Setiap tahunnya, VOA mengundang jurnalis muda Indonesia untuk menggali pengalaman selama setahun di Washington, D.C., Amerika Serikat, sebagai penerima fellowship PPIA-VOA untuk periode 2014-2015.

Ikuti perjalanan Yurgen Alifia sebagai wartawan VOA di AS di blog ini. Selamat membaca!

RETNO LESTARI

Saya tidak pernah bermimpi menjadi jurnalis atau broadcaster.

Tapi itu bohong…hahaha. Pertama, saya itu tukang mimpi. Kedua, saat saya duduk di sekolah dasar, saya sering membaca koran dengan kencang di depan kipas angin dan berpikir bahwa itu adalah cara masuk ke TV. Dua puluh tahun berlalu dan sekarang saya di sini menjalani mimpi tersebut.

Bersama reporter-reporter olahraga lainnya.

Nama saya Retno Lestari Ningsih. Kata orang nama saya “Jawa banget.” Teman-teman dekat memanggil saya Eno. Saya lahir di Kendal, Jawa Tengah, dalam naungan zodiak Aries.

Pada usia 6 tahun saya berurbanisasi ke Jakarta mengikuti kedua orang tua saya. Sejak itu saya besar dan bersekolah di seputar Ragunan, tapi bukan kebun binatang. Dan L.A., namun bukan Los Angeles melainkan Lenteng Agung.

Takdir lalu membawa saya bergeser sedikit ke Daerah Permukiman Orang Keren alias Depok untuk menimba ilmu di Universitas Indonesia, jenjang diploma jurusan Penyiaran. Setelah lulus, saya bekerja sebagai reporter olahraga di TV7 (Trans7) dan ANTV.

Big thanks to David Beckham. Lho? Iya, karena cinta mati saya ke David Beckham, saya jadi cinta sepakbola. Karena cinta sepakbola saya jadi maniak menonton sepakbola dan berbagai olahraga lainnya, yang membuat saya diterima menjadi reporter olahraga.

Namun setelah itu saya berhibernasi hampir 2 tahun untuk menimba ilmu meraih gelar sarjana Komunikasi, lagi-lagi di kampus Makara Kuning. Baru tahun 2011 lalu saya lulus kuliah dan bergabung ke Berita Satu TV, sebelum terpilih menjadi fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 dan terbang ke Amerika.

Hobi saya adalah menulis, berenang, membaca, menonton sepakbola, menonton drama Korea dan menjahit. Oh, and I cook, too. Yup, someday I am gonna be a really good mother.

Cheers,
Retno

MARSHA RYADI 

I’m Marsha, nice to meet you”

Sampai blog ini dipublikasikan saya sudah mengucapkan kalimat di atas lebih banyak dari langkah kaki perjalanan dari apartemen ke kantor VOA yang jaraknya empat blok. Berkenalan itu menyenangkan dan bisa menjadi petualangan. Jadi itu yang akan saya lakukan di sini.

Saat mewawancarai Sekjen PBB Ban Ki-Moon

Sebelum dapat program fellowship ini, saya bekerja sebagai penyiar di Trax FM, Jakarta selama tujuh tahun. Di Trax FM, saya punya buah karya sendiri, program mingguan yang bernama “The Now Generation on the Move,” bekerja sama dengan koran Media Indonesia. Berkat kolaborasi ini, saya punya kolom kecil setiap hari Minggu di Media Indonesia, dimana saya memberikan quote atau sekedar pendapat singkat tentang topik yang diangkat. Topiknya mengenai isu sosial, politik, dan lingkungan hidup. Intinya program ini bicara soal perubahan dan youth improvement. Selain itu, saya juga siaran untuk program musik produksi British Council (FYI, cinta pertama saya adalah musik). Siaran di Trax FM merupakan pengalaman berharga, karena saya mendapat banyak kesempatan mewawancarai dan hangout dengan musisi dunia, banyak diantara mereka memang band favorit saya. Tapi mengenai pengalaman mewawancarai tokoh,saya bisa bilang, wawancara live eksklusif saya dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-Moon saat berkunjung ke Indonesia adalah yang paling monumental.


Best,
Marsha