yang telah mempunyai ID tetap. Lalu bagaimana dengan saya dan Marsha? ID kami adalah ID sementara, yang berlaku hingga satu tahun. Karena status ID ini, maka setiap hari kami harus masuk gedung dan meletakkan barang-barang kami di sebuah alat dengan monitor pendeteksi, persis seperti di bandara. Barang-barang elektronik seperti kabel, charger, ponsel, baterai, dan lain-lain, harus di keluarkan dari tas dan diletakkan di tempat terpisah yang telah disediakan. Kemudian tas serta jaket yang kami kenakan juga harus di lepas dan di masukkan ke alat detektor tersebut.

Cukup? Tentu tidak. Jika kami melewati metal detector (bentuknya kotak seperti seperti pintu) dan berbunyi maka kami akan diminta untuk melepas benda berlogam yang ada di badan kami. Apa saja? Sepatu, ikat pinggang, bandana besi, ID, jam tangan, hingga jepitan rambut. Yup, sebuah jepitan rambut kecil bisa membuat metal detector berbunyi. Apakah lantas kami harus melepas semuanya? Untungnya tidak. Kami masih boleh mengenakan sepatu. Namun setelah melewati metal detector, kami akan disuruh berdiri merentangkan tangan dan kaki untuk diperiksa menggunakan tongkat metal detector.

Selesai? Belum. Kami harus memperlihatkan ID kami ke security. Proses ini bisa memakan waktu lima menit hingga 20 menit.

Kok, lama? Terkadang banyak orang yang mengantri di depan kami. Dan mereka harus bolak balik membongkar tas mereka untuk mengeluarkan barang-barang elektronik di dalamnya.

Prosedur ini berlangsung konsisten setiap harinya. Beda sekali dengan di Indonesia. Oleh karena itu kami sudah bersiap menghadapi pemeriksaan setiap harinya. Saya bahkan sampai memakai sendal jepit ke kantor karena sepatu saya selalu membuat metal detector berbunyi, dan membuat saya bolak-balik diperiksa.

Satpam VOA Berbahasa Indonesia

Masih soal kemananan. Kali ini soal orangnya. Di kantor VOA, ada beberapa pintu. Tapi kami hanya bisa masuk dari satu pintu saja yang dijaga tiga hingga lima orang petugas. Uniknya, ada seorang satpam berkulit hitam yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Tiap kami lewat, dia akan selalu berkata,

“Apa kabar?”

“Selamat pagi.”

“Selamat siang.”

Lalu saat kami jawab sapaannya, dengan menggunakan bahasa Indonesia, dia  langsung tidak mengerti. Hahaha.


Gedung Bingung

Butuh waktu dua minggu bagi saya untuk menghafal lorong dan bagian di dalam gedung VOA. Gedung VOA ini sangat luas. Sayap kanan dan sayap kiri sama bentuknya.

Kantor Indonesian Service ada di lantai dua. Saya berkali-kali salah belok setelah keluar dari lift. Harusnya ke kiri, saya malah ke kanan. Suatu hari saya bertemu seorang karyawan dari Service lain, dan kami asyik mengobrol. Setelah itu, saya kebingungan mencari ruangan Indonesian Service. Dia berkata, “Hey, you are from Indonesia. Your office is right there. This is Azerbaijan.” Ternyata harusnya saya ke sayap kanan. Mudah-mudahan dia tidak berpikir macam-macam. Hehehe.

Pekerjaan yang saya lakukan mengharuskan saya sering ke lantai G (bawah tanah). Di sana ada studio siaran, ruang editing, dan ruang ENG (Electronic News Gathering). Studio dan ruang ENG letaknya bersebrangan. Dan karena lorongnya terlihat sama, saya sering tertukar. Sampai sekarang pun saya masih suka nyasar.

Sulit Sinyal

Jangan harap karena kantor VOA adalah kantor media, maka sinyal handphone ada di mana-mana. Sinyal hanya ada di ruangan masing-masing Service. Setelah keluar dari ruangan dan masuk ke lorong, maka sinyal hilang. Banyak sekali blind spot di gedung VOA.

Jangan harap bisa bermain dengan smartphone di toilet. Karena sinyal SOS. Jadi, saat kami ada di luar ruangan Service, maka kami tidak akan bisa di kontak. Apalagi ruang editing di lantai bawah tanah yang kedap sinyal. Maka telepon kantor menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan.

Mengapa demikian? Wah, itu yang kami tidak tahu. Ada sebuah cerita tentang gedung VOA yang sudah cukup tua ini. Tapi kami perlu memverifikasi lagi.

 
Ruangan Indonesian Service

Ruangan Indonesian Service sangat besar. Panjangnya kira-kira 25 meter dengan lebar 12 meter. Kurang lebih seluas lapangan basket Internasional. Jumlah pegawai di Indonesian Service kira-kira 60 orang. Kami pikir Indonesian Service adalah yang paling besar. Ternyata, China Branch lebih besar lagi. Seperti menunjukkan jumlah pendudukanya, kan? Hehehe.

Ada apa saja di ruangan Indonesian Service? Tentu seperti kantor pada umumnya. Terdiri dari cubicle, masing-masing dengan PC dan beberapa lainnya dengan komputer Mac. Setiap meja mempunyai headphone sendiri. Karena semua pekerjaan Audio/Video kami lakukan dari meja, sehingga kami harus menjaga audio agar tidak mengganggu rekan-rekan yang lain.

 
Makeup

Satu hal yang membuat saya tersenyum saat masuk ke ruangan Indonesian Service adalah banyaknya alat-alat kecantikan, alias makeup di meja-meja kerja. Hair dryer, flat iron, curling iron juga ada. Cermin terlihat di mana-mana.

Meja siapa yang paling banyak alat kecantikannya? Kalau dari yang saya lihat, ya, Mbak Patsy. Yup, mau cari makeup apa saja sepertinya ada di mejanya. Awal saya datang ke VOA, saya pinjam punya Mbak Patsy (Thank you, Mbak).

Wanita-wanita di Indonesian Service memang banyak yang jago dandan dan memang diharuskan bisa dandan. Mbak Patsy, Mba Vivit, Mba Debbie, Mbak Ade, Mbak Nadia, Mba Ane, Vina, Mbak Yuni, Vici, dan yang lain, tampil cantik dengan DIY (Do-It-Yourself) makeupnya. Sepertinya kami tidak perlu kursus makeup karena banyak guru di sini.

Change Has Come

It’s been a long, a long time coming
But I know a change gone come

Sam Cooke (22 Januari 1931 – 11 Desember 1964)

Ini adalah minggu ketiga saya bekerja untuk VOA dan tinggal di Washington, DC. Adakah yang berubah? Kecuali diri saya, semuanya berubah. Change has come.

Dari dulu saya selalu membayangkan betapa nyamannya kalau bisa tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor, pulang-pergi jalan kaki, di perjalanan menuju kantor bisa melewati taman yang bersih, udaranya tanpa polusi, semua orang sopan di jalan.

Semua menunggu gilirannya lewat dan tidak ada yang bersiul mencoba mengganggu. Lalu, sepulangnya dari kantor, saya masih punya waktu untuk olah raga, memasak dan membaca buku sebelum akhirnya tertidur pulas tanpa harus merencanakan untuk bangun beberapa jam lebih awal agar tidak telat sampai ke kantor.

Sekarang, semuanya itu menjadi keseharian saya. Selain nyaman, hidup juga lebih efisien:

Jalan kaki dari apartemen ke kantor: 15 menit

Jalan kaki dari apartemen ke toserba: lima menit

Jalan kaki dari apartemen ke stasiun Metro: lima menit

Mencuci pakaian di ruang laundry apartemen: 35 menit. Mengeringkan: 45 menit

Tidak ada lagi antrean TransJakarta yang tidak bisa diprediksi durasinya, tidak ada lagi malas masak karena minimarket dekat rumah tidak menjual sayuran segar, dan tidak ada lagi “acara” melongok ke atas untuk memastikan apakah matahari akan muncul untuk mengeringkan pakaian saya.

Tetapi, teman-teman saya di sini juga (masih) bisa dihitung.

Tantangan terbesar ketika awal tinggal di Amerika adalah banyak sekali urusan administrasi yang harus dilakukan sendiri. Mulai urusan imigrasi, pekerjaan, tempat tinggal sampai nantinya, urusan membayar pajak. Rasanya seperti memulai kehidupan yang benar-benar baru. Beruntung, teman-teman yang bekerja di VOA Indonesian Service sangat membantu saya dalam beradaptasi. Misalnya, mereka rela menunggu berjam-jam di bandara untuk menjemput saya (ingat kan, cerita saya soal perjalanan ke DC yang dramatis?). Mereka juga mau menemani saya membuka rekening bank yang banyak persyaratannya. Di luar jam kantor, mereka suka mengajak saya ke tempat-tempat hiburan. Dari tempat-tempat itu lah saya bertemu teman-teman baru.

Orang-orang yang saya temui di jalan mau pun di tempat-tempat yang saya kunjungi, sopan dan ramah. Saya mau cerita soal keramahan. Orang-orang di sini tidak sungkan untuk tersenyum dan sekedar mengucapkan, “How’s it going?” atau “Hey, how are you?” padahal tidak saling kenal, kemudian lewat begitu saja dengan mengucapkan “Have a good day!” atau “You take care of yourself, okay!” Bahkan, salah seorang satpam gedung VOA yang berkulit hitam dan berbadan besar, selalu menyapa saya dengan ucapan, “Selamat pagi, sampai jumpa lagi!” Walaupun hanya kata-kata itu yang dia tahu, tapi setidaknya dia berusaha untuk membuat saya senang ketika memulai hari. Little things count a great deal.

Sekarang saya mau cerita soal kesopanan. Kamis minggu lalu saya berkesempatan untuk datang ke sebuah konser. Tidak bisa dipungkiri, salah satu keuntungan tinggal di luar negeri bagi pencinta konser seperti saya adalah; banyak konser dan tiket murah, hehe. Konser ini diadakan di 9:30 Club dia daerah U Street. Saya pergi ke sana sendiri usai siaran dan ini pengalaman pertama saya nonton band di Amerika. Sebenarnya ketika pertunjukan, saya langsung rindu teman-teman saya di Jakarta dan crowd yang biasa saya temukan. Mereka seru, banyak berinteraksi dengan sesama dan tidak malu untuk nyanyi bersama. Disini, penonton konser cenderung diam dan asik sendiri. Itu nilai minusnya menurut saya. Tapi nilai plusnya adalah: tidak ada yang memotong antrean masuk atau memaksakan diri untuk menerobos sampai ke depan barikade. Tidak ada orang yang mengambil tempat orang lain. Semua sopan dan tertib.

Saya juga berkesempatan melongok pergaulan anak muda di Washington, DC. Seusai piknik VOA (lihat tulisan blog Retno, “We Are Family”). Sebuah malam, saya dan teman-teman pergi ke sebuah bar di daerah Adams Morgan. Menurut saya, orang-orang Amerika itu tidak sepandai orang Indonesia dalam berbasa-basi. Silakan menilai pendapat saya barusan dari kacamata positif atau negative. Hehe. Bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba ada yang mengajak berkenalan. Saya mengalami itu. Ada pria yang menghampiri dan memulai percakapan.

Dia: “Excuse me, I couldn’t help but notice you. Are you here with someone?

Karena saya tidak mau mengambil resiko, saya tanggapi dengan lekas

Saya: “I’m afraid I am. Sorry

Dia: “Oh sorry, my bad.

Kemudian pria random itu pergi. Orang-orang di sini memang pintar mengutarakan apa yang mereka mau dengan ringkas dan tidak berbelit-belit. Dan mereka bisa menerima penolakan dan perbedaan ekspektasi atau perbedaan pendapat dengan baik. Percakapan saya di atas adalah contoh sederhananya.

Sebelum akhir pekan lalu berakhir, saya  menyempatkan diri untuk ke daerah Dupont Circle. Disini lah saya merasa saya mulai menikmati tinggal di DC. Sebabnya, saya menemukan toko buku yang koleksi literaturnya sangat lengkap. Di Kramerbooks dan Afterwords, saya menemukan buku yang sudah bertahun-tahun saya cari. Senangnya bukan kepalang. Hari itu saya tambah senang karena ada acara Dance Circle di taman. Disitu, dari balita, kakek-nenek sampai transgender menari bersama dan disitu saya merasa nyaman. Akhirnya saya  tinggal di sebuah kota di mana energinya sangat positif dan orang-orangnya sangat menikmati hidup.

Well, that’s it for now. Sepertinya saya sudah kepalang menulis blog pertama dan kedua saya dengan diawali lirik lagu dan sepertinya akan terus begitu. Selain memudahkan saya untuk menulis, saya berharap ini juga bisa memudahkan kamu untuk ikut merasakan “My Year at VOA.” -

Love,
Mars
sryadi@voanews.com
@Marsuryawinata